Friday, December 30, 2011

Coretan Kasar J50K - Tujuh Divisi

gambar dari sini

Sebelum mengakhiri tahun 2011 ini dan memulai tahun 2012 dengan posting blog dalam rangka J50K, saya akan memberikan sedikit gambaran tentang novel yang saya ikutsertakan dalam event ini. Anggaplah ini sebagai coretan kasar atau sekedar kerangka yang menggambarkan secara singkat, padat, dan jelas mengenai seluk-beluk novel saya ini. Baiklah, ini dia coretan novel yang saya ikutsertakan dalam J50K.

Judul: Tujuh Divisi
Genre: Petualangan 
Tema: Persahabatan, misteri, petualangan
============================

Thursday, December 29, 2011

Menulis Novel dalam Satu Bulan, Apakah Bisa?

Saya sedang nekat. Benar-benar nekat. Pekerjaan yang membuat saya menjadi seorang robot gedeg seperti sekarang ini, membuat pikiran dan kinerja hipokampus saya menjadi beku! Mati dan sulit untuk difungsikan. Saya memikirkan bagaimana caranya supaya saya dapat berpikir kembali. Saya menulis di setiap kolom koran yang membutuhkan tulisan saya. Sebisa mungkin saya paksa kepala saya untuk berpikir dan menulis apapun! Semacam esei sederhana, cerpen busuk, cerita bersambung, memoar, bahkan curhat di dalam blog pribadi. Semua itu saya lakukan semata-mata hanya untuk membiarkan otak saya tetap berada dalam kondisi stabil. Dan saat ini mungkin adalah puncaknya, karena saya sulit sekali untuk berpikir dan merangkai kata. Oh Tuhan.

Semua itu akhirnya terobati. Adalah sebuah situs bertajuk Kampung Fiksisebuah grup bernama Januari50K, dan sebuah grup rahasia bernama Le Chateau de Phantasm yang mengkhususkan diri dalam dunia tata tulis cerita fantasi, mencairkan otak beku saya perlahan-lahan. Saya lambat laun bisa kembali menulis. Mungkin memang hanya jadi tumpukan sampah saja di harddisk notebook saya, tapi itulah yang membuat saya tersenyum bahagia ketika mengingat letihnya pekerjaan saya sebagai robot gedeg di sebuah perusahaan IT yang cukup besar di Indonesia. Fiuh! 

logo resmi Januari50K

Wednesday, November 30, 2011

Jakarta Pagi Ini

Jakarta Dari Sudut Kaca Bis Kota
sumber
Pagi ini hujan. Saya tahu, kapan bilangan Lebak Bulus dan sekitarnya hujan. Tepatnya turun hujan sekitar jam empat pagi. Saat itu, saya masih bangun. Dipaksa tidur? Susah! Saya habis menenggak lima gelas join Kopi Luwak racikan saya, yang kelewat kental. Kopi itu saya join dengan Zhygoth GB, Aland GB, Bang Donald GB, Mbah Man dan Mas Apak dari Sidoarjo Jatim sana. Mereka adalah kawan sekaligus saudara dalam satu dunia musik yang sama, yaitu Grunge. Tentang pengertian Grunge, tidak usah dijabarkan lah ya.

Saya bangun dan mengobrol dengan Zhygoth, sementara yang lain sudah tertidur pulas karena pengaruh pil yang disinyalir adalah Xanax dan seketika membuat teler ketika dihantam dengan kopi, apalagi kopinya kopi luwak. Yah, saya akhirnya menghabiskan pagi dengan mengobrol seputar saya, seputar dia, masa depan kami, anak-anak kami, seputar skandal Indonesia, seputar Politik, Ahmadinejad dalam pandangan Yahudi, dan obrolan-obrolan gila lainnya.

