Wednesday, December 11, 2013

Bogor Selatan, Kuliner Tanpa Batas

Perjalanan gowes ke Bogor Selatan beberapa waktu lalu, memang meninggalkan banyak kesan. Di samping melampaui diri sendiri, yang berandai-andai, "Apakah saya bisa sampai ke Bogor dengan sepeda?", kesan lainnya adalah, saya bisa jauh dari Jakarta barang beberapa lama. Menghirup udara yang masih murni di kaki gunung Salak, dan tertawa-tawa melihat asap polisi berada di atas kota Jakarta seperti genangan busa di atas air. Kira-kira seperti itulah saya melihat sejauh pandangan mata ke arah Jakarta. Dari atas sini, perspektif memang selalu nampak berbeda dan menarik.

Saya tak tidur. Menunggu matahari terbit di sebuah kebun keluarga seluas 4 hektar, memang menyenangkan. Seperti menikmati matahari dari ruang pribadi. Dan pagi itu, matahari tampak tertutupi lembah di sebelah selatan, dekat gunung Gede - Pangrango. Meski begitu, pagi tetap sentimentil. Menutup perjumpaan dengan matahari, saya pun tidur sejenak sekitar jam sembilan pagi, sebelum akhirnya terbangun lagi karena adzan shalat Jum'at sudah berkumandang.

sunrise...
Gunung Salak di pagi hari...
abu-abu polusi Jakarta...

Teman saya dan Abang, bergegas untuk shalat Jum'at, sementara saya duduk-duduk di beranda sambil menyesap kopi yang terlambat dihidangkan. Bogor siang ini cukup terik. Matahari tepat di atas kepala, tapi saya tetap santai berleha-leha di rumah kayu milik teman saya. Ah... Akhir Minggu yang saya dambakan setelah beberapa hari lamanya.

Sepulang shalat, teman saya ini bergegas mengambil motor matic dan mengajak kami berdua. "Ayo, bonceng tiga!"

Saya mengiyakan, dan kami pun jalan-jalan.

Teman saya yang baik ini, membawa kami berkeliling tempat tinggalnya di Cijeruk, kaki gunung Salak. Setelah puas melihat kota dari ketinggian pagi tadi, kali ini teman saya mengajak kami ke sebuah lokasi jajan di Bogor Selatan, tepatnya daerah Cihideung.

"Ini jalur lintas Bogor - Sukabumi, makanya banyak tukang jajanan," gumam teman saya. "Mau makan apa nih? Tenang, gue yang traktir!" lanjutnya.

Wah. Mendengar kata traktiran, hati jadi gembira. Kaki yang lelah mengayuh sepeda, rasanya tak ada. Hehehe. Tanpa pikir-pikir, saya yang memang sedang menginginkan olahan durian, langsung memesan Es Cendol Durian. Karena belum makan, saya kombinasikan saja es segar itu dengan Laksa, kuliner khas Bogor. Sementara itu, Abang memesan es cendol saja, tanpa durian, dengan toge goreng. Teman saya memesan laksa, dan es cendol durian, sama seperti saya.

duren :D

Teman saya malah berkelakar pada Abang, "Puy, lu gak suka duren? Ah rugi lu gak suka duren!"

Saya tertawa. Memang benar. Rasanya rugi sekali, kalau di dunia ini kita tidak suka durian. :D

Pesanan siap. Kami pun makan dengan lahap. Siang yang terik ini, seperti biasa saja. Bogor sedang bersahabat juga rasanya. Es cendol durian ini adalah perpaduan antara cendol hijau, dengan santan dan gula merah yang tidak begitu manis. Namun, setelah ditambahkan potongan duren, rasa manis menjadi pekat dengan sendirinya. Durian ini menambah aroma sekaligus mengikat rasa yang ada pada es cendolnya.

es cendol durian...

Sementara, Laksa sendiri ternyata jenis makanan berkuah santan, dengan bihun, daun kemangi, ketupat atau lontong, telur, dan tahu. Sama seperti kupat tahu. Bedanya, kuah santannya ini seperti kuah kari, dan di dalam laksa, ada daun kemangi yang membuatnya jadi terasa aneh.

laksa...

Tak jauh beda dengan toge gorengnya. Toge goreng juga berbahan dasar sama. Ketupat yang disirami toge, tahu, dan bumbu kacang. Kalau melihat tampilannya, sekilas seperti ketoprak. Tapi, kalau sudah dirasakan sih, memang seperti ketoprak yaaa. Bedanya, mungkin kalau ketoprak tidak ada kuahnya, kalau toge goreng ini disiram kuah lagi. :P

toge goreng...
toge goreng Pak Abung...

Di samping laksa, es cendol durian, dan toge goreng, masih ada beberapa pilihan kuliner di salah satu transit Cihideung, jalur Bogor - Sukabumi. Namun, karena perut saya sudah terasa penuh, saya putuskan untuk melihat-lihat saja. Lumayan, mengobati keinginan untuk memakan semuanya. Hehehe.


Friday, December 6, 2013

Kali Pertama Touring Sepeda, Dengkul Pun Gemetar!

Gowes Bogor - Going the Extra Mile!
Salah satu teman mengajak saya dan Abang untuk singgah di rumahnya yang bertempat di Cijeruk, Bogor Selatan. Waktu itu, Abang memutuskan untuk berkendara dengan motornya. Tapi, saya yang sedang agak gila, memberi opsi agar kami berdua gowes saja ke Bogor sana. 

"Gila! Itu kan jauh. Kita naik motor aja," gumam Abang waktu saya memberi ide gila itu.

Sebenarnya, nggak gila-gila amat sih. Pasalnya, dua orang Mamang KPCI saja gowes keliling Indonesia. Belum lagi kita lihat Lek Paimo, yang bertahun-tahun gowes keliling bumi pertiwi, dan banyak lagi goweser lainnya yang gowes lebih jauh daripada saya. Lalu, saya pun membalas gumaman Abang itu, "Naik sepeda atau nggak sama sekali. Hehe."

"Ya udah deh. Terserah ajaaa, emangnya kuat?" canda Abang sambil mencibir. Hehehehe.

Dan menuju hari H, yaitu Kamis 21 November (tepat ketika kaki saya baru sembuh karena jatuh dari sepeda, dan hari itu kantor diliburkan pasca presentasi project), rupanya motor Abang malah rusak. Jadilah kami berdua fix naik sepeda. Kamis siang siap-siap, packing seperlunya, seperti jaket waterproof yang berfungsi sebagai raincoat juga, dan perlengkapan tempur. Packing kami harus benar-benar ringan, mengingat sepeda kami belum disediakan tempat untuk menaruh pannier, atau tas sepeda yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan barang, biasanya ditaruh di jok belakang. Pannier ini menggantikan fungsi backpack. Jadi, ketika bersepeda kita tidak lelah menggendong ransel. Tapi, apa daya. Sepedanya juga sepeda pemula, makanya packing dibuat sangat minim, agar tidak berat ketika digendong sambil mengayuh sepeda.

Sekitar jam empat sore, kami mulai mengayuh. Menuju checkpoint pertama yaitu rumah Abang di daerah Cimanggis, Depok. Jalanan yang kami lewati masih tergolong ringan. Jalan raya dengan motor berjejal, namun stabil. Macet masih bisa dilewati lah. Dan memasuki Universitas Gunadarma, saya mulai kepayahan. Tanjakan yang landai memang, tapi lumayan juga kalau harus mengayuh sepeda. Di depan Gundar, saya sempat berhenti untuk minum sebentar. Dan dari Jakarta (Kuningan) sampai Cimanggis, Depok, saya dan Abang menghabiskan waktu satu jam dua puluh lima menit. Di Cimanggis berhenti. Ngaso di depan rumah Abang, sambil menunggu orangnya sholat dan packing sebab dia belum packing ketika berangkat. Hehehe.

ngaso di perbatasan Kabupaten dan Kota Bogor :D

Setelah selesai, sekitar pukul sembilan malam, kami lanjutkan kembali perjalanan menuju Bogor. Jalanan masih santai, beberapa kali menemukan tanjakan jembatan layang dan berhasil melewatinya. Sampai akhirnya, tanjakan yang benar-benar panjang menanti.

Dari Warung Jambu ke Jalan Raya Pajajaran (sebelum Tugu Kujang), kami mulai melewati tanjakan yang bertahap. Tidak terlalu curam, namun sangat panjang. Saya masih tahan mengayuh sepeda, sampai pada akhirnya beberapa kali berhenti untuk mengatur nafas dan dengkul yang gemetar. Beberapa kali istirahat di pinggir jalan. Waktu itu, jam tangan menunjukkan pukul sebelas malam. Jalanan Pajajaran sudah sepi dari kendaraan bermotor. Hanya terlihat beberapa motor dan mobil saja yang lalu lalang. Dua jam sudah mengayuh sepeda sampai ke Bogor Kota.

Sampai di Tugu Kujang, kami beristirahat lama. Melihat icon kota Bogor yang merepresentasikan sebuah Kujang besar, dengan filosofi "Kukuh jeung Jangji", atau kukuh dalam memegang janji (kata orang situ sih begitu). Hehehe. Di seberang Tugu Kujang, kami memarkir sepeda, dan berfoto sejenak.

foto dengan latar Tugu Kujang setelah 'dihajar' tanjakan panjang...

Sekitar jam setengah dua belas, kami melanjutkan perjalanan, melewati pasar di depan Kebun Raya Bogor yang ramai kala malam. Kami terpaksa mendorong sepeda, tidak menaikinya karena tanjakan sangat curam dan jalanan tidak lancar. Daripada berhenti dan kelelahan karena harus mengulangi kayuhan dari awal, lebih baik didorong saja. Sampai BTM (Bogor Trade Mall), kami duduk di tepiannya. Teman yang rumahnya akan kami singgahi, menyuruh kami untuk menunggu di sana.

Satu jam... Dua jam...

Teman kami tak datang juga. Udara dingin kota Bogor mulai terasa. Saya rapatkan jaket waterproof, yang sudah saya dobel dengan sweater berbahan polar untuk dalamannya, sebagai windproof. Bogor yang dingin menerpa keringat kami, tentu hasilnya tidak akan baik. Saat berkeringat, pori-pori tubuh terbuka lebar, sehingga angin dengan leluasa memasuki tubuh. Daripada terkena resiko angin duduk, lebih baik merapatkan jaket. Ransel pun jadi lebih ringan setelah jaketnya dipakai.

Sekitar pukul setengah dua pagi, kami masih berada di BTM. Teman kami meminta kami untuk mengayuh lagi sampai Batu Tulis, stasiun Batu Tulis. Di sana, kami akan dijemput olehnya. Dan kami pun menyanggupi saja. Rupanya, tanjakan menuju Batu Tulis itu tidak ada duanya. Kemiringannya dahsyat! Kami pun mengayuh sebisanya. Saat dengkul saya mulai gemetar, saya dorong saja si Merry.

"Ini sih kayak naik gunung!" gumam Abang sambil mendorong sepeda.

Rupanya, fisik pendaki yang siap sedia dalam kondisi gunung yang bagaimanapun, tetap merintih juga ketika disuguhi dengan tanjakan-tanjakan dari atas sepeda. Hahaha! Rupanya, kami masih harus merapikan fisik kami ke dalam kondisi yang sangat prima. Dan ternyata, meskipun saya hampir putus asa karena malam sudah sangat larut, sedangkan saya masih mengayuh sepeda, kekuatan itu tetap ada. Rupanya, sebagai manusia, kita memang harus melampaui batas-batas diri untuk mengetahui sejauh mana kita bisa melakukan hal yang tak mungkin sekalipun. Seperti saya, yang memaksa diri untuk mengayuh meski tanjakan itu tidak manusiawi, tapi lebih ke 'tanjakan khusus mesin'. Hahaha! :D

Sampai di stasiun Batu Tulis, sekitar pukul dua pagi. Kami pun menunggu di daerah menuju Cijeruk. Sekitar jam tiga pagi, teman kami baru datang.

stasiun Batu Tulis yang akan mulai beroperasi lagi...

"Udah, tanjakannya masih dua kali lagi. Sekarang sepedanya naik angkot aja!"

Kami pun berpandangan. Teman kami menyetop angkutan yang kosong, melakukan negosiasi harga dan deal. Sepeda kami pun naik ke dalam angkot, sementara kami duduk sempit-sempitan di dalam angkot.

"Kok naik angkot sih?" tanya saya.

"Lihat aja nanti," gumam teman saya sambil terkekeh.

Dan ternyata, jalanan menuju tempat singgah sangatlah curam. Tanjakannya benar-benar tak ada ampun. Untunglah kami naik angkutan kota. Kalau tidak, si Merry pasti ogah-ogahan untuk dikayuh. Hahaha!

Setelah melewati tanjakan super tersebut, kami sampai juga di Cijeruk, kaki Gunung Salak, daerah Bogor Selatan. Teman kami menyuguhkan teh madu. Kami berganti pakaian dengan yang kering. Setelah minum teh madu, Abang yang sedari berangkat memang sangat mengantuk, akhirnya tertidur lelap. Sementara saya dan teman saya, malah bercerita sepanjang pagi. Kami bercerita sampai langit memberi pijar matahari.

Di kaki gunung Salak, saya mengistirahatkan kaki...

Perjalanan ini, menghabiskan waktu tempuh sekitar 6 jam, dari Jakarta menuju Bogor Selatan, dengan sepeda...


Wednesday, November 27, 2013

Pemenang Turnamen Foto Perjalanan Ronde 30

Meski partisipan di ronde 30 ini tidak terlalu banyak, saya cukup senang karena banyak juga yang memberikan gambaran tentang sebuah batas. Batas-batas itu ternyata bisa direpresentasikan dengan berbagai macam hal, baik batas tak terlihat, batas terlihat, batas maya, dan batas-batas lainnya. 

Tapi, ada satu batas yang membuat saya bergidik. Terlebih lagi, batas ini diambil dari ketinggian, sehingga garis-garis berbuih yang membentuk 'batas' ini bisa terlihat membias. Apalagi, diambil pada sore hari, sembari menunggu senja, menyaksikan batas menghilang.

Nah, karena itulah, saya memilih 'batas' ini untuk dimenangkan pada ronde kali ini.


Foto milik Mas Daru Aji ini menenangkan saya. Dengan hanya melihat batas antara laut dan pantai, dengan buih-buihnya yang tertinggal dan surut saat ombak menyahut, membuat saya tenang. Warna jingga mewarnai batas ini, seakan sore menuju malam hanya dipisah oleh sebuah batas senja di cakrawala. Perlahan, kita sedang menyaksikan transisi alam yang maha sempurna. Oleh karena itu, karena alasan sentimentil, saya memilih foto ini sebagai pemenang Turnamen Foto Perjalanan ronde 30.

Nah, kepada Mas Daru Aji, selamat! Dan silakan menjadi tuan rumah untuk menggelar TFP ronde selanjutnya. :)

Saya ucapkan pula terima kasih pada semua partisipan. Jangan berkecil hati, siapa tahu ronde berikutnya, kalianlah yang menjadi tuan rumah.

Salam! :)

Monday, November 18, 2013

Jakarta dan Car Free Day: Sehari Merasa "Memiliki" Jakarta

#HeartOfJakarta

Berniat melanjutkan #HeartOfJakarta, saya berencana untuk menengok Car Free Day, yang agak jarang saya kunjungi karena hari Minggu itu waktunya tidur puas di kamar kost. Hehehe. Tapi, Minggu kemarin (17/11), saya berniat untuk gowes bersama Merry ke CFD. Hitung-hitung olahraga sambil cuci mata.

Pagi-pagi berangkat, Abang sudah menjemput, dengan sepedanya yang terparkir di Menara Jamsostek juga, di sisi Merry. Nah, sambil gowes, kami melewati jalan kecil yang kalau hari biasa, banyak tukang berjualan makanan. Maklum, gangnya di belakang perkantoran. Sebelum gowes, enaknya isi perut dulu mungkin ya. Karena tak ada tukang jualan lain, mampirlah kami ke penjual nasi uduk. Seporsi nasi (porsi besar), dengan telur dadar, bihun dan teh manis pun mengisi perut kami. Selesai sarapan, kami bergegas untuk gowes lagi, mengambil jalur Rasuna Said, untuk nantinya berbelok ke arah Bundaran HI dari kawasan Menteng.

