Sunday, August 26, 2012

Hati-Hati Dengan Perkataan "Ingin Taklukkan Gunung"

Saat ini, siapa yang masih awam dengan ihwal "pendakian gunung". Bagi hampir sebagian orang menuju dewasa, saat ini sudah paham dengan kegiatan outdoor yang lebih terkonsentrasi pada kegiatan mountaineering dan semacamnya. Semua orang sudah paham dan tahu bagaimana menjadi seorang pendaki, tanpa perlu masuk ke dalam organisasi ataupun wadah kepecintaalaman yang penuh kode etik dan aturan. Tapi, dengan menjadi seorang freelancer dalam sebuah pendakian gunung, belum tentu kita boleh sembrono dalam mendaki. Kode etik itu tetap berjalan, selama kita menjadi pendaki dalam sebuah organisasi, atau hanya sebagai seorang freelancer.

Siapa di sini yang belum pernah mendaki? Saya, anda, kita, sudah pernah mendaki, meski itu bukit atau gunung-gunung tertinggi. Pendakian adalah hal yang sakral, karena bukanlah hal yang bisa serta-merta dilakukan begitu saja. Perlu ada persiapan yang matang terkait itu semua. Maka dari itu, dataran tinggi apapun, baik gunung maupun bukit biasa, tetap harus dipikirkan tingkat persiapannya. Kita tidak pernah tahu ada hal apa yang menimpa kita di gunung.

Seperti yang menimpa saya dan kawan-kawan ketika mendaki Cikuray, dan juga kawan-kawan saya yang mendaki Gunung Salak pada saat yang sama ketika saya mendaki Cikuray. Hal ini bukanlah hal yang patut dibanggakan sebenarnya, karena dari hal inilah saya baru mengerti, kalau ketika mendaki saat itu, saya sangatlah pongah. Ya, meski tidak, mungkin saya belum bisa memberitahu kawan saya yang pongah, sehingga dampaknya itu diberikan pada semua teman yang ikut mendaki.

Sebuah kalimat, "Gue ingin taklukkan gunung!" atau "Sepulang dari Semeru, saya mau taklukkan Rinjani." atau pemisalan yang lain, adalah suatu bentuk kepongahan. Ketika itu, saya pernah berkata demikian, dan akhirnya ditegur oleh kakak saya yang notabene adalah penghuni lerengSlamet di jalur Guci. Dia berkata, "Nduk, kalau kamu bilang mau taklukkan gunung, berarti kamu sudah ditaklukkan oleh omonganmu sendiri! Kamu kalah Nduk!"

Dari perkataannya itu, saya jadi merenung. Selama ini, kepongahan saya itulah yang menekan saya untuk terus berambisi menaklukkan gunung. Padahal, kalau dipikir ulang, gunung itu bukanlah musuh para pendaki, melainkan sahabat. Mengutip perkataan seorang kakak saat mendaki Cikuray kemarin, bang Zen namanya, yang berkata, "Inget aja. Kita butuh gunung dan gunung butuh kita juga, jadi jangan ngerusak lah." Begitulah kira-kira kalau saya tak salah dengar, kalau salah ya berarti saya tambahkan saja beberapa kata. Hehe.

Bahkan, ketika seseorang meremehkan gunung dan berkata, "Ah, kecil gunung begini mah." Maka, ada saja hal buruk terjadi. Entah diganggu tuan rumah, entah ditegur tuan rumah, bahkan teman saya yang mendaki gunung Salak kemarin, berhari-hari diikuti oleh si Neng penghuni Cidahu. Semalam, saya bercerita panjang lebar dengannya dan jadi ngeri sendiri. Si teman saya ini,  barulah sadar sambil bergumam, "Mungkin gara-gara gue ngomong, 'Ah Salak doang ini', eh si Neng itu sampe ikut pas di kereta segala, lewat perantara mbak-mbak yang duduk deket pintu masuk kereta." Sampai sekarang, si teman saya itu bahkan tak mau berfoto jika kelewat Magrib, meski tak di gunung, karena takut mendapatkan hasil seperti di Salak kemarin. Saya bergidik ngeri, dan tak akan mengulangi kepongahan kata-kata semacam itu.

