Monday, January 28, 2013

Jurnal Perjalanan: Hilang Arah di Cianjur, 20Km Menuju Gunung Padang

Rencana hadir tak bisa diduga. Seperti sebuah perjalanan singkat yang mendadak dilakukan. Seperti hari Minggu, 27 Januari 2013 kemarin, di mana saya dan Mizan memutuskan untuk menyusuri jalan panjang menuju situs megalitikum Gunung Padang di Cianjur.

Awalnya, saya berniat untuk pergi sendiri ke daerah adat Baduy di Banten sana. Saya memberitahu rencana ini ketika sedang nongkrong di Ciputat bersama kawan-kawan reklame. Mizan berpesan bahwa ke Baduy tidak cukup sehari, kalau memang berniat untuk melihat kultur yang ada, bukan sekedar datang dan berfoto. Maka, pilihan kedua saya jatuhkan ke situs megalitikum Gunung Padang yang sekarang sedang santer terkenal di se-antero Indonesia. Mizan pun bersedia mengantar saya dan berangkatlah kami pada pagi harinya.

Berbekal mata yang selalu ingin terpejam karena semalam habis nongkrong di Situ Gintung sambil bergitar dan berbincang yang aneh-aneh, saya dan Mizan berangkat pagi-pagi sekali menuju terminal Kampung Rambutan. Naik 510 dari Ciputat dan sampailah kami di Pasar Rebo, sebuah putaran jalan dimana semua bis yang keluar dari Rambutan sudah pasti melewatinya. Bis menuju Garut via Puncak pun lewat dan setelah negosiasi, naiklah kami. Beruntung kami mendapatkan kursi yang nyaman, sehingga bisa menambal hutang tidur yang belum dibayar.

Sepanjang jalan kami tertidur dan dua jam kemudian, kami terbangun dan mendapati diri kami sudah dekat dengan daerah Cianjur. Turunlah kami di by-pass, dan menepi sejenak untuk minum kopi sambil sarapan. Cuma sarapan gorengan sih, tapi ya sedikit menambal perut kami yang karet ini. Hehehe. Sudah makan, kami tak naik angkot, dan mulailah perjalanan panjang kami.

Warungkondang, masih 20Km lagi ke Gn. Padang :hammer:

Kami jalan kaki, mungkin sekitar lima kilometer sampai ke daerah Joglo. Di Joglo, kami sambung angkutan kota untuk ke Warungkondang, gerbang pertama menuju Gunung Padang. Sampai di Warungkondang, rupanya kami masih harus berjalan lagi 20 kilometer ke lokasi sebenarnya. Dan setelah menimbang, untuk sedikit menghemat biaya, kami berjalan kaki dulu. Nanti, kalau sudah menyerah barulah kami naik angkot, ojek, atau numpang truk. Hehehehe.

Berjalan sekitar enam kilometer dengan tanjakan yang tidak ada habisnya membuat kami lelah. Berhubung dadakan, kami belum banyak persiapan. Nasi bungkus tak ada, warung nasi pun tak kami temukan di sepanjang jalan. Hanya ada warung kecil saja. Jadi, Mizan berhenti untuk membeli stock rokoknya dan saya pun membeli ali agrem. Itu lhooo, makanan semacam donat yang kecil-kecil warna coklat itu. Kalau tidak salah, bahannya dari gula merah dan...hmm, apa ya? Lupa juga. Hehehehe. Sudah belanja keperluan seadanya, kami lanjut jalan.

Mungkin sudah 10 kilometer kami berjalan. Karena benar-benar sudah lelah, kami menepi dan menunggu truk. Akhirnya, supir truk yang baik hati pun mau memberi tumpangan. Kami naik truk sampai 2 kilometer. Dari sini, kami lanjut naik angkutan terakhir, sampai ke Stasiun Lampegan. Dari stasiun ternyata masih 6 kilometer lagi! Haduh, capeeeeek sekali. :'(

Numpang truk
Stasiun Lampegan - masih 6Km ke Gn. Padang

Tanjakan aspal masih menghiasi sepanjang jalan. Hanya saja, panas sudah tergantikan oleh teduhnya pepohonan yang berselang-seling di antara perkebunan teh. Sesekali kami berhenti sambil berharap ada angkutan yang bisa kami tumpangi. Tapi, truk dan mobil pick-up itu tak kunjung kami temui. Huhuhu. Gempor deh.

Jalan dan jalan kaki. Kami sampai di desa terakhir, kira-kira masih tiga kilometer lagi ke Gunung Padang. Di sini, kami beristirahat lagi dan membeli makanan kecil, karena ali agrem tadi pagi belum cukup mengganjal perut kami. Setelah makan, kami berjalan lagi menyusuri jalur berbatu. Sampai di perempatan tugu, kami masih harus berjalan dua kilometer lagi. Dan setelah berjalan terus, kami sampai juga di lokasi. Ada gerbang yang bertuliskan, "Situs Megalitikum Gunung Padang Cianjur". Di sini kami mulai mencairkan lelah lagi, karena akhirnya sampai pada tempat yang dituju.

Pemandangan Bukit 
Tanjakannya kayak gitu tuuuuhhh, panas :(

akhirnya sampai juga
Kami membayar retribusi lokasi wisata dan bersiap mendaki. Ada dua jalur untuk sampai di punden ke lima Gunung Padang. Jalur yang dibuat pemerintah memang lebih panjang dan memutar, tapi kita tidak akan kelelahan karena sudah dibuat tangga semen. Kalau lewat jalur aslinya, mungkin lebih melelahkan, karena kita harus menapaki anak tangga dari batu megalit asli dengan sudut kemiringan yang lumayan mengenaskan. Aduh, kalau lihat dari atas, mungkin semacam tangga menuju kuil-kuil di Tibet sana. 

Lelah juga menapaki tangga, tapi itu tak lama. Kita akhirnya sampai di punden pertama. Menurut informasi salah satu guide, Kang Yusuf, situs Gunung Padang ini sudah berdiri sejak 10.000 tahun SM. Bayangkan! Lebih tua mana dari Macchu Picchu? Bahkan, dikatakan pula bahwa Gunung Padang ini adalah rekonstruksi yang sama seperti di Macchu Picchu sana. Dan saat ini, dia berdiri di Indonesia, dengan lima punden dari sebuah konstruksi bangunan punden berundak tua. Sudah patutlah kita bangga! 

Gunung Padang terdiri atas susunan batu andesit yang saling menganyam. Kalau melihat sejarah lama, memang bisa ditemui candi-candi, tapi tak ada yang setua Gunung Padang. Menurut penuturan Kang Yusuf, Gunung Padang ini adalah tempat berkumpul orang-orang suci, semacam tempat peribadatan leluhur yang dulu tinggal di sana. Itu juga bisa dilihat dari kata Padang, di mana merupakan penggabungan antara Pada dan Hyang, yang artinya adalah Tempat Orang Suci. 

Tangga batu andesit, lumayan curam

Penggalian Gunung Padang sekarang sedang dihentikan, dengan hanya menyisakan punden berundak di pucuknya saja. Padahal, kalau tangga naiknya saja sepanjang itu, sebesar apakah bangunannya? Cobalah bermain logika. Mungkin, Gunung Padang ini adalah salah satu situs bersejarah yang tak banyak orang tahu. Karena tak begitu diekspos, tak ada yang tahu juga kalau Indonesia pernah memiliki peradaban maju, dimana hal ini mungkin bisa jadi semangat bagi bangsa Indonesia yang memiliki mental sebagai "bangsa terjajah". Dan saat berjalan turun, masih ada sekelumit pertanyaan dalam benak saya. Siapakah sebenarnya yang pernah membangun konstruksi semegah dan sekokoh itu? Andai saya bisa mencari tahu, mungkin saya akan senang mengabdikan hidup pada kegiatan arkeologi semacam itu.

Punden pertama

Ini semacam tempat duduk atau ruang makan (?)