"Yah, jadinya ke CFD aja nih? Gowes di gunungnya gak jadi?" gumam Abang.

Saya mengangguk saja. Pasalnya capek juga sih hari sebelumnya, jadi saya memutuskan untuk gowes ke CFD ajaaa. Hehehe.

Perjalanan pun dimulai. Rasuna Said yang biasanya bising di waktu pagi, kini sendu. Langit mendung membuat suasana pagi di Jakarta jadi agak lain dari biasanya. Tak ada asap knalpot, tak ada klakson yang mengesalkan, tak ada kendaraan lalu-lalang yang membuat macet. Jakarta seperti milik sendiri.

"Horeee sepi, anginnya enaaak!" Abang berteriak di belakang saya. Maklum, jalannya nggak bisa beriringan, karena nanti bisa-bisa diserempet Kopaja. Haha. Kalau nanti di Jakarta sudah menyediakan jalur untuk pesepeda, mungkin lebih enak lagi jadinya. :)

anak-anak BMX dan euforia warga lainnya...

Gowes pun berlanjut ke Bundaran HI, sebuah icon dengan patung Selamat Datang yang menjadi sentral Jakarta. Di sinilah kota besar, tak seperti Jakarta yang kumuh di tepiannya. Dan tiap hari Minggu, Bundaran HI, sepanjang Sudirman disterilkan agar warga Jakarta dapat menikmati pagi dengan berlari, bersepeda, nongkrong, atau jalan-jalan dengan keluarga.

Sampai di Bundaran HI sudah ramai. Saya melewati kelompok anak muda dengan sepeda BMX-nya. Mereka sedang melakukan manuver-manuvernya. Di samping mereka, orang-orang berskateboard sedang bersiap untuk atraksi. Wah, mirip sirkus! Hehehe. Dulu, saya juga main skateboard, tapi tidak lagi karena resiko cederanya lebih besar. Makanya, akhir-akhir ini saya kalau jalan-jalan bareng si Merry aja. :D

Dari Bundaran HI, saya dan Abang memutuskan untuk gowes ke arah Blok M saja. Menyusuri sepanjang jalan Sudirman, lalu melewati tanjakan yang lumayan menguras tenaga ketika mengayuh pedal sepeda. Tanjakan ini yang akan kita lewati jika ingin menuju Stasiun Sudirman. Setelah menanjak, jalan menurun pun menyapa. Tanpa mengayuh, angin segar didapat. Saatnya menuju patung Jenderal Sudirman!

menyongsong Pak Dirman! :)

gowes yuk! :)
Sudah bertemu Pak Dirman, saya mengayuh sepeda saya sekencang-kencangnya. Jalanan di depan agak kosong, karena orang-orang berlari di sebelah kiri saya. Setelah kebut-kebutan dengan Abang, saya pun membiarkan roda berputar tanpa dikayuh. Angin sepoi-sepoi yang bersumber dari pepohonan hijau di sekitar kami memberi kesejukan tersendiri. Sampai Semanggi, kami beristirahat dan mengamati sekitar.

"Pak, air putihnya satu. Berapa?" tanya saya pada seorang Bapak yang menjual aneka minuman di depan tulisan "Taman Semanggi".

"Empat ribu, Neng," jawab Bapak itu.

Rasa haus pun hilang. Meski harga air mineralnya kelewat mahal, tapi sesungguhnya hanya orang-orang seperti saya dan para warga yang berjubel lainnya yang bisa menghidupi Bapak tadi. Sebab, di Car Free Day ini, para penjual minuman, jajanan, dan lainnya, juga para pembersih jalanan lah yang merasakan keuntungannya. Seperti warga Jakarta yang bersenang-senang, mereka juga berhak untuk merasakan satu hari saja, merasa memiliki kota Jakarta.

Merry dan Abang... :D

Di sisi lain, saya melihat orang berlari, bersepeda, tertawa bersama keluarga dan di sisi satunya, ada orang-orang, kaum papa, yang berusaha untuk tetap mencari uang dengan bertebaran di Car Free Day. Saya rasa, CFD yang hanya satu hari ini, bukan hanya mengubah jalanan Jakarta yang bisa dinikmati oleh pejalan kaki sesuka hati, tapi juga mengubah pendapatan orang-orang yang bisa berjualan apa saja, bahkan sampai jasa pompa ban sepeda! Bayangkan... Di hari biasa, setiap saya pulang kerja dengan si Merry, saya malah jarang menemukan bengkel dan tukang pompa sepeda, kalau saya tidak blusukan dulu ke jalan Mampang. Padahal, dari kantor ke Mampang cukup jauh, jadinya untuk pulang ke kost saja harus cari tukang tambal ban dulu. Hehehe. Tapi, berbeda dengan CFD. Semua orang berjibaku untuk berada di tengah kota. Baik itu orang yang tinggal di Jakarta, ataupun pinggirannya. CFD telah mengubah wajah-wajah kesal orang karena macet, menjadi wajah-wajah yang berseri. Dan CFD, setidaknya telah menambah penghidupan orang-orang, yang setiap hari hanya dilewati untuk "mencari rezeki".

Di Jakarta, perasaan memiliki kota, hanya hadir dalam sehari... Car Free Day...

Kalau setiap hari ada CFD, mungkin Jakarta tidak semuram saat ini kali ya? :)


*all photos taken by Me, via Blackberry Style 9670 :))

Wednesday, November 13, 2013

#5BukuDalamHidupku: Notes, Teman Terbaik Dalam Genggaman

Saya ingat ketika SD, saya tak begitu populer. Bergaya tomboy dengan mulut yang selalu menggonggong. Terlebih lagi, tulisan saya tak indah seperti tulisan perempuan lain di kelas. Meski begitu, Ibu Guru sering berkata, kalau saya kelak akan lebih menonjol dari yang lain. Lebih cerdas. Dan saya terus mengamini itu dalam hati, meskipun tak banyak anak seusia itu yang mengerti apa artinya 'amin' dan apa artinya berdoa.

Yang saya mengerti, berdoa dan mengamini selalu saya tuliskan dalam buku kecil, pemberian Ibu sewaktu saya memenangkan lomba calistung dan IPS tingkat SD. Saya senang bukan main, sebab bukunya tak begitu banyak ornamen. Buku kecil saya tak seperti buku-buku anak perempuan lain, yang kertasnya warna-warni dan sayang sekali jika dicoreti dengan tulisan tangan saya yang berantakan. Tapi, dari sana saya belajar bersyukur, berdoa, dan mengamini. Sebab, di setiap tulisan jelek saya, ada teman yang menemani. Entah spirit apa yang bertengger di kedua bahu saya, sehingga ketika saya menulis sesuatu, tulisan itu seperti hidup. Mungkin ini fantasi, mungkin ini tipuan alam bawah sadar. Tapi, siapa yang peduli? Toh, saya hanya anak kecil yang senang menulis. Tak tahu apakah tulisan itu bisa menjelma jadi sesosok gajah, ketika saya menulis gajah. Dan mungkin menjadi harimau yang kelak memakan teman-teman saya, ketika saya menulis deskripsi, "Harimau itu kelak marah dan memakan teman-teman yang mengucilkan si gadis rambut jagung di pojok kelas." 

Begitulah saya bermain dengan sisi paling maya dalam hidup saya. Memulainya sejak SD, menulis apa saja dari buku kecil pemberian Ibu. Buku kecil inilah yang kelak sampai saat ini menjadi teman terbaik yang bisa selalu saya genggam. Ketika di suatu tempat, ketika berpergian, bahkan ketika saya sedang tak melakukan apa-apa. Buku kecil ini selalu setia. Saya menamainya notes saja. Ya, si notes, seperti yang penulis-penulis sukses biasa lakukan. Seperti Jack Kerouac yang menuliskan catatan perjalanannya ketika musik Jazz berkembang di kalangan kulit hitam, yang membantunya melahirkan 'On the Road'. Juga seperti Soe Hok Gie, yang kelak menjadikan 'Catatan Harian Demonstran' sebagai buku yang inspiratif, padahal ia menulisnya secara reguler, di dalam sebuah buku catatan tua yang lusuh.

