Friday, June 28, 2013

Coban Rondo, Bukan Sekedar Air Terjun

Kali ini, saya ingin bercerita tentang sebuah tempat yang saya kunjungi sebulan lalu. Pada tanggal 9 Mei, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti acara gathering yang diadakan oleh Kaskus OANC. Acara ini akan diselenggarakan di Jawa Timur, dengan panitia yang notabene juga orang Jawa Timur. Acara gathering kali ini bertempat di sebuah camping ground yang adem dan sepi, yaitu Coban Rondo di daerah Batu, Malang.

Gath 3 kaskus, foto ngambil dari FR Gathnas OANC :D

Kereta yang saya tumpangi menuju Malang agak terlambat beberapa jam. Yah, agak kesal juga sih. Apalagi, sepanjang perjalanan, kursi saya ditempati. Jadi, saya harus duduk di bordes kereta, rebutan dengan penumpang lain yang juga lebih nyaman duduk di sana. Hahaha. Di gerbong yang saya naiki, notabene penumpang adalah mereka yang ingin mendaki Semeru. Rupanya, euforia pendakian kali ini makin tinggi saja, terlebih lagi setelah film 5cm yang mengekspos keindahan Semeru meluncur di ranah perfilman Indonesia.

Turun dari kereta, matahari sudah tinggi. Malang kala itu, panas sekali. Sambil mencari tukang es yang sepertinya segar kalau disatroni siang itu, kami menunggu kabar dari panitia acara, untuk memberikan ancer-ancer ke lokasi gathering. Nah, setelah memesan satu porsi es doger, pesan teks dari panitia pun masuk ke salah satu telepon seluler teman kami.

"Ke terminal Landungsari saja dulu, dari situ nanti ke lokasi acara bareng yang lain," kata Rombeng, salah satu panitia acara gathering Kaskus OANC yang ke-3.

Nah, maka, setelah menghabiskan satu porsi es doger, berikut perintilan (soto Lamongan dan nasi Padang), kami pun segera menaiki angkot merah yang akan segera menuju Landungsari. Hehehe, perintilannya kok nasi Padang yah. :P

Di sepanjang jalan, angin sepoi-sepoi khas Malang, disertai panas matahari di atas kepala menghiasi perjalanan kami. Angkutan yang kami tumpangi tidak begitu penuh, sebab kami tak begitu membawa banyak barang. Jadi, satu daypack di masing-masing punggung peserta acara saja sudah cukup. Nah, singkat kata, kami sampai di Landungsari, disambut oleh Rombeng dan beberapa peserta lain. Kami mengisi perlengkapan yang dibutuhkan, seperti spirtus untuk bahan bakar trangia Kang Hilwan dan beberapa logistik untuk mengisi perut selama acara. Meski di tempat acara disediakan makan siang dan malam, rasanya kalau tidak memasak di camp site belum afdol gitu deh. Maka, setelah semua siap sedia, kami melanjutkan perjalanan menuju kota Batu, salah satu kota dengan buah Apel sebagai hasil tani kota tersebut. Kami melewati jalanan berliku, sempat ada longsor juga, melewati alun-alun kota Batu, sebelum akhirnya berbelok ke kanan, menanjak terus sampai ke Bumi Perkemahan Coban Rondo.

Suasana Tenda
sumber gambar dari Rombeng

Setelah mendirikan tenda di lokasi, esok paginya kami semua dibawa oleh panitia untuk mengunjungi air terjun Coban Rondo. Dari lokasi camp, kami harus berjalan sekitar 2 kilometer sampai ke lokasi air terjun. Jalannya cukup bervariasi juga, dari tanjakan sampai turunan yang ke semuanya dilapisi aspal. Mendekati lokasi air terjun, di bagian depan ada tempat parkir yang cukup besar untuk beberapa mobil besar, dan satu area untuk parkir motor. Di area parkir, terdapat warung-warung yang menjajakan makanan seperti sate kelinci, oleh-oleh khas Batu, juga t-shirt bertuliskan Coban Rondo, Not Just A Waterfall. Dan dari air terjun ini, yang membuat saya berdiam diri selama beberapa saat adalah legenda dari si air terjun itu sendiri.

Saya ingat, ketika teman saya di kereta berkata, "Eh, katanya kalau pasangan main ke Coban Rondo, besoknya jadi gak langgeng gitu yah Yu?"

Saya cuma bergumam, "Ya mana gue tahu. Gue kan nggak ngerti mitos."

Karena papan itulah, saya jadi mencari-cari korelasi antara mitos yang dikatakan teman dengan legenda si air terjun.

