Saturday, March 3, 2012

Batik, Canting Versus Printing

Batik Indonesia adalah warisan budaya yang diwariskan oleh nenek moyang kita. Ada berbagai macam motif batik yang dipadukan dengan pakaian-pakaian tradisional dari seluruh provinsi di Indonesia. Semua itu adalah hal yang harus dilestarikan oleh bangsa kita sendiri. Yang menjadi pertanyaan adalah, pedulikah kita terhadap warisan budaya tersebut?

Batik itu adalah ciri khas yang unik karena tidak ada lagi negara selain Indonesia yang mempopulerkan batik. Sayangnya, saat ini, orang-orang Indonesia sendiri seperti tidak peduli dengan warisan leluhurnya yaitu batik Indonesia. Banyak batik-batik yang beredar dan malah dibuat oleh orang luar. Mereka seperti ingin mencari celah untuk memiliki budaya Indonesia. Wah, jangan sampai terjadi hal seperti itu. Indonesia ini kaya akan budaya, tapi orang-orangnya tidak peka terhadap budaya mereka dan malah mengagungkan budaya luar. Padahal, batik bukanlah hal yang kuno. Batik saat ini sudah bisa dipadupadankan dengan pakaian modern, dengan model-model pakaian yang berbeda. Bukan hanya kain batik yang disampirkan di tubuh kita, tapi sudah menjelma menjadi pakaian siap pakai.

Pemahaman mengenai batik, sempat didapat dari artikel yang juga ditulis di sini. Ketika sedang berada di Kinokuniya, buku berjudul Canting karya Arswendo Atmowiloto mencuri perhatian. Di antara deretan buku-buku bertema cinta dan semacamnya itu, buku Canting sangatlah berbeda. Yang miris adalah, kenapa buku seperti itu ada di bagian paling bawah? Wah, padahal kalau dibaca isinya, pastilah akan sangat bangga dengan apa yang terkandung dalam buku itu.


Canting membahas tentang batik dan keluarga pengrajin batik. Batik yang dulunya sangat berjaya di masanya, dengan produksi berhari-hari dan berbulan-bulan karena dibuat dengan canting, alat untuk membatik. Canting yang berisi tinta panas yang ditiup-tiup pipanya, lalu dicoretkan ke atas kain batik yang secara khusus memang disediakan untuk membuat batik. Pada masanya, canting menjadi primadona dalam membuat batik. Seiring dengan berjalannya waktu, karena efisiensi waktu yang kurang, canting pun tergusur perlahan-lahan. Teknologi telah mengubah produksi batik yang dulunya dengan canting, menjadi batik printing. Dengan teknologi, batik motif indah yang dihasilkan dalam waktu berbulan-bulan, bisa dibuat dalam waktu beberapa jam saja, dengan metode printing.


sumber gambar di sini


Bagi produsen batik, sah-sah saja menggunakan metode printing. Yang  bisa menjadi masalah adalah, motif batik khas suatu daerah, bisa saja dicuri oleh negara lain, dengan mengambil contoh batik dan membuatnya di dalam media komputer. Lalu, bisa saja motif khas suatu daerah di Indonesia, menjadi kepunyaan negara lain, karena bisa dihasilkan dengan metode printing. Wah, sayang sekali kalau seperti itu.

Lagipula, ciri khas batik ada pada cantingnya. Seperti halnya ulos dan songket yang dihasilkan dengan cara-cara tertentu. Batik Indonesia memang sudah seharusnya dilestarikan dengan cara-cara yang tetap tradisional, karena ciri khasnya ada disana. Meskipun batik printing hampir mirip batik canting, tetap saja ada yang berbeda dari ciri kain dan wanginya. Bagi orang yang senang batik tradisional, jelas akan lebih memilih batik canting.

Fenomena tergesernya batik canting dengan batik printing ini bukanlah sesuatu yang perlu dibesar-besarkan. Namun, bagi peminat batik tradisional, kalau bisa mengkoleksi batik canting, rasanya akan sangat bahagia sekali. Kain yang dimiliki pun adalah kain dengan tipe tertentu. Semacam kolektor lukisan yang senang dengan lukisan tradisional di atas kanvas, daripada di atas kertas tebal biasa. Seperti itulah batik canting. Kain batik canting pun bukanlah kain sembarangan.

Pengrajin batik canting masih ada, hanya saja tidak terlihat. Mengapa bisa begitu? Itu terjadi karena batik Indonesia dengan canting sudah mulai ditinggalkan. Pengrajin yang masih tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional itu mungkin hanya tinggal menunggu waktu saja sampai benar-benar tergusur secara mutlak. Mereka masih bisa berproduksi, apabila ada pesanan dari orang-orang keraton atau semacamnya. Orang-orang keraton tentu saja masih menginginkan batik yang tradisional, karena kualitasnya sangat bagus. Sayangnya, orang Indonesia sendiri sudah meninggalkan batik, apalagi batik canting. Bagi mereka, batik dianggap kuno dan semacamnya. Melestarikan batik printing saja sudah malas, apalagi batik canting? Sungguh, ini adalah fenomena yang menyedihkan sekali. Orang Indonesia sendiri lebih suka dengan budaya luar negeri, daripada budaya negerinya sendiri.

Mudah-mudahan dengan adanya fenomena batik canting dan batik printing yang berlomba-lomba untuk dilirik, orang Indonesia bisa sadar betapa giatnya para pengrajin batik dalam mempertahankan eksistensi batik sebagai warisan budaya Indonesia. Semoga orang-orang bisa lebih peka dan bangga akan budaya leluhur yang menjadi ciri khas negara Indonesia. Semoga dengan begitu, anak muda juga bisa perlahan-lahan melihat dengan mata mereka bahwa budaya Indonesia sendiri masih mencari-cari ruang untuk eksistensi. Sudah seharusnyalah kita sebagai rakyat Indonesia, berusaha untuk mempertahankan itu. Tidak harus menunggu sampai budaya kita punah dulu atau dicuri negara lain dulu, baru bergerak. Mulailah sebelum semua itu terjadi, agar nantinya tidak ada lagi yang berani menuding batik Indonesia sebagai ciri khas negara mereka.


Jakarta, 3 Maret 2012

Ayu Welirang


4 comments:

  1. iya yah, seharus nya kebudayaan batik ini terus di lestarikan ya, benar juga kita seperti lupa atau memang lupa, kita terbuat dengan budaya luar dan saat yg sama orang luar juga terbuai dengan budaya kita, seandainya lebih banyak lembaga atau sekolah yg memberikan pengetahuan seperti membatik dan budaya lainnya mungkin hal ini akan tetap terlestarikan, begitu bukan ?? :D

    ReplyDelete
  2. batik itu enak dipake. adem...dan unik

    ReplyDelete
  3. @Stupid monkeybetul. :) Saya sendiri adalah batik holic dan barong holic.. :D

    ReplyDelete
  4. @Sang Cerpenis berceritayang bikin unik ituuuu yaaa motifnya.. ^^

    ReplyDelete