Thursday, April 12, 2012

Secuil Kisah Sosio-Musika

Kerusuhan di Kosovo
Soal musik bukan sekedar fanatisme saja. Ada pesan dan unsur utama yang seharusnya memang dapat terlaksana dengan baik oleh para pendengarnya. Seputar kemanusiaan, seputar keadilan, kebobrokan sosial, dan hal-hal tertentu semacam itu yang tidak bisa dihapuskan dari negara bobrok hanya dengan teriakan-teriakan dan peluh saja. Hal tersebut tidak bisa dihapuskan hanya dengan meneriaki kantor dan gedung DPR atau bahkan melempari aparat dengan batu panas. Ada satu hal yang efektif dan benar-benar fleksibel untuk menyuarakan sebuah kesenjangan dalam sosial. Hal tersebut tentu saja disebut musik. Musik yang bagaimana? Mari simak ulasan berikut.

Satu bulan lalu, saya sempat menulis di kompasiana tentang hal yang sama akan sebuah sosial dalam musik. Menulis tentang sosial yang disampaikan melalui musik. Saya membahas musik reggae sebagai salah satu suara dari gerakan Rastafari. Suara yang dicetuskan para kaum kulit hitam dan buruh-buruh yang terganggu sosialnya. Secara tidak sadar, tulisan saya itu di-share ulang oleh salah satu situs resmi dari media Music Bandung dan bisa dibaca pada tautan berikut ini.

Tak hanya reggae rupanya. Sebuah band yang mampu mempertahankan eksistensi selama dua dekade dan tak mengalami perubahan personil yang kelewat signifikan, nyatanya juga tak seperti yang dibayangkan. Banyak orang dari kalangan-kalangan anti kapitalis yang mencoba menghantamkan antar fans club sehingga keduanya saling memusuhi. Oknum seperti itu sebenarnya tak begitu tahu tentang fakta-fakta yang ada dari sebuah band. Dan kemudian, kebohongan yang berlebihan itu bisa dipatahkan dengan munculnya beberapa pemberitaan tentang kontribusi band seattle sound yang masih memiliki eksistensi sampai saat ini. Sebut saja Pearl Jam. Mungkin kalian bosan dengan disampaikannya informasi seputar band ini. Tapi, setidaknya kalian menjadi lebih tahu bahwa kebohongan itu sangat tidak bisa untuk ditolerir lagi.

Sunday, April 8, 2012

Tur Budaya Duaribu Saja

Libur panjang yang jarang sekali saya dapatkan karena pekerjaan yang begitu menyibukkan, akhirnya saya dapatkan juga bulan ini. Meski diselingi dengan padat kuliah yang tetap menubruk hari libur, setidaknya saya mendapatkan libur Jum'at dan Minggu. Lumayan lah, untuk istirahat dan mencari inspirasi. Saya bersyukur karena akhirnya bisa membebaskan diri tanpa perlu banyak berpikir. Berpikir tentang masalah yang sedang njelimet dalam benak ini beberapa minggu terakhir.

Siang tadi, orang tua mampir ke kost saya di Ciputat dan tanpa pikir panjang, saya mengajak mereka untuk ikut berwisata. Kemana? Begitu tanya Ibu. Nah, saya punya ide untuk mengajak kedua orang tua saya ke Kota Tua. Berhubung mereka juga jarang ke sini dan hari ini hari Minggu. Pastilah mereka senang berpanas-panasan di tengah atmosfir hiburan yang murah dan ringan.

Sampai di Kota Tua, saya berkeliling dan mengambil beberapa foto untuk buletin kampus. Jarang sekali ada orang yang mau membaca buletin kampus. Jadi, untuk isinya dibebaskan saja kepada saya. Terserah saya yang tulis. Saya tulis, saya edit, dan saya sebarkan lewat forum mahasiswa kelas ekstensi. Setelah mengambil foto untuk esai foto pada buletin kampus yang seadanya, saya berkeliling lagi.

Banner "Enjoy Jakarta"

Saya terhenti pada Museum Wayang. Saya teringat akan ajakan seorang kakak dari UIN Jakarta yang bernama Abdullah Alawi. Saya ingat ajakannya ke acara wayang yang diadakan di student center UIN dan pernah juga saya bahas di sini. Jadilah, waktu melihat museum wayang dan melihat ada banner besar di sebelah pintu keluar--perihal acara wayang mingguan di bulan April--saya pun menyegerakan untuk masuk. Masalah datang. Saya tak membawa cukup uang. Meminta orang tua pun rasanya kok tak etis ya? Wong anaknya sudah kerja, tapi kok masih minta-minta. Hehe. Jadilah saya cek dulu keuangan dan memicingkan mata untuk mengintip loket masuk museum. Oh! Ternyata tiketnya murah sekali! Hanya duaribu rupiah saja, saya bisa masuk dan menikmati keseluruhan isi museum itu, yang menyajikan berbagai jenis wayang daerah berikut penjelasannya.

Mariiii masuk! Hehe.

Wednesday, April 4, 2012

Tutorial Border Blockquote

Teman-teman. Tumben banget kemarin sore saya ngulik HTML dari blog ini secara otodidak, tanpa tutorial. Lagipula, saya kangen masa-masa STM dan kuliah ekstensi IT dulu. Dulu saya memang basic dari bagian IT dan sekarang banting setir jadi jurnalis. Yah, saya memang hobi nulis dan nge-warta. Jadi, saya malah kuliah lagi  di FISIP. Sebenarnya nggak nyambung, karena saya dari IPA ke IPS. Ya sudahlah, tak perlu dibahas. Hehe.

Contoh Blockquote Syam

Nah, karena kemarin sore saya iseng-iseng baca buku tentang HTML dan script CSS. Ada yang mendorong saya untuk membuat suatu kode sendiri. Bermodalkan melihat-lihat ke blog teman, saya singgah di blognya Syam. Apa yang saya cari di sana? Selain mencari empunya blog, saya juga mencari apa yang bisa saya terapkan dalam hidup saya. Hehe. Nah, waktu lagi baca-baca, saya menemukan bentuk blockquote dari blog Syam yang mencuri hati saya. Alhasil, saya buka buku HTML dan membuat blockquote sendiri.

Jadilah blockquote seperti ini:

Nama saya Ayu. Saya lahir 23 September 1989 di Bandung. Saya anak pertama dari dua bersaudara. Bla... Bla... Bla... (example)
Mau tahu gimana cara buatnya? Ayo dibaca. :D