Tuesday, May 1, 2012

Jurnal Pendakian: Opsih Gunung Gede

Akhir bulan April, saya menghabiskan waktu untuk naik gunung lagi. Berhubung belum bisa pergi ke gunung yang jauh, jadilah saya naik gunung Gede lagi. Yang berbeda hanyalah teman-teman naik. Kali ini, saya naik gunung bersama orang yang belum saya kenal. Saya bertemu mereka hanya dari komunitas maya bernama PELAM - Pendaki Lintas Alam. Dan pendakian pertama bersama orang-orang yang belum saya kenal ini, nyatanya berjalan mulus. Justru sangat menyenangkan bisa bertemu dengan teman-teman yang baru dan belum pernah saya temui sebelumnya. Menambah kawan, menambah saudara.

Suryakencana - Pintu Timur

Jum'at, 27 April 2012
Sepulang kerja, saya langsung menuju kontrakan untuk packing dan menyiapkan segalanya. Beberapa hari kemarin, saya tidak sempat packing karena terlalu sibuk bekerja. Saya langsung memasukkan apa yang dibutuhkan ke dalam daypack. Dan setelah semua masuk, saya kontak teman untuk mengantar saya ke Kampung Rambutan. Di terminal, nantinya saya akan bertemu dengan teman-teman online untuk pertama kalinya. Meeting point pertama yaa di Rambutan itu. Kalau misalnya saya bertemu mereka di starting point pendakian, saya tak yakin akan sampai sana. Pasalnya, saya sering sekali salah jalan kalau mau memulai naik gunung. Payah lah pokoknya.

Sampai di Rambutan, saya tidak langsung bertemu orang-orang itu karena belum tahu wajahnya. Saya kontak kepala sukunya, ternyata dia sendiri masih ada di dalam busway. Macet katanya. Ada yang menelepon saya dan bertanya posisi. Rupanya itu adalah salah satu kawan di komunitas juga. Namanya Gawok Mawut. Dia dan beberapa kawan lain, menunggu di depan gerbang keluar bis terminal.

Bertemulah saya dan saya pun duduk-duduk sejenak sambil menunggu kepala sukunya datang. Setelah datang, kami semua langsung mencari bis yang menuju ke Cipanas. Rencananya, kami akan naik dari jalur gunung Putri.

Sabtu, 28 April 2012
Sampailah saya di jalur gunung Putri, sekitar jam dua malam. Di sini, kami menunggu kloter lain yang berangkat belakangan meskipun satu komunitas. Agak aneh juga  bagi saya, karena saya jadi tidak menemukan sebuah kekompakan. Saya dekat dengan kloter saya saja jadinya. Untuk kloter lain, saya tidak kenal meskipun satu almamater, syal biru. Dan ini agak menjadi masalah sebenarnya, karena utamanya dari pendakian massal ini untuk menambah saudara. Tapi, ya sudahlah. Saya tidak ambil pusing. Saya sudah cukup senang mendapatkan saudara baru, kawan-kawan dari Semarang - O'fals, Lampung, dan Tegal - Compak 3428mdpl, Ranger Gunung Slamet.

Sampai subuh, kami menunggu waktu pendakian dalam dingin. Kabut saat itu cukup tebal juga. Tidak seperti biasanya ketika saya naik gunung Gede dari jalur Putri. Biasanya kabut tak setebal ini. Sepertinya, cuaca di atas nanti agak kurang baik. 

Jam delapan pagi kami mulai naik. Kloter saya yang berisi orang-orang Semarang plus saya dan beberapa orang Jakarta, akhirnya berangkat. Kami naik cukup cepat. Padahal, ada salah satu anggota yang baru pertama kali naik gunung. Mengingat jalur gunung Putri yang cukup curam, sepertinya di tengah perjalanan akan sedikit tersendat. Dan benar saja, ankle dua anggota pun cedera. Posisi saya saat itu sudah berada jauh di atas. Saya putuskan untuk duduk dulu, menunggu yang lain sampai dan melanjutkan pendakian bersama-sama.

Masih Bisa Foto -_-

Pendakian memakan waktu cukup lama. Seharusnya, jam satu siang kami sudah bisa sampai di Suryakencana. Waktu pendakian yang cukup lama karena cedera, akhirnya membuat kami sampai di Suryakencana jam tiga sore, saat kabut mulai perlahan turun. Tumben sekali, karena biasanya waktu-waktu sore seperti itu, cuaca masih cerah. Wah, sepertinya malam nanti akan turun hujan.

Setelah memasang tenda, kami beristirahat dan berkegiatan bebas. Ada yang berfoto, ada yang mengambil air, dan saya bergabung di kloter dari anak Tegal - Ranger Gunung Slamet. Lumayan, menambah teman baru lagi.

Minggu, 29 April 2012
Sebenarnya, banyak sekali yang belum diceritakan. Tapi, berhubung saya tidak ingin membuat pembaca bosan karena tulisan yang panjang ini, saya ingin sudahi saja tanggal duapuluhdelapan dan menuju ke hari akhir pendakian massal. Di hari akhir, kami membawa karung masing-masing satu untuk melakukan operasi bersih di sekitar jalur ke puncak dan jalur turun Cibodas.

Hari Minggu, kami beres-beres dan segera menuju puncak Gn. Gede. Kondisi saat itu sangat tidak memungkinkan. Kabut tebal turun di sepanjang jalur menuju puncak dan pastilah pemandangan tidak akan seindah biasanya. Pemandangan ke arah Pangrango pasti tidak terlihat. Meski waktu pendakian ke puncak tidak memakan waktu lama, rasanya tidak terbayar kalau tidak melihat Gunung Pangrango. Ya sudahlah, mungkin memang waktunya tidak tepat. Sudah sampai puncak saja sudah sangat beruntung sekali.

Bersama Ofals Semarang dan Ranger Tegal

Setelah mengambil beberapa foto, kami pun berpamitan dengan kloter Tegal. Mereka ini kan ranger, jadi kalau turun pastilah sangat cepat. Sedangkan kami pasti sampai barak Green Ranger Gunung Gede dalam waktu yang cukup lama. Setelah berpamitan, kloter saya melanjutkan berkeliling dan rombongan Tegal, turun. 

Beberapa foto agak kurang menarik karena suasana saat itu sangat berkabut. Karena kabut semakin tebal, kami pun akhirnya turun dari jalur Cibodas. Berharap tidak lewat tanjakan setan, kami berjalan terus. Nyatanya, kami harus menahan laju turun karena kondisi jalur Cibodas yang sangat licin. Sambil terus berdoa agar bisa melipir dari tanjakan setan, kami terus turun. Saat itu, lutut saya juga agak sedikit bermasalah. Maklum, sudah tua. Jadi saya terpaksa jalan paling akhir seperti sweeper dan mencoba untuk berjalan pelan.

Doa kami ternyata belum ampuh. Kami tetap lewat tanjakan setan dan harus berusaha membawa salah satu anggota yang paling muda di kloter kami. Kami membawa satu anak SD dalam pendakian. Akhirnya, kepala suku menggendong Ridho--nama anak itu--agar melewati tanjakan setan dengan aman.

Jalan kami pun semakin dipercepat. Kami takut sampai di lokasi air panas saat gelap. Kalau sudah gelap, sangat beresiko sekali jika melewati jalur air panas. Di sebelah kiri itu jurang dan hanya dibatasi dengan tambang saja. Belum lagi jalur air panas yang penuh batu kali dan sangat licin. Hal ini sangat berbahaya dan kami harus mengkondisikan laju jalan kami. Cepat-cepat kami berjalan, meskipun ankle saya sudah bermasalah. Saya paksa jalan dan lewat juga jalur air panas.

Setelah berjalan terus, kami semakin mempercepat laju perjalanan. Saya sangat paranoid kalau turun gunung lewat petang. Banyak hal tak terduga yang bisa dilihat dan saya benar-benar paranoid. Kondisi saat naik gunung dan turun gunung itu sama sekali berbeda. Ketika naik, kita semangat seolah ada yang dikejar. Namun, ketika turun, pikiran serasa kosong dan banyak hal yang bisa dilihat, apalagi hal mistis. Yang saya takutkan adalah ketika melewati Telaga Biru. Meski Cibodas sudah dekat, tetap saja menyeramkan. Lewat sini, jalan di kanan kiri pastilah mencekam.

Bunda Giri sendiri--salah satu anggota dari Semarang--sempat mengatakan kalau dia diikuti sesuatu. Ketika turun dan sampai di terminal lagi, Bunda Giri sempat bercerita. Dia melihat sesuatu yang menyeramkan, sepanjang jalan malah. Ada yang tertawa, bahkan ada yang ngglendoti dia. Duh, untung saja paranoid saya juga cuma sehari itu saja. Anehnya, saya tak pernah bosan ke gunung ini, meski berkali-kali disuguhi hal mistis. Hehe.

Sampai Cibodas dan kami langsung menuju barak Green Ranger Gunung Gede. Kami beristirahat dan berganti pakaian. Kami akan segera pulang dan tidak menginap dulu di barak, karena besok ada yang bekerja. Setelah semua lelah hilang, kami berpamitan dengan semua panitia dan juga Pak Idhat Lubis--kakak dari salah satu yang meninggal di Gunung Semeru bersama Soe Hok Gie. Setelah berpamitan, saya dan lima orang kloter tiga, menunggu angkutan sambil ngopi. Hehe.

