Wednesday, September 26, 2012

Tidurlah, Pagi Terlalu Pagi

matahari malu-malu - kereta barang di Pekalongan
Minggu, 2 September 2012
Hampir dua hari saya tidak tidur, ketika dalam perjalanan hitchhiking menuju gigs-grunge di Wonderia Semarang. Sejak jam dua pagi sudah stand-by di stasiun Tegal untuk mengejar kereta barang yang berjalan pelan menuju Surabaya. Dari Tegal sana, kereta sudah dipastikan akan berhenti di stasiun Semaranngponcol untuk cek mesin dan muatan.

Kebetulan sekali, kereta yang ditumpangi adalah kereta plat besi, sehingga tak ada atap dan hanya langit yang menaungi kami. Kami menyukai langit, apalagi hiasan yang bergantung dalam langit itu sendiri. Sementara dua hari sudah tidak tidur, saya menikmati langit dan bintang-bintang yang kala itu sangat terang sekali. Ketika beranjak pagi, karena mata sudah tidak kuat, maka saya tidur. Ah, sungguh sayang. Saya melewatkan momen transisi matahari pagi yang muncul dengan malu-malu, dari barisan pepohonan randu di sebelah kiri kereta. Matahari malu-malu di pesawahan sepanjang Pekalongan.

Ini pagi jadi indah, meski perjalanan kami begitu sederhana. Tetap berjalan, tetap bertahan.

Akhirnya malam tiba juga
Malam yang kunantikan sejak awal
Malam yang menjawab akhir kita
Inikah akhir yang kita ciptakan

Dan pagi takkan terisi lagi
Lonceng bertingkah sebagaimana mestinya
Membangunkan orang tanpa membagi
Sedikit asmara untuk memulai hari

Tidurlah
Malam terlalu malam
Tidurlah
Pagi terlalu pagi

*(Tidurlah - Payung Teduh)

4 comments: