Monday, June 10, 2013

Jalan Pagi di Curug Cimahi

Curug Cimahi

Saya teringat pesan bos saya di kantor yang memang hobi fotografi. Beliau berkata, "Kalau mau mendapatkan momen pagi yang bagus, ya kalian harus bangun pagi. Berangkat siang, matahari udah tinggi. Hasil foto juga nggak akan jadi sebagus pagi."

Lalu, pada akhir Mei lalu, saya pulang ke Cimahi. Saya tidur cepat, tidak seperti biasa menghabiskan malam dengan menonton televisi. Saya tidur dan berharap bisa terbangun pagi-pagi sekali karena saya akan mengunjungi salah satu tempat wisata murah meriah tapi indah di daerah Cimahi Utara. Sekali kendaraan saja, angkutan berwarna kuning akan membawa saya ke daerah pegunungan di Cimahi, masih lumayan dekat dengan rumah saya.

Waktu itu, saya berangkat berdua. Menaiki angkutan yang biasanya penuh dengan orang-orang yang baru kembali dari pasar di kota. Sebab apa mereka ke kota? Sebab, di tempat mereka, masih jarang sekali pasar besar dan tempat berbelanja. Sehingga, istilah "turun gunung" sangat mungkin disematkan bagi para ibu-ibu atau orang-orang dari desa Jambudipa.

Sekitar satu jam perjalanan menanjak dengan angkutan pedesaan yang menuju ke pangkalan angkutan terakhir, di Wana Wisata Curug Cimahi. Setahu saya, Curug Cimahi baru resmi menjadi salah satu Wana Wisata yang diperhatikan oleh Dinas Kepariwisataan dan Perum Perhutani Jabar Banten Wil. III, sejak Cimahi mulai menjadi kota, tidak lagi disebut kota administratif. Nah, sejak itu, Curug Cimahi dilakukan pemugaran. Tangga-tangga yang menuju ke curug alias air terjun itu dibenahi. Supaya lebih aman, pondasi dibuat sedemikian rupa, mengingat kondisi tanah yang rawan longsor. Oh ya, untuk masuk ke Wana Wisata ini, kita cukup membayar retribusi sebesar sepuluh ribu rupiah.

Gerbang masuk dan tempat beli tiket



Selain itu, monyet-monyet kecil yang menghuni Curug Cimahi, dibiarkan untuk bebas, seolah-olah mereka ada di habitat mereka, hutan rimba. Ini dia yang kadang menjadi hiburan tersendiri. Saya membawa satu bungkus makanan, dan monyet-monyet itu seolah memelas minta dikasihani. Dilempari kacang oleh beberapa pengunjung lainnya, monyet itu menerima dengan senang. Selain itu, monyet yang takut manusia itu akan menghampiri kita jika kita mulai mengeluarkan kamera. Seolah-olah, mereka sudah tahu kalau kamera itu berfungsi untuk memotret mereka. Sungguh menyenangkan.

Keluarga Monyet :D

Turun memang tidak melelahkan. Saya hanya berpikir bagaimana kita naik kembali ke permukaan gerbang? Pastinya akan sangat melelahkan, mengingat tangga-tangga itu rasanya dibuat terlalu curam. Ya sudahlah, hitung-hitung berlatih sebelum kembali menapaki ketinggian gunung. Hehehehe.

Sampai di curug, ingin nyemplung rasanya kok dingin. Jadilah, kami berdua hanya berfoto-foto saja di pinggir air terjun yang intensitas tekanannya sedang tinggi. Mungkin, karena sejak malam Cimahi diguyur hujan. Jadinya, debit air terjun juga deras. Gerimis juga masih menghujani. Agak sedih juga sih, karena niatan bangun pagi untuk dapat pemandangan yang lebih indah terpatahkan dengan mendung di sekitar Jambudipa.

Mendung

Foto-foto iseng saja di Curug, dan karena lapar, kami pun kembali pulang. Sekitar jam dua siang kalau tidak salah, kami kembali menapaki tangga-tangga curam itu menuju ke atas. Melelahkan juga. Sudahnya, kami duduk-duduk di tepian tempat melihat monyet. Monyet-monyet kecilnya sedang istirahat sepertinya, karena tak ada satu pun monyet di sekitar kami.

Tiba-tiba saja... Monyet yang sepertinya paling tua, mendarat tepat di atas atap tempat saya duduk. Saya kaget bukan main. Dan orang-orang di sekitar saya pun tertawa. Lalu, monