Wednesday, March 20, 2013

Semesta, Pertanda, Merah Muda

Firasat manusia tergambar pada semesta. Semacam suatu koneksi antara manusia dengan tempat ia berpijak. Sebuah koneksi yang saya sering telan bulat-bulat sebagai, "butterfly effect". Koneksi dimana ketika kepak sayap kupu-kupu di Indonesia, bisa menyebabkan badai di Afrika sana. Kira-kira semacam itulah semesta berhubungan dengan segala individu di dalamnya, termasuk manusia.

Entahlah, akhir-akhir ini saya sedang gemar memotret segala bayangan benda pada senja. Ada apa ya? Kira-kira, warnanya merah muda. Langitnya merah muda, bayangan hitam dengan bias merah muda. Senja pun jadi merah muda. Kira-kira, ada apa dengan individunya? Dengan saya? Apakah saya sedang bermerah-merah muda? :D

Yaaaa. Semesta beri pertanda. Semacam pertanda bahwa individu penikmat alamnya sedang meraba, sedang merasa. Entah rasa apa, yang jelas, semua di sekitar saya terasa merah muda. Sebut itu cinta, silakan saja. Sebut itu bahagia, boleh juga. Yang jelas, saya tak pernah sebahagia ini melihat merah muda. :D

Nah, selamat menikmati warna-warna senja yang tertangkap oleh semesta ala saya! Selamat! :D

Oh ya, jangan lupa melihatnya sambil memutar lagu ya! Jalan Dalam Diam dari Dialog Dini Hari untuk kalian semua. Selamat mendengarkan dan selamat bersukacita! :D


sisipkanlah aku, disayapmu... terbangkanlah aku kemanapun kau mau.

langit di atas Pasar Senen, merah muda
Jakarta bisa merah muda :D
Suryakencana merah muda, tahun lalu :)

Awan merah muda, tahun lalu
 Katanya, apa yang divisualisasikan semesta mencitrakan perasaan penjejaknya. Benarkah? Entahlah... Bisa jadi memang iya, karena ketika saya mengambil gambar-gambar itu, perasaan saya tidak menentu. Yang jelas, saya berterima kasih pada semesta, atas pertanda yang diberikannya. Semacam mencari refleksi diri yang kadang tak saya temukan di sini, tetapi malah ada jauh di langit sana...

Yaaa, begini ya warna merah muda? Tidak buruk juga. Hahaha. :D

*) maaf ya, lagi merah muda nih! :D

Wednesday, March 13, 2013

Pada Masa Depan, Kita Menyerah

Cuma sedikit cerita, di tahun ini. Tahun ini menemukan banyak hal baru, kawan baru, saudara baru, dan masa depan yang tentu saja akan baru atau mungkin diperbaharui? Entahlah. Ini sekedar cerita tentang hidup yang mungkin akan melaju lebih baik. Semacam refleksi saya di pertengahan tahun, mari diulas satu per satu tentang perjalanan hidup. :)

sambil putar soundtrack hidup bulan ini

Diawali dengan perjalanan yang secara tiba-tiba direstui Tuhan. Saat menunggu gajian tak kunjung datang dan sudah putus asa karena tak jadi berangkat ke Sumbing. Ternyata, Tuhan berkata lain. Apa ini kebetulan? Saya rasa bukan. Saat cemas, tiba-tiba menjadi saat yang sama sekali berbalik, seratus delapan puluh derajat dari kecemasan itu sendiri. Masuklah kabar gajian dan berangkat ke Sumbing, bukankah ini rahmat Tuhan yang kadang kita tak ingat dan kita tak rindukan? Maka, bagi saya, tahun ini adalah tahunnya bersyukur. Tuhan masih sayang pada hamba-Nya yang kerap lalai dalam mengingat sejengkal saja tentang-Nya.

langkah kaki di masa ini...

Berbagai hal yang tak bisa dikatakan sebagai kebetulan, melainkan kesempatan Tuhan pun satu per satu datang. Dalam kesakitan luar biasa akan masa lalu--perihal hati, rupanya terobati juga. Bertemu seseorang yang selama ini tak pernah terpikir untuk dicari. Dan ketika bersamanya, sempat menemukan de javu akan masa lalu. Entahlah, saya seperti pernah melihat kejadian bersamanya diputar ulang dalam memori dan kenyataan. Inikah kebetulan? Sekali lagi, saya rasa bukan. Tuhan menitipkan beberapa masa depan di dalam masa lalu yang kelak pasti akan terputar ulang. Dan ketika sadar, kita cuma bisa tersenyum akan hal itu. Kita hanya bisa mengangguk bahagia dan diam saja, tak berkata apa karena terlalu mendapatkan euforia. Yah, kurang lebih, de javu yang saya rasa kali ini benar-benar nyata. Saya seperti pernah bersamanya.

Cukup sudah refleksi ini. Memang, begitu banyak hal yang sudah saya lalui di tiga bulan pertama tahun 2013 ini. Entah apa lagi yang akan Tuhan berikan pada saya sebagai kejutan. Saya harus siap menerimanya di masa depan. Sementara, sambil menunggu kejutan-kejutan itu datang, saya coba menghidupi hari ini. Saya coba untuk tak menyakiti hari ini, agar hari depan menjadi hari yang sangat-sangat baik. Saya harap...

You said, "To the future we surrender. Let's just celebrate today, tomorrow's too far away. What keeps you waiting to love? Isn't this what you've been dreaming of?" -- Float

Ya begitulah. Pada masa depan kita menyerah. Rayakan saja hari ini, esok hari tentu masihlah jauh. Apa yang membuatmu menunggu untuk mencintai? Bukankah ini yang selama ini kau jadikan mimpi? Maret ini, saya hanya harap, setelah semua apa yang saya alami, hari-hari akan jadi lebih berarti lagi. Saya harap... Saya harap lagi...



kemana lagi langkah kaki? kemana kita akan berjalan lagi? semoga bisa berjalan terus, tanpa menghakimi, apa yang ada di depan nanti...

Jakarta, 13 Maret 2013
Log jam 18:54

*lokasi: Cibodas dan sekitarnya