Wednesday, October 24, 2012

Shoes and The Story Goes

Sebenarnya saya hari ini lagi libur kerja, karena semalam lembur. Yah, hari libur, sempatkan diri untuk istirahat, mengurus diri yang acak-acakan ini, juga bersih-bersih kontrakan. Rupanya, rak sepatu saya terabaikan. Sepatu-sepatu kesayangan dari dulu sampai yang terbaru, sudah kotor-dikotori debu dan kecoak. Maklum, kontrakan rakyat di sekitar Ciputat memang tak terurus. Hehe. Jadilah, saya sempatkan juga untuk menjemur beberapa sepatu, dan mencuci sepatu yang kotor. Melihat sepatu saya, ternyata cukup banyak juga yang saya pindahkan dari rumah di Bandung ke Jakarta ini. Masih ada sisa beberapa sepatu di Bandung yang tidak saya bawa. Ini membuktikan bahwa selain senang mengkoleksi berbagai macam rasa kopi, saya juga teradiksi pada sepatu-sepatu penghias kaki saya. Ya sudah, simak saja ceritanya. This is about my shoes and the story goes! :)

shoes and the story goes

Jadi, ada sekitar sebelas sepatu kesayangan yang sering dipakai. Sebenarnya, masih banyak di Bandung. Tapi, karena belum ada space lagi di kontrakan, belum sempat buat angkutin semua sepatu di rumah saya. Hehe. Sepatu-sepatu ini dipakai karena selain nyaman, mereka juga mempunyai kisah. Yah, begitulah sepatu ini menemani saya dengan kisahnya.

  1. Flat Ovtel. Sepatu flat ini usianya ini sudah hampir delapan tahun. Saya mendapatkan sepatu Ovtel ini di Borobudur Bandung, dari tante saya. Waktu itu, saya paling nggak suka pakai sepatu model perempuan kayak begini. Cuma, karena tante yang membelikan, saya terpaksa memakainya. Hehe. Lama kelamaan, saya lihat modelnya seperti sepatu canvas yang umum dipakai, seperti converse, warrior, atau north star. Sepatu canvas pertama saya memang north star, jadilah saya pakai terus sepatu hijau ini sampai akhirnya, sekarang sudah sobek di sana-sini. Sayangnya, sepatu itu memang semakin sobek, semakin nyaman dipakai. Makanya, saya nggak buang ini sepatu, dan rencananya, baru mau saya servis di sol sepatu terdekat. Hehehehe.
  2. Pentopel Bata. Sepatu ini saya pakai sejak saya bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang pelayanan customer. Di sini, saya harus bekerja secara formal, tentunya dengan penampilan yang formal juga. Berhubung saya nggak punya sepatu formal, akhirnya saat saya gajian, saya carilah sepatu yang formal. Sepatu ini memiliki hak empat sentimeter, dan sebelumnya, saya tidak pernah memakai sepatu dengan hak tinggi. Hahaha. Hasilnya, ya kaki saya lecet di sana-sini. Kenapa saya harus beli sepatu ini? Saya prihatin dengan produsen sepatu dalam negeri yang mulai tergeser produk luar. Saya mendapatkan sepatu ini di bazar yang tidak jauh dari kontrakan saya. Kasihan sama yang kerja di sana, akhirnya saya beli ini. Kondisinya masih sangat baik, tapi diberi harga sampai setengah harga. Dari mana pegawainya mendapat gaji? Ah, entahlah. Sungguh tidak manusiawi sekali ya perekonomian negeri ini. (loh ngelantur). Intinya, saya beli ini bareng sama Abang Zhygoth yang ganteng sekali, jadinya saya minta tolong dia yang pilihin. Hehehehe. (huh ngelantur mulu) Intinya, sampai sekarang sepatu ini masih awet, jadi tidak terbukti kalau barang luar selalu lebih baik. :)
  3. Flat North Star. Alih-alih ingin kerja dengan sepatu santai yang tidak terlalu perempuan, tapi juga bukan sepatu lelaki, saya coba hunting ke toko-toko Indonesia punya, yang memanusiakan manusia. Saya nggak begitu suka sepatu luar negeri, karena nggak cocok di kaki. Sepatu luar negeri kan nggak ada ukuran kaki pribumi seperti saya? Hehehehe. Saya akhirnya cari sepatu ini di toko Bata. Saya suka sepatu Bata dan North Star, karena sejak saya SD sudah pakai sepatu itu. Akhirnya, saya keliling dan mendapatkan sepatu ini. Ada warna krem dan biru. Saya maunya beli sepatu yang biru, tapi saya udah punya banyak sepatu biru. Jadi, biar lebih kalem dan feminim, saya beli sepatu yang warna krem deh. Sepatu ini masih awet, berhubung belinya juga belum lama. Hehehe. Saya pakai jalan kaki jauh, masih awet juga. Sepatu ini nyaman, daripada saya pakai sepatu crocs yang di luar negeri saja sudah jadi sepatu buangan. :P
  4. Converse High (USA Stripes). Saya suka sepatu high, yang menutupi mata kaki. Semacam boots atau canvas shoes. Saya juga suka sepatu yang bermodel old school, seperti sepatu yang sering dipakai Kurt Cobain semasa muda, sampai kematiannya, dan tidak pernah ia ganti. Hehehe. Untuk sepatu seperti ini, saya menjatuhkan pilihan sama converse. Sepatu yang dari masa perang sudah ada ini, selalu ingin saya koleksi. Selain karena warna-warna yang kombinasinya keren, ada yang bermotif juga. Selain nyaman, sepatunya juga awet. Kita sol berkali-kali, tetap bisa dipakai dengan sesuka hati. Hehehehe.
  5. My First Wedges. Sudah saya bilang, saya ini tipe orang yang lebih suka berpenampilan kasual, dengan gaya lelaki. Sepatu wedges? Saya tidak punya! Eh, saya punya satu, itu pun karena dipaksa beli sama ibu saya. Sepatu ini sempat saya pakai di acara wisuda saya. Tapi, berhubung nggak betah, saya langsung ganti sepatu ini sama sendal outdoor, yang sering saya pakai. Hahahaha. Sendal outdoor ini sudah bongkar pasang berkali-kali dan sol sana-sini. Karena sudah nempel di kaki, wedges ini pun saya abaikan dan saya jadikan koleksi rak sepatu. :D
  6. Sepatu Flat Biru - Unbranded. Saya nggak suka beli sepatu yang bermerek, atau mahal-mahal amat. Intinya sepatu itu kan, meski murah tapi nyaman. Syukur-syukur kalau modelnya lucu. Sepatu ini saya beli seharga Rp 35.000,- dan sampai saat ini masih awet. Saya masih suka pakai sepatu ini lari-lari, karena solnya yang tipis dan warnanya biru seperti warna kesukaan saya. Bahannya campuran perca jeans, dan sepatu ini enak buat pijat refleksi, kalau tiba-tiba lagi jalan kaki, saya menemukan jalan berbatu. Hehehehe. Sepatu favorit saya, dalam ranah sepatu wanita. 
  7. Sepatu Trekking. Sepatu trekking saya ini umurnya baru beberapa bulan saja sudah kotor lagi. Saya merasa harus memiliki sepatu trekking, karena sepatu lain yang saya pakai buat naik gunung, sudah rusak semua. Hehehehe. Sepatu trekking ini unbranded, karena saya nggak butuh merek, cuma butuh kualitas dan kenyamanan. Memang sih, kalau bagi para pendaki yang sudah advance, sepatu harus berkualitas dan mereka sering mengkaitkannya dengan merek. Ah! Persetan merek! Sepatu ini saya beli di Taman Puring dan masih awet sampai sekarang. Bahannya feather keras, dengan bagian dalam yang kuat meski kaki saya dilindas motor. Nggak percaya? Silakan cari sendiri di Taman Puring. Hehehehe.
  8. Canvas Nirvana. Sepatu ini saya pesan dari seorang teman, demi membantunya melancarkan usaha, saya membelinya. Karena itu teman saya dan saya sebagai penglaris pertama, saya minta dibuatkan flat canvas, dengan lukisan logo smileface-nya Nirvana yang terkenal. Hasilnya ya jadi begitu. Ternyata ukurannya terlalu kecil, sehingga kaki saya nggak begitu fit sama sepatu. Tapi, setelah saya pakai, sepatunya menyesuaikan ukuran. Entah sepatunya menjadi besar, atau kaki saya yang mengecil. Hehehehe. Sepatu ini masih awet sampai sekarang, dan biasanya saya pakai buat lari pagi. 
  9. Canvas Biru. Sepatu canvas lagi dan berwarna biru. Memang ini kualifikasi sepatu saya rata-rata. Hehehe. Sepatu ini nggak begitu sering dipakai, cuma dipakai buat lari-lari atau main bola. Karena birunya terlalu terang, jadi saya cuma pakai di malam hari, karena kalau siang, warnanya bakalan jreng banget. Yang jelas, sepatu ini juga tidak ada mereknya, karena saya beli sepatu ya suka-suka saya aja. :P
  10. Boots Supertex. Yaaaaiiiyyyy!!! Ini sepatu favorit saya! Selain sepatu trekking dan flat hijau yang sudah buluk, boots ini adalah sepatu saya yang paling saya suka. Sepatu boots ini saya beli di gerai sepatu secondhand yang ada di sebelah tempat reklamenya Bang Gondrong ganteng. Hehehehe. Yaaa, waktu itu saya lagi main ke reklame, nongkrong sama teman-teman juga. Pas saya lihat-lihat sepatu, ternyata banyak sepatu yang tidak terduga! Niatnya, saya mau beli sepatu docmart, atau Dr. Marten yang terkenal itu. Warnanya merah maroon dan keren banget! Buat saya naik vespa atau apa gitu, tapi ukurannya buat kaki Bang Gondrong. Akhirnya saya cari lagi dan voila! Saya dapat sepatu supertex yang jarang banget dijual di Indonesia! Wah, tanpa pikir panjang, harganya langsung saya tawar. Lumayan kaaaan. :D
  11. Canvas Buluk! Sepatu old-school hitam putih ini paling sering dipakai, sampai solnya sudah bolong semua dan saya harus sol lagi berkali-kali. Semakin rusak, semakin nyaman. Itulah prinsip saya. Hehehe. Sepatu inilah yang menemani saya jalan ke Surabaya sampai ke Sumatera. Sepatu kesayangan yang saya beli di toko yang hampir tutup. Sepatu ini judulnya "sepatu humanis" karena sudah berkenalan dengan berbagai manusia di seluruh kota di Jawa dan sudah berhasil memanusiakan saya. :)

Dan itulah sepatu-sepatu saya, berikut ceritanya. Entahlah. Mungkin kalian merasa posting ini nggak penting, tapi sesungguhnya, posting ini hanya sebagai cara saya untuk mengingat apa yang ada di sekitar saya, meski bentuknya benda mati sekalipun. Semoga saya selalu bersyukur dengan apa yang saya dapat sampai hari ini dan apa  yang saya kumpulkan dari jerih payah sendiri. Selamat membaca kisahnya dan semoga kalian pun mensyukuri hidup kalian ya! 

Salam jalan kakiiiiiii!~~ 

Ayu W.

Saturday, September 29, 2012

Landscape Gede dan Ketinggian


Operasi Bersih Menuruni Gunung
Sudah tak terhitung lagi, berapa kali saya mengunjungi dan mendaki sebuah gunung di kawasan Bogor - Jawa Barat. Gunung yang dapat ditempuh dengan waktu tempuh kurang lebih tiga jam dari Jakarta, melalui terminal Kampung Rambutan dengan menaiki bis yang menuju ke arah Bandung dan sekitarnya via jalur Puncak. Gunung ini dapat didaki dari tiga jalur yang cukup berdekatan, di satu jalur utama Jakarta - Bandung via Puncak yaitu jalur Putri, jalur Cibodas, dan Selabintana. Gunung yang masih menyimpan sisa-sisa sejarah ini semakin ramai dan sayangnya semakin kotor karena sampah para pendaki yang tidak tahu diri.

Begitu melilitnya birokrasi untuk mendaki gunung ini mungkin bermula dari kesalahan para pendaki itu sendiri. Sejak beberapa ketentuan mendaki gunung Gede sudah dikurangi, para pendaki yang hanya bermodalkan slogan-slogan lestari tanpa tahu apa artinya, malah semakin gila dan merajalela. Sampah tetap ditemukan. Tanpa adanya kesadaran, akhirnya birokrasi dan perizinan, semakin diperketat. Ini kadang membuat saya dan teman-teman yang ingin menikmati Gede jadi terkesan dipaksakan. Menurut pihak dinas kehutanan, "Pendaki diminta untuk naik selama dua hari satu malam saja, dan ketika turun, pastikan sampah disetorkan dan juga surat perizinan diperiksa oleh petugas jaga. Jika ada pelanggaran, pendaki harus membayar denda dan penalti."

Bukankah, seharusnya pendaki sadar sendiri tanpat perlu menuliskan surat-surat birokrat?
Tapi memang, inilah yang dibutuhkan jika sudah tak ada lagi kepedulian. Adanya surat-surat yang mengikat dan beberapa ketentuan yang mesti dipatuhi, menjadi semacam kode etik. Yah, setidaknya, pemandangan yang disuguhkan oleh alam semesta membayar semua kesulitan perizinan. :D

Jalur Vulkanik - Puncak Gede 

Bersama Kawan di Puncak Gede

Diyana di Savana Suryakencana
Mampir ke Gede, jangan lupa singgah di Suryakencana. Sekedar untuk lewat ketika turun melalui jalur gunung Putri, atau untuk bermalam sebelum menuju puncak Gede. Suryakencana adalah sebuah savana luas dengan pepohonan hijau yang masih mengelilinginya. Di sini, pendaki biasa bermalam dan terdapat sumber air di antara cerukan padang rumput. Jika berjalan lebih ke barat, maka kita bisa menemukan goa-goa yang biasa digunakan para peziarah untuk berdoa atau bersemedi. 

Konon, Suryakencana adalah tempat bersemayam Eyang Suryakencana dan putranya yang bernama Prabu Siliwangi. Mungkin ada beberapa di antara kalian yang sudah mengetahui sejarah kerajaan di Bogor, dengan Prabu Siliwangi sebagai salah satu penguasa di Tanah Sunda. Maka, kita bisa jumpai di beberapa daerah Jawa Barat, lambang ketentaraan yang menggambarkan harimau putih, dengan nama Siliwangi. Konon katanya lagi, harimau putih ini adalah salah satu peliharaan Prabu Siliwangi.

Jadi ingat kisah tenda yang dilempari pasir dan beberapa pendaki yang sempat mendengar harimau mengaum. Hmmm, sudahlah tidak usah diceritakan. Hehehe.

Pejalan yang Lelah dan Kembali ke Rumah
Gunung Gede masih menjadi salah satu gunung favorit untuk didaki, terutama oleh saya juga. Yaaa, selain awal jalur pendakian yang memang mudah dituju dari kota besar, selalu ada panggilan untuk kembali ke sana. Mungkin, semacam panggilan alam begitu lah. Hehehehe.

all photos taken by: Ayu
location: Cibodas - Gede - Gede's Summit - Suryakencana

Thursday, September 27, 2012

Musafir yang Lelah, Pulanglah...

suatu saat, aku akan kembali ke rumah
setelah lelah, menapaki tiap hidup yang tak ramah
setelah melebarkan langkah, berkeliling ke tiap khazanah
pulang, kembali dalam kasih yang melimpah-ruah

suatu saat, hidup akan semakin sulit
dan aku memohon sederhana
hidup di tengah savana
di dalam rumah kecil berhias bintang langit

nanti, kami kan jadi gembala
setelah lelah bertunawisma
setelah lelah berjalan bak musafir
yang tak henti-henti langkah-menyisir...

di Tibet, kami sandarkan rindu
pada bangku-bangku anyaman bambu
dengan limabelas kucing hutan yang lucu
mengelilingi hidup renta yang kami tuju...

Jakarta-Tibet, 27 September 2012
oleh: Ayu Welirang


Bikkhu dan Dataran Tibet (gambar dari sini)

Suatu saat, hidup pun akan bermuara. Pejalan yang lelah, akan merindu rumah. Suatu saat, aku pun begitu, kembali ke rumah di tengah savana yang indah. Bentangannya sampai ke titik tertinggi. Rumah kecil di tengah savana dengan para penggembala. Menunggu renta, menikmati senja...di Tibet... :)

Wednesday, September 26, 2012

Tidurlah, Pagi Terlalu Pagi

matahari malu-malu - kereta barang di Pekalongan
Minggu, 2 September 2012
Hampir dua hari saya tidak tidur, ketika dalam perjalanan hitchhiking menuju gigs-grunge di Wonderia Semarang. Sejak jam dua pagi sudah stand-by di stasiun Tegal untuk mengejar kereta barang yang berjalan pelan menuju Surabaya. Dari Tegal sana, kereta sudah dipastikan akan berhenti di stasiun Semaranngponcol untuk cek mesin dan muatan.

Kebetulan sekali, kereta yang ditumpangi adalah kereta plat besi, sehingga tak ada atap dan hanya langit yang menaungi kami. Kami menyukai langit, apalagi hiasan yang bergantung dalam langit itu sendiri. Sementara dua hari sudah tidak tidur, saya menikmati langit dan bintang-bintang yang kala itu sangat terang sekali. Ketika beranjak pagi, karena mata sudah tidak kuat, maka saya tidur. Ah, sungguh sayang. Saya melewatkan momen transisi matahari pagi yang muncul dengan malu-malu, dari barisan pepohonan randu di sebelah kiri kereta. Matahari malu-malu di pesawahan sepanjang Pekalongan.

Ini pagi jadi indah, meski perjalanan kami begitu sederhana. Tetap berjalan, tetap bertahan.

Akhirnya malam tiba juga
Malam yang kunantikan sejak awal
Malam yang menjawab akhir kita
Inikah akhir yang kita ciptakan

Dan pagi takkan terisi lagi
Lonceng bertingkah sebagaimana mestinya
Membangunkan orang tanpa membagi
Sedikit asmara untuk memulai hari

Tidurlah
Malam terlalu malam
Tidurlah
Pagi terlalu pagi

*(Tidurlah - Payung Teduh)

Friday, September 21, 2012

Get Lost! - Dari Sukolilo sampai Pati

Kalau sudah ada di Jawa Tengah, rasanya kurang afdol kalau tidak berkunjung ke tempat-tempat yang khusus. Misalnya, berkunjung ke candi atau situs-situs budaya yang berada di Jawa Tengah. Dan sepulang dari Semarang, pucuk di cinta ulam pun tiba. Seorang saudara satu scene yang berasal dari Pati, mengajak untuk singgah di tempatnya. 

Mas Trimble namanya. Ia pulang duluan dari tempat acara dan mengundang saya juga Zhygoth untuk bertandang di kediamannya. Katanya, "Dari Semarang ke Pati cuma dua jam kok Goth. Naik bis jurusan Surabaya aja pasti lewat Pati. Ingat, hati-hati jangan nyasar ya."

Malamnya, tepat hari Minggu tanggal 2 September 2012, pihak panitia mengantar kami sampai stasiun Semarangponcol. Kami pun mencari tempat untuk beristirahat sejenak, sambil menunggu kereta barang di pagi harinya, karena beberapa teman akan pulang lebih dulu.

Setelah mengantar ketiga teman yang pulang lebih dulu, dan dua teman yang memutuskan untuk naik kereta ke Pekalongan, saya, Zhygoth, dan Anom berkeliling Semarang. Rupanya, Anom pun memutuskan untuk berpisah. Setelahnya, saya bersama Zhygoth, jalan ke arah jalur truk besar untuk hitchhiking lagi dan mencari tumpangan ke arah Pati. Kami duduk di tepian jalan dan menunggu truk dengan plat K. Beberapa kali naik truk dan tidak jalan terus, malah beberapa kali berbelok ke tujuan lain seperti pelabuhan dan pangkalan truk. Maka, kami memutuskan untuk berjalan kaki sampai perbatasan, di dekat terminal Terboyo dan mencari truk plat K dari sana saja.

arah kanan

omprengan truk

Mendapatkan truk plat K, rupanya jalan tak mulus. Kami menemui keanehan. Seharusnya, Surabaya melewati by-pass yang lurus saja setelah keluar perbatasan. Truk yang kami tumpangi malah berbelok dan melewati jalur desa. Karena bingung, kami tidak turun. Kami ikuti saja sampai menemukan jalur besar lagi yang akan menuju Surabaya. 

background rumah antik di Sukolilo

Dan benar saja, kami nyasar! Sampai Sukolilo. Tak cukup hanya nyasar, kami menyempatkan diri mengambil beberapa foto yang superb sekali, karena kondisi Sukolilo ternyata masih asri. Dengan rumah khas Demak, dengan atap rumah yang berornamen, kami menikmati mie ayam di Pasar Sukolilo dengan senang hati. 

Inilah inti dari sebuah perjalanan. Get lost and learn a lot! :D

Dan kami masih berjalan kaki, sampai Kayen menuju Pati. Menunggu bis yang lewat agar bisa benar-benar sampai Pati dan bertemu kembali dengan saudara seperjuangan. Di saat saya mencoba menelusuri memori agar tertuang dalam tulisan ini, saya masih terbayang dengan daerah Sukolilo yang menyerupai zaman prehistorik. 

Indonesia masih ada yang begini. Jadi, nikmatilah! Untuk apa ke luar negeri? Cintai pertiwi dengan cara sendiri. :)

Jakarta, 21 September 2012

Thursday, September 20, 2012

Negeri Di Atas Awan

Sebenarnya, banyak kisah yang ingin disampaikan pada penjelajahan kemarin. Hanya saja, saya tak sabar untuk berbagi hasil jepretan saya di Cikuray, Garut. Pada ketinggian 2818 meter di atas permukaan laut, awan-awan bergumul menjadi satu, menutupi dataran di bawahnya. Indah. Dan saya tak henti-hentinya memandang ke depan, ke arah awan-awan bak lautan lepas. Entah, kata-kata pun tak sempat terekam, hanya mata yang merekam jejak dan pemandangan.

~pagi di kaki gunung~

Uh... Sunrise! :')

memandang ke arah Garut

mari mendaki! :D

Cikuray di punggung kami :D

Bersama sahabat mencari damai, berbagi suka dan duka. Melewati medan kelana yang berat. Menapaki jejak-jejak sejarah yang terhapus bersama waktu dan kaum urban. Kami datang, terpanggil mendaki Cikuray. Meski tak banyak yang bisa kami lakukan untuk konservasi, sejatinya sahabat dan cinta telah mempersatukan kami untuk sampai ke puncak tertinggi Cikuray.

~and finally, the peak~

euforia di puncak

model :))

bersama sahabat

meraih matahari

Cikuray berbayang, menghempas lautan awan

Berkibarlah Indonesiaku! Di manapun, di titik tertinggi sekalipun...

hahahaha! :D

Jakarta, 20 September 2012
.: posting di tengah riuhnya Pemilukada :)

Wednesday, September 19, 2012

Jurnal Perjalanan: Menuju Wonderia Semarang (31 Agustus 2012 - 2 September 2012)

Sekarang sudah pertengahan September dan jurnal perjalanan selama dua minggu kemarin mengelilingi Jawa Tengah dan sekitarnya, baru sempat saya tuliskan di blog ini. Untuk sementara, saya akan bercerita tentang perjalanan saya dan teman-teman menuju acara musik di Wonderia Semarang. Saya bisa hadir di acara ini, pasca habisnya kontrak saya di kantor. Hahaha, sebenarnya hal yang tidak menyenangkan. Tapi, hikmahnya adalah, saya bisa kembali berjalan kemanapun saya mau, tanpa perlu dibatasi waktu bekerja yang tiba-tiba datang ketika saya sedang berada di suatu tempat yang jauh dari Jakarta.

Acara ini berbenturan dengan pertemuan penyair dari batpoet di rumah seni Eloprogo yang diadakan pada tanggal yang sama. Awalnya, saya ingin naik kereta langsung menuju Jogja dari Pasar Senen. Namun, karena belum memesan tiket, saya berangkat menuju Senen sebelum Maghrib. Ternyata, perjalanan dari Lebak Bulus sampai Senen memakan waktu yang teramat lama. Sudah bosan di jalan, akhirnya kesal juga. Jadilah, saya ditawari naik kereta barang dari Priuk sampai Semarang dan nantinya akan dilanjut ke Eloprogo. Kala itu, saya bersama pacar saya berangkat dari Senen langsung ke Stasiun Tanjung Priuk. Dengan penyamaran menjadi lelaki untuk mengatasi begal dan preman Priuk, saya pun berangkat dengan dandanan ala kadarnya, persis lelaki.

Masih menunggu kereta barang diberangkatkan, saya duduk-duduk di pinggiran rel. Penuh sekali acara dangdut dan para lelaki-lelaki yang sedang menerima perempuan yang menjajakan diri. Sungguh, ini adalah pengalaman menyaksikan para mucikari beraksi, di pinggiran rel yang terlupakan kaum urban Jakarta. Saya jadi agak aneh, campur haru. Dan inilah realita.

Jum'at, 31 Agustus 2012
Kereta barang berangkat pada pukul 10 malam. Melajulah kereta barang dan kami pun berjaga semalam suntuk dari apapun kemungkinan yang membahayakan. Kalau dibilang kami sengaja atau mau bergaya, itu salah besar. Kami hanya tercekat dengan waktu dan keadaan, sehingga hal seperti ini pun kami lakoni hanya untuk bertemu kawan seperjuangan di Semarang. Meski ada desas-desus yang mengatakan bahwa para penggerak grunge di Semarang tidak seenak orang-orang Jawa Timur, kami tetap berangkat. 

Di Kereta Barang - Start Stasiun Tanjung Priuk 31082012

Dari jam 10 malam, tak ada yang bisa kami saksikan. Di kanan kiri hanya bentangan alam yang luas dan gelap. Naik kereta barang tidak seenak naik kereta manusia, baik ekonomi sampai kelas bisnis. Kami harus terus menjaga diri kami sendiri dan kawan kami, karena apapun bisa terjadi. Komplotan preman dan penjahat, bisa saja ada dan membahayakan kami. Maka dari itu, kami tidak tidur sampai akhirnya kereta pun berhenti lama di stasiun Cirebon untuk dilakukan pengecekan. Sampai Cirebon jam 3 pagi, dan kami terpaksa menerima pengusiran satpam.

Kereta Barang Mulai Melaju

Kami keluar dari areal stasiun dan mencari tempat yang bisa menghangatkan kami setelah 5 jam diterpa angin jalanan yang begitu dingin. Ada warung yang buka dan dengan senangnya kami memesan dua gelas kopi hitam dan teh hangat untuk membuat suasana kembali mencair.

Sabtu, 1 September 2012
Sampai di Cirebon, kami sengaja tidak melanjutkan perjalanan ke Semarang dengan kereta barang, karena memang sudah tidak bisa main kucing-kucingan dengan petugas stasiun. Akhirnya, setelah makan beberapa gorengan dan menghabiskan kopi, kami langsung berjalan kaki ke arah pantura (jalur pantai utara), dimana truk-truk besar akan lewat dan kami bisa menumpang sampai Tegal, syukur-syukur bisa hitchhiking sampai Semarang.

Rinjani dan Sunrise dari Atas Truk

Setelah menunggu, akhirnya ada truk juga yang bisa kami tumpangi. Kami menumpangi truk berisi cat kalengan yang cukup besar. Awalnya, sang supir tidak tidak mau memberi tumpangan, tapi karena kami memaksa, kami pun naik. Kami tetap menjaga barang milik supirnya, karena kami tahu tata cara menumpang yang baik dan benar. Hehehe.

Cukup jauh juga truk itu membawa kami. Sampai jalan raya Cirebon - Losari yang menghubungkan kami dengan perbatasan Jawa Tengah, truk berhenti. Sang supir keluar dan memberitahukan bahwa ia akan melewati jembatan timbang. Jembatan timbang ini adalah sebuah lokasi dimana truk-truk besar yang membawa muatan harus masuk dan diukur muatannya, serta membayar retribusi pada petugas. Saya tidak menyangka, jahat sekali pihak dinas perhubungan. Mereka menempatkan orang-orang yang sudah di ambang usia akhir, untuk menjaga jembatan timbang. Mungkin, usianya sekitar 40 tahun ke atas. Apa jadinya ya keluarga mereka yang ditinggalkan karena menjaga jembatan timbang dua puluh empat jam penuh? Saya mengerti, mungkin saja ada sistem shift di sana. Tapi, kenapa tidak orang muda dan lajang saja yang menjaga ya? Apakah ini perihal kepercayaan? Ah entahlah, kok saya jadi mengoceh. :))

Jembatan Pasar Losari - Truk Cat

Bang Donald

Sampai di Brebes

Sunrise di Brebes

Kami istirahat sebentar di jembatan timbang. Saya menumpang ke kamar mandi dan Zhygoth menunggu di luar. Sementara, yang lain mencari pelataran ruko atau warung, untuk tidur sejenak sambil menunggu truk lagi. Keluar dari kamar mandi, saya menerima satu gelas besar teh manis hangat. Wah, ternyata bapak petugas dari jembatan timbang yang membuatkannya. Baik sekali. Di sela tugas, masih sempat memberi. Ini adalah orang baik kedua yang saya temui di perjalanan, setelah bapak supir truk.

Numpang Tidur Samping Jembatan Timbang

Background: Truk Pantura :))

Saya berpamitan dengan petugas jembatan timbang dan menyusul yang lainnya. Berfoto sejenak dan beristirahat, kami lalu berjalan lagi. Agak jauh sedikit dari jembatan timbang, hampir ke perbatasan, kami menunggu truk. Truk kedua adalah truk keramik. Kami menumpangi truk tersebut dan dibawa melewati daerah perbatasan. Ternyata, truk tersebut akan berhenti di salah satu pusat keramik pantura. Kami turun, berterima kasih ala kadarnya dan mencari truk lain. Truk ketiga yang kami tumpangi adalah truk semen dan truk ini rupanya membawa kami sampai Tegal.

Truk Keramik dan Semen Sampai Tegal

Setelah negosiasi dengan yang lainnya, akhirnya kami memutuskan untuk berangkat ke Semarang pada tanggal 2 September saja, pada hari H acara tersebut diadakan. Kami berhenti di Tegal, dan berjalan kaki menyusuri bangunan tua di sepanjang jalan menuju alun-alun Tegal. Di Tegal ini untungnya ada sanak saudara saya yang bisa disinggahi sementara dan sudah lumrah dengan orang-orang gondrong seperti teman-teman saya, sehingga saya tidak perlu khawatir.

Kolase di Tegal dan KA. Barang ke Semarang

Untuk sementara, di Tegal ini, saya bisa beristirahat dulu dan nanti malam bisa melanjutkan kembali perjalanan.

Minggu, 2 September 2012
Jam sebelas malam start berangkat lagi dari rumah eyang saya di Tegal, dan menunggu kereta barang yang sudah aman transit di Cirebon, melewati stasiun Tegal mungkin sekitar jam empat pagi. Kami menyimpan energi lagi, dengan tidur di bilik tempat ronda yang untungnya sedang kosong. Dengan dikelilingi nyamuk ganas nan jahat, kami terpaksa tidur. Sedangkan, dua orang lagi berjaga, karena mereka bilang tidak bisa tidur. Sambil menunggu, tidur kami malah terganggu dengan seorang bapak yang tiba-tiba muncul dan mengajak kami berbicara ngalor-ngidul. Agak aneh juga sih sebenarnya, karena  bapak ini sempat bilang, kalau beliau sedang menjaga rumah di depan yang sedang tahlilan. Itu berarti, ada yang baru meninggal. Jangan-jangan, bapak ini yang meninggal dan hantunya mengajak kami berbicara.

Ah, pikiran itu segera saya tepis, dan saya pun memaksa diri untuk bisa tertidur.

Sekitar jam empat pagi, kereta datang dan berhenti di stasiun Tegal cukup lama. Kami harus menunggu saat yang tepat untuk naik. Saat yang tepat itu adalah ketika peluit kereta dibunyikan, dan kereta mulai berjalan pelan. Hal ini untuk menghindarkan kami dari teguran petugas stasiun yang bisa membuyarkan segala rencana.

Berhasil naik dan kami pun melaju bersama kereta barang yang membawa lempengan besi. Berhenti di Pekalongan, kami turun dan berbaur dengan para pekerja stasiun. Saat peluit kembali berbunyi, kami naik dan melaju lagi.

Perjalanan sangat indah, sayang saya tertidur. Saya hanya bisa melihat pesisir pantai yang dilewati kereta dari foto-foto. Pesisir pantai yang terlewat ini, tandanya kami sudah dekat dengan Semarang. Dan benar saja, sekitar pukul sembilan pagi, kami sampai di stasiun Semarangponcol.

Pantai Utara

Bang Donald dari Atas Plat Besi

Tampilan Kereta dari Depan (Pengangkut Plat Besi)

Krengseng, Mendekati Semarang

Beristirahat sejenak sambil makan gorengan lagi untuk sarapan dan minum teh hangat. Semarang pagi itu sudah panas. Kami mengisi perut kami dan mulai berjalan. Kami menumpang truk dari lampu merah, sampai bundaran Lawang Sewu. Di Lawang Sewu, kami berfoto kembali lalu melanjutkan perjalanan. Cukup jauh juga perjalanan menuju Wonderia Semarang.

Turun Dari Truk, Berada di Lawang Sewu, Di Depan Taman Makam Pahlawan,
dan Akhirnya... Wonderia!!!

Kami melewati alun-alun. Anak-anak kecil sedang bermain skuter dan juga in-line skate alias sepatu roda. Kami tidak sempat berfoto karena kejar waktu. Berjalan kaki sampai ke Taman Makam Pahlawan yang dekat pertigaan, kami berfoto sejenak. Ornamen dinding bertuliskan "Bangsa yang Besar Adalah Bangsa yang Menghargai Jasa Para Pahlawannya", jadi tempat kami berfoto. Setelah mengabadikannya, kami melanjutkan perjalanan menyusuri pinggiran Semarang yang dikeliling pepohonan dan bukit di kanan. Setelah beberapa saat, tibalah kami di Wonderia.

Dan perjalanan pertama ini, selesai sampai di sini. Setelah dari Wonderia, lanjut kemana ya? Penasaran? Ikuti terus trip penganggur ini. :)

Sunday, August 26, 2012

Hati-Hati Dengan Perkataan "Ingin Taklukkan Gunung"

Saat ini, siapa yang masih awam dengan ihwal "pendakian gunung". Bagi hampir sebagian orang menuju dewasa, saat ini sudah paham dengan kegiatan outdoor yang lebih terkonsentrasi pada kegiatan mountaineering dan semacamnya. Semua orang sudah paham dan tahu bagaimana menjadi seorang pendaki, tanpa perlu masuk ke dalam organisasi ataupun wadah kepecintaalaman yang penuh kode etik dan aturan. Tapi, dengan menjadi seorang freelancer dalam sebuah pendakian gunung, belum tentu kita boleh sembrono dalam mendaki. Kode etik itu tetap berjalan, selama kita menjadi pendaki dalam sebuah organisasi, atau hanya sebagai seorang freelancer.

Siapa di sini yang belum pernah mendaki? Saya, anda, kita, sudah pernah mendaki, meski itu bukit atau gunung-gunung tertinggi. Pendakian adalah hal yang sakral, karena bukanlah hal yang bisa serta-merta dilakukan begitu saja. Perlu ada persiapan yang matang terkait itu semua. Maka dari itu, dataran tinggi apapun, baik gunung maupun bukit biasa, tetap harus dipikirkan tingkat persiapannya. Kita tidak pernah tahu ada hal apa yang menimpa kita di gunung.

Seperti yang menimpa saya dan kawan-kawan ketika mendaki Cikuray, dan juga kawan-kawan saya yang mendaki Gunung Salak pada saat yang sama ketika saya mendaki Cikuray. Hal ini bukanlah hal yang patut dibanggakan sebenarnya, karena dari hal inilah saya baru mengerti, kalau ketika mendaki saat itu, saya sangatlah pongah. Ya, meski tidak, mungkin saya belum bisa memberitahu kawan saya yang pongah, sehingga dampaknya itu diberikan pada semua teman yang ikut mendaki.

Sebuah kalimat, "Gue ingin taklukkan gunung!" atau "Sepulang dari Semeru, saya mau taklukkan Rinjani." atau pemisalan yang lain, adalah suatu bentuk kepongahan. Ketika itu, saya pernah berkata demikian, dan akhirnya ditegur oleh kakak saya yang notabene adalah penghuni lerengSlamet di jalur Guci. Dia berkata, "Nduk, kalau kamu bilang mau taklukkan gunung, berarti kamu sudah ditaklukkan oleh omonganmu sendiri! Kamu kalah Nduk!"

Dari perkataannya itu, saya jadi merenung. Selama ini, kepongahan saya itulah yang menekan saya untuk terus berambisi menaklukkan gunung. Padahal, kalau dipikir ulang, gunung itu bukanlah musuh para pendaki, melainkan sahabat. Mengutip perkataan seorang kakak saat mendaki Cikuray kemarin, bang Zen namanya, yang berkata, "Inget aja. Kita butuh gunung dan gunung butuh kita juga, jadi jangan ngerusak lah." Begitulah kira-kira kalau saya tak salah dengar, kalau salah ya berarti saya tambahkan saja beberapa kata. Hehe.

Bahkan, ketika seseorang meremehkan gunung dan berkata, "Ah, kecil gunung begini mah." Maka, ada saja hal buruk terjadi. Entah diganggu tuan rumah, entah ditegur tuan rumah, bahkan teman saya yang mendaki gunung Salak kemarin, berhari-hari diikuti oleh si Neng penghuni Cidahu. Semalam, saya bercerita panjang lebar dengannya dan jadi ngeri sendiri. Si teman saya ini,  barulah sadar sambil bergumam, "Mungkin gara-gara gue ngomong, 'Ah Salak doang ini', eh si Neng itu sampe ikut pas di kereta segala, lewat perantara mbak-mbak yang duduk deket pintu masuk kereta." Sampai sekarang, si teman saya itu bahkan tak mau berfoto jika kelewat Magrib, meski tak di gunung, karena takut mendapatkan hasil seperti di Salak kemarin. Saya bergidik ngeri, dan tak akan mengulangi kepongahan kata-kata semacam itu.

Saya pikir, memang benar juga adanya, kalau gunung bukanlah sesuatu yang sedemikian jahatnya untuk ditaklukkan. Gunung bukanlah suatu benda pemuas ambisi para pendaki yang kadang lupa akan hakikat pendakian itu sendiri. Maka dari itu, saya beranggapan bahwa mulai saat ini, kita tak boleh pongah, tak boleh ambisius sampai ingin menaklukkan gunung di bawah kaki kita. Karena kita adalah sahabat alam, maka gunung adalah sahabat kita.

Ayu Welirang
Jakarta, 26 Agustus 2012

Thursday, August 23, 2012

Jurnal Pendakian: Mistisnya Gunung Cikuray Garut (21 - 22 Agustus 2012)

Lebaran kemarin, saya sebenarnya tidak begitu ingin mendaki gunung. Ketika seorang kakak jauh mengajak naik gunung, bersama sembilan orang lainnya, saya pun mengiyakan. Ketika saya mengetahui gunung mana yang akan didaki, saya agak ragu. Gunung Cikuray menjadi tujuan pendakian kemarin. Saya mencoba menguatkan hati, dan berangkat dengan persiapan yang agak kurang matang karena beberapa gears tertinggal di Jakarta.

Berangkatlah saya dari Bandung dengan motor kakak saya, menuju Terminal Guntur - Garut. Perjalanan memakan waktu kurang lebih empat jam, karena kondisi lingkar Nagreg macet total. Karena tidak ada buka tutup, kami harus mengantri sampai jalanan benar-benar stabil kembali. Setelah sampai di Terminal Guntur, kami memenuhi logistik yang belum lengkap dan packing kembali. Sambil menunggu delapan orang lagi dari @infopendaki yang akan menanjak bersama, saya, kakak saya, dan satu orang yang sudah ada di sana lebih dulu, mengobrol seputar Cikuray.

Baris atas: Macetnya jalan menuju Garut dan Langit yang bersemu jingga di terminal Garut
Baris bawah: Di terminal dan di alfamart :P

Sekitar jam sembilan pagi, delapan orang yang lain datang. Kami langsung mencari kendaraan menuju ke Cilawu, dan akan naik lewat pemancar. Dapat angkutan kota yang sudah ditawari bayaran seratus sepuluh ribu rupiah melaju, menuju Cilawu. Dari Cilawu, kami mencari truk untuk disewa sampai tower pemancar, karena jaraknya dari Cilawu cukup membuat kaki dan lutut ngilu. Sepanjang jalan, kami menikmati dinginnya Garut dan tipisnya oksigen yang mulai menyentuh pernafasan. Sepanjang jalan, kami menumpukan harapan pada ransel-ransel besar dengan berliter-liter air, mengingat Cikuray yang tidak memiliki sumber air di sepanjang jalur dan puncak. Suplai air di Cikuray, hanya bisa didapatkan dari bawah. Ketika mulai naik gunung, dan menuju puncak gunung, air harus benar-benar diatur sedemikian rupa, untuk berapa lama di gunung, karena tidak ada sumber air.

Gunung Cikuray di kejauhan.

Sampai di pemancar, kami mulai bersiap dan naik sekitar jam satu siang. Suasana panas menambah keringnya kerongkongan kami yang harus menahan untuk minum air selama beberapa periode menuju puncak. Manajemen situasi harus benar-benar pas. Sepanjang kebun teh, kami menyusuri jalur berpasir yang membuat tenggorokan semakin kering saja. Sekitar tiga puluh menit menanjak bukit berpasir, kami sampai di wilayah vegetasi dan di sinilah awal pendakian menuju Cikuray.

Kami mendaki terus sampai melewati pos-pos pendakian. Di Cikuray, ada sekitar enam pos dan satu puncak bayangan. Setelah pos keenam dilewati, maka kita akan sampai di puncak yang berjarak waktu tidak terlalu lama dari pos terakhir. Sementara, kalau dihitung secara normal, waktu tempuh dari puncak bayangan menuju puncak Cikuray sekitar 30 menit sampai satu jam saja.

Setelah petang atau waktu magrib, kami baru sampai puncak bayangan. Di sinilah hal yang tidak diinginkan akhirnya terjadi. Dua orang membawa tenda, dan menuju puncak Cikuray lebih dulu untuk memasang tenda. Sedangkan, sembilan orang yang sisa, menunggu di puncak bayangan sambil beristirahat, makan, minum, ibadah, dan sebagainya. Mulai di puncak bayangan, saya sendiri mulai merasakan sesuatu yang aneh. Ya, ini mungkin biasa. Tapi, energi negatif di sekitar saya, agak terlalu berlebihan. Saya biasa-biasa saja dan tidak menganggap ini sesuatu hal yang perlu ditakuti, karena hal seperti ini lumrah saja jika di rimba raya.

Di truk, sampai pemancar, dan sampai pos 1.

Setelah Magrib lewat, kami pun packing lagi dan bersiap untuk menuju puncak Cikuray yang katanya tidak begitu jauh dan tidak memakan waktu tempuh yang begitu lama. Saya mengangguk dan mencoba jalan. Dengan senter seadanya, kami coba naik ke puncak Cikuray dengan bersusah payah. Medan terjal yang kami lewati sejak dari kaki dan lingkungan vegetasi, membuat kami sudah cukup lelah untuk menuju puncak. Belum lagi, beberapa orang yang sepertinya agak kurang mengerti etika naik dengan benar, malah minum minuman beralkohol di jalur. Ini hal yang tidak dilarang, hanya saja harus melihat situasi dan kondisi. Mereka yang minum inilah yang berpotensi untuk menghabiskan air lebih banyak. Pasalnya, sehabis minum, orang pasti kehausan karena tenggorokannya kering. Hal inilah yang membuat energi negatif semakin menguasai kami.

Kami naik terus dan berhenti terlalu sering. Sementara, saya masih merasa ada yang mengikuti terus sejak tadi, bukan manusia tentunya. Hal ini belum kentara betul, sampai kami menemukan suatu tanda dimana kami sadar, bahwa jalur kami ini sejak tadi hanya berputar saja. Bayangkan, dari waktu tempuh yang hanya satu jam saja bisa sampai puncak Cikuray, harus memakan waktu berjam-jam. Jam sembilan malam, kami memutuskan berhenti di suatu tanah lapang, dan memasang beberapa matras sebagai alas tidur. Karena tidak ada tenda, kami memaksa diri untuk menahan dingin, sampai subuh tiba dan kami bisa naik ke puncak Cikuray. Kami berdoa, berharap mendapat perlindungan dan berharap agar bisa kembali ke persinggahan masing-masing, dengan selamat. Kami mulai memasak apa yang tidak dibawa oleh dua orang sebelumnya--yang memasang tenda di puncak--dan kami mulai bergantian menjaga. 

Sekitar jam tiga pagi, mulai terdengar suara-suara manusia. Saya terbangun dan setengah sadar melihat sekitar. Yang lain pun bangun dan mulai berjaga, karena suara itu biasa saja. Tak ada yang pernah tahu, ada apa di gunung dan rimba. Sambil berjaga, kami memasak lagi. Suplai untuk energi lagi. Kami memasak teh, kopi, susu jahe, dan apa saja yang bisa menenangkan sekaligus menghangatkan. Hampir subuh dan manusia pun mulai summit attack. Kami bertemu beberapa orang yang mulai menuju puncak Cikuray. Di saat itulah, kami tersadar dari ketakutan kami yang sempat bergelayut sepanjang jalur pendakian. Kami pun bersyukur dan membangunkan yang lain. Masih ada manusia di sekitar kami, selain kami dan itu berarti, kami aman.

Setelah menyuplai energi, sebelum benar-benar terang, saya menuju ke puncak Cikuray. Dengan bermodalkan senter, saya pun naik. Dan sungguh tidak saya sangka. Ternyata, dari tempat saya dan teman-teman beristirahat karena kondisi sudah drop sekali dengan hal gaib dan juga lelah, puncak Cikuray sangatlah dekat! Tidak sampai limabelas menit saya sampai di sana, ketika hari mulai pagi. Dan untuk mengecek kebenaran klenik yang ada, saya pun mengambil gambar ke arah jalur, dengan blitz yang sudah dinyalakan. Ketika mengambil gambar, banyak orbs yang tertangkap kamera. Menurut beberapa pemahaman, orbs adalah suatu anomali gelombang cahaya yang tertangkap kamera dan menandakan adanya makhluk lain yang tak kasat mata. Inilah yang membuat saya percaya, kalau kondisi kami yang pongah dan sombong terhadap gunung, membuat kami mendapat pelajaran dari para makhluk halus yang lebih mencintai gunung daripada kami. Kami pun bersyukur, masih dapat menikmati keindahan gunung, meski dengan beberapa kesalahan. Dan dari sana, saya belajar untuk lebih paham alam, dan tidak pongah.

Mamang Welly, Sereal Pilus :)), Orbs, dan Sunrise dari Cikuray

Di puncak, saya berteriak memanggil yang lain. Yang lain pun mendengar dan mulai menyusul ke puncak satu per satu. Sedangkan, seorang dari kami menjaga barang dan nanti akan menyusul jika yang naik lebih dulu sudah turun dan ganti giliran menjaga barang.

Menunggu saat matahari terbit adalah yang paling membahagiakan. Menyaksikan matahari itu terbit di antara bayangan gunung Ceremai dan gunung Slamet di kejauhan, adalah suatu anugerah. Maka, ketika sang surya telah mulai mengudara, saya pun bersiap dengan kamera saya. Foto yang saya ambil cukup memuaskan, meski tidak begitu bagus, dan inilah yang membuat saya semakin mencintai alam ini, bersyukur untuk mentafakuri alam Tuhan yang begitu indahnya. Sungguh, selagi hidup, saya tidak akan pernah berhenti mengagumi keindahan alam Indonesia.

Sunrise :')

Dwi dan Lautan Awan

Lautan Awan! :D

Setelah puas, meski belum begitu puas (karena menyaksikan keindahan tidak akan mungkin pernah puas), kami makan pagi lalu packing untuk turun kembali ke pemancar dan menghadapi realita hidup. Sekitar pukul setengah sebelas, kami turun. Tidak sampai limabelas menit kami sampai puncak bayangan. Hal ini makin membuat saya percaya bahwa jalur saya semalam memang diputar oleh entah apa. Dan saya hanya bisa berterima kasih dengan para makhluk itu, karena dengan begitulah teman-teman saya baru bisa sadar dari kepongahannya.

Selama lima jam lebih kami menuruni gunung dan sampai di pemancar sekitar pukul tiga sore. Kami menunggu truk yang akan menjemput sambil menikmati dinginnya air mentah yang menghilangkan kekeringan di tenggorokan kami. Truk pun datang, dan di sinilah akhir perjalanan kami yang tidak akan pernah berakhir. Tak berhenti di sini, kami akan terus mendaki, mensyukuri, menikmati.

Jakarta, 23 Agustus 2012
11:29 PM

PS:
Karena saya pakai motor ke Garut, jadi saya mau tuliskan biaya tambahan buat yang ingin ke Cikuray naik kendaraan umum.

  • Bis Jakarta - Garut: Primajasa Rp 35.000, turun terminal Guntur.
  • Angkutan Terminal Guntur - Cilawu (daerah kaki gunung Cikuray): Carter angkot Rp 150.000, per orang biasanya Rp 7000 - Rp 15.000
  • Dari Cilawu ke pemancar (awal mula pendakian): ojek per orang Rp 30.000, truk carter per orang Rp 20.000, angkot carter per orang Rp 10.000 cuma sampai pos penjagaan. Jalan kaki lebih baik lewat Dayeuhmanggung, karena lebih cepat dan tidak lewat pos penjagaan yang mengharuskan bayar dan birokrasi ribet. Hehe.
  • Sampai pemancar, tinggal berdoa dan naik. Dan air tidak ada di sepanjang jalur sampai puncak, jadi cobalah untuk membawa air secukupnya sejak dari pemancar.
Have a good trip, mates! :)


Friday, May 4, 2012

Turun Gede Lalu Ke STOVIA

Sepulang dari Gede hari Minggu lalu, masih ada satu tanggung jawab yang musti saya emban dan selesaikan. Tanggung jawab untuk membawa salah dua (karena ada dua orang), anggota pendakian dari Semarang. Sudah jadi suatu kewajiban bagi kota penyelenggara untuk menjamu, atau setidaknya memberikan tempat singgah sebelum pendaki luar benar-benar pulang ke kota masing-masing.

Senin kemarin, saya sengaja tidak masuk kerja agar bisa menemani Bunda Giri dan Pakde Prapto untuk singgah sementara di kontrakan saya. Beliau ini sudah seperti orang tua sendiri ketika naik ke gunung-gunung mana saja. Dan Senin kemarin, seperti halnya pelancong luar kota, saya bermaksud untuk mengajak mereka berkeliling Jakarta, utamanya sih daerah Monumen Nasional. Sambil menunggu keberangkatan Tawang Jaya jurusan Jakarta - Semarang pada hari Senin malam, sebelumnya Bang Farhan mengajak saya, Zhygoth, dan mereka berdua untuk menuju Monas, dari Stasiun Pasar Senen. Menyusuri RSPAD Gatot Soebroto dan sekitarnya.

Di Depan Museum Stovia - Farhan, Bunda, Saya

Saya memang jarang sekali berkeliling Jakarta. Jadi, saya ini sebenarnya baru mengetahui kalau Senin lalu itu, saya telah menginjakkan kaki di salah satu gedung yang mengawali tonggak sejarah pemuda dan Kebangkitan Nasional. Sayangnya, setiap museum tutup pada hari Senin. Tapi, dengan segenap rasa tidak-tahu-malu, saya dan Zhygoth memberanikan diri untuk meminta izin pada satpam agar diperbolehkan berkeliaran di sekitar museum yang tutup.

Salah satu keinginan saya untuk menyukseskan program "Visit Museum 2010 - 2014" akhirnya bisa terlaksana lagi pada Senin kemarin. Pasalnya, dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, saya aktif mengunjungi berbagai jenis museum. Tidak seperti teman-teman satu kampus saya dan satu kantor saya yang senangnya berkeliaran di pusat perbelanjaan, saya malah mengunjungi museum. Kadang, ada saja teman saya yang iseng dan bertanya, "Kok kayak orang tua aja sih Yu? Masa main di museum?" Loh? Ya saya jawab saja, silakan lakukan agamamu dan jangan usik agama saya. Kurang lebih seperti itulah. Hehe.

Kelas Kartini - STOVIA

Justru, dengan mengunjungi museum, kita tak serta-merta melupakan sejarah. Meski tak begitu memberi kontribusi, setidaknya kita masih ingat, bahwa ada satu peninggalan yang patut untuk kita tengok. Bagaimana seluk-beluk dan awal mula terjadinya kita, merdekanya kita, dan bisa makan enaknya kita.

Hobi saya memang selalu dipertanyakan orang. Kenapa saya naik gunung terus? Kenapa saya pergi ke museum terus? Ya mau bagaimana lagi. Saya memang hobi dan kecintaan akan sesuatu itu tak perlu menuntut jawaban. Saya sendiri bahkan tidak tahu apa jawabannya. Jadi, saya hanya bisa mensyukuri dan menikmati setiap inchi perjalanan hidup yang kadang dipertanyakan orang ini.

Kembali ke museum.
Turun Gede, rasanya lucu kalau langsung mampir ke museum. Mana museumnya sedang tutup dan tetap memaksakan diri untuk masuk. Banyak pelajaran yang saya dapat. Banyak kejadian dan sejarah yang bisa saya rapatkan dalam benak. Bahkan, Pakde Prapto jadi bernostalgia. Beliau takjub melihat STOVIA. Sekolah kedokteran di awal zaman pergerakan nasional itu berhasil beliau singgahi. Sayang sekali, waktu yang tidak memungkinkan membuat kami semua harus segera beranjak dari ex-Gedung STOVIA, Museum Kebangkitan Nasional saat ini.

Dan perjalanan pun kami lanjutkan menuju Monas. Menyusuri Kwitang, wisata buku tua, gedung aparat negara yang berhiaskan rusa-rusa kecil, dan jalanan Jakarta yang terhujani.

Ini nostalgia...
Senarai kisah dipetik dari sejarah.
Meski gedung-gedung dipugar, meski jarum jam berputar, meski lampu taman kota semakin berpendar, sejarah akan tetap menyusur langkah. Sejarah, akan tetap merah. Tak padam, tak buram...


[Ayu]
Jakarta, 1 Mei 2012

Tuesday, May 1, 2012

Jurnal Pendakian: Opsih Gunung Gede

Akhir bulan April, saya menghabiskan waktu untuk naik gunung lagi. Berhubung belum bisa pergi ke gunung yang jauh, jadilah saya naik gunung Gede lagi. Yang berbeda hanyalah teman-teman naik. Kali ini, saya naik gunung bersama orang yang belum saya kenal. Saya bertemu mereka hanya dari komunitas maya bernama PELAM - Pendaki Lintas Alam. Dan pendakian pertama bersama orang-orang yang belum saya kenal ini, nyatanya berjalan mulus. Justru sangat menyenangkan bisa bertemu dengan teman-teman yang baru dan belum pernah saya temui sebelumnya. Menambah kawan, menambah saudara.

Suryakencana - Pintu Timur

Jum'at, 27 April 2012
Sepulang kerja, saya langsung menuju kontrakan untuk packing dan menyiapkan segalanya. Beberapa hari kemarin, saya tidak sempat packing karena terlalu sibuk bekerja. Saya langsung memasukkan apa yang dibutuhkan ke dalam daypack. Dan setelah semua masuk, saya kontak teman untuk mengantar saya ke Kampung Rambutan. Di terminal, nantinya saya akan bertemu dengan teman-teman online untuk pertama kalinya. Meeting point pertama yaa di Rambutan itu. Kalau misalnya saya bertemu mereka di starting point pendakian, saya tak yakin akan sampai sana. Pasalnya, saya sering sekali salah jalan kalau mau memulai naik gunung. Payah lah pokoknya.

Sampai di Rambutan, saya tidak langsung bertemu orang-orang itu karena belum tahu wajahnya. Saya kontak kepala sukunya, ternyata dia sendiri masih ada di dalam busway. Macet katanya. Ada yang menelepon saya dan bertanya posisi. Rupanya itu adalah salah satu kawan di komunitas juga. Namanya Gawok Mawut. Dia dan beberapa kawan lain, menunggu di depan gerbang keluar bis terminal.