Saya sangat tercekat, sekaligus melankoli. Obrolan seperti ini sangat jarang saya temui di hari-hari saya bersamanya. Saya bahagia pagi ini, meski tidak tidur dan rasa kantuk malah melanda saya ketika akan berangkat kerja. Hujan terus mengguyur Jakarta dan baru berhenti sekitar pukul enam pagi. Saya tidak berniat mandi, karena badan saya dalam kondisi tidak enak setelah begadang--yang tidak disengaja. Saya memutuskan untuk mencuci muka dan segera berganti pakaian. Agaknya, hari ini Jakarta akan macet. Saya memutuskan untuk berangkat jam setengah delapan pagi.

Jalanan masih berbau hujan saat saya melangkah. Saya  menyusuri arah berlawan dari jalan Ciputat Raya dan segera menuju tempat pemberhentian bis. Saya sebenarnya ingin membeli beberapa makanan kecil untuk mengganjal perut. Namun, bis 102 terlanjur datang dan saya segera naik.

Benar saja, jalanan sangat macet. Padahal, biasanya orang-orang sudah berangkat pagi-pagi dan jam-jam seperti ini, jalanan tidak begitu macet. Ah, saya menghabiskan waktu lebih dari satu jam hanya untuk mencapai Senayan! Dan saya menahan perut saya yang melilit karena terlalu banyak meminum kopi luwak dengan kadar asam tinggi dan masuk angin, sepanjang perjalanan ke Senayan.

Sampai kantor, ternyata masih dikunci! Sepertinya, orang-orang kantor juga datang terlambat. Saya duduk termenung saja di depan pintu kantor, pada akhirnya.

Tiba-tiba, saya rindu rumah... :'(

Lyrics to Jakarta Pagi Ini (Slank):
Pagi dingin 'gak ada sinar mentari
Dan langit pun terlihat gelap 
Mendung datang lagi


Dan aku berdiri di atas gedung yang tinggi
Memandang ramainya Jakarta 
Menyambut pagi ini


(*)Aku di sini... sendiri
Aku di sini... oh sepi
Mengapa aku di sini
Jakarta pagi ini 


Pagi sunyi 'gak ada burung bernyanyi
Putih embun pun kini telah terkontaminasi


Aku seperti terbang 'gak memijak bumi
Di antara merahnya emosi Jakarta yang 
S'makin ternodai 


back to (*)
Aku di sini
Walau apa yang terjadi sampai aku mati


Tempatku bukan di sini...
Jakarta pagi ini


Aku di sini... sendiri
Aku di sini... oh sepi
Tempatku bukan di sini...
Jakarta pagi ini....


Aku di sini... sendiri
Aku di sini... oh sepi
Tempatku bukan di sini...
Jakarta pagi ini....


oh...disini...sendiri
disini...oh sepi....
Tempatku bukan di sini...
Jakarta pagi ini.... 




#ini semacam curhat yang kelewat busuk
-ayu-

Friday, October 14, 2011

Cara Menyeduh Biji Kopi: French Press (atau Bodum)

Secangkir kopi nikmat, dan yang termudah yang bisa kita buat, bisa dihasilkan dengan French press.

French press set and COFFEE
(pic source)

Press itu terdiri dari penyuling kaca, yang memiliki berbagai ukuran, dan layar jalinan kabel yang melekat pada plunger.

Untuk membuat kopi di French press, jerang air sampai hampir mendidih di ceret. Salah satu kuncinya adalah hangatkan carafe terlebih dahulu sebelum memasukkan kopi, seperti "menghangatkan teko" saat membuat teh.

Thursday, September 29, 2011

Cara Menyeduh Biji Kopi: Ibrik (Cezves atau Briki)

sumber gambar: http://www.freshcoffeeshop.com/images/detailed/0/turkish_coffee_set_br_tu.jpg

Ibrik adalah teko kopi Turki bertangkai panjang yang menghasilkan salah satu seduhan kopi paling eksotis. Awalnya dibuat dari kuningan atau tembaga, dirancang untuk menyeduh kopi di pasir gurun yang panas, tapi model dari stainless steel yang dewasa ini tersedia sudah disesuaikan dengan kompor. Teko ibrik biasanya kecil dan selalu berukuran lebih sempit di bagian atas dibandingkan bawah--bentuk yang penting dalam menyeduh kopi Turki.