Saya ingin begitu. Saya mudah lupa dan reaktif. Seperti tak ada teman bicara kalau sendiri. Maka, saya berbicara pada buku kecil itu. Sudah berlembar-lembar. Sudah lusuh dan perlu teman baru. Maka, sampai saat ini, saya malah mengkoleksi macam-macam notes mini. Berbagai ukuran, berbagai ketebalan dan multifungsi. Saya tak melulu mengisinya. Kadang, saya hanya mencorat-coret badan notes saya. Kadang, saya membuat gambar dan kadang hanya menulis abjad. Dalam notes ini pulalah lahir kerangka-kerangka ketika saya sedang berkontemplasi, karena kadang, ide-ide tak mau mengerti apa yang namanya teknologi. Maka, sejenak saya tinggalkan blackberry dan notes yang ada pada Shakira saya, lalu beralih pada notes yang sebenarnya. Notes dengan wajah biasa saja, namun dapat menampung seluruh keluh kesah saya tanpa mengeluh. Ya, tanpa keluh, tanpa peluh.

Saya senang, notes pun tersenyum. Ia merasa penuh. Saya yakin kalau ia makhluk yang hidup, ia akan merasa penuh. Seluruh...

Di dalam notes saya, selalu tertulis pesan yang digenggam juga oleh orang lainnya yang gemar menulis dan membaca. Pesan seorang Pramoedya. Beliau berkata, "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."

Dari sana saya selalu berusaha untuk menuliskan sekecil apapun kejadian ke dalam notes. Biasanya, saya hanya membawa satu notes utama yang berfungsi untuk penulisan kejadian-kejadian kecil. Rasanya masih tak familiar kalau harus menulis detail seperti itu di sebuah smartphone yang nyatanya tidak pintar-pintar amat. Alasan hang atau alasan 'kehilangan momen' adalah resiko yang bisa saya dapatkan jika saya melupakan si notes dan kawan-kawannya. Penulisan konvensional, bagi saya masih menjadi barang yang paling favorit. Jadi, saya selalu membawa teman saya di genggaman.

Dan dari sanalah saya belajar membaca. Saya tak hanya menulis, tapi juga membaca. Membaca kisah masa lalu yang bahkan saya sendiri sering melupakannya. Namun, notes telah menjadi teman yang mengingatkan saya, bahwa saya pernah mengalami kondisi tertentu.

Maka, memang benar adanya kalau saya bekerja untuk keabadian. Keabadian memori yang saya tulis sendiri, yang mungkin kelak akan terpatri pula di benak tiap-tiap orang. Kita tak pernah tahu bukan, kapan kita menjadi seseorang yang berpengaruh seperti para penulis-penulis itu? Dan kita tak pernah tahu juga, bisa saja notes sederhana kita lah yang jadi penentu sebuah sejarah. Sebab di sana, tulisan kita selalu jujur, tak mengada-ada.

[Ayu]


Monday, November 11, 2013

Mereduksi Macet di Tol Dalam Kota Jakarta dengan Sistem ITS Yang Menyeluruh


Sepertinya, kemacetan sudah lumrah terjadi di Jakarta. Namun, apa jadinya kalau di dalam tol saja masih menemui kemacetan? Bukankah yang namanya jalan tol itu seharusnya bebas hambatan? Ya, teorinya memang begitu, tapi dalam praktiknya, agak sulit dicanangkan di Jakarta.

Sebagian besar tol di Jakarta mungkin sudah menggunakan sistem pembayaran tol yang elektronik. Pengguna jalan tol tidak harus mengeluarkan uang yang akan lebih lama dalam proses pengembaliannya, sehingga menjadikan jalan terhambat, nyaris keluar dari gerbang tol, seperti yang saya sering lihat di bahu jalan Pondok Pinang, menuju Pondok Indah. Adanya percampuran antara tol untuk kendaraan pribadi dan kendaraan umum seperti Kopaja, memungkinkan kondisi tol yang jadi lebih semrawut. Oleh karena itu, sistem ITS atau Intelligence Transportation System harus dipasangkan secara menyeluruh. 

Jika memang harus dipasang secara menyeluruh, apa saja bagian dalam ITS yang terdiri dari skala internasional? 

Nah, berikut ini adalah penjelasan singkat mengenai beberapa contoh sistem ITS yang sedang dikembangkan oleh Kementrian Pekerjaan Umum, Badan Penelitian dan Pengembangan Puslitbang Jalan dan Jembatan.
  • Traffic management center (TMC)
  • Traffic data collection (speed, volume)
  • Service of traffic information (internet, broadcast, VMS, etc)
  • Real time traffic signal controller (APILL)

Sebelum menuju ke implementasi, tentunya perlu diadakan berbagai riset mengenai kondisi jalan dan status jalan. Baru kemudian disandingkan dengan dokumen ilmiah pada praktik sistem transportasi 'pintar' yang sudah dipasangkan di beberapa negara berkembang, seperti tetangga kita, Malaysia dan Singapura.

Melihat kondisi jalan di Jakarta, rasanya bukan tidak mungkin untuk memasangkan traffic management center atau TMC pada bahu-bahu jalan di Jakarta. Dengan sistem informasi dan pengelolaan yang memadai, TMC ini akan menjadi basis data untuk kondisi jalan di Jakarta. Sebagai permulaan, ambil titik yang beban jalannya berat. Misalnya, pada jam-jam tertentu, tol menuju Lebak Bulus berikut gerbang keluarnya ternyata selalu macet pada jam tujuh pagi sampai jam sembilan pagi, untuk kemudian macet kembali di jam-jam orang pulang kantor. Nah, dari sini bisa diambil sample kecil untuk melakukan implementasi ITS yang baik, mulai dari penghitungan volume kendaraan pada jam-jam tertentu, penghitungan kecepatan kendaraan, penghitungan keluar-masuk kendaraan pada gerbang-gerbang tertentu, sehingga data tersebut dapat dikumpulkan dalam satu basis data sentral di dalam TMC atau Traffic Management Center.

Apa manfaat dari pengumpulan basis data berikut?

Manfaat yang didapat tentu saja tidak akan terasa tiba-tiba, tapi akan terasa setelah implementasi berjalan beberapa waktu lamanya. Dari sana, evaluasi terhadap data harus giat dilakukan. Misalnya, setelah mendapatkan data-data mengenai kondisi tol di daerah yang menuju Lebak Bulus dari berbagai titik selama tiga bulan, maka bisa dikalkulasi atau dihitung berapa kendaraan yang mengarah ke daerah-daerah tertentu, seperti Tangerang Selatan. Nah, bagaimana mengkalkulasinya? Tentu saja lewat gerbang tol. Gerbang tol adalah komponen utama dalam sebuah jalan tol, di mana petugas sudah seharusnya mencatat dan menghitung kendaraan. Di sini sudah seharusnya dipasangkan sistem terintegrasi dengan sistem utama, yaitu basis data yang ada di dalam Traffic Mangement Center. Melalui sistem tiket terintegrasi, akan tercatat dari mana kendaraan tersebut masuk tol, dan keluar di tol mana. Jumlah atau trending kendaraan yang tercatat tersebut akan masuk ke dalam basis data, sehingga pihak yang melakukan evaluasi terhadap sistem baru ini akan lebih mudah membaca data, tanpa harus mengeceknya secara manual dari gerbang tol ke gerbang tol lainnya. Bukankah IPTEK dan Sistem Informasi yang kini makin berkembang akan lebih memudahkan hal tersebut?

Nah, dari data tersebut, kita sudah bisa mendapatkan penghitungan akurat tentang jam-jam sibuk dan jam-jam di mana traffic akan sangat padat. Dari sana, buat satu sistem lagi, yaitu sistem penyebaran informasi, yang berguna bukan hanya untuk pihak yang mengembangkan sistem tersebut, tetapi juga untuk pengguna jalan tol, atau para pengendara kendaraan. Sistem ini sudah seharusnya bisa dipasang secara mobile, mudah dibawa kemana-mana, sehingga pengguna jalan tol akan lebih mudah melihatnya di manapun mereka berada. Dari sistem ini, pihak pengembang sistem ITS sudah memberikan data traffic dalam bentuk yang user-friendly, atau mudah bagi pengguna kendaraan. Hal ini seharusnya sudah terintegrasi dengan sistem GPS, karena akan lebih mudah digabungkan dengan peta kota Jakarta berikut tolnya. Nantinya, pengguna jalan tol dapat melihat, lokasi ia berada dan tol terdekat, berikut tingkat kepadatannya. Sehingga, sebelum ia mencapai kepadatan itu, pengguna dapat mengalihkan kendaraannya ke jalur lain yang memungkinkan.

