Saturday, September 29, 2012

Landscape Gede dan Ketinggian


Operasi Bersih Menuruni Gunung
Sudah tak terhitung lagi, berapa kali saya mengunjungi dan mendaki sebuah gunung di kawasan Bogor - Jawa Barat. Gunung yang dapat ditempuh dengan waktu tempuh kurang lebih tiga jam dari Jakarta, melalui terminal Kampung Rambutan dengan menaiki bis yang menuju ke arah Bandung dan sekitarnya via jalur Puncak. Gunung ini dapat didaki dari tiga jalur yang cukup berdekatan, di satu jalur utama Jakarta - Bandung via Puncak yaitu jalur Putri, jalur Cibodas, dan Selabintana. Gunung yang masih menyimpan sisa-sisa sejarah ini semakin ramai dan sayangnya semakin kotor karena sampah para pendaki yang tidak tahu diri.

Begitu melilitnya birokrasi untuk mendaki gunung ini mungkin bermula dari kesalahan para pendaki itu sendiri. Sejak beberapa ketentuan mendaki gunung Gede sudah dikurangi, para pendaki yang hanya bermodalkan slogan-slogan lestari tanpa tahu apa artinya, malah semakin gila dan merajalela. Sampah tetap ditemukan. Tanpa adanya kesadaran, akhirnya birokrasi dan perizinan, semakin diperketat. Ini kadang membuat saya dan teman-teman yang ingin menikmati Gede jadi terkesan dipaksakan. Menurut pihak dinas kehutanan, "Pendaki diminta untuk naik selama dua hari satu malam saja, dan ketika turun, pastikan sampah disetorkan dan juga surat perizinan diperiksa oleh petugas jaga. Jika ada pelanggaran, pendaki harus membayar denda dan penalti."

Bukankah, seharusnya pendaki sadar sendiri tanpat perlu menuliskan surat-surat birokrat?
Tapi memang, inilah yang dibutuhkan jika sudah tak ada lagi kepedulian. Adanya surat-surat yang mengikat dan beberapa ketentuan yang mesti dipatuhi, menjadi semacam kode etik. Yah, setidaknya, pemandangan yang disuguhkan oleh alam semesta membayar semua kesulitan perizinan. :D

Jalur Vulkanik - Puncak Gede 

Bersama Kawan di Puncak Gede

Diyana di Savana Suryakencana
Mampir ke Gede, jangan lupa singgah di Suryakencana. Sekedar untuk lewat ketika turun melalui jalur gunung Putri, atau untuk bermalam sebelum menuju puncak Gede. Suryakencana adalah sebuah savana luas dengan pepohonan hijau yang masih mengelilinginya. Di sini, pendaki biasa bermalam dan terdapat sumber air di antara cerukan padang rumput. Jika berjalan lebih ke barat, maka kita bisa menemukan goa-goa yang biasa digunakan para peziarah untuk berdoa atau bersemedi. 

Konon, Suryakencana adalah tempat bersemayam Eyang Suryakencana dan putranya yang bernama Prabu Siliwangi. Mungkin ada beberapa di antara kalian yang sudah mengetahui sejarah kerajaan di Bogor, dengan Prabu Siliwangi sebagai salah satu penguasa di Tanah Sunda. Maka, kita bisa jumpai di beberapa daerah Jawa Barat, lambang ketentaraan yang menggambarkan harimau putih, dengan nama Siliwangi. Konon katanya lagi, harimau putih ini adalah salah satu peliharaan Prabu Siliwangi.

Jadi ingat kisah tenda yang dilempari pasir dan beberapa pendaki yang sempat mendengar harimau mengaum. Hmmm, sudahlah tidak usah diceritakan. Hehehe.

Pejalan yang Lelah dan Kembali ke Rumah
Gunung Gede masih menjadi salah satu gunung favorit untuk didaki, terutama oleh saya juga. Yaaa, selain awal jalur pendakian yang memang mudah dituju dari kota besar, selalu ada panggilan untuk kembali ke sana. Mungkin, semacam panggilan alam begitu lah. Hehehehe.

all photos taken by: Ayu
location: Cibodas - Gede - Gede's Summit - Suryakencana

Thursday, September 27, 2012

Musafir yang Lelah, Pulanglah...

suatu saat, aku akan kembali ke rumah
setelah lelah, menapaki tiap hidup yang tak ramah
setelah melebarkan langkah, berkeliling ke tiap khazanah
pulang, kembali dalam kasih yang melimpah-ruah

suatu saat, hidup akan semakin sulit
dan aku memohon sederhana
hidup di tengah savana
di dalam rumah kecil berhias bintang langit

nanti, kami kan jadi gembala
setelah lelah bertunawisma
setelah lelah berjalan bak musafir
yang tak henti-henti langkah-menyisir...

di Tibet, kami sandarkan rindu
pada bangku-bangku anyaman bambu
dengan limabelas kucing hutan yang lucu
mengelilingi hidup renta yang kami tuju...

Jakarta-Tibet, 27 September 2012
oleh: Ayu Welirang


Bikkhu dan Dataran Tibet (gambar dari sini)

Suatu saat, hidup pun akan bermuara. Pejalan yang lelah, akan merindu rumah. Suatu saat, aku pun begitu, kembali ke rumah di tengah savana yang indah. Bentangannya sampai ke titik tertinggi. Rumah kecil di tengah savana dengan para penggembala. Menunggu renta, menikmati senja...di Tibet... :)

Wednesday, September 26, 2012

Tidurlah, Pagi Terlalu Pagi

matahari malu-malu - kereta barang di Pekalongan
Minggu, 2 September 2012
Hampir dua hari saya tidak tidur, ketika dalam perjalanan hitchhiking menuju gigs-grunge di Wonderia Semarang. Sejak jam dua pagi sudah stand-by di stasiun Tegal untuk mengejar kereta barang yang berjalan pelan menuju Surabaya. Dari Tegal sana, kereta sudah dipastikan akan berhenti di stasiun Semaranngponcol untuk cek mesin dan muatan.

Kebetulan sekali, kereta yang ditumpangi adalah kereta plat besi, sehingga tak ada atap dan hanya langit yang menaungi kami. Kami menyukai langit, apalagi hiasan yang bergantung dalam langit itu sendiri. Sementara dua hari sudah tidak tidur, saya menikmati langit dan bintang-bintang yang kala itu sangat terang sekali. Ketika beranjak pagi, karena mata sudah tidak kuat, maka saya tidur. Ah, sungguh sayang. Saya melewatkan momen transisi matahari pagi yang muncul dengan malu-malu, dari barisan pepohonan randu di sebelah kiri kereta. Matahari malu-malu di pesawahan sepanjang Pekalongan.

Ini pagi jadi indah, meski perjalanan kami begitu sederhana. Tetap berjalan, tetap bertahan.

Akhirnya malam tiba juga
Malam yang kunantikan sejak awal
Malam yang menjawab akhir kita
Inikah akhir yang kita ciptakan

Dan pagi takkan terisi lagi
Lonceng bertingkah sebagaimana mestinya
Membangunkan orang tanpa membagi
Sedikit asmara untuk memulai hari

Tidurlah
Malam terlalu malam
Tidurlah
Pagi terlalu pagi

*(Tidurlah - Payung Teduh)

Friday, September 21, 2012

Get Lost! - Dari Sukolilo sampai Pati

Kalau sudah ada di Jawa Tengah, rasanya kurang afdol kalau tidak berkunjung ke tempat-tempat yang khusus. Misalnya, berkunjung ke candi atau situs-situs budaya yang berada di Jawa Tengah. Dan sepulang dari Semarang, pucuk di cinta ulam pun tiba. Seorang saudara satu scene yang berasal dari Pati, mengajak untuk singgah di tempatnya. 

Mas Trimble namanya. Ia pulang duluan dari tempat acara dan mengundang saya juga Zhygoth untuk bertandang di kediamannya. Katanya, "Dari Semarang ke Pati cuma dua jam kok Goth. Naik bis jurusan Surabaya aja pasti lewat Pati. Ingat, hati-hati jangan nyasar ya."

Malamnya, tepat hari Minggu tanggal 2 September 2012, pihak panitia mengantar kami sampai stasiun Semarangponcol. Kami pun mencari tempat untuk beristirahat sejenak, sambil menunggu kereta barang di pagi harinya, karena beberapa teman akan pulang lebih dulu.

Setelah mengantar ketiga teman yang pulang lebih dulu, dan dua teman yang memutuskan untuk naik kereta ke Pekalongan, saya, Zhygoth, dan Anom berkeliling Semarang. Rupanya, Anom pun memutuskan untuk berpisah. Setelahnya, saya bersama Zhygoth, jalan ke arah jalur truk besar untuk hitchhiking lagi dan mencari tumpangan ke arah Pati. Kami duduk di tepian jalan dan menunggu truk dengan plat K. Beberapa kali naik truk dan tidak jalan terus, malah beberapa kali berbelok ke tujuan lain seperti pelabuhan dan pangkalan truk. Maka, kami memutuskan untuk berjalan kaki sampai perbatasan, di dekat terminal Terboyo dan mencari truk plat K dari sana saja.

arah kanan

omprengan truk

Mendapatkan truk plat K, rupanya jalan tak mulus. Kami menemui keanehan. Seharusnya, Surabaya melewati by-pass yang lurus saja setelah keluar perbatasan. Truk yang kami tumpangi malah berbelok dan melewati jalur desa. Karena bingung, kami tidak turun. Kami ikuti saja sampai menemukan jalur besar lagi yang akan menuju Surabaya. 

background rumah antik di Sukolilo

Dan benar saja, kami nyasar! Sampai Sukolilo. Tak cukup hanya nyasar, kami menyempatkan diri mengambil beberapa foto yang superb sekali, karena kondisi Sukolilo ternyata masih asri. Dengan rumah khas Demak, dengan atap rumah yang berornamen, kami menikmati mie ayam di Pasar Sukolilo dengan senang hati. 

Inilah inti dari sebuah perjalanan. Get lost and learn a lot! :D

Dan kami masih berjalan kaki, sampai Kayen menuju Pati. Menunggu bis yang lewat agar bisa benar-benar sampai Pati dan bertemu kembali dengan saudara seperjuangan. Di saat saya mencoba menelusuri memori agar tertuang dalam tulisan ini, saya masih terbayang dengan daerah Sukolilo yang menyerupai zaman prehistorik. 

Indonesia masih ada yang begini. Jadi, nikmatilah! Untuk apa ke luar negeri? Cintai pertiwi dengan cara sendiri. :)

Jakarta, 21 September 2012

Thursday, September 20, 2012

Negeri Di Atas Awan

Sebenarnya, banyak kisah yang ingin disampaikan pada penjelajahan kemarin. Hanya saja, saya tak sabar untuk berbagi hasil jepretan saya di Cikuray, Garut. Pada ketinggian 2818 meter di atas permukaan laut, awan-awan bergumul menjadi satu, menutupi dataran di bawahnya. Indah. Dan saya tak henti-hentinya memandang ke depan, ke arah awan-awan bak lautan lepas. Entah, kata-kata pun tak sempat terekam, hanya mata yang merekam jejak dan pemandangan.

~pagi di kaki gunung~

Uh... Sunrise! :')

memandang ke arah Garut

mari mendaki! :D

Cikuray di punggung kami :D

Bersama sahabat mencari damai, berbagi suka dan duka. Melewati medan kelana yang berat. Menapaki jejak-jejak sejarah yang terhapus bersama waktu dan kaum urban. Kami datang, terpanggil mendaki Cikuray. Meski tak banyak yang bisa kami lakukan untuk konservasi, sejatinya sahabat dan cinta telah mempersatukan kami untuk sampai ke puncak tertinggi Cikuray.

