Friday, May 4, 2012

Turun Gede Lalu Ke STOVIA

Sepulang dari Gede hari Minggu lalu, masih ada satu tanggung jawab yang musti saya emban dan selesaikan. Tanggung jawab untuk membawa salah dua (karena ada dua orang), anggota pendakian dari Semarang. Sudah jadi suatu kewajiban bagi kota penyelenggara untuk menjamu, atau setidaknya memberikan tempat singgah sebelum pendaki luar benar-benar pulang ke kota masing-masing.

Senin kemarin, saya sengaja tidak masuk kerja agar bisa menemani Bunda Giri dan Pakde Prapto untuk singgah sementara di kontrakan saya. Beliau ini sudah seperti orang tua sendiri ketika naik ke gunung-gunung mana saja. Dan Senin kemarin, seperti halnya pelancong luar kota, saya bermaksud untuk mengajak mereka berkeliling Jakarta, utamanya sih daerah Monumen Nasional. Sambil menunggu keberangkatan Tawang Jaya jurusan Jakarta - Semarang pada hari Senin malam, sebelumnya Bang Farhan mengajak saya, Zhygoth, dan mereka berdua untuk menuju Monas, dari Stasiun Pasar Senen. Menyusuri RSPAD Gatot Soebroto dan sekitarnya.

Di Depan Museum Stovia - Farhan, Bunda, Saya

Saya memang jarang sekali berkeliling Jakarta. Jadi, saya ini sebenarnya baru mengetahui kalau Senin lalu itu, saya telah menginjakkan kaki di salah satu gedung yang mengawali tonggak sejarah pemuda dan Kebangkitan Nasional. Sayangnya, setiap museum tutup pada hari Senin. Tapi, dengan segenap rasa tidak-tahu-malu, saya dan Zhygoth memberanikan diri untuk meminta izin pada satpam agar diperbolehkan berkeliaran di sekitar museum yang tutup.

Salah satu keinginan saya untuk menyukseskan program "Visit Museum 2010 - 2014" akhirnya bisa terlaksana lagi pada Senin kemarin. Pasalnya, dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, saya aktif mengunjungi berbagai jenis museum. Tidak seperti teman-teman satu kampus saya dan satu kantor saya yang senangnya berkeliaran di pusat perbelanjaan, saya malah mengunjungi museum. Kadang, ada saja teman saya yang iseng dan bertanya, "Kok kayak orang tua aja sih Yu? Masa main di museum?" Loh? Ya saya jawab saja, silakan lakukan agamamu dan jangan usik agama saya. Kurang lebih seperti itulah. Hehe.

Kelas Kartini - STOVIA

Justru, dengan mengunjungi museum, kita tak serta-merta melupakan sejarah. Meski tak begitu memberi kontribusi, setidaknya kita masih ingat, bahwa ada satu peninggalan yang patut untuk kita tengok. Bagaimana seluk-beluk dan awal mula terjadinya kita, merdekanya kita, dan bisa makan enaknya kita.

Hobi saya memang selalu dipertanyakan orang. Kenapa saya naik gunung terus? Kenapa saya pergi ke museum terus? Ya mau bagaimana lagi. Saya memang hobi dan kecintaan akan sesuatu itu tak perlu menuntut jawaban. Saya sendiri bahkan tidak tahu apa jawabannya. Jadi, saya hanya bisa mensyukuri dan menikmati setiap inchi perjalanan hidup yang kadang dipertanyakan orang ini.

Kembali ke museum.
Turun Gede, rasanya lucu kalau langsung mampir ke museum. Mana museumnya sedang tutup dan tetap memaksakan diri untuk masuk. Banyak pelajaran yang saya dapat. Banyak kejadian dan sejarah yang bisa saya rapatkan dalam benak. Bahkan, Pakde Prapto jadi bernostalgia. Beliau takjub melihat STOVIA. Sekolah kedokteran di awal zaman pergerakan nasional itu berhasil beliau singgahi. Sayang sekali, waktu yang tidak memungkinkan membuat kami semua harus segera beranjak dari ex-Gedung STOVIA, Museum Kebangkitan Nasional saat ini.

Dan perjalanan pun kami lanjutkan menuju Monas. Menyusuri Kwitang, wisata buku tua, gedung aparat negara yang berhiaskan rusa-rusa kecil, dan jalanan Jakarta yang terhujani.

Ini nostalgia...
Senarai kisah dipetik dari sejarah.
Meski gedung-gedung dipugar, meski jarum jam berputar, meski lampu taman kota semakin berpendar, sejarah akan tetap menyusur langkah. Sejarah, akan tetap merah. Tak padam, tak buram...


[Ayu]
Jakarta, 1 Mei 2012

Tuesday, May 1, 2012

Jurnal Pendakian: Opsih Gunung Gede

Akhir bulan April, saya menghabiskan waktu untuk naik gunung lagi. Berhubung belum bisa pergi ke gunung yang jauh, jadilah saya naik gunung Gede lagi. Yang berbeda hanyalah teman-teman naik. Kali ini, saya naik gunung bersama orang yang belum saya kenal. Saya bertemu mereka hanya dari komunitas maya bernama PELAM - Pendaki Lintas Alam. Dan pendakian pertama bersama orang-orang yang belum saya kenal ini, nyatanya berjalan mulus. Justru sangat menyenangkan bisa bertemu dengan teman-teman yang baru dan belum pernah saya temui sebelumnya. Menambah kawan, menambah saudara.

Suryakencana - Pintu Timur

Jum'at, 27 April 2012
Sepulang kerja, saya langsung menuju kontrakan untuk packing dan menyiapkan segalanya. Beberapa hari kemarin, saya tidak sempat packing karena terlalu sibuk bekerja. Saya langsung memasukkan apa yang dibutuhkan ke dalam daypack. Dan setelah semua masuk, saya kontak teman untuk mengantar saya ke Kampung Rambutan. Di terminal, nantinya saya akan bertemu dengan teman-teman online untuk pertama kalinya. Meeting point pertama yaa di Rambutan itu. Kalau misalnya saya bertemu mereka di starting point pendakian, saya tak yakin akan sampai sana. Pasalnya, saya sering sekali salah jalan kalau mau memulai naik gunung. Payah lah pokoknya.

Sampai di Rambutan, saya tidak langsung bertemu orang-orang itu karena belum tahu wajahnya. Saya kontak kepala sukunya, ternyata dia sendiri masih ada di dalam busway. Macet katanya. Ada yang menelepon saya dan bertanya posisi. Rupanya itu adalah salah satu kawan di komunitas juga. Namanya Gawok Mawut. Dia dan beberapa kawan lain, menunggu di depan gerbang keluar bis terminal.

Bertemulah saya dan saya pun duduk-duduk sejenak sambil menunggu kepala sukunya datang. Setelah datang, kami semua langsung mencari bis yang menuju ke Cipanas. Rencananya, kami akan naik dari jalur gunung Putri.

Sabtu, 28 April 2012
Sampailah saya di jalur gunung Putri, sekitar jam dua malam. Di sini, kami menunggu kloter lain yang berangkat belakangan meskipun satu komunitas. Agak aneh juga  bagi saya, karena saya jadi tidak menemukan sebuah kekompakan. Saya dekat dengan kloter saya saja jadinya. Untuk kloter lain, saya tidak kenal meskipun satu almamater, syal biru. Dan ini agak menjadi masalah sebenarnya, karena utamanya dari pendakian massal ini untuk menambah saudara. Tapi, ya sudahlah. Saya tidak ambil pusing. Saya sudah cukup senang mendapatkan saudara baru, kawan-kawan dari Semarang - O'fals, Lampung, dan Tegal - Compak 3428mdpl, Ranger Gunung Slamet.

Sampai subuh, kami menunggu waktu pendakian dalam dingin. Kabut saat itu cukup tebal juga. Tidak seperti biasanya ketika saya naik gunung Gede dari jalur Putri. Biasanya kabut tak setebal ini. Sepertinya, cuaca di atas nanti agak kurang baik. 

Jam delapan pagi kami mulai naik. Kloter saya yang berisi orang-orang Semarang plus saya dan beberapa orang Jakarta, akhirnya berangkat. Kami naik cukup cepat. Padahal, ada salah satu anggota yang baru pertama kali naik gunung. Mengingat jalur gunung Putri yang cukup curam, sepertinya di tengah perjalanan akan sedikit tersendat. Dan benar saja, ankle dua anggota pun cedera. Posisi saya saat itu sudah berada jauh di atas. Saya putuskan untuk duduk dulu, menunggu yang lain sampai dan melanjutkan pendakian bersama-sama.

Masih Bisa Foto -_-

Pendakian memakan waktu cukup lama. Seharusnya, jam satu siang kami sudah bisa sampai di Suryakencana. Waktu pendakian yang cukup lama karena cedera, akhirnya membuat kami sampai di Suryakencana jam tiga sore, saat kabut mulai perlahan turun. Tumben sekali, karena biasanya waktu-waktu sore seperti itu, cuaca masih cerah. Wah, sepertinya malam nanti akan turun hujan.

Setelah memasang tenda, kami beristirahat dan berkegiatan bebas. Ada yang berfoto, ada yang mengambil air, dan saya bergabung di kloter dari anak Tegal - Ranger Gunung Slamet. Lumayan, menambah teman baru lagi.

Minggu, 29 April 2012
Sebenarnya, banyak sekali yang belum diceritakan. Tapi, berhubung saya tidak ingin membuat pembaca bosan karena tulisan yang panjang ini, saya ingin sudahi saja tanggal duapuluhdelapan dan menuju ke hari akhir pendakian massal. Di hari akhir, kami membawa karung masing-masing satu untuk melakukan operasi bersih di sekitar jalur ke puncak dan jalur turun Cibodas.

Hari Minggu, kami beres-beres dan segera menuju puncak Gn. Gede. Kondisi saat itu sangat tidak memungkinkan. Kabut tebal turun di sepanjang jalur menuju puncak dan pastilah pemandangan tidak akan seindah biasanya. Pemandangan ke arah Pangrango pasti tidak terlihat. Meski waktu pendakian ke puncak tidak memakan waktu lama, rasanya tidak terbayar kalau tidak melihat Gunung Pangrango. Ya sudahlah, mungkin memang waktunya tidak tepat. Sudah sampai puncak saja sudah sangat beruntung sekali.

Bersama Ofals Semarang dan Ranger Tegal

Setelah mengambil beberapa foto, kami pun berpamitan dengan kloter Tegal. Mereka ini kan ranger, jadi kalau turun pastilah sangat cepat. Sedangkan kami pasti sampai barak Green Ranger Gunung Gede dalam waktu yang cukup lama. Setelah berpamitan, kloter saya melanjutkan berkeliling dan rombongan Tegal, turun. 

Beberapa foto agak kurang menarik karena suasana saat itu sangat berkabut. Karena kabut semakin tebal, kami pun akhirnya turun dari jalur Cibodas. Berharap tidak lewat tanjakan setan, kami berjalan terus. Nyatanya, kami harus menahan laju turun karena kondisi jalur Cibodas yang sangat licin. Sambil terus berdoa agar bisa melipir dari tanjakan setan, kami terus turun. Saat itu, lutut saya juga agak sedikit bermasalah. Maklum, sudah tua. Jadi saya terpaksa jalan paling akhir seperti sweeper dan mencoba untuk berjalan pelan.

Doa kami ternyata belum ampuh. Kami tetap lewat tanjakan setan dan harus berusaha membawa salah satu anggota yang paling muda di kloter kami. Kami membawa satu anak SD dalam pendakian. Akhirnya, kepala suku menggendong Ridho--nama anak itu--agar melewati tanjakan setan dengan aman.

Jalan kami pun semakin dipercepat. Kami takut sampai di lokasi air panas saat gelap. Kalau sudah gelap, sangat beresiko sekali jika melewati jalur air panas. Di sebelah kiri itu jurang dan hanya dibatasi dengan tambang saja. Belum lagi jalur air panas yang penuh batu kali dan sangat licin. Hal ini sangat berbahaya dan kami harus mengkondisikan laju jalan kami. Cepat-cepat kami berjalan, meskipun ankle saya sudah bermasalah. Saya paksa jalan dan lewat juga jalur air panas.

Setelah berjalan terus, kami semakin mempercepat laju perjalanan. Saya sangat paranoid kalau turun gunung lewat petang. Banyak hal tak terduga yang bisa dilihat dan saya benar-benar paranoid. Kondisi saat naik gunung dan turun gunung itu sama sekali berbeda. Ketika naik, kita semangat seolah ada yang dikejar. Namun, ketika turun, pikiran serasa kosong dan banyak hal yang bisa dilihat, apalagi hal mistis. Yang saya takutkan adalah ketika melewati Telaga Biru. Meski Cibodas sudah dekat, tetap saja menyeramkan. Lewat sini, jalan di kanan kiri pastilah mencekam.

Bunda Giri sendiri--salah satu anggota dari Semarang--sempat mengatakan kalau dia diikuti sesuatu. Ketika turun dan sampai di terminal lagi, Bunda Giri sempat bercerita. Dia melihat sesuatu yang menyeramkan, sepanjang jalan malah. Ada yang tertawa, bahkan ada yang ngglendoti dia. Duh, untung saja paranoid saya juga cuma sehari itu saja. Anehnya, saya tak pernah bosan ke gunung ini, meski berkali-kali disuguhi hal mistis. Hehe.

Sampai Cibodas dan kami langsung menuju barak Green Ranger Gunung Gede. Kami beristirahat dan berganti pakaian. Kami akan segera pulang dan tidak menginap dulu di barak, karena besok ada yang bekerja. Setelah semua lelah hilang, kami berpamitan dengan semua panitia dan juga Pak Idhat Lubis--kakak dari salah satu yang meninggal di Gunung Semeru bersama Soe Hok Gie. Setelah berpamitan, saya dan lima orang kloter tiga, menunggu angkutan sambil ngopi. Hehe.

Kiri: W/ Bunda Giri, Kanan: Mas Gawok & Wisnu

Angkutan datang dan inilah hal yang paling menyedihkan bagi saya. Sedih harus berpisah dengan teman-teman baru dan teman-teman menyenangkan. Sedih harus meninggalkan saudara. Tapi, saya yakin kalau nanti juga kami pasti bertemu lagi. Entah dalam rangka pendakian massal lagi atau sekedar kunjungan ke basecamp masing-masing. Entahlah. Yang jelas, saya rindu saudara-saudara baru saya dan semoga kami bisa bertemu lagi.

Jakarta, 1 Mei 2012

didedikasikan untuk saudara baru: Zu Erna, Bunda Giri, Pakde Prapto, Mas Gawok, Mas Blangkrah Edan, Bang Farhan, Mbak Karin, Ridho Kecil, Lendo Lampung, Wisnu Pulogadung, Ranger Tegal...