Jadi, sistem ITS yang menyeluruh itu sebenarnya ada empat elemen utama saja, ialah; sistem pengumpulan data, sistem manajemen penyimpanan basis data (TMC), sistem pengolahan data, dan sistem informasi atau penyebaran data.

Mungkin memang terlihat tidak mudah, tapi kalau ini berhasil, bukankah kondisi kemacetan di Jakarta lebih memungkinkan untuk dikurangi?

******

Referensi:



Artikel ini diikutkan dalam sayembara penulisan blog oleh Balitbang PU, dengan tema "IPTEK, Jalan Keluar Permasalahan Bidang Pekerjaan Umum".

Turnamen Foto Perjalanan Ronde 30 – BATAS

Selamat datang di blog saya teman-teman! :D

Setelah mengikuti ronde 29 di Turnamen Foto Perjalanan bertema Gunung dengan tuan rumah Mbak Elisabeth Murni, rupanya foto dua sandingan gunung Sindoro dan Sumbing dari gunung Prau mendapatkan apresiasi dari penggagas untuk ronde 29 ini. Karena itulah, Turnamen Foto Perjalanan ke-30 ini dilemparkan kepada saya.

Senang dan haru pastinya, karena saya ingat momen ketika saya mengambil foto tersebut. Berlomba dengan puluhan orang lainnya untuk mendapatkan posisi yang paling pas untuk menempatkan kamera saya, supaya fragmen pagi yang didapat menjadi begitu sentimentil. Dan rupanya, karena alasan-alasan seperti itulah foto saya dimenangkan oleh Mbak Sash--begitu nama panggilan penggagas ronde 29 ini. Terima kasih Mbak Sash! :D

Dan apa tema kali ini?

Batas Daerah: Wonosobo - Kendal di lembahan Gunung Prau

Batuan Andesit Yang Vertikal itu pembatas, bahwa bagian tengah yang
membentuk ruang itu adalah tempat semadi, maka tidak boleh diinjak. :)

Papan pemberitahuan sebagai 'batas', agar para pendaki tidak memetik edelweiss. :)

Hmmm. BATAS. Ya! :D Saya memberikan tema BATAS untuk Turnamen Foto Perjalanan Ronde 30 ini. Jadi, mengapa batas?

Batas adalah pembatas. Sebuah batas yang nyata dan terlihat. Batas menjadi representasi sebuah tempat, ketika kita tak diizinkan atau dibatasi untuk melangkah. Saya rasa, setiap pejalan harus memaknai batas ini menjadi demikian serius, sebab ada saja mereka yang tak menghiraukan batas-batas sebuah tempat, sehingga kadang dapat mengancam eksistensi sebuah tempat wisata. Misalnya, merusak pagar atau pembatas yang menjadi penunjuk arah. Atau... Memanjat pagar, mencorat-coret pagar dan batas-batas.

Ya, batas dan pagar sebagai satu-satunya pembatas nyata yang harus dilihat oleh para pejalan, jika bukan karena seorang pejalan memiliki batasan dalam dirinya sendiri. Sebab, bisa saja di dalam pembatas itu terdapat sebuah ekosistem yang dilindungi kan? Atau... Bisa saja di dalam pembatas tersebut ada makhluk hidup yang dilindungi, hanya bisa dilihat, tak bisa diganggu? Bisa saja... Karena tak ada pembatas, maka belakangan kita lihat pembantaian beberapa satwa langka dan liar yang tak berdosa. Seperti pembunuhan seekor gajah yang sedang makan, hanya karena di daerah tersebut tak ada pagar atau pembatas yang 'nyata'. 

Menurut saya, batas itu perlu, baik dalam bentuk apapun. Mau pagar batas dari beton, besi, kayu, pohon, atau bahkan batas yang hadir dari diri kita sendiri. Sehingga, tak perlu lagi ada pejalan tak bertanggungjawab yang berpikir bahwa, "Ah gak ada pembatas ini, manjat aja!" atau mungkin... "Ah, gak ada batas sama penjaga ini, berarti boleh dong tembak itu singa!"

Nah, kira-kira seperti itulah alasan saya memilih tema untuk Turnamen Foto Perjalanan Ronde 30. Jadi, selamat bereksperimen dengan BATAS yaaa teman-teman!

Aturan main Turnamen Foto Perjalanan :

1. Turnamen foto perjalanan ronde 30 berlangsung mulai: 11 November 2013 – 25 November 2013, jam 23.59 WIB.
2. Foto harus hasil karya sendiri.
3. Peserta lomba TFP bebas mengupload foto dimana saja, asalkan milik/akun sendiri. Contoh: Web, Twitpict, Blog, dll
4. Submit foto pada kolom comment artikel ini dengan format berikut :
- Nama/nama blog/nama Twitter
- Link blog
- Judul/Keterangan foto
- Link foto (maksimal ukuran 600 pixel)
5. Foto tidak boleh mengandung unsur SARA atau menghina pihak lain.
6. Semakin cepat upload, semakin besar juga menjadi yang terposting diatas.
7. Pengumuman pemenang: 2-3 hari setelah batas akhir turnamen pada ronde tersebut.

Turnamen Foto Perjalanan untuk Traveler Indonesia, Mengapa mengikuti Turnamen Foto Perjalanan?

1. Ajang sharing foto. Bersama, para travel blogger Indonesia membuat album-album perjalanan yang indah. Yang tersebar dalam ronde-ronde turnamen ini. Untuk dinikmati para pencinta perjalanan lainnya.
2. Kesempatan jadi pemenang. Pemenang tiap ronde menjadi tuan rumah ronde berikutnya. Plus, blog dan temamu (dengan link ybs) akan tercantum dalam daftar turnamen yang dimuat di setiap ronde yang mendatang. Not a bad publication.

Siapa saja yang bisa ikutan?

1. (Travel) blogger – Tak terbatas pada travel blogger profesional, blogger random yang suka perjalanan juga boleh ikut.
2. Setiap blog hanya boleh mengirimkan 1 foto. Misal DuaRansel yang terdiri dari Ryan dan Dina (2 orang) hanya boleh mengirim 1 foto total.
3. Pemenang berkewajiban menyelenggarakan ronde berikutnya di (travel) blog pribadinya, dalam kurun 1 minggu. Dengan demikian, roda turnamen tetap berputar.
4. Panduan bagi tuan rumah baru akan diinformasikan pada pengumuman pemenang. Jika pemenang tidak sanggup menjadi tuan rumah baru, pemenang lain akan ditunjuk.

Nggak punya blog tapi ingin ikutan?

1. Oke deh, ga apa-apa, kirim sini fotomu. Tapi partisipasimu hanya sebatas penyumbang foto saja. Kamu nggak bisa menang karena kamu nggak bisa jadi tuan rumah ronde berikutnya.
2. Eh tapi, kenapa nggak bikin travel blog baru aja sekalian? WordPress, Tumblr, dan Blogspot gampang kok, pakainya.