Saya pikir, memang benar juga adanya, kalau gunung bukanlah sesuatu yang sedemikian jahatnya untuk ditaklukkan. Gunung bukanlah suatu benda pemuas ambisi para pendaki yang kadang lupa akan hakikat pendakian itu sendiri. Maka dari itu, saya beranggapan bahwa mulai saat ini, kita tak boleh pongah, tak boleh ambisius sampai ingin menaklukkan gunung di bawah kaki kita. Karena kita adalah sahabat alam, maka gunung adalah sahabat kita.

Ayu Welirang
Jakarta, 26 Agustus 2012

Thursday, August 23, 2012

Jurnal Pendakian: Mistisnya Gunung Cikuray Garut (21 - 22 Agustus 2012)

Lebaran kemarin, saya sebenarnya tidak begitu ingin mendaki gunung. Ketika seorang kakak jauh mengajak naik gunung, bersama sembilan orang lainnya, saya pun mengiyakan. Ketika saya mengetahui gunung mana yang akan didaki, saya agak ragu. Gunung Cikuray menjadi tujuan pendakian kemarin. Saya mencoba menguatkan hati, dan berangkat dengan persiapan yang agak kurang matang karena beberapa gears tertinggal di Jakarta.

Berangkatlah saya dari Bandung dengan motor kakak saya, menuju Terminal Guntur - Garut. Perjalanan memakan waktu kurang lebih empat jam, karena kondisi lingkar Nagreg macet total. Karena tidak ada buka tutup, kami harus mengantri sampai jalanan benar-benar stabil kembali. Setelah sampai di Terminal Guntur, kami memenuhi logistik yang belum lengkap dan packing kembali. Sambil menunggu delapan orang lagi dari @infopendaki yang akan menanjak bersama, saya, kakak saya, dan satu orang yang sudah ada di sana lebih dulu, mengobrol seputar Cikuray.

Baris atas: Macetnya jalan menuju Garut dan Langit yang bersemu jingga di terminal Garut
Baris bawah: Di terminal dan di alfamart :P

Sekitar jam sembilan pagi, delapan orang yang lain datang. Kami langsung mencari kendaraan menuju ke Cilawu, dan akan naik lewat pemancar. Dapat angkutan kota yang sudah ditawari bayaran seratus sepuluh ribu rupiah melaju, menuju Cilawu. Dari Cilawu, kami mencari truk untuk disewa sampai tower pemancar, karena jaraknya dari Cilawu cukup membuat kaki dan lutut ngilu. Sepanjang jalan, kami menikmati dinginnya Garut dan tipisnya oksigen yang mulai menyentuh pernafasan. Sepanjang jalan, kami menumpukan harapan pada ransel-ransel besar dengan berliter-liter air, mengingat Cikuray yang tidak memiliki sumber air di sepanjang jalur dan puncak. Suplai air di Cikuray, hanya bisa didapatkan dari bawah. Ketika mulai naik gunung, dan menuju puncak gunung, air harus benar-benar diatur sedemikian rupa, untuk berapa lama di gunung, karena tidak ada sumber air.

Gunung Cikuray di kejauhan.

Sampai di pemancar, kami mulai bersiap dan naik sekitar jam satu siang. Suasana panas menambah keringnya kerongkongan kami yang harus menahan untuk minum air selama beberapa periode menuju puncak. Manajemen situasi harus benar-benar pas. Sepanjang kebun teh, kami menyusuri jalur berpasir yang membuat tenggorokan semakin kering saja. Sekitar tiga puluh menit menanjak bukit berpasir, kami sampai di wilayah vegetasi dan di sinilah awal pendakian menuju Cikuray.

Kami mendaki terus sampai melewati pos-pos pendakian. Di Cikuray, ada sekitar enam pos dan satu puncak bayangan. Setelah pos keenam dilewati, maka kita akan sampai di puncak yang berjarak waktu tidak terlalu lama dari pos terakhir. Sementara, kalau dihitung secara normal, waktu tempuh dari puncak bayangan menuju puncak Cikuray sekitar 30 menit sampai satu jam saja.