Coban Rondo menyimpan legenda unik, bermula dari kisah sepasang pengantin yang baru saja melangsungkan pernikahan. Mempelai wanita bernama Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi, sedangkan mempelai pria bernama Raden Baron Kusumo dari Gunung Anjasmoro. Setelah usia pernikahan mereka menginjak usia 36 hari atau disebut dengan Selapan dalam bahasa jawa. Dewi Anjarwati mengajak suaminya berkunjung ke Gunung Anjasmoro, yang merupakan asal dari suami. Namun orang tua Anjarwati melarang kedua mempelai pergi karena usia pernikahan mereka baru berusia 36 hari. Meski dilarang, kedua mempelai bersikeras pergi dengan resiko apapun yang mungkin terjadi di perjalanan.

Coban Rondo, camp site dan air terjunnya

Di tengah perjalanan, keduanya dikejutkan dengan hadirnya Joko Lelono, yang tidak jelas asal-usulnya. Nampaknya Joko Lelono terpikat dengan kecantikan Dewi Anjarwati, dan berusaha merebutnya. Akibatnya perkelahian antara Joko Lelono dengan Raden Baron Kusumo tidak terhindarkan. Kepada para pembantunya atau disebut juga puno kawan yang menyertai kedua mempelai tersebut, Raden Baron Kusumo berpesan agar Dewi Anjarwati disembunyikan di suatu tempat yang terdapat di sebuah Coban atau air terjun. Perkelahian antara Raden Baron Kusumo dengan Joko Lelono berlangsung seru dan mereka berdua gugur. Akibatnya Dewi Anjarwati menjadi seorang janda yang dalam bahasa jawa disebut Rondo.  Sejak saat itulah Coban atau air terjun tempat bersembunyi Dewi Anjarwati dikenal dengan Coban Rondo.  Konon di bawah air terjun terdapat gua tempat tinggal tempat persembunyian Dewi Anjarwati dan batu besar di bawah air terjun merupakan tempat duduk sang putri yang merenungi nasibnya.

Saya di atas bebatuan tempat Dewi Anjarwati
meratapi nasibnya :D
Kurang lebih begitulah legenda yang berada di balik kemegahan Coban Rondo, air terjun setinggi 84m dan berada di ketinggian 1.135 mdpl. Airnya berasal dari sumber di Cemoro Dudo, lereng Gunung Kawi dengan debit 150 liter per detik pada musim hujan dan 90 liter per detik di musim kemarau.  Curah hujan rata-rata 1.721 mm/th, dengan bulan basah pada bulan November sampai bulan Maret dan bulan kering pada bulan April sampai dengan Oktober dengan suhu rata-rata berkisar sekitar 22°C.

Air terjun ini berada dalam wilayah KPH Perum Perhutani Malang Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan Pujon dan Resort Polisi Hutan Pujon Selatan Petak 89G.

Sebelum menjadi Coban Rondo, sebetulnya di atasnya ada air terjun kembar yang disebut Coban Manten. Mengalir ke bawahnya, air terjun itu menyatu menjadi Coban Dudo. Uniknya, Coban Dudo tersebut mengalir lagi ke bawah menjadi Coban Rondo.

Sumber air dari tiga air terjun tersebut berada di Kepundan, satu dataran yang tanpa pohon satu pun berada di atas Coban Manten. Mereka yang ingin melihatnya, selain harus berhati-hati juga perlu tenaga ekstra. Sebab, selain jalan licin, juga cukup jauh antara 3 sampai 4 km.

Nah, korelasinya sekarang jelas, antara mitos atau kabar yang tersiar dari mulut ke mulut mengenai putusnya sebuah hubungan dengan legenda Coban Rondo. Berarti, harus hati-hati juga ya jalan ke sana, mungkin lebih baik jalan sendirian. Siapa tahu, kalau jalan sendirian malah ketemu sama Joko Lelono. (eh...)

Hehehehe. Jadi, ternyata kisah-kisah legenda dari tempat wisata seperti air terjun ini, bisa menjadikannya bukan sekedar "air terjun".

;)

lokasi: Coban Rondo,  Batu, Malang
stock photos: pribadi dan stock Rizqi Nurmizan, Rombeng, FR Gathnas dll
artikel terkait Coban Rondo, pustaka ditambahkan dari:  
https://sites.google.com/site/wisataairterjun/jawa-timur/coban-rondo---pandansari---malang


Monday, June 24, 2013

Review: Olympus VG-110 Pocket Camera

Sudah satu tahun lebih, beberapa kisah dan perjalanan dalam blog ini saya abadikan dengan kamera saku dari Olympus. Saya memang menggunakan kamera SLR, tapi masih analog. Agak repot juga, karena sekarang ini sudah zamannya digital, sehingga mendapatkan film yang pas untuk kamera analog agak sulit. Mencari di toko-toko untuk penggemar kamera analog dan lomografi juga kadang filmnya hitam putih atau mode sephia, sehingga untuk mendapatkan pemandangan kota dan alam, agak kurang cocok momennya. Selain karena kamera analog yang berat dan packingannya besar, resiko film terbakar sangat besar apalagi untuk kegiatan outdoor. Nah, dari sanalah saya coba hunting untuk kamera baru. Berhubung waktu itu budget masih terbatas, saya coba cari kamera saku yang fitur-fiturnya lumayan. 

Setelah mencari, saya akhirnya menjatuhkan pilihan pada brand Olympus. Waktu itu, ada bazaar kamera di Lotte Mart Ratu Plaza. Kamera-kamera di sana sedang diskon. Kebetulan saya lihat-lihat dan mendapatkan kamera ini di antara diskon. Hahaha. Mental diskonan. Ya bodo amat deh. Hehe. :p

Beberapa kali saya coba membawa kamera saku ini ke tiap perjalanan saya, dan banyak foto yang saya abadikan. Beberapa foto senja dan pagi hari juga bisa saya ambil secara sempurna. Hihihi. Sebenarnya ada bahasa, "Kamera memang penting, tapi 'the man/girl behind the gun' itu lebih penting." Saya memang bukan fotografer sih, hanya saja saya memang senang jepret sana-sini. Dari berbagai gambar yang tertangkap kamera, saya pilih yang menurut saya paling oke. Jadi, kalau ada yang bilang, "Wah ini bagus Yu! Gimana motretnya?" Saya mungkin akan jawab, "Saya juga motret itu beberapa kali sampai dapet yang pas." Hahahaha. Simpel kan? Ya memang begitulah cara saya belajar memotret.

Magic Art Filters, 12-Megapixels and 26mm 4x Wide-Angle Zoom Lens Make This Camera a Must-Have for Capturing Your World

Kamera ini launching dari tahun 2011 lalu. Olympus V-series yang juga mengeluarkan beberapa varian setelah ini. Kamera ini menawarkan sensor 12 megapixel, 2.7" LCD, dengan 4x zoom pada lensa optiknya. Seperti varian yang lebih atas yaitu VG-120 yang diluncurkan pada tahun yang sama, kamera ini juga menawarkan opsi editing otomatis bernama magic filter dan AF tracking. Adapun magic filter yang ditawarkan oleh kamera tipe ini adalah:


  1. Pop Art: menghidupkan warna ala pop art pada tahun 1960-an.
  2. Pin Hole: mengurangi kecerahan gambar di bagian tepi sehingga seperti difoto dari kamera lubang jarum, jadi terpusat pada subjek di tengah.
  3. Fish-eye: membuat efek ala lensa fish-eye dengan sudut luas dan bagian pusat foto seperti cembung.
  4. Soft Focus: membuat efek foto seperti dalam studio, dengan gambar dan warna yang lembut dan fokus yang tepat.
  5. Drawing: mengubah foto jadi efek sketsa.
  6. New! Sparkle: mengambil foto dengan efek lampu berkelap-kelip.
  7. Punk: mengubah foto menjadi efek dual-tone, sehingga nuansa rock-n-roll lebih terasa. 

Untuk AF tracking sendiri, kamera akan mengunci objek yang bergerak cepat, lalu kamera akan menyesuaikan brightness dan fokus secara otomatis. Ini memungkinkan objek bergerak bisa tetap diambil dengan perfect shot. 

Sebenarnya masih banyak fungsi yang bisa ditelaah dari kamera ini, asal kita jeli untuk mempelajari dan membaca buku panduannya kalau tidak malas. Hehehehe. Selain dua fitur di atas, masih ada mode untuk memotret kondisi dan situasi objek sesuai tema, seperti pemandangan, sunrise/sunset, potret manusia, potret hewan, kembang api dan lain sebagainya. Dengan kemudahan seperti ini, bukan tidak mungkin kita bisa mendapatkan hasil yang sama memuaskannya seperti memakai kamera pro dengan harga dan kualitas yang jauh dari rata-rata. Hehehehe. Nah, nggak banyak bicara lagi, ini beberapa contoh foto yang saya ambil dengan kamera Olympus yang sudah hampir 2 tahun terakhir ini saya gunakan dalam kegiatan travelling saya. Selamat melihat-lihat! :)

Efek Pinhole, Selat Sunda
28 Maret 2013

Efek Soft-focus, Pelabuhan Bakauheni
28 Maret 2013

Karat! Pop Art! :D, Selat Sunda
28 Maret 2013

Lubang jarum menuju Gunung Salak
Lokasi: Pemukiman padat Pulo Geulis di atas aliran Sungai Ciliwung
8 April 2013

Monas dari "mata ikan" (fish-eye effect), 25 November 2012


Tuesday, June 18, 2013

Terdampar di Fragmen Awan

Saya ingat, almarhum Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya--Rumah Kaca--pernah berkata, "Hidup sungguh sangat sederhana, yang hebat hanya tafsiran-tafsirannya saja." Pada saat itu, saya jadi yakin bahwa segala apa yang saya nilai sulit dan terlampau tak bisa diraih, rupanya bisa saja diraih, dengan sangat sederhana. Seperti terbang di atas pesawat pribadi hanya untuk menikmati lautan awan, atau menikmati tenangnya gelombang lautan dengan kapal pesiar mewah, rupanya menjadi impian yang terlalu muluk dan kenyataannya bisa saya raih hanya dengan sebuah perjalanan sederhana. Saya demikian cinta pada lautan awan dan pada waktu pagi yang mengilhami dengan berbagai kejadian. Saya memang bukan orang yang bisa biasa-biasa saja menerima matahari timbul dan tenggelam. Malah, kadang saya bisa jadi seseorang yang begitu norak hanya karena melihat matahari muncul malu-malu di atas ketinggian. Yah, bukankah bahagia yang berlebihan itu adalah hal yang manusiawi?

Kadangkala, saya bersenang-senang dalam perjalanan. Kadang, saya juga bisa menjadi sangat kesepian. Hanya ditemani rintik hujan pagi hari, atau embun yang menyesakkan pernafasan. Dan dalam sebuah perjalanan pendakian menuju atap-atap bumi, saya belajar untuk jadi manusia yang tidak egois. Mencoba berjalan seiring dengan manusia lain yang ada di sekitar saya saat itu. Sebab apa saya harus jadi manusia yang memanusiakan? Sebabnya, karena di atas sana, kita tak mungkin sendiri. Karena di atas sana, dengan berjalan bersama, saya akan mematahkan mitos society yang dikatakan Eddie Vedder dalam soundtrack Into the Wild. Teman dan partner berjalan benar-benar jadi penunjang selama melakukan pendakian. Apa yang terjadi kalau saya tak punya teman ketika mendaki? Ya nggak tahu lah, pastinya saya tidak akan kuat mendaki gunung, karena tak ada suntikan semangat dari teman-teman seperjuangan.

Jadi, setelah bersusah-susah dengan teman, melewati jalur licin bagai aliran sungai, saya pun mendapati pemandangan yang mewah. Pemandangan yang tak akan pernah puas dinikmati seharian, sampai Tuhan benar-benar mengambil kebahagiaan itu dari atas bumi. Jadi, selagi bisa, langkah ini akan terus terpatri di bumi pertiwi. Menjejakkan kaki ke belahan Indonesia yang tak terhitung indahnya, tak terbeli kebahagiannya. Masih tentang ini, sapaan pagi dari ketinggian tiga ribu seratus tiga puluh enam.

Selamat menikmati fragmen cantik kali ini, teman! 

My partner in crime, staring at the cloud...
Just relax, sitting there and enjoy the sun that breaking the dawn...

Sun - flare...

Romantic couple, both of them was staring at the sunrise.

And look at thiiis... Another Heaven's light...


Sunday, June 16, 2013

Jurnal Pendakian: Menanti Pagi di Sindoro (6 - 8 Juni 2013)

Dari belakang ke depan: Merapi, Merbabu, Sumbing kala pagi

Ssssstttt... Ini sebenarnya silent trip lho. Bahahahahaaa...

Hehehe. Niatnya kami mau berangkat bertiga. Tapi, apa daya. Karena seorang teman tidak jadi berangkat, dan satu teman dari abang rencananya mau menyusul hari Sabtu dan ketemu di jalur aja, jadilah kami berangkat cuma berdua dari Jakarta. Dan tahu nggak? Ini merupakan pendakian pertama saya yang jumlahnya cuma dua orang! Bayangkan! Berdua aja?! Betapa repotnya nanti ketika saya membawa perlengkapan untuk saya sendiri, pasti banyak yang harus dipikirkan, mengingat cuma berangkat berdua. Eh, untungnya abang memang orangnya selalu "sedia payung sebelum hujan". Jadi, apapun peralatan yang dibutuhkan, lengkap masuk ke dalam carrier deuter dengan kapasitas 38 liter itu. \(^____^)/

Jadi, saya sih licik ajaaa. Cuma melenggang-mendaki dengan daypack yang isinya logistik sama air 4 liter (lumayan lah, agak berat dikit). :P

Nah, perjalanan kali ini, kami naik Dieng Indah, dengan pertimbangan supaya kami bisa santai di perjalanan. Ya iyalah, namanya juga bis eksekutif. Nah, dari Kalimalang, bis langsung menuju tol dan meluncur lancar sampai keluar di Cikampek, lalu menyusuri sepanjang jalur pantura. Awal mulanya, bis sih baik-baik aja. Tapi, lama kelamaan, supir bis seperti mengetahui ada yang tidak beres pada bis. Jreeeng! Ternyata ada masalah di mesin atau dimana gitu ya, pak supir juga nggak memberitahu para penumpangnya. Hampir beberapa jam perjalanan, supir selalu memberhentikan bis dan menepikannya. Duh, khawatir sampai ke Wonosobo telat dan hancurlah itinerary. Saya sih santai aja, masih berpikir positif kalau kami masih bisa kejar waktu sampai di Wonosobo pagi-pagi. Setidaknya, sebelum Jum'atan, kami sudah mulai mendaki dan sekurang-kurangnya, bisa sampai di Pos 3 sebelum petang.