Hak dan kewajiban tuan rumah:

1. Menyelenggarakan ronde Turnamen Foto Perjalanan di blog-nya
2. Memilih tema
3. Melalui social media, mengajak para blogger lain untuk berpartisipasi
4. Meng-upload foto-foto yang masuk
5. Memilih pemenang (boleh dengan alasan apapun)
6. Menginformasikan pemenang baru apa yang perlu mereka lakukan (panduan akan disediakan)

Ronde Turnamen Foto Perjalanan:

  1. Laut – DuaRansel
  2. Kuliner – A Border that breaks!
  3. Potret – Wira Nurmansyah
  4. Senja – Giri Prasetyo
  5. Pasar – Dwi Putri Ratnasari
  6. Kota – Mainmakan
  7. Hello, Human! (Manusia) – Windy Ariestanty
  8. Colour Up Your Life – Jalan2liburan
  9. Anak-Anak – Farli Sukanto
  10. Dia dan Binatang – Made Tozan Mimba
  11. Culture & Heritage – Noni Khairani
  12. Fotografer – Danan Wahyu Sumirat
  13. Malam – Noerazhka
  14. Transportasi – Titik
  15. Pasangan – Dansapar
  16. Pelarian/Escapism – Febry Fawzi
  17. Ocean Creatures – Danar Tri Atmojo
  18. Hutan – Regy Kurniawan
  19. Moment – Bem
  20. Festival/Tarian – Yoesrianto Tahir
  21. Jalanan – PergiDulu
  22. Matahari – Niken Andriani
  23. Burung – The Traveling Precils
  24. Sepeda – Mindoel
  25. Freedom – Pratiwi Hamdhana AM
  26. Skyfall – Muhammad Julindra
  27. Jembatan – Backpackology
  28. Tuhan – Efenerr
  29. Gunung – Elisabeth Murni
  30. Batas - Ayu Welirang
  31. Kamu? Ya... Mungkin kamu selanjutnya! :D
Jangan lupa BATAS akhir pengiriman foto tanggal 25 November 2013 yaa teman! :D

UPDATE FOTO

@dieend18 | Blog


~ Batas Tak Terlihat ~
Ada batas tak terlihat di antara kita. Meski tak terlihat, tetap saja tak boleh dilanggar. 
Biarkan batas itu tetap ada. Sebagai pengingat, bahwa kau dan aku tak mungkin bersatu.
******

@dananwahyu | Blog


~ Batas Bikini ~
Jika berkunjung ke Iboih, pulau Weh jangan heran melihat tanda ini. Inilah batas wisatawan boleh 
mengenakan bikini di kampung turis. Di luar wilayah ini siapapun harus menghormati norma masyarakat Aceh
sesuai syariah Islam.



******


~ Harap Maklum ~
Batas memancing di Segaran ( danau buatan ) - Sriwedari - kota Solo yang harap dimaklumi...
******


~ Karang Selatan ~
Daratan Jawa telah memilihnya sebagai batas yang jelas kepada samudera.
Tempat gulung gemulung ombak menghempaskan diri, sementara dedaun hijau termangu di tepiannya.
Dialah, Karang Selatan.
******


~ Negeri di Atas Awan dari Puncak Gunung Slamet ~
Seringkali kita mendengar Dieng sebagai negeri di atas awan, tetapi di mana batasnya?
Nah, dari puncak Slamet akan terlihat jelas batas itu. Batas rakyat jelata dengan kamun
nirwana di dongeng-dongeng.
******


~ Batas Tanah dengan Air ~
Bumi ini terbagi antara daratan dan perairan, daratan terluas disebut benua dan perairan terluas
disebut samudera. Sedangkan daratan terkecil adalah pulau dan perairan terkecil adalah laut.
Pulau Pandang ini pulau yang cukup eksotis yang sejauh mata memandang berbatasan dengan air laut yang
berdeburan menghempas pantai disekelilingnya.
******


~ Gerbang Batas ~
Seperti halnya beberapa objek wisata di Thailand, tersedia gerbang khusus yang bisa dilalui oleh wisatawan.
Ini adalah gerbang utama Ananta Samakhom Throne Hall (พระที่นั่งอนันตสมาคม), sebuah bangunan megah
bergaya Eropa yang dibangun oleh King Rama V. Walaupun aku tidak tahu apa arti tulisan itu, namun dengan
adanya gerbang kokoh dan pagar besi tambahan makna yang tersirat sangat jelas bahwa tidak sembarangan orang bisa melewati gerbang batas ini.
******


Garis batas itu sebenarnya tidak ada. Kita menciptakan 'batas' karena otak tidak bisa
menjangkau semua isi dunia. Terbatas. 
******


~ Sepanjang Pantai, Sepanjang Itu Pula Ombaknya Berbuih ~
Di sini, orang menyebutnya sebagai pantai. Segurat garis yang dipisahkan oleh buih yang kerap datang
lalu menghilang lalu datang lagi emnjadi batas. Lalu, apa yang dikenang dari selembar pantai jika bukan ombak
dan senja? Keduanya merangkai garis dimensi dalam ruang romansa di saat senja sedang ingin bersetubuh
dengan cakrawala. Bahwa pantai selalu bercerita tentang kejar dan pelarian ombak, dan juga tentang angin senja.
Bahwa disana buih telah menyatakan dirinya sebagai batas yang tak terbatas, karena mata selalu mengingatmu
sebagai bagian dari pangkal menuju senja.
******


~ Pulang ~
Ketika perjalanan hidup telah sampai pada batasnya, semuanya akan berujung pada satu kata, pulang.
Dan tempat ini adalah batas akhir perjalanan itu.
******

@diah87 | Blog

~ Batas ~
Batas wilayah kelurahan Watu Watu, Kecamatan Kendari Barat
Kota Kendari, Sulawesi Tenggara
******




Wednesday, November 6, 2013

Arus dan Denyut: Sebuah Mix-tape Untuk #HeartOfJakarta

Kalau kita benci Jakarta, kenapa masih berusaha untuk tunduk dalam kepadatan arus lalu lintas dan hiruk-pikuknya? Kenapa masih mau dikangkangi oleh kota yang tak ada hijau-hijaunya? Sebenarnya, apa yang kita cari di Jakarta? Sebenarnya, apa yang membuat Jakarta--si pelacur tua--terus berdenyut? Bahkan, mungkin detak jantungnya semakin kuat. Padahal, dari denyut itu, kita tak pernah menemukan titik pusat denyutan. Kita tak pernah menemukan posisi jantung yang terus berdenyut, terus memompa darah ke seluruh nadi kota Jakarta. Bukan pemerintahan, bukan orang-orang yang duduk di balik kursi menteri, bukan pula para pelaku bisnis raksasa yang bermain di balik pelarian grafik-grafik saham. Sesungguhnya, apa yang saya tangkap akhir-akhir ini adalah, bukan mereka yang besar dan berada di atas, yang memompa darah untuk memaksa Jakarta berdenyut, melainkan mereka yang kecil-kecil, seperti gotong royong para semut.

Mungkin begitu analoginya. Saya juga tak tahu. Sebab, hidup di sini malah membuat saya lebih banyak berkontemplasi. Kadang lucu, tapi ya begitulah adanya. Di sela-sela hidup yang semakin menguras air mata dan keringat, rupanya Jakarta memberikan kesan yang lain. Memberi experience yang berbeda. Masih tak terdefinisi oleh saya, tetapi kurang lebih seperti itulah! :D

Maka dari itu, saya membuat sebuah mixtape. Musik-musik yang saya kompilasikan, untuk sekedar diunduh atau diabaikan juga tak apa. Musik-musik yang mungkin bisa merepresentasikan Jakarta dengan macam-macam pompa denyutnya. 

artwork mixtape, dibuat ngarang aja gitu... :P

Arus dan Denyut. Inilah mixtape sederhana, memuat beberapa lagu sederhana tentang Jakarta. Mengekor di dalam arus dan denyut Jakarta, 10 lagu ini saya susun untuk teman-teman semua. :)

1. Iwan Fals - Lagu Dua (Jakarta)
Lagu ini mungkin semacam representasi atas kondisi Jakarta dan orang-orang di Jakarta. Bagaimana mereka harus membeli air dari PAM, sebab air bersih tak tersedia begitu saja, tidak mengalir seperti air yang didapat orang-orang kaki gunung. Dan di Jakarta, membeli air PAM mungkin harus berpeluh dulu, banting tulang. Katanya, Indonesia ini tanah air, tapi kok tanah dan airnya mahal di Jakarta? Memang, Jakarta cuma enak buat cari duit! Kalau sudah punya duit, pulang saja! Hehehe. :D

2. Amazing In Bed - Jakarta Lovely City
"Jakarta lovely city. Poverty… Opportunity. Jakarta lovely city. Thousands of plans and millions of man..." 

Ya. Jakarta. Antara kesempatan dan kemiskinan. Jakarta yang dicintai orang-orang. Jakarta yang memiliki beribu rencana, dari beribu manusia. Nikmatilah... :)

3. Ramondo Gascaro - Oh Jakarta
Lagu ini adalah salah satu lagu favorit saya. Menggambarkan tentang sosialita Jakarta. Mereka, orang-orang yang tertawa dengan botol sampanye di tangannya, padahal dalam hati mungkin saja menangis. Mereka tertawa di malam pesta, padahal dalam hati mengutuk macet, mengutuk pengendara motor dan kendaraan umum yang serampangan. Padahal, sudah tahu macet, masih mengutuk juga. Oh Jakarta! :D

4. Benyamin Sueb - Kompor Meleduk
Ini yang paling legendaris. Menggambarkan banjir Jakarta, yang selalu terjadi setiap lima tahun sekali. Banjir kiriman dari Bogor, kota hujan. Aliran sungai Ciliwung yang terbagi di Pulo Geulis itu akan bermuara ke laut utara. Namun, sebelum melalui laut utara, aliran air hujan itu akan melewati Jakarta dulu. Dan seperti yang sudah-sudah, karena tersendat sampah di Jakarta, maka hujan pun jadi genangan yang membuat orang-orang di daerah rawan banjir akan wara-wiri keserimpet. Pet! Hehehe. Tapi, kata Pak Jokowi, sedang berusaha dibenahi. Maka, berdoa sajalah untuk kelangsungan program penanggulangan banjir ini. Beruntung, banjir kirimannya lima tahun sekali. :P

5. Iwan Fals - Kontrasmu Bisu
Di lagu ini, saya mengiyakan isi dari lagunya. Tinggi gedung membuat iri gubuk-gubuk pinggir kali. Kota ini pincang. Saya sendiri melihat perbedaan. Di balik Lotte Shopping Avenue, Jalan Prof. Dr. Satrio, saya jajan pecel ayam. Tidak terlihat lho, di belakang Lotte itu ada warung pecel ayam, sebab masuk ke gangnya saja sudah saling membelakangi. Agak kumuh memang, karena rumah tinggal yang terpaksa digusur itu kini mulai membangun diri mereka kembali. Meski mendapat sisa-sisa sampah dan limbah dari Lotte Shopping Avenue, rumah tinggal berikut isinya itu tetap bertahan. Saya jadi ingat sajak Wiji Thukul tentang Bunga dan Tembok. Kelak, akan tumbuh di tembok-tembok angkuh itu, akar-akar pohon yang baru. Sampai pada waktunya nanti, akar-akar itulah yang akan merobohkan para tembok.

6. Iwan Fals - Sore Tugu Pancoran
Anak-anak kecil yang berkelahi dengan waktu. Mungkin ada yang benar-benar melakukannya, ada pula yang melakukan itu karena suatu lembaga ilegal yang memperjualbelikan anak untuk diserahkan ke jalanan, menjadi raja jalanan untuk mencari uang si penjual yang bersangkutan. Miris memang. Meski begitu, ada yang benar-benar turun ke jalanan untuk mencari sesuap nasi, atau menambah-nambah uang SPP, alih-alih membantu orang tua yang hanya bekerja serabutan sebagai tukang bengkel, pemulung, joki three-in-one, dan lain sebagainya. Anak-anak inilah yang patut saya beri penghargaan. Kalau benar ada penghargaan itu, maka piala dan hadiah patut dikalungkan pada anak-anak yang bisa membagi waktu antara berada di jalanan dengan kepentingan pendidikan.

7. Slank - Jakarta Pagi Ini
Saya hampir tak pernah bisa melihat sinar mentari di Jakarta. Pagi-pagi buta, berangkat kerja agar tak terkena macet. Bekerja menguras otak di dalam ruangan ber-AC, dan pulang di malam buta setelah populasi kendaraan di jalanan tak bottle neck lagi. Hahaha. Jadilah, tak ada sinar mentari. Lagu ini menggambarkan pesimisme terhadap Jakarta saat menyambut pagi. Sendiri di dalam keramaian, sambil memandangi hiruk-pikuk pagi hari kota Jakarta. Tetap sepi, meski orang-orang berjalan lalu-lalang di trotoar.

8. Bangkutaman - Ode Buat Kota
Lagu yang ini mungkin lebih bernuansa bahagia. Lebih optimis dari lagu-lagu sebelumnya yang mengkritik kondisi sosial Jakarta dengan berbagai cara dan emosi musiknya. Di lagu ini, Bangkutaman membawa kita pada sebuah ode, sebuah syair indah untuk Jakarta. Dialamatkan kepada suara bising di tiap jalan, langkah kaki yang berlalu-lalang, sirine raja jalanan, dan suara sumbang yang terus berdentang. Dan lagu ini tetap riang, meski menceritakan bagaimana kita besar di Jakarta dengan sungai yang kian menghitam. Kita tetap riang, meski keriangan itu didapatkan dari bawah kolong jembatan. Lalu, Bangkutaman pun menyanyikan lagu ini untuk kami, para perantau yang selalu homesick. Ingin pulang tapi terjebak macet, dan pada akhirnya kesepian di tengah malam.

9. White Shoes and The Couples Company - Kisah Dari Selatan Jakarta
Saya sebenarnya tidak kuasa mengartikan isi lagu ini. Namun, karena hanya di Jakarta Selatanlah semua keriangan itu bermula, saya kira lagu ini cocok. Hehehehe. Suasana yang 'agak' nyaman itu, menurut saya ya Jakarta Selatan. Mungkin malah, saya bisa menyebut kalau Jakarta Selatan itu nggak Jakarta banget kok! Semua orang dari penjuru kota yang mencapai Jakarta, mungkin akan bertemu di satu pintu, Jakarta Selatan. Bisa di Tanjung Barat, di Lebak Bulus, di sana, di situ. Karena dekat dengan perbatasan kota-kota lain, seperti Depok, Bogor, Tangerang, maka Jakarta Selatan itu sudah sangat multi-etnis. Makanya, di sini wajah Jakarta tak begitu terlihat. Kita bisa melihat orang ini dan itu, nongkrong bareng. Di sudut manapun.

10. Farid Hardja - Jakarta
Nah, lagu bergaya rockabilly ini memang tidak sebombastis Karmila. Tapi, lagu ini menggambarkan muda-mudi Jakarta yang gemar kongkow di kelab malam. Mencari keriangan dengan cara lain. Mencari keriangan dengan nongkrong di mana saja, bersama teman-teman serupa, dengan gaya celana yang warnanya luntur, jahitan timbul. Lagu yang menggambarkan muda-mudi Jakarta, bunga-bunga Jakarta yang kelak akan jadi penyambung tembok angkuh, atau penyebar benih bunga yang mungkin akan merobohkan tembok-tembok itu, seperti pada sajak Wiji Thukul.

Ya begitulah, sedikit denyut-denyut Jakarta yang dapat kita dengar dan juga baca dari sebuah lagu. Untuk mengunduhnya, sila kunjungi tautan ini.

Salam!


Monday, November 4, 2013

Dua Tahun Merantau dan Memulai Proyek #HeartOfJakarta

Jakarta oh Jakarta
Terimalah suaraku dalam kebisinganmu
Kencang teriakku semakin menghilang

Jakarta oh Jakarta
Kau tampar siapa saja saudaraku yang lemah
Manjakan mereka yang hidup dalam kemewahan

Jakarta oh Jakarta
Angkuhmu buahkan tanya
Bisu dalam kekontrasannya

(Iwan Fals - Kontrasmu Bisu)

Baru dua tahun rupanya, saya di Jakarta. Rasanya sudah lama sekali. Mungkin, karena sudah banyak yang saya lewati di Jakarta ini. Melihat Kopaja digulingkan orang kala demo. Melihat banjir, melihat senyum di gubuk pinggir kali, melihat orang-orang yang mengais puntung rokok di bawah jembatan, melihat sakit, melihat mati.

Dari semua yang saya lihat, rasanya seperti sudah bertahun-tahun saya meninggalkan rumah. Padahal, ya baru dua tahun ini saya di Jakarta. Bekerja, menumpang makan, menumpang tidur, bahkan menumpang lihat-lihat kota. Ya apalagi yang bisa dilakukan oleh perantau seperti saya? Mengubah kota? Rasanya tak mungkin. Tapi, bisa jadi mungkin sih, kalau konsisten menyebarkan jantung Jakarta. Bagi saya, yang akhir-akhir ini sudah mulai melebur di jantung Jakarta, ada banyak hal yang tertutupi dari Jakarta. Di samping glamornya kehidupan Jakarta, banyak hal yang tak diketahui orang banyak. Mungkin, orang banyak tahu, tapi tak banyak peduli. Kira-kira begitu tepatnya.