Kiri: W/ Bunda Giri, Kanan: Mas Gawok & Wisnu

Angkutan datang dan inilah hal yang paling menyedihkan bagi saya. Sedih harus berpisah dengan teman-teman baru dan teman-teman menyenangkan. Sedih harus meninggalkan saudara. Tapi, saya yakin kalau nanti juga kami pasti bertemu lagi. Entah dalam rangka pendakian massal lagi atau sekedar kunjungan ke basecamp masing-masing. Entahlah. Yang jelas, saya rindu saudara-saudara baru saya dan semoga kami bisa bertemu lagi.

Jakarta, 1 Mei 2012

didedikasikan untuk saudara baru: Zu Erna, Bunda Giri, Pakde Prapto, Mas Gawok, Mas Blangkrah Edan, Bang Farhan, Mbak Karin, Ridho Kecil, Lendo Lampung, Wisnu Pulogadung, Ranger Tegal...

39 comments:

  1. ihhh, gak ngajak2 saya yah kamuuu!

    :p

    ReplyDelete
  2. wah,,,, asyik ya... jadi pengen ikutan.. hehe

    ReplyDelete
  3. Saya pernah agak lama di Bogor yuk, jadi familiar dengan tempat2 yang kamu sebutkan, Gunung pangrango, gunung gede, gunung putri. Gunung pangrango dijadikan nama hotel dibogor kan?

    Sayangnya aku gak suka panjat gunung :p

    ReplyDelete
  4. saya belum pernah coba loh mendaki, hehe :D

    ReplyDelete
  5. wadoooh, aku kalah sama anak SD (si Ridho)!
    aku belum pernah sekalipun naik gunung...
    kalo aku ikut, mungkin aku yg akan cedera ankle...
    (-__-")

    ReplyDelete
  6. Eh tenane Gawok Mawut itu nama asli x_x

    ReplyDelete
  7. hhhh...kapan ya bisa seperti ini lagi..:(

    ReplyDelete
  8. aku dari dulu paling males ke gunung2 yg ada di pulau jawa malah soalnya kotor & banyak sampah berserakan,miris
    kesadaran masyarakat kita masih sangat rendah,hal memungut sampah seperti yg kamu lakukan perlu di kampayekan lebih jauh supaya gunung & alam kita lebih bersih & terjaga

    ReplyDelete
  9. @matahariIyaaa. Abisnya Syam jauh.. Wkwkwkwk.

    ReplyDelete
  10. @Athifah DahsyamarHayu kalo mau naik kemana, saya temenin. :P

    ReplyDelete
  11. @Tebak Ini SiapaTenan lho. Aku malah ora dong, artine opo.

    ReplyDelete
  12. @Andysudah kotor, dikomersilkan lagi.. :(

    ReplyDelete
  13. dari nama-nama yg disebutkan, baru terminal kampung rambutan yang pernah ta singgahi Mbak #menyedihkan!

    ReplyDelete
  14. pantesan gak up tede post, gak taunya lagi seneng seneng toh, hmmmm, pengen naek nih jadinya :p

    ReplyDelete
  15. Next mau naik kmana lagi?
    Hayuuu berangkaaat...!!! :)

    ReplyDelete
  16. @Ayu Welirang Eh yakin tuh Yu x_x
    Gawok artinya alat kelamin wanita. Mawut tuh ya mawut, berserakan, berantakan @[email protected]
    Waduh x_X

    ReplyDelete
  17. aseek.. gue jadi inget semasa SMP.. dimana gue masih sering2nya n gila2ny mendaki gunung.. tapi sekarang udah gak pernah lagi :(

    ReplyDelete
  18. Ridho itu sendirian atau ada keluarganya yang ikut juga yu? weww.. Bunda Giri mantaff, diglendotin masih teteup cool :D

    ReplyDelete
  19. Saya juga hoby naik gunung sob. Maklum tinggal di desa. Hehehe.
    Kunjung balik ya sob.

    ReplyDelete
  20. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  21. jangan yang tinggi2 lah dulu kalau untuk pemula kayak saya yaaa, ntar pulang-pulang gak mau coba untuk yang kedua kalinya lagi ;p

    ReplyDelete
  22. @Stupid monkeyNaik saja. Kan kalo Om Stumon mah pasti cepet naiknya.

    ReplyDelete
  23. @SandyWaaah. Jangan berhenti lah kalo naik gunung mah.

    ReplyDelete
  24. hehe iya sih, udah naik gunung mana saja ?

    ReplyDelete
  25. @Athifah DahsyamarLumayan banyak dan kalau disebutkan bisa waaaaah.. :D

    ReplyDelete
  26. @Ayu Welirang haha, awalnya aku juga mau nanyain ini. Tapi gak jadi.... yang dikatakan Una betul sist, arti namanya sangar sekali ya...
    XD

    ReplyDelete
  27. @enhaOooh gitu. Kuwi wong sing jenenge Gawok senenge nyampluk'i uwong liyo.. XD

    ReplyDelete
  28. kalau mau ikutan bagaimana caranya ?

    ReplyDelete