Saya biasa, tapi abang kelihatan tidak biasa. Mungkin, takut nggak bisa kejar waktu pulang kali yaaa. Karena kami memutuskan untuk pulang Sabtu, biar Minggu sampai di Jakarta dan bisa santai lagi. :D

Bis sempat mengalami mogok agak lama juga di tengah tol Cirebon. Dan supir ternyata menunggu bis Dieng Indah lainnya yang kemungkinan lewat. Waktu lewat, supir bis yang satu lagi memberitahu tentang sesuatu akan bis yang kami tumpangi. Saya jadi ngeri. Tapi untungnya, perjalanan bisa dilanjutkan dan singkat kata, kami sampai di Wonosobo pukul 10 pagi.

Siap-siap di terminal dan sambung angkutan menuju ke Kledung. Kali ini, saya naik angkutan yang sama seperti waktu saya ke gunung Sumbing, hanya saja turunnya tidak di Garung Reco. Kami harus turun agak jauh dari basecamp Sumbing, tepatnya di daerah Kledung. Hati-hati ya teman, soalnya kondektur bis suka agak-agak lupa basecamp Sindoro itu dimana. Soalnya, saya juga turun terlalu jauh dan harus jalan kaki  ke arah sebelumnya, kurang lebih 2 kilometer sampai ke basecamp Sindoro.


Singkat kata, kami mendaftar ke basecamp yang agak sepi. Rupanya, ada beberapa pendaki yang sudah lebih dulu naik sebelum kami. Sekitar jam setengah duabelas, kami mulai naik. Kami langsung naik ojek sampai ke pos ojek, supaya menghemat waktu. Dari pos ojek, kami akan mulai berjalan di tanjakan ringan sampai ke pos satu, atau pintu rimba. Gerimis menghiasi perjalanan kami sampai ke pintu rimba. Untung di pintu rimba sudah mereda. Di sini, kita akan menemukan dua jalan. Yang satu, tepatnya di belakang tanah datar yang seharusnya dibangun shelter, ada jalur naik, dan ada jalur di sebelah kanan kita. Jangan lupa, ambil jalur yang di kanan kita saja. Ini jalur yang benar menuju ke pos 2. Memang sih, agak aneh karena jalurnya terus turun. Sebenarnya, menuju pos 2 memang begitu jalurnya, mengambil sisi dan terus melewati lembahan. Jadi, hati-hati salah jalan! Hehe.

Dari lembahan, pos 1, kita cukup berjalan santai menanjak sebelum akhirnya sampai pos 2. Kira-kira, perjalanan sampai ke pos 2 memakan waktu satu jam. Nah, disinilah mulai hujan lagi. Dan setelah hujan-hujanan, akhirnya sampai di pos 2. Di pos, kami berteduh dulu, sampai hujan mulai agak reda. Setelah reda, kami melanjutkan jalan ke pos 3, dimana pos 3 adalah tempat yang cukup luas untuk membangun tenda.

foto atas: pos 1 - pintu rimba, ambil jalurnya jangan yang di belakang saya
foto bawah: pos 2 dan jalur

Sekitar 1.5 jam pendakian dengan track yang mulai terus menanjak, akhirnya kami sampai di pos 3. Kami duduk sebentar, makan dan tidak membangun tenda. Berhubung waktu masih sore, akhirnya kami lanjutkan perjalanan dan mencari lokasi camp yang agak lebih dekat dengan puncak Sindoro, sehingga pada saat summit attack jam 2 pagi, kami tidak perlu membawa begitu banyak barang. Masih bisa meninggalkan tenda dengan aman, karena konon katanya, di Sindoro ini cukup banyak pencuri. Saya juga bingung, mereka datang dari mana dan bagaimana teknis mencurinya. Hahaha.

Menuju Pos 3

lokasi tenda, pos 3 - tapi saya masih naik lagi sih

Sekitar jam lima sore, kami membangun tenda di tempat lapang yang cukup untuk satu tenda. Di sini kami bisa melihat langsung pemandangan ke pucuk Gunung Sumbing, ketika pertama kali membuka tenda. Wah, tak terbayangkan bagaimana besok pagi kami bangun. Bangun pagi-pagi langsung disuguhi pemandangan gunung. Rasanya asyik sekali kalau di kota besar pun bisa seperti itu. Hahaha. (mimpi)

Dari tempat kami camp, kami bisa langsung mendaki lagi, melewati hutan lamtoro, kemudian pos empat Batu Tatah. Dari sini, kami akan terus mendaki sampai ke puncak kawah Sindoro. Sekitar jam setengah tiga pagi, kami bangun. Kami membawa perbekalan secukupnya untuk summit attack--istilah yang lumrah di kalangan para pendaki ketika akan mendaki ke puncak gunung.