Setelah petang atau waktu magrib, kami baru sampai puncak bayangan. Di sinilah hal yang tidak diinginkan akhirnya terjadi. Dua orang membawa tenda, dan menuju puncak Cikuray lebih dulu untuk memasang tenda. Sedangkan, sembilan orang yang sisa, menunggu di puncak bayangan sambil beristirahat, makan, minum, ibadah, dan sebagainya. Mulai di puncak bayangan, saya sendiri mulai merasakan sesuatu yang aneh. Ya, ini mungkin biasa. Tapi, energi negatif di sekitar saya, agak terlalu berlebihan. Saya biasa-biasa saja dan tidak menganggap ini sesuatu hal yang perlu ditakuti, karena hal seperti ini lumrah saja jika di rimba raya.

Di truk, sampai pemancar, dan sampai pos 1.

Setelah Magrib lewat, kami pun packing lagi dan bersiap untuk menuju puncak Cikuray yang katanya tidak begitu jauh dan tidak memakan waktu tempuh yang begitu lama. Saya mengangguk dan mencoba jalan. Dengan senter seadanya, kami coba naik ke puncak Cikuray dengan bersusah payah. Medan terjal yang kami lewati sejak dari kaki dan lingkungan vegetasi, membuat kami sudah cukup lelah untuk menuju puncak. Belum lagi, beberapa orang yang sepertinya agak kurang mengerti etika naik dengan benar, malah minum minuman beralkohol di jalur. Ini hal yang tidak dilarang, hanya saja harus melihat situasi dan kondisi. Mereka yang minum inilah yang berpotensi untuk menghabiskan air lebih banyak. Pasalnya, sehabis minum, orang pasti kehausan karena tenggorokannya kering. Hal inilah yang membuat energi negatif semakin menguasai kami.

Kami naik terus dan berhenti terlalu sering. Sementara, saya masih merasa ada yang mengikuti terus sejak tadi, bukan manusia tentunya. Hal ini belum kentara betul, sampai kami menemukan suatu tanda dimana kami sadar, bahwa jalur kami ini sejak tadi hanya berputar saja. Bayangkan, dari waktu tempuh yang hanya satu jam saja bisa sampai puncak Cikuray, harus memakan waktu berjam-jam. Jam sembilan malam, kami memutuskan berhenti di suatu tanah lapang, dan memasang beberapa matras sebagai alas tidur. Karena tidak ada tenda, kami memaksa diri untuk menahan dingin, sampai subuh tiba dan kami bisa naik ke puncak Cikuray. Kami berdoa, berharap mendapat perlindungan dan berharap agar bisa kembali ke persinggahan masing-masing, dengan selamat. Kami mulai memasak apa yang tidak dibawa oleh dua orang sebelumnya--yang memasang tenda di puncak--dan kami mulai bergantian menjaga. 

Sekitar jam tiga pagi, mulai terdengar suara-suara manusia. Saya terbangun dan setengah sadar melihat sekitar. Yang lain pun bangun dan mulai berjaga, karena suara itu biasa saja. Tak ada yang pernah tahu, ada apa di gunung dan rimba. Sambil berjaga, kami memasak lagi. Suplai untuk energi lagi. Kami memasak teh, kopi, susu jahe, dan apa saja yang bisa menenangkan sekaligus menghangatkan. Hampir subuh dan manusia pun mulai summit attack. Kami bertemu beberapa orang yang mulai menuju puncak Cikuray. Di saat itulah, kami tersadar dari ketakutan kami yang sempat bergelayut sepanjang jalur pendakian. Kami pun bersyukur dan membangunkan yang lain. Masih ada manusia di sekitar kami, selain kami dan itu berarti, kami aman.

Setelah menyuplai energi, sebelum benar-benar terang, saya menuju ke puncak Cikuray. Dengan bermodalkan senter, saya pun naik. Dan sungguh tidak saya sangka. Ternyata, dari tempat saya dan teman-teman beristirahat karena kondisi sudah drop sekali dengan hal gaib dan juga lelah, puncak Cikuray sangatlah dekat! Tidak sampai limabelas menit saya sampai di sana, ketika hari mulai pagi. Dan untuk mengecek kebenaran klenik yang ada, saya pun mengambil gambar ke arah jalur, dengan blitz yang sudah dinyalakan. Ketika mengambil gambar, banyak orbs yang tertangkap kamera. Menurut beberapa pemahaman, orbs adalah suatu anomali gelombang cahaya yang tertangkap kamera dan menandakan adanya makhluk lain yang tak kasat mata. Inilah yang membuat saya percaya, kalau kondisi kami yang pongah dan sombong terhadap gunung, membuat kami mendapat pelajaran dari para makhluk halus yang lebih mencintai gunung daripada kami. Kami pun bersyukur, masih dapat menikmati keindahan gunung, meski dengan beberapa kesalahan. Dan dari sana, saya belajar untuk lebih paham alam, dan tidak pongah.

Mamang Welly, Sereal Pilus :)), Orbs, dan Sunrise dari Cikuray

Di puncak, saya berteriak memanggil yang lain. Yang lain pun mendengar dan mulai menyusul ke puncak satu per satu. Sedangkan, seorang dari kami menjaga barang dan nanti akan menyusul jika yang naik lebih dulu sudah turun dan ganti giliran menjaga barang.

Menunggu saat matahari terbit adalah yang paling membahagiakan. Menyaksikan matahari itu terbit di antara bayangan gunung Ceremai dan gunung Slamet di kejauhan, adalah suatu anugerah. Maka, ketika sang surya telah mulai mengudara, saya pun bersiap dengan kamera saya. Foto yang saya ambil cukup memuaskan, meski tidak begitu bagus, dan inilah yang membuat saya semakin mencintai alam ini, bersyukur untuk mentafakuri alam Tuhan yang begitu indahnya. Sungguh, selagi hidup, saya tidak akan pernah berhenti mengagumi keindahan alam Indonesia.

Sunrise :')

Dwi dan Lautan Awan

Lautan Awan! :D

Setelah puas, meski belum begitu puas (karena menyaksikan keindahan tidak akan mungkin pernah puas), kami makan pagi lalu packing untuk turun kembali ke pemancar dan menghadapi realita hidup. Sekitar pukul setengah sebelas, kami turun. Tidak sampai limabelas menit kami sampai puncak bayangan. Hal ini makin membuat saya percaya bahwa jalur saya semalam memang diputar oleh entah apa. Dan saya hanya bisa berterima kasih dengan para makhluk itu, karena dengan begitulah teman-teman saya baru bisa sadar dari kepongahannya.

Selama lima jam lebih kami menuruni gunung dan sampai di pemancar sekitar pukul tiga sore. Kami menunggu truk yang akan menjemput sambil menikmati dinginnya air mentah yang menghilangkan kekeringan di tenggorokan kami. Truk pun datang, dan di sinilah akhir perjalanan kami yang tidak akan pernah berakhir. Tak berhenti di sini, kami akan terus mendaki, mensyukuri, menikmati.

Jakarta, 23 Agustus 2012
11:29 PM

PS:
Karena saya pakai motor ke Garut, jadi saya mau tuliskan biaya tambahan buat yang ingin ke Cikuray naik kendaraan umum.

  • Bis Jakarta - Garut: Primajasa Rp 35.000, turun terminal Guntur.
  • Angkutan Terminal Guntur - Cilawu (daerah kaki gunung Cikuray): Carter angkot Rp 150.000, per orang biasanya Rp 7000 - Rp 15.000
  • Dari Cilawu ke pemancar (awal mula pendakian): ojek per orang Rp 30.000, truk carter per orang Rp 20.000, angkot carter per orang Rp 10.000 cuma sampai pos penjagaan. Jalan kaki lebih baik lewat Dayeuhmanggung, karena lebih cepat dan tidak lewat pos penjagaan yang mengharuskan bayar dan birokrasi ribet. Hehe.
  • Sampai pemancar, tinggal berdoa dan naik. Dan air tidak ada di sepanjang jalur sampai puncak, jadi cobalah untuk membawa air secukupnya sejak dari pemancar.
Have a good trip, mates! :)