Maka, dari sini saya memulai sebuah project untuk blog saya ini, agar setiap saya melihat sesuatu tentang Jakarta, saya dapat menuliskannya di sini. Sebab, bukankah perjalanan yang paling sulit itu adalah perjalanan mencari rumah singgah di tempat yang kita singgahi? Buat saya, Jakarta masih tetap menjadi tempat baru. Maka dari itu, saya coba cari persinggahan-persinggahan yang mungkin akan membuat saya nyaman untuk sejenak, barang di Jakarta. 

Jadi, mulai saat ini, saya akan terus memperbaharui #HeartOfJakarta, project tulisan, foto, mixtape lagu tentang Jakarta, dan lain sebagainya. Selesainya? Ya entah... Wong, saya di Jakarta juga entah sampai kapan kok.

Intinya, saya sedang (ingin memaksa) jatuh cinta dengan Jakarta, dari sisi yang berbeda. Apalagi yang bisa didedikasikan seorang perantau pada kota rantauannya? Atau pada kota kepulangannya? Ya ini... Mungkin cuma tulisan-tulisan yang kelak menyimpan sisa-sisa tentang Jakarta ini... :)

Salam!


Saturday, November 2, 2013

Ku Lari Ke Hutan, Kemudian Belok Ke Goa Jepang

Perjalanan naik motor, terus parkir, terus masuk kawasan hutan raya di Bandung, rupanya ke Goa Belanda masih harus menapaki jalanan berbatu. Enak sih jalannya, menurun. Yang jadi pe-er adalah jalan pulangnya. Karena jalan ini satu-satunya jalan untuk kembali ke gerbang masuk, maka saya harus sedikit menanjak. Ah, harusnya sih jangan ngeluh, biasanya juga naik gunung. Hehehe.

Biar perjalanan pulangnya bukan cuma sekedar jalan kaki, enaknya ambil jalur di sebelah kanan jalur pulang. Balik arah dari Goa Belanda, akan ada penunjuk arah cabang tiga, yang akan mengantarkan kita ke destinasi lain di dalam Taman Hutan Raya Djuanda. Dan saya pun memilih untuk ke arah Barat, mengambil jalur mendatar untuk sampai ke Goa Jepang.

kiri: ke Goa Jepang
Trekking ringan menuju Goa Jepang ini tidak begitu membosankan. Jalanan aspal licin sisa hujan tidak begitu ramai. Maklum, memang jalannya kecil dan bukan untuk motor. Orang saja jarang. Mungkin karena tidak begitu banyak orang yang berminat untuk melancong ke sisa-sisa zaman penjajahan. Kalaupun ada, ya pasti orangnya seperti saya juga. :))

Di kiri jalan, hanya tebing berbatu saja yang terlihat. Sepertinya, tebing ini masih sisa-sisa bangunan pusat radio komunikasi Jepang yang terbentang luas. Sedangkan, di kanan jalan, saya melihat beberapa pohon penghasil kayu yang bisa dibilang masih cukup muda umurnya. Mungkin untuk memperbaiki ekosistem di kawasan Tahura, pohon-pohon ini ditanamkan ke tanah Tahura. Trekking pun jadi tidak terasa bosan, seperti kembali ke alam. Kembali ke hutan. Maklum lah, saya sudah lama tidak main ke gunung, hutan, dan rimba raya. Jadinya, berjalan di tengah suasana yang segar dengan pemandangan hijau, sejenak membuat saya lupa akan peliknya kehidupan saya ketika di Jakarta. Bekerja di antara belantara beton yang tidak ada indah-indahnya.

tentang mahoni Uganda...

Dari Goa Belanda, perjalanan dengan jalan kaki memakan waktu kurang lebih sepuluh menit. Setelah melewati beberapa jenis pohon penghasil kayu itu, di depan saya sudah terlihat bangunan benteng yang tertutupi semak belukar. Bangunan yang sudah sempurna bersembunyi itu memang tak terlihat seperti benteng kalau dilihat dari arah utara.

Goa Jepang di Tahura adalah salah satu dari puluhan goa buatan Jepang yang tersebar di seluruh Indonesia, yang umumnya dibuat pada tahun 1942 - 1945. Ketika masa pendudukan Jepang, Kota Bandung merupakan marksa salah satu dari tiga Kantor Besar (bunsho) di Pulau Jawa. Bandung juga menjadi tempat pemusatan terbesar tawanan perang mereka, baik tentara Koninklijke Nederlands Indische Leger--atau yang lebih dikenal dengan sebutan KNIL (Tentara Hindia-Belanda) dan satuan sekutunya, maupun warga sipil.

ilustrasi tentara Jepang...

Tanggal 10 Maret 1942 dengan resmi angkatan Perang Hindia Belanda berikut pemerintah sipilnya menyerah tanpa syarat kepada bala tentara Kerajaan Jepang dengan upacara sederhana di Balai Kota Bandung. Setelah upacara selesai, Panglima Perang Hindia Belanda Letnan Jendral Ter Poorten dan Gubernur Jendral Tjarda Van Stakenborgh tanpa basa-basi atau ba-bi-bu lagi ditawan di Mansyuria sampai perang dunia II selesai. Andaikata pemerintah Indonesia yang ketahuan korupsi langsung dijebloskan saja seperti ini tanpa ba-bi-bu, saya optimis bahwa tampuk pemerintahan Indonesia akan bersih seketika. Hahaha. (Masa iya sih, perlu mendatangkan penjajah Jepang dulu, baru bisa mikir?)

Pada masa itu, selain memanfaatkan goa buatan Belanda sebagai tempat menawan tahanan, Jepang juga menambahkan sejumlah goa di kawasan ini. Goa buatan Jepang digunakan untuk keperluan penyimpanan amunisi, logistik, dan komunikasi radio pada masa perang. Begitu instalasi militer Hindia Belanda dikuasai seluruhnya maka tentara Jepang membangun jaringan Goa tambahan untuk kepentingan pertahanan di Pakar, dimana letaknya tidak jauh dari Goa Belanda. Konon pembangunan goa ini dilakukan oleh para tenaga kerja secara paksa yang pada saat itu disebut “romusa” atau “nala karta”. Goa tambahan yang terdapat di daerah perbukitan Pakar ini tepatnya memang berada dalam wilayah Tahura. Goa ini mempunyai 4 pintu dan 2 saluran udara. Dilihat dari lokasi dan bentuknya goa ini diperkirakan berkaitan dengan kegiatan dan fungsi strategis kemiliteran. Lorong-lorong dan ruang-ruang yang terdapat pada goa ini dapat dipergunakan sebagai markas, maupun tempat penyimpanan peralatan dan logistik. Selama pendudukan Jepang di Indonesia, daerah Pakar yang sekarang menjadi Tahura dipergunakan untuk kepentingan militer dan tertutup untuk masyarakat.

ki-ka atas: goa jepang, jalan berbatu
ki-ka bawah: ventilasi, pintu masuk IV

Goa tambahan yang dibangun pada masa pendudukan Jepang dinamakan Goa Jepang. Goa Jepang saat ini dapat dimasuki dengan aman dan dijadikan sebagai tempat wisata yang penuh pesona karena alam sekitarnya yang sangat indah dan memiliki nilai sejarah.

Kira-kira begitulah keadaan goa Jepang yang ada di kawasan Tahura. Berada di antara rimbunnya pepohonan dan kawasan eksotis di sebelah selatan patahan Lembang, goa Jepang memang jadi tempat strategis bagi penjajah Jepang untuk membangun kekuatan militer. Mirisnya, tak banyak orang yang tahu, tak banyak orang yang mau peduli. Bahkan, banyak anak muda Bandung yang tak tahu. Yah, mau bagaimana lagi? Sudah lumrah rasanya, orang kota lupa akan sejarah.

Padahal, Soekarno selalu tegaskan... "JASMERAH", jangan pernah sekali-sekali melupakan sejarah...

Salam! :)