~and finally, the peak~

euforia di puncak

model :))

bersama sahabat

meraih matahari

Cikuray berbayang, menghempas lautan awan

Berkibarlah Indonesiaku! Di manapun, di titik tertinggi sekalipun...

hahahaha! :D

Jakarta, 20 September 2012
.: posting di tengah riuhnya Pemilukada :)

Wednesday, September 19, 2012

Jurnal Perjalanan: Menuju Wonderia Semarang (31 Agustus 2012 - 2 September 2012)

Sekarang sudah pertengahan September dan jurnal perjalanan selama dua minggu kemarin mengelilingi Jawa Tengah dan sekitarnya, baru sempat saya tuliskan di blog ini. Untuk sementara, saya akan bercerita tentang perjalanan saya dan teman-teman menuju acara musik di Wonderia Semarang. Saya bisa hadir di acara ini, pasca habisnya kontrak saya di kantor. Hahaha, sebenarnya hal yang tidak menyenangkan. Tapi, hikmahnya adalah, saya bisa kembali berjalan kemanapun saya mau, tanpa perlu dibatasi waktu bekerja yang tiba-tiba datang ketika saya sedang berada di suatu tempat yang jauh dari Jakarta.

Acara ini berbenturan dengan pertemuan penyair dari batpoet di rumah seni Eloprogo yang diadakan pada tanggal yang sama. Awalnya, saya ingin naik kereta langsung menuju Jogja dari Pasar Senen. Namun, karena belum memesan tiket, saya berangkat menuju Senen sebelum Maghrib. Ternyata, perjalanan dari Lebak Bulus sampai Senen memakan waktu yang teramat lama. Sudah bosan di jalan, akhirnya kesal juga. Jadilah, saya ditawari naik kereta barang dari Priuk sampai Semarang dan nantinya akan dilanjut ke Eloprogo. Kala itu, saya bersama pacar saya berangkat dari Senen langsung ke Stasiun Tanjung Priuk. Dengan penyamaran menjadi lelaki untuk mengatasi begal dan preman Priuk, saya pun berangkat dengan dandanan ala kadarnya, persis lelaki.

Masih menunggu kereta barang diberangkatkan, saya duduk-duduk di pinggiran rel. Penuh sekali acara dangdut dan para lelaki-lelaki yang sedang menerima perempuan yang menjajakan diri. Sungguh, ini adalah pengalaman menyaksikan para mucikari beraksi, di pinggiran rel yang terlupakan kaum urban Jakarta. Saya jadi agak aneh, campur haru. Dan inilah realita.

Jum'at, 31 Agustus 2012
Kereta barang berangkat pada pukul 10 malam. Melajulah kereta barang dan kami pun berjaga semalam suntuk dari apapun kemungkinan yang membahayakan. Kalau dibilang kami sengaja atau mau bergaya, itu salah besar. Kami hanya tercekat dengan waktu dan keadaan, sehingga hal seperti ini pun kami lakoni hanya untuk bertemu kawan seperjuangan di Semarang. Meski ada desas-desus yang mengatakan bahwa para penggerak grunge di Semarang tidak seenak orang-orang Jawa Timur, kami tetap berangkat. 

Di Kereta Barang - Start Stasiun Tanjung Priuk 31082012

Dari jam 10 malam, tak ada yang bisa kami saksikan. Di kanan kiri hanya bentangan alam yang luas dan gelap. Naik kereta barang tidak seenak naik kereta manusia, baik ekonomi sampai kelas bisnis. Kami harus terus menjaga diri kami sendiri dan kawan kami, karena apapun bisa terjadi. Komplotan preman dan penjahat, bisa saja ada dan membahayakan kami. Maka dari itu, kami tidak tidur sampai akhirnya kereta pun berhenti lama di stasiun Cirebon untuk dilakukan pengecekan. Sampai Cirebon jam 3 pagi, dan kami terpaksa menerima pengusiran satpam.

Kereta Barang Mulai Melaju

Kami keluar dari areal stasiun dan mencari tempat yang bisa menghangatkan kami setelah 5 jam diterpa angin jalanan yang begitu dingin. Ada warung yang buka dan dengan senangnya kami memesan dua gelas kopi hitam dan teh hangat untuk membuat suasana kembali mencair.

Sabtu, 1 September 2012
Sampai di Cirebon, kami sengaja tidak melanjutkan perjalanan ke Semarang dengan kereta barang, karena memang sudah tidak bisa main kucing-kucingan dengan petugas stasiun. Akhirnya, setelah makan beberapa gorengan dan menghabiskan kopi, kami langsung berjalan kaki ke arah pantura (jalur pantai utara), dimana truk-truk besar akan lewat dan kami bisa menumpang sampai Tegal, syukur-syukur bisa hitchhiking sampai Semarang.

Rinjani dan Sunrise dari Atas Truk

Setelah menunggu, akhirnya ada truk juga yang bisa kami tumpangi. Kami menumpangi truk berisi cat kalengan yang cukup besar. Awalnya, sang supir tidak tidak mau memberi tumpangan, tapi karena kami memaksa, kami pun naik. Kami tetap menjaga barang milik supirnya, karena kami tahu tata cara menumpang yang baik dan benar. Hehehe.

Cukup jauh juga truk itu membawa kami. Sampai jalan raya Cirebon - Losari yang menghubungkan kami dengan perbatasan Jawa Tengah, truk berhenti. Sang supir keluar dan memberitahukan bahwa ia akan melewati jembatan timbang. Jembatan timbang ini adalah sebuah lokasi dimana truk-truk besar yang membawa muatan harus masuk dan diukur muatannya, serta membayar retribusi pada petugas. Saya tidak menyangka, jahat sekali pihak dinas perhubungan. Mereka menempatkan orang-orang yang sudah di ambang usia akhir, untuk menjaga jembatan timbang. Mungkin, usianya sekitar 40 tahun ke atas. Apa jadinya ya keluarga mereka yang ditinggalkan karena menjaga jembatan timbang dua puluh empat jam penuh? Saya mengerti, mungkin saja ada sistem shift di sana. Tapi, kenapa tidak orang muda dan lajang saja yang menjaga ya? Apakah ini perihal kepercayaan? Ah entahlah, kok saya jadi mengoceh. :))

Jembatan Pasar Losari - Truk Cat

Bang Donald

Sampai di Brebes

Sunrise di Brebes

Kami istirahat sebentar di jembatan timbang. Saya menumpang ke kamar mandi dan Zhygoth menunggu di luar. Sementara, yang lain mencari pelataran ruko atau warung, untuk tidur sejenak sambil menunggu truk lagi. Keluar dari kamar mandi, saya menerima satu gelas besar teh manis hangat. Wah, ternyata bapak petugas dari jembatan timbang yang membuatkannya. Baik sekali. Di sela tugas, masih sempat memberi. Ini adalah orang baik kedua yang saya temui di perjalanan, setelah bapak supir truk.

Numpang Tidur Samping Jembatan Timbang

Background: Truk Pantura :))

Saya berpamitan dengan petugas jembatan timbang dan menyusul yang lainnya. Berfoto sejenak dan beristirahat, kami lalu berjalan lagi. Agak jauh sedikit dari jembatan timbang, hampir ke perbatasan, kami menunggu truk. Truk kedua adalah truk keramik. Kami menumpangi truk tersebut dan dibawa melewati daerah perbatasan. Ternyata, truk tersebut akan berhenti di salah satu pusat keramik pantura. Kami turun, berterima kasih ala kadarnya dan mencari truk lain. Truk ketiga yang kami tumpangi adalah truk semen dan truk ini rupanya membawa kami sampai Tegal.

Truk Keramik dan Semen Sampai Tegal

Setelah negosiasi dengan yang lainnya, akhirnya kami memutuskan untuk berangkat ke Semarang pada tanggal 2 September saja, pada hari H acara tersebut diadakan. Kami berhenti di Tegal, dan berjalan kaki menyusuri bangunan tua di sepanjang jalan menuju alun-alun Tegal. Di Tegal ini untungnya ada sanak saudara saya yang bisa disinggahi sementara dan sudah lumrah dengan orang-orang gondrong seperti teman-teman saya, sehingga saya tidak perlu khawatir.