Bertemulah saya dan saya pun duduk-duduk sejenak sambil menunggu kepala sukunya datang. Setelah datang, kami semua langsung mencari bis yang menuju ke Cipanas. Rencananya, kami akan naik dari jalur gunung Putri.

Sabtu, 28 April 2012
Sampailah saya di jalur gunung Putri, sekitar jam dua malam. Di sini, kami menunggu kloter lain yang berangkat belakangan meskipun satu komunitas. Agak aneh juga  bagi saya, karena saya jadi tidak menemukan sebuah kekompakan. Saya dekat dengan kloter saya saja jadinya. Untuk kloter lain, saya tidak kenal meskipun satu almamater, syal biru. Dan ini agak menjadi masalah sebenarnya, karena utamanya dari pendakian massal ini untuk menambah saudara. Tapi, ya sudahlah. Saya tidak ambil pusing. Saya sudah cukup senang mendapatkan saudara baru, kawan-kawan dari Semarang - O'fals, Lampung, dan Tegal - Compak 3428mdpl, Ranger Gunung Slamet.

Sampai subuh, kami menunggu waktu pendakian dalam dingin. Kabut saat itu cukup tebal juga. Tidak seperti biasanya ketika saya naik gunung Gede dari jalur Putri. Biasanya kabut tak setebal ini. Sepertinya, cuaca di atas nanti agak kurang baik. 

Jam delapan pagi kami mulai naik. Kloter saya yang berisi orang-orang Semarang plus saya dan beberapa orang Jakarta, akhirnya berangkat. Kami naik cukup cepat. Padahal, ada salah satu anggota yang baru pertama kali naik gunung. Mengingat jalur gunung Putri yang cukup curam, sepertinya di tengah perjalanan akan sedikit tersendat. Dan benar saja, ankle dua anggota pun cedera. Posisi saya saat itu sudah berada jauh di atas. Saya putuskan untuk duduk dulu, menunggu yang lain sampai dan melanjutkan pendakian bersama-sama.

Masih Bisa Foto -_-

Pendakian memakan waktu cukup lama. Seharusnya, jam satu siang kami sudah bisa sampai di Suryakencana. Waktu pendakian yang cukup lama karena cedera, akhirnya membuat kami sampai di Suryakencana jam tiga sore, saat kabut mulai perlahan turun. Tumben sekali, karena biasanya waktu-waktu sore seperti itu, cuaca masih cerah. Wah, sepertinya malam nanti akan turun hujan.

Setelah memasang tenda, kami beristirahat dan berkegiatan bebas. Ada yang berfoto, ada yang mengambil air, dan saya bergabung di kloter dari anak Tegal - Ranger Gunung Slamet. Lumayan, menambah teman baru lagi.

Minggu, 29 April 2012
Sebenarnya, banyak sekali yang belum diceritakan. Tapi, berhubung saya tidak ingin membuat pembaca bosan karena tulisan yang panjang ini, saya ingin sudahi saja tanggal duapuluhdelapan dan menuju ke hari akhir pendakian massal. Di hari akhir, kami membawa karung masing-masing satu untuk melakukan operasi bersih di sekitar jalur ke puncak dan jalur turun Cibodas.

Hari Minggu, kami beres-beres dan segera menuju puncak Gn. Gede. Kondisi saat itu sangat tidak memungkinkan. Kabut tebal turun di sepanjang jalur menuju puncak dan pastilah pemandangan tidak akan seindah biasanya. Pemandangan ke arah Pangrango pasti tidak terlihat. Meski waktu pendakian ke puncak tidak memakan waktu lama, rasanya tidak terbayar kalau tidak melihat Gunung Pangrango. Ya sudahlah, mungkin memang waktunya tidak tepat. Sudah sampai puncak saja sudah sangat beruntung sekali.

Bersama Ofals Semarang dan Ranger Tegal

Setelah mengambil beberapa foto, kami pun berpamitan dengan kloter Tegal. Mereka ini kan ranger, jadi kalau turun pastilah sangat cepat. Sedangkan kami pasti sampai barak Green Ranger Gunung Gede dalam waktu yang cukup lama. Setelah berpamitan, kloter saya melanjutkan berkeliling dan rombongan Tegal, turun. 

Beberapa foto agak kurang menarik karena suasana saat itu sangat berkabut. Karena kabut semakin tebal, kami pun akhirnya turun dari jalur Cibodas. Berharap tidak lewat tanjakan setan, kami berjalan terus. Nyatanya, kami harus menahan laju turun karena kondisi jalur Cibodas yang sangat licin. Sambil terus berdoa agar bisa melipir dari tanjakan setan, kami terus turun. Saat itu, lutut saya juga agak sedikit bermasalah. Maklum, sudah tua. Jadi saya terpaksa jalan paling akhir seperti sweeper dan mencoba untuk berjalan pelan.

Doa kami ternyata belum ampuh. Kami tetap lewat tanjakan setan dan harus berusaha membawa salah satu anggota yang paling muda di kloter kami. Kami membawa satu anak SD dalam pendakian. Akhirnya, kepala suku menggendong Ridho--nama anak itu--agar melewati tanjakan setan dengan aman.

Jalan kami pun semakin dipercepat. Kami takut sampai di lokasi air panas saat gelap. Kalau sudah gelap, sangat beresiko sekali jika melewati jalur air panas. Di sebelah kiri itu jurang dan hanya dibatasi dengan tambang saja. Belum lagi jalur air panas yang penuh batu kali dan sangat licin. Hal ini sangat berbahaya dan kami harus mengkondisikan laju jalan kami. Cepat-cepat kami berjalan, meskipun ankle saya sudah bermasalah. Saya paksa jalan dan lewat juga jalur air panas.

Setelah berjalan terus, kami semakin mempercepat laju perjalanan. Saya sangat paranoid kalau turun gunung lewat petang. Banyak hal tak terduga yang bisa dilihat dan saya benar-benar paranoid. Kondisi saat naik gunung dan turun gunung itu sama sekali berbeda. Ketika naik, kita semangat seolah ada yang dikejar. Namun, ketika turun, pikiran serasa kosong dan banyak hal yang bisa dilihat, apalagi hal mistis. Yang saya takutkan adalah ketika melewati Telaga Biru. Meski Cibodas sudah dekat, tetap saja menyeramkan. Lewat sini, jalan di kanan kiri pastilah mencekam.

Bunda Giri sendiri--salah satu anggota dari Semarang--sempat mengatakan kalau dia diikuti sesuatu. Ketika turun dan sampai di terminal lagi, Bunda Giri sempat bercerita. Dia melihat sesuatu yang menyeramkan, sepanjang jalan malah. Ada yang tertawa, bahkan ada yang ngglendoti dia. Duh, untung saja paranoid saya juga cuma sehari itu saja. Anehnya, saya tak pernah bosan ke gunung ini, meski berkali-kali disuguhi hal mistis. Hehe.

Sampai Cibodas dan kami langsung menuju barak Green Ranger Gunung Gede. Kami beristirahat dan berganti pakaian. Kami akan segera pulang dan tidak menginap dulu di barak, karena besok ada yang bekerja. Setelah semua lelah hilang, kami berpamitan dengan semua panitia dan juga Pak Idhat Lubis--kakak dari salah satu yang meninggal di Gunung Semeru bersama Soe Hok Gie. Setelah berpamitan, saya dan lima orang kloter tiga, menunggu angkutan sambil ngopi. Hehe.

Kiri: W/ Bunda Giri, Kanan: Mas Gawok & Wisnu

Angkutan datang dan inilah hal yang paling menyedihkan bagi saya. Sedih harus berpisah dengan teman-teman baru dan teman-teman menyenangkan. Sedih harus meninggalkan saudara. Tapi, saya yakin kalau nanti juga kami pasti bertemu lagi. Entah dalam rangka pendakian massal lagi atau sekedar kunjungan ke basecamp masing-masing. Entahlah. Yang jelas, saya rindu saudara-saudara baru saya dan semoga kami bisa bertemu lagi.

Jakarta, 1 Mei 2012

didedikasikan untuk saudara baru: Zu Erna, Bunda Giri, Pakde Prapto, Mas Gawok, Mas Blangkrah Edan, Bang Farhan, Mbak Karin, Ridho Kecil, Lendo Lampung, Wisnu Pulogadung, Ranger Tegal...