Jam setengah tiga tepatnya kami memulai pendakian. Saya pada saat itu mengambil posisi di depan dan partner in crime saya berada di posisi belakang. Saya agak sensitif dengan suara-suara, apalagi tengah malam buta. Tapi, kala itu saya coba untuk mengesampingkan sejenak pikiran absurd saya dan terus saja berjalan. Rasa lelah pun terobati, melihat pemandangan kota Wonosobo yang berkelip seperti bintang di bawah saya. Kala itu, kondisi cuaca sedang bersahabat, sehingga tak perlu khawatir berjalan di dini hari.

Setelah dua setengah jam kami berjalan menyusuri jalur yang cukup ringan (meski terus menanjak), kami akhirnya mendekati puncak kawah Sindoro. Dari atas kami, sudah ada beberapa senter yang menyorot kami. Dari suara-suara mereka, mereka seperti menyemangati kami. "Sedikit lagi Mas! Ayo!" gumam mereka yang sudah lebih dulu sampai di puncak. Saya sempat bertemu empat orang yang juga sudah mendaki lebih dulu daripada kami, namun mereka beristirahat cukup lama. Ada juga yang kelewat mengantuk sehingga menyempatkan diri untuk tidur sejenak di lahan yang cukup terbuka. Pada saat itu, saya hanya menyapa, ikut duduk sejenak sebelum akhirnya kembali melanjutkan perjalanan.
Dan kami pun sampai sekitar pukul lima lewat. Kami duduk, menikmati dinginnya angin sambil memandangi kota Wonosobo yang bagai kunang-kunang. Berkelip dan mulai bising. Sejenak merenung, hanya mendengarkan suara alam. Beberapa saat kemudian, warna merah mulai merona di langit timur. Dan dengan euforia yang berlebihan, saya menunggu lahirnya matahari. Warna yang romantis. "Tuhan memang begitu romantis, bicara dengan bahasa yang tak kita mengerti, seperti merah muda langit pagi ini," begitu gumam saya saat menunggu matahari.

Dan pendakian melelahkan ini, seolah terbayarkan dengan transisi matahari.

:*
my partner in crime, yang setia menemani naik :3
Heaven's Light :')
Sumbing in the morning
kami turun, mereka naik :D
Sumpaaaaah ini bukan photoshop :D
Lagi ngapain Bang? :p
Tak ingin berlama-lama, akhirnya jam tujuh pagi kami turun lagi, mengingat beberapa barang yang ditinggal di lokasi kami camp. Turun selama satu setengah jam saja, dan kami sampai di camp. 

Setelah sampai, kami memasak untuk persiapan energi dalam perjalanan turun. Perjalanan turun, kami hanya menempuh waktu kurang lebih dua setengah jam sampai tiga jam. Saya yang hanya membawa daypack, harus membawa sampah juga. Tak apalah, karena saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk jadi responsible-traveller-backpacker-whatever lah namanya. Singkat kata, saat itu hujan deras, dan kami tetap turun, melewati jalur yang menjadi sungai kecil dadakan. Nah, sampah kering yang terhujani sehingga menjadi agak berbau itu saya bawa turun dan saya buang di tempat sampah pos ojek. Kami sampai di basecamp pada pukul satu siang. Dari pos satu menuju pos ojek berjalan santai, dan naik ojek dari pos ojek untuk mencapai basecamp. Maklum lah, capek rasanya kalau masih harus menempuh jalan berbatu. Hehehe. Di basecamp bersih-bersih dan sekitar pukul setengah tiga langsung menuju terminal Wonosobo.

Kira-kira, untuk rincian biaya per orang dari Jakarta menuju Kledung (basecamp Sindoro), adalah sebagai berikut:

  • Patas AC Dieng Indah PP Rp 180.000,-
  • Bis Wonosobo - Magelang, turun di Kledung, PP Rp 14.000,-
  • Ojek basecamp - pos ojek, PP Rp 30.000,-
  • Retribusi dan pendaftaran pendakian Rp 3.500,-

Nah, kira-kira total biaya (belum termasuk logistik) untuk tiap orangnya sebesar 227.500 rupiah. Mungkin, teman-teman ada yang berminat mengunjungi Sindoro juga dan menikmati gemerlap kota Wonosobo di malam hari? Oh ya, next post, akan saya suguhkan foto-foto hasil transisi mataharinya yaaa. :D

Have a good trip, mates! :)

Selatan Jakarta
16 Juni 2013



Tuesday, June 11, 2013

Tips: Mencari Tumpangan Gratis (Autostop)

Hitchhiking New Zealand, 2006
Kita memang suka berjalan. Banyak orang yang suka melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, tentunya dengan berbagai media transportasi yang berbeda-beda. Tapi, adakah dari kita yang gemar melakukan perjalanan dengan biaya tidak terlalu membengkak? Tentunya ada. Contohnya, saya.

Tulisan kali ini saya dedikasikan untuk mereka yang gemar melakukan perjalanan tak begitu jauh, tapi bisa disebut perjalanan dekat juga sih, tentunya dengan biaya yang pas-pasan saja. Hehe. Nah, tulisan ini saya dedikasikan juga untuk teman-teman perjalanan saya, ketika saya masih senang melancong ke luar Jawa Barat, untuk menghadiri acara musik yang sama rasa sama rata. Karena waktu itu saya masih berkumpul dengan kawan-kawan grunge saya.

Apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi biaya? Salah satunya adalah melakukan perjalanan dengan metode hitchhiking, atau yang kita lebih kenal dengan istilah ngompreng.

Hitchhiking (also known as thumbing or hitching) is a means of transportation that is gained by asking people, usually strangers, for a ride in their automobile or other road vehicle. The latter may require many rides from different people. A ride is usually, but not always, free. If the hitchhiker wishes to indicate that they need a ride, they may simply make a physical gesture or display a written sign. In North America and the United Kingdom, the gesture involves extending the hitchhiker's arm toward the road and sticking the thumb of their outstretched hand upward with the hand closed. In other parts of the world, it is more common to use a gesture where the index finger is pointed at the road.
Itinerants have also used hitchhiking as a primary mode of travel for the better part of the last century, and continue to do so today.

Tapi, sebagian orang tentu tak begitu memperhatikan ini. Padahal, ini bisa jadi alternatif transportasi ketika sedang ingin menghemat biaya. Tapi, tak sembarangan juga kita memilih omprengan. Maka dari itu, saya akan memberikan beberapa tips singkat mengenai metodi hitchhiking atau yang lebih dikenal dengan istilah omprengan. 


Apa saja yang harus dilakukan ketika melakukan hitchhiking? Nah, silakan dilihat beberapa poin penting di bawah ini. 

  1. Usahakan ketika melakukan hitchhiking, perlengkapan yang kita pakai jangan terlalu mencolok. Karena, hal itu malah akan menimbulkan dampak yang buruk, seperti perampokan.
  2. Setelah kita memutuskan untuk menumpang pada kendaraan orang lain, usahakan tidak ribet. Contoh, bawa koper yang terlalu besar, atau bawa banyak barang. Usahakan minimalisir bawaan kita dan selalu gunakan ransel atau backpack serbaguna.
  3. Mulailah untuk menunggu kendaraan di tepi jalan. Jika memang yang akan menumpang itu banyak, usahakan jangan semua mencegat angkutan, satu atau dua orang saja yang mencegat, yang lainnya menunggu saja.
  4. Jangan takut-takut mencegat angkutan, misalnya truk besar. Cara mencegatnya adalah seperti yang teman-teman gembel ajarkan pada saya, langsung saja cegat dari depan sejak truk atau angkutan itu berjalan di kejauhan. Mereka juga pasti mengerti dan tidak mungkin menabrak kita yang mencegat.
  5. Ketika mencegat, perhatikan truk itu. Apakah membawa muatan yang rawan pecah? Apakah membawa muatan berbahaya? Jika iya, urungkan niat untuk menumpang, karena bisa mencelakakan kedua pihak.
  6. Setelah mendapat tumpangan, jangan lupa berbasa-basi pada supir dan pendampingnya (contoh: kondektur truk), ibaratnya kita ini sudah tertolong dengan tumpangannya.
  7. Kalau memang kendaraan itu tidak membawa kita ke tujuan, alias harus menghentikan tumpangan kita, turunlah dengan sopan dan jangan lupa berterima kasih.
  8. Naik dan turun dengan cepat, seperti yang sudah saya katakan tadi agar tidak ribet. Hehehe.
  9. Usahakan melakukan hitchhiking tidak sendirian, apalagi untuk perempuan.
  10. Yang paling penting, selalu berdoa dan selalu menjaga diri kalian juga teman-teman kalian, karena  yang paling berharga dari sebuah perjalanan adalah perjalanan pulang. Hehehehe.
Nah, bagaimana? Tertarik untuk melakukan hitchhiking ketika biaya perjalanan kurang memadai? Jangan takut-takut untuk bercengkrama dengan mereka yang membawa kendaraan besar ketika kita membutuhkan. Karena kita dan mereka adalah sama-sama pejalan atau perantau, interaksi akan selalu jadi hal yang menarik dalam perjalanan.

Hitchhiking ini pernah saya praktekkan di perjalanan Sukolilo - Pati via truk, perjalanan ke Wonderia Semarang dengan kereta barang, dan perjalanan menuju Gunung Padang.

Have a good trip, mates! ;)

[Ayu]


Monday, June 10, 2013

Jalan Pagi di Curug Cimahi

Curug Cimahi

Saya teringat pesan bos saya di kantor yang memang hobi fotografi. Beliau berkata, "Kalau mau mendapatkan momen pagi yang bagus, ya kalian harus bangun pagi. Berangkat siang, matahari udah tinggi. Hasil foto juga nggak akan jadi sebagus pagi."

Lalu, pada akhir Mei lalu, saya pulang ke Cimahi. Saya tidur cepat, tidak seperti biasa menghabiskan malam dengan menonton televisi. Saya tidur dan berharap bisa terbangun pagi-pagi sekali karena saya akan mengunjungi salah satu tempat wisata murah meriah tapi indah di daerah Cimahi Utara. Sekali kendaraan saja, angkutan berwarna kuning akan membawa saya ke daerah pegunungan di Cimahi, masih lumayan dekat dengan rumah saya.

Waktu itu, saya berangkat berdua. Menaiki angkutan yang biasanya penuh dengan orang-orang yang baru kembali dari pasar di kota. Sebab apa mereka ke kota? Sebab, di tempat mereka, masih jarang sekali pasar besar dan tempat berbelanja. Sehingga, istilah "turun gunung" sangat mungkin disematkan bagi para ibu-ibu atau orang-orang dari desa Jambudipa.

Sekitar satu jam perjalanan menanjak dengan angkutan pedesaan yang menuju ke pangkalan angkutan terakhir, di Wana Wisata Curug Cimahi. Setahu saya, Curug Cimahi baru resmi menjadi salah satu Wana Wisata yang diperhatikan oleh Dinas Kepariwisataan dan Perum Perhutani Jabar Banten Wil. III, sejak Cimahi mulai menjadi kota, tidak lagi disebut kota administratif. Nah, sejak itu, Curug Cimahi dilakukan pemugaran. Tangga-tangga yang menuju ke curug alias air terjun itu dibenahi. Supaya lebih aman, pondasi dibuat sedemikian rupa, mengingat kondisi tanah yang rawan longsor. Oh ya, untuk masuk ke Wana Wisata ini, kita cukup membayar retribusi sebesar sepuluh ribu rupiah.

Gerbang masuk dan tempat beli tiket



Selain itu, monyet-monyet kecil yang menghuni Curug Cimahi, dibiarkan untuk bebas, seolah-olah mereka ada di habitat mereka, hutan rimba. Ini dia yang kadang menjadi hiburan tersendiri. Saya membawa satu bungkus makanan, dan monyet-monyet itu seolah memelas minta dikasihani. Dilempari kacang oleh beberapa pengunjung lainnya, monyet itu menerima dengan senang. Selain itu, monyet yang takut manusia itu akan menghampiri kita jika kita mulai mengeluarkan kamera. Seolah-olah, mereka sudah tahu kalau kamera itu berfungsi untuk memotret mereka. Sungguh menyenangkan.

Keluarga Monyet :D

Turun memang tidak melelahkan. Saya hanya berpikir bagaimana kita naik kembali ke permukaan gerbang? Pastinya akan sangat melelahkan, mengingat tangga-tangga itu rasanya dibuat terlalu curam. Ya sudahlah, hitung-hitung berlatih sebelum kembali menapaki ketinggian gunung. Hehehehe.

Sampai di curug, ingin nyemplung rasanya kok dingin. Jadilah, kami berdua hanya berfoto-foto saja di pinggir air terjun yang intensitas tekanannya sedang tinggi. Mungkin, karena sejak malam Cimahi diguyur hujan. Jadinya, debit air terjun juga deras. Gerimis juga masih menghujani. Agak sedih juga sih, karena niatan bangun pagi untuk dapat pemandangan yang lebih indah terpatahkan dengan mendung di sekitar Jambudipa.

Mendung

Foto-foto iseng saja di Curug, dan karena lapar, kami pun kembali pulang. Sekitar jam dua siang kalau tidak salah, kami kembali menapaki tangga-tangga curam itu menuju ke atas. Melelahkan juga. Sudahnya, kami duduk-duduk di tepian tempat melihat monyet. Monyet-monyet kecilnya sedang istirahat sepertinya, karena tak ada satu pun monyet di sekitar kami.

Tiba-tiba saja... Monyet yang sepertinya paling tua, mendarat tepat di atas atap tempat saya duduk. Saya kaget bukan main. Dan orang-orang di sekitar saya pun tertawa. Lalu, monyet itu merebut satu bungkus keripik entah milik siapa. Monyet itu membawa bungkusan ke tempat yang jauh dari kami, dan memakannya sendiri. Saya tertawa saja melihat kelakuan si monyet. Lucu dan tak dibuat-buat.

Monyetnya Makan Keripik :D

Ya begitulah kadar perjalanan yang saya lakukan akhir Mei lalu. Cukup menyenangkan meskipun ditempuh dengan cara yang sederhana. Bagi saya, perjalanan apapun yang saya lakukan, tetap dapat memberi suatu pelajaran baru. Tak melulu harus melakukan vakansi yang mengeluarkan lembaran dollar. Bercengkrama dengan ibu-ibu yang baru pulang dari pasar di kota saja sudah cukup membahagiakan.