Kolase di Tegal dan KA. Barang ke Semarang

Untuk sementara, di Tegal ini, saya bisa beristirahat dulu dan nanti malam bisa melanjutkan kembali perjalanan.

Minggu, 2 September 2012
Jam sebelas malam start berangkat lagi dari rumah eyang saya di Tegal, dan menunggu kereta barang yang sudah aman transit di Cirebon, melewati stasiun Tegal mungkin sekitar jam empat pagi. Kami menyimpan energi lagi, dengan tidur di bilik tempat ronda yang untungnya sedang kosong. Dengan dikelilingi nyamuk ganas nan jahat, kami terpaksa tidur. Sedangkan, dua orang lagi berjaga, karena mereka bilang tidak bisa tidur. Sambil menunggu, tidur kami malah terganggu dengan seorang bapak yang tiba-tiba muncul dan mengajak kami berbicara ngalor-ngidul. Agak aneh juga sih sebenarnya, karena  bapak ini sempat bilang, kalau beliau sedang menjaga rumah di depan yang sedang tahlilan. Itu berarti, ada yang baru meninggal. Jangan-jangan, bapak ini yang meninggal dan hantunya mengajak kami berbicara.

Ah, pikiran itu segera saya tepis, dan saya pun memaksa diri untuk bisa tertidur.

Sekitar jam empat pagi, kereta datang dan berhenti di stasiun Tegal cukup lama. Kami harus menunggu saat yang tepat untuk naik. Saat yang tepat itu adalah ketika peluit kereta dibunyikan, dan kereta mulai berjalan pelan. Hal ini untuk menghindarkan kami dari teguran petugas stasiun yang bisa membuyarkan segala rencana.

Berhasil naik dan kami pun melaju bersama kereta barang yang membawa lempengan besi. Berhenti di Pekalongan, kami turun dan berbaur dengan para pekerja stasiun. Saat peluit kembali berbunyi, kami naik dan melaju lagi.

Perjalanan sangat indah, sayang saya tertidur. Saya hanya bisa melihat pesisir pantai yang dilewati kereta dari foto-foto. Pesisir pantai yang terlewat ini, tandanya kami sudah dekat dengan Semarang. Dan benar saja, sekitar pukul sembilan pagi, kami sampai di stasiun Semarangponcol.

Pantai Utara

Bang Donald dari Atas Plat Besi

Tampilan Kereta dari Depan (Pengangkut Plat Besi)

Krengseng, Mendekati Semarang

Beristirahat sejenak sambil makan gorengan lagi untuk sarapan dan minum teh hangat. Semarang pagi itu sudah panas. Kami mengisi perut kami dan mulai berjalan. Kami menumpang truk dari lampu merah, sampai bundaran Lawang Sewu. Di Lawang Sewu, kami berfoto kembali lalu melanjutkan perjalanan. Cukup jauh juga perjalanan menuju Wonderia Semarang.

Turun Dari Truk, Berada di Lawang Sewu, Di Depan Taman Makam Pahlawan,
dan Akhirnya... Wonderia!!!

Kami melewati alun-alun. Anak-anak kecil sedang bermain skuter dan juga in-line skate alias sepatu roda. Kami tidak sempat berfoto karena kejar waktu. Berjalan kaki sampai ke Taman Makam Pahlawan yang dekat pertigaan, kami berfoto sejenak. Ornamen dinding bertuliskan "Bangsa yang Besar Adalah Bangsa yang Menghargai Jasa Para Pahlawannya", jadi tempat kami berfoto. Setelah mengabadikannya, kami melanjutkan perjalanan menyusuri pinggiran Semarang yang dikeliling pepohonan dan bukit di kanan. Setelah beberapa saat, tibalah kami di Wonderia.

Dan perjalanan pertama ini, selesai sampai di sini. Setelah dari Wonderia, lanjut kemana ya? Penasaran? Ikuti terus trip penganggur ini. :)