Punden kelima, dilihat dari atas saung
Kuntet Mangkudilaga (tokoh Kafir Satanic)
lagi semedi
Sudah sampai di bawah, kami pun bersiap turun ke kota. Kali ini, kami memutuskan untuk naik ojek saja karena hari sudah mulai malam. Kami tak mungkin memaksakan jalan sampai ke terminal, karena pasti akan kelewat malam sekali, mengingat perjalanan awal yang cukup menghabiskan waktu. Setelah berpuluh-puluh kilometer naik ojek trail, kami pun sampai di terminal dan bersiap pulang. Perjalanan satu hari itu rasanya tak puas, karena tak banyak yang kami pelajari. Mungkin, kami akan kembali lagi ke sana, dengan rencana yang lebih matang. [Ayu]

P.S. Rute dan Transport ke Gunung Padang dari Jakarta
Bis Kp. Rambutan - Garut via Puncak Rp 20.000,- turun di Cianjur
Cianjur - Warungkondang Rp 4000,- (naik sampai Joglo baru sambung angkot 43)
Ojek sampai gerbang situs Rp 30.000,- (nego aja sepinter-pinternya. hehe)
Retribusi / Karcis Masuk Rp 2.000,-

Have a good trip, mates! :)

Wednesday, January 23, 2013

Romantisme Pasar Senen

Saya mendadak ingin menulis tentang salah satu sudut kota Jakarta ini karena sedang membaca sebuah buku berjudul "Keajaiban di Pasar Senen". Buku yang dicetak ulang oleh KPG ini adalah kumpulan cerpen yang ditulis oleh almarhum Misbach Yusa Biran. Tidak tahu? Ya, silakan googling sendiri. Hehehe. 

Buku ini memuat tujuh belas cerpen yang ke semuanya mengambil latar Pasar Senen dengan tokoh para seniman-seniman yang kerap kali mangkal di sana. Menurut buku, seniman suka sekali datang ke Pasar Senen sejak tahun 1930-an. Tapi, almarhum Misbach menggambarkan kondisi Senen pada tahun 50-an, dimana Pasar Senen masih menjadi pusat segala kegiatan jual beli dan juga kegiatan para seniman. Seniman senang berkumpul di sana juga karena Pasar Senen dekat dengan Gedung Kesenian Jakarta dan studio film Golden Arrow. Saya berminat menyusuri Pasar Senen, mencari jejak-jejak seniman yang mungkin masih ada, tapi tak saya dapati. Sayang sekali. Sepertinya, yang tersisa di sana hanyalah tempat pertunjukkan Wayang Bharata. Sisanya, ya hanya pedagang-pedagang yang mangkal. Mungkin, seniman sudah lari ke Cikini, di mana Cikini sudah jadi pusat para seniman IKJ. Entahlah.

Pasar Senen tempo dulu (sumber gambar dari sini)

Pada tahun 1968, gubernur Jakarta Ali Sadikin meresmikan Taman Ismail Marzuki dan kemudian mendirikan Institut Kesenian Jakarta. Selain sebagai obyek wisata, tempat ini juga diperuntukkan bagi para seniman yang hendak mengembangkan bakat dan kemampuannya. Sejak saat itu, maka mereduplah nama besar Seniman Senen. Kini Cikini dengan Taman Ismail Marzuki-nya, telah menggantikan Planet Senen sebagai tempat pembiakan para seniman muda.

Sekarang, satu-satunya yang bisa membuat saya kembali ke Senen adalah pasar barang-barang bekas yang sangat luas itu. Ruko-ruko tua yang dihuni oleh hampir dari beribu-ribu pedagang pakaian dan buku bekas itu nyaris membuat saya kalap. Ini romantisme. Ini masa muda. Maka, dengan segenap hati yang tercuri, saya pasti kembali dan kembali lagi ke sana. Entah akan membeli atau tidak, saya pasti kembali dengan harapan akan menemukan sesuatu. Di sana, saya bisa menumbuhkan minat baca saya yang mulai berkurang karena kurangnya asupan gizi buku yang baik, karena sekarang ini sedang tidak aktif kuliah. Hehehe. Sebenarnya saya sedang malas melihat kampus, makanya saya sudah jarang membaca buku. Saat ini jarang sekali saya mendapatkan waktu luang hanya untuk sekedar membaca. Maka dari itu, saya pasti berangkat menuju Pasar Senen, apabila saya ingin membaca. Biasanya, saya membaca di lapak yang paling luar, dekat dengan pintu masuk terminal. Di sana saya bisa mendapatkan berbagai macam buku, dengan penjual ramah yang mungkin saja kesal ketika melihat wajah saya dari kejauhan akan menghampiri tokonya.

Stasiun Senen tempo dulu
(gambar dari sini)
Sambil membaca, saya mencoba menelusuri lagi romantisme Pasar Senen, apakah masih ada warung masakan Padang "Ismail Merapi" yang diceritakan almarhum Misbach dalam buku? Di sana tempat seniman, pencatut, dan pencoleng berkumpul. Saya melirik ke sekitar, tak ada warung yang dimaksud. Hanya kios-kios tua saja yang menempati, itupun sudah reot. Saya tak melihat lagi romantisme 50-an yang diceritakan almarhum Misbach. Mungkin, ini semua dampak dari pembangunan yang gila-gilaan.

Setelah membaca, biasanya saya mampir ke ruko dengan koleksi barang bekas paling banyak. Di sana kita bisa mendapati pakaian-pakaian tua dan tentu saja bekas. Ada yang ingin kembali ke tahun 80-an? Atau 70-an? Atau mungkin, yang lebih tua lagi? Di sana bisa mendapatkan apa saja. Tapi, tentu saja kita harus pintar memilih barang mana yang layak dan tidak layak. Saya sudah langganan flannel atau kemeja kotak-kotak yang berbahan halus semacam wool. Di Senen, saya bisa mendapatkan berbagai macam kemeja flannel dengan harga murah dan dari berbagai brand. Sebenarnya, sambil mencari flannel, saya juga mencari lokasi para seniman berkumpul di ruko-ruko.

Grand Theater di perempatan Senen (sekarang sudah tidak aktif)
gambar dari sini
Agaknya, sulit sekali membayangkan di mana lokasi sebenarnya dari seniman Senen pada masa itu. Sekarang ini, Pasar Senen sudah berubah, sudah semakin berdenyut. Sudah tak lagi mesra seperti pada cerita-cerita almarhum Misbach Yusa Biran. Pasar Senen sudah tak lagi menjadi satu-satunya tujuan para seniman untuk sekedar minum "kopi kecil" dan makan kue putu yang sering mangkal di dekat pangkalan bensin. Ya, sejarah itu sudah hilang dengan sendirinya, sudah terhapus waktu. Meskipun begitu, setidaknya masih bisa kita melihat bioskop Grand Senen berdiri megah, meskipun tampak layu. Sudah tak lagi kita temui seniman teater di sana. Kini, Pasar Senen sudah benar-benar menjadi pusat lalu lintas manusia yang kompleks. Padahal, kalau tempat-tempat bersejarah bagi kemunculan seniman Senen itu bisa dijadikan museum, mungkin anak cucu kita akan tahu bagaimana sudut Jakarta yang paling romantis tercipta. Ya, sudahlah. Harapan tinggal harapan. Cita-cita pun kandas ditelan zaman.

Mungkin, sedikit kisah ini bisa jadi gambaran romantisme Pasar Senen pada awal mula denyutnya. Mungkin, sedikit cerita yang saya kira-kira ini, bisa jadi gambaran, bagaimana kita harus memandang Pasar Senen sebagai sisi Jakarta yang lain, yang berbeda dari hiruk pikuk kotanya yang gila. Mungkin, kawan-kawan harus membaca sendiri kisahnya, dari salah satu kumpulan cerpen almarhum Misbach Yusa Biran. Mungkin, setelah selesai membaca buku itu, saya akan ulas satu per satu cerpennya. Saya akan ulas, meski tak janji. Hehehe. Jadi, selamat bergerilya! Selamat menyusuri Pasar Senen, jika kalian penasaran. [Ayu]

Jakarta, 23 Januari 2013

Friday, January 4, 2013

[Pics] Haru, Biru, dan Dekapan Hujan

Indonesia. Di mana Tuhan menitipkan surga kecil dan kemurahan hati. Di mana Tuhan membagi kasih dan cemas hati. Indonesia, di mana surga bumi berada dalam satu gugus pulau-pulau yang bersemi, dari ujung Sabang hingga Merauke paling sisi.

Tuhan sungguh adil dan nyata, sungguh penuh cinta. Tuhan memberkati kita yang senantiasa melangkah, membagi kecintaan pada Semesta dan sesama. Ada di sini, di bumi Indonesia. [Ayu]

Gunung Slamet berdiri tegak, dilihat dari Pos 2 Gunung Sumbing jalur baru Garung Reco, Dusun Butuh, Wonosobo.

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.” 
― Soe Hok GieCatatan Seorang Demonstran

Senang mendaki? Maka jangan lewatkan pendakian penuh romantisme di Gunung Sumbing. Ladang dan hutan jadi satu kesatuan. Manusia kerap kali berdecak kagum, tiap-tiap melewati pos-pos dengan pemandangan menakjubkan. Jika Tuhan memang titipkan surga kecil di Indonesia, maka itu benar adanya. Dan inilah beberapa gambar yang saya dapat ketika kemarin mengunjungi Gunung Sumbing. Memang benar, nasionalisme tak tumbuh dari hipokrisi dan slogan, melainkan dari kecintaan menjejakkan langkah pada Bumi Pertiwi.

Gunung Sindoro dan pemandangan kota Wonosobo dari ketinggian

Matahari pagi yang muncul malu-malu di punggungan gunung. :)

Kita belum kalah, meski kadang harus mengalah. Kita hanya cukup mengerti bahwa kita harus memberi ruang pada lelah.

Jejak yang lelah, mulai dipaksa melangkah. Sampai akhirnya, pada punggungan terakhir, mereka pun rebah. Tinggal sisa-sisa semangat yang masih menjelajah. Maka, luangkan waktu pada lelah, sekedar rebah dan bercengkrama pada teman-teman seperjuangan. Setidaknya, harga yang harus dibayar telah kembali, bukan? Berbahagialah mereka yang telah dianugerahi kaki-kaki tak putus semangat, karena dengan begitu, semangat nasionalisme akan terus bergema pada mereka yang kuat.

Selamat sore Indonesia. Selamat menutup hari, wahai Semesta. :)

Sejenak saya berpikir, kenapa harus jauh berkeliling ke ujung dunia, kalau Bumi Pertiwi telah memberi segalanya? Syukurilah apa yang kau dapatkan hari ini, karena hari ini tak mungkin terulang dua kali. Salam jejak langkah, salam Indonesia. :)

Sedikit soundtrack untuk hari ini, selamat menikmati!

Payung Teduh - Cerita Tentang Gunung dan Laut

Aku pernah berjalan di atas bukit
tak ada air, tak ada rumput
tanah terlalu kering untuk ditapaki
panas selalu menghantam kaki dan kepalaku

Aku pernah berjalan di atas laut
tak ada tanah, tak ada batu
air selalu merayu, menggodaku masuk ke dalam
pelukkannya

Tak perlu tertawa atau menangis
pada gunung dan laut karena 
gunung dan laut tak punya rasa

Aku tak pernah melihat gunung menangis
biarpun matahari membakar tubuhnya
aku tak pernag melihat laut tertawa
biarpun kesejukan bersama tariannya

Tak perlu tertawa atau menangis
pada gunung dan laut karena 
gunung dan laut tak punya rasa

Wednesday, January 2, 2013

Jurnal Pendakian: Dalam Dekapan Hujan Gunung Sumbing (28 - 31 Desember 2012)


Kantor baru, semangat baru. Jadwal kerja dan jadwal liburan pun baru! Hehehehe.

Di hari Natal dan Tahun Baru, saya mendapat libur beberapa hari. Bersyukur sekali, karena akhirnya saya bisa melakukan perjalanan lagi ke belahan bumi berikutnya di Indonesia. Dan liburan kali ini, saya habiskan bersama tiga orang kawan untuk mendaki dan mentafakuri keindahan Gunung Sumbing di Wonosobo.

Hari Jum'at, tanggal 28 Desember 2012, jam tiga sore kami berkumpul di terminal Lebak Bulus. Saya, Kang Hilwan, Bang Farhan, dan Mbak Titi bersiap lalu berangkat menuju Wonosobo dengan bis ekonomi. Sekitar 12 jam perjalanan menyusuri pantura dan berbelok ke Purwokerto, kami akhirnya sampai di Wonosobo. Tanya sana tanya sini, sampai ditipu supir angkot yang malah membawa kami ke Tambi - Sindoro, kami pun kembali menumpang angkutan sampai ke Garung Reco. Ternyata, daerah bernama Garung itu di Wonosobo ada dua tempat. Yang satu sebelum agrowisata Tambi, dan satu lagi ada di Kertek. Setelah tertipu, kami pun akhirnya sampai di Garung Reco, Kertek. Nah, bagi yang ingin mendaki gunung Sumbing, turun bis di Terminal Wonosobo saja, dan naik angkutan jurusan Magelang, turun di pos pendakian Sumbing, Garung Reco, Dusun Butuh.

Setelah sampai, kami berjalan sekitar setengah kilometer menuju basecamp Sumbing. Di sini, kami mengisi data dan membayar retribusi sebesar empat ribu rupiah per kepala. Sudah mengisi data dan membayar retribusi, kami mendapat peta sederhana di mana terdapat dua jalur mendaki, yaitu jalur lama dan baru. Setelah menimbang dan memilih, akhirnya kami memilih jalur baru yang cukup curam untuk didaki, karena di sepanjang jalur masih ada sumber air. Maklum lah, kami kan manusia gelonggongan. Hehehe.

Basecamp Sumbing.
Dari kiri ke kanan: Mbak Titi, Saya, Kang Hilwan, Bang Farhan

Mulai mendaki sekitar jam setengah sepuluh pagi. Kami menyusuri desa dan ladang-ladang petani. Berjalan santai dan tidak memburu waktu, karena kami memang tak memburu apa-apa. Kami hanya menikmati pemandangan yang disuguhkan oleh Dusun Butuh saja. Sampai di batas vegetasi antara ladang dan hutan, kami mulai disuguhi tanjakan-tanjakan yang cukup curam dan sudah pasti, LICIN! Licin banget lhooooo. 

Kabut turun perlahan, dan rintikan hujan mulai bertahan di jalur kami. Meskipun begitu, niat kami untuk segera sampai shelter Pos 2, tetap tertanam dalam hati. Apapun yang terjadi, target kami hari itu adalah sampai dulu di Pos 2. Sebelum Pos 2, kita akan melewati Pos 1 Bosweisen di mana bisa mengambil air dari mata air sebelum Bosweisen. Nah, setelah mendaki santai, kami sampai di Pos 2 sekitar pukul setengah tiga sore. Lima jam sampai di Pos 2, ya maklum lah. Namanya juga santai. Hahahaha. Di Pos 2, kami mendirikan tenda. Waktunya memasak! 

mata air sebelum Bosweisen

sunset dari belakang shelter Pos 2

Makan sudah, ngopi-ngopi juga sudah. Nah, sekitar jam delapan malam, tibalah sesi curhat dan bincang-bincang. Tapi, hujan mulai mengguyur kami dengan derasnya. Kami pun masuk tenda dan berakhirlah sudah. Teman saya rupanya bangun tengah malam. Langit cerah dan bulan sedang penuh-penuhnya. Purnama yang sangat sempurna di hari itu. Sayang, teman saya bilang, ketika saya dibangunkan, saya tidak bangun. Dia bilang juga, kalau saya tidur seperti orang mati. Ya sudahlah, mungkin belum takdirnya untuk melihat purnama yang hampir menabrak bumi. Hehehehehe.

Pagi-pagi, saya dan Bang Farhan memasak sarapan. Kami membuat sereal yang dicampur dari beberapa jenis makanan. Entah bagaimana rasa makanan itu di lidah teman-teman, tapi yang jelas makanan itu habis seketika. Entah lapar atau rakus, saya juga tidak tahu. Hehehehe. Setelah sarapan sekenyang-kenyangnya (meskipun kurang), kami pun packing barang yang dibutuhkan untuk segera summit. Niat untuk summit attack jam tiga pagi terabaikan karena kami semua memang "jago molor dan ngorok". 

yang masak mah masak, molor ya molor

Minggu pagi, jam delapan kami mulai mendaki. Tenda kami tinggalkan saja, karena kami punya firasat kalau kami pasti camp sehari lagi di Sumbing, mengingat kondisi cuaca yang tidak memungkinkan untuk ngageder turun gunung. Nah, barang-barang penting kami bawa dan mulailah kami mendaki lagi jalur licin nan curam. Kami sampai di pos "in memoriam Tri Antono" dan berdoa sebentar. Setelah itu, kami pamitan dan naik lagi. Saya dan Kang Hilwan berjalan jauh di depan, sementara dua teman kami tertinggal. Karena kagok, daripada berhenti di tengah jalur, kami teruskan saja perjalanan sampai Pasar Setan. Cukup cepat juga langkah kami, dan beberapa menit kemudian, dua teman kami barulah sampai di Pasar Setan atau Pestan. Di Pestan, kami menyempatkan diri untuk bersantai, memandangi Sindoro di depan kami sambil tak henti-hentinya kagum. Saya sempat berceloteh, "Tuhan Maha Keren!" beberapa kali dan entah euforia apa yang menjangkiti saya. Saat itu, langit mulai menghitam lagi. Rintik hujan turun perlahan, dan inilah saatnya kami mulai menempa diri untuk menyusuri sepanjang sabana yang cukup vertikal, sampai ke Pasar Watu.

jempol saya di samping Sindoro :D (sebelum Pestan)
Tanjakan setelah Pestan. Memandang kota dan mendung dari kejauhan.

Saya merasa langkah saya dan Kang Hilwan terlalu cepat. Beberapa kali, kawan kami tertinggal. Akhirnya sampai di tanjakan menuju Pasar Watu, kami duduk sejenak di bebatuan. Kami keluarkan makanan kecil, karena perut kami mulai berbunyi. Perut minta diisi. Untuk memasak, sepertinya tidak pas kalau di Pasar Watu, karena angin menyapa kami dengan ganasnya. Kami pun duduk di bebatuan sambil ngemil. Sekali lagi, entah lapar atau rakus, cemilan pun habis dengan segera. Hahahaha. Beberapa menit kemudian, teman kami yang tertinggal akhirnya sampai dan kami pun ngemil bersama. :P

Mbak Titi agak terkilir kakinya, jadi saya putuskan untuk berjalan pelan saja. Lagipula, hujan menambah lelah jadi lebih parah. Stamina kami dihajar habis-habisan. Hujan terus dan yang saya takutkan adalah petir yang kala itu mulai bersahut-sahutan. Sudah makan cemilan, kami putuskan untuk mendaki lagi, setidaknya sampai Watu Kotak, karena di situlah kami bisa terlindung dari hujan angin yang seperti hendak menelan kami.

tertahan hujan - Watu Kotak
Di Watu Kotak, kami disuguhi dua tenda yang rubuh karena badai. Kami pun memasang perlengkapan masak di dekat tenda yang tak bertuan itu. Mungkin pemiliknya sedang summit. Aduh, kami jadi bergidik sendiri, karena kami tidak mungkin memaksa diri untuk sampai ke puncak. Setidaknya, sudah sampai Watu Kotak pun sudah sangat bersyukur. Dan benar saja, rintikan hujan mulai mengguyur kami dengan deras. Kami pindahkan peralatan masak ke cerukan batu di bawah kami, agar terlindung dari arah datangnya angin dan hujan. Kami memasak dan menghangatkan diri, sementara Bang Farhan menadah air untuk menutup persediaan air yang mulai tipis. Saya dan Kang Hilwan mulai berpikir lagi, apakah kami harus ke puncak atau tidak? Begitulah polemik Watu Kotak terjadi. Sekitar dua jam kami berlindung di Watu Kotak dari hujan, angin, dan petirnya. Dan sekitar pukul setengah satu, hujan mulai reda. Akhirnya, saya memutuskan untuk summit, dengan Kang Hilwan saja. Mbak Titi terkilir kakinya dan Bang Farhan memutuskan untuk menjaga Mbak Titi saja. Sudah fix, saya segera kenakan ponco bak tukang ojek dan mulai mendaki. 

Interval waktu yang saya dan Kang Hilwan rasakan, cukup cepat. Sekitar tiga puluh lima menit saja, kami sudah sampai di Puncak Buntu Gunung Sumbing. Meski hujan mengguyur kami, kami tetap berpijak pada tanah-tanah vulkanik yang licin. Dan saya berdoa dalam hati, agar ketika sampai puncak Sumbing, saya diberikan cuaca yang cerah. Benar saja, sampai di puncak, hujan berhenti. Sungguh ajaib! Berhentinya tiba-tiba! Waaaah, pemandangan kota Wonosobo terlihat keren sekali! Meskipun Sindoro tertutup awan, puncaknya tetap mengintip pada kami di atas tanah Sumbing.

Sindoro mengintip di kejauhan
Sudah foto-foto dan berkeliling menikmati pemandangan, kami memasak air panas untuk menghangatkan badan kami yang diguyur hujan sepanjang jalan. Karena jari sudah kaku semua, maka kami hangatkan dengan uap airnya. Ngopi-ngopi lagi deh! Oh ya, saya sempat menulis sesuatu di dalam pikiran. Kiranya, sebuah puisi. Silakan nikmati. :)

Tuhan dan Pertanyaan

Mengapa Kau mencipta?
Apa yang hendak Kau bagi, pada kami, Tuhan?
Ini bumi sungguh indah, berharga bak permata
Ini langit sungguh kelam, kontras dengan tatapan ke depan

Tuhan, kami sungguh takut
jika nanti kami selalu bergelut
dengan mimpi-mimpi yang lamat
menelan kami bulat-bulat

Tuhan, biarkan kami berjalan
menapaki inci bumi dan keindahan
yang Kau ciptakan
sesungguhnya untuk kami rapalkan

dalam doa...
pada semesta...

Tuhan
ini hanya pertanyaan
akan hal-hal yang tak tertahan
sebagai cara mencintai Kau, Tuhan...

mereka ada
pada tiap resah
tiap marah
dan jejak langkah

Tuhan, tapak ini untukMu
tapak ini untuk bumiku
dan perhambaan padaMu

Tuhanku...
jejak langkahku... 

Wonosobo, 30 Desember 2012

Saatnya berpisah dengan puncak Sumbing. Hiks. Sedih juga rasanya. Sepertinya damai sekali di atas sana. Tapi, bagaimanapun kami harus turun karena kami harus sudah sampai di Pos 2 sebelum senja tiba. Dua puluh menit kami turun dengan cepatnya, seperti tupai melompat-lompat dan sampailah kami di Pestan. Di Pestan sudah ada Bang Farhan dan Mbak Titi. Setelah kabut di jalur baru tersibak, kami pun berpamitan dengan pendaki yang kami temui di Pestan dan segera menyusuri jalur baru untuk turun ke Pos 2.

Hari mulai gelap, dan kami mempercepat langkah. Saya agak phobia dengan suara ayam hutan, maka saya melangkah lebih cepat lagi. Dan beruntungnya kami, sebelum senja datang, kami sudah sampai di Pos 2. Segera kami rapikan kembali tenda yang sudah berubah bentuk di sana sini sejak terakhir kami tinggal. Sudah rapi, waktunya menyapa Maghrib.

Senja berlalu dan langit pun kembali tak bersahabat. Hujan mengguyur kami lagi dan secara terpaksa, kami pun mempercepat hari esok dengan tidur di tenda. Saya sendiri tidak tidur, maka dengan sisa-sisa baterai di telepon seluler saya, saya putar lagu Slank - Foto Dalam Dompet. Hahahahaha. Galau masbroooooooo! Lama-lama, saya juga tidur dengan sendirinya.

Pagi tiba, langit cerah. Burung-burung berkicau dan saya menuju ke belakang shelter untuk mendapatkan pemandangan gunung Slamet di kejauhan. Yap! Saya mendapatkannya! Kabut tipis berhias di kejauhan dan gunung Slamet tampak cerah. Sekali lagi saya bergumam, "Tuhan Maha Keren!", sebelum akhirnya bersiap untuk sarapan dan packing. Saatnya berpisah dengan gunung Sumbing. Huhuhuhu.

Gunung Slamet di kejauhan

Jam delapan pagi kami turun dan jam sepuluh lewat sudah sampai di basecamp Sumbing lagi. Perjalanan yang menyuguhkan banyak sekali pengalaman. Hujan, angin, dan petir membuat kami tak berani berbangga hati, karena hanya dengan itulah kami masih menyadari diri kami sebagai manusia. Masih ada yang lebih kuat lagi dari kami. Karena badai hari itu membuat kami sadar, bahwa kami hanya makhluk tak berdaya yang bisa sewaktu-waktu mati, hilang, dan tak berbekas lagi. Di atas sana, Tuhan lebih tahu apa yang kami mau. :)

Jakarta, 02 Januari 2013
12:25 PM

P.S:
  • Transport Jakarta - Wonosobo PP Rp 160.000,-
  • Wonosobo - Magelang turun Garung Reco, PP Rp 10.000,-
  • Retribusi Sumbing @ Rp 4.000,-
Bagi yang berminat, monggo dicoba gunung Sumbingnya. Dan hati-hati, jangan salah turun Garung kayak saya yaaaaa. Turunlah di Garung Reco, Kertek, jangan di Tambi! Ingat! Waspadalah, waspadalah! Penipuan berlaku di mana sajaaaa. Hehehehe.

Have a good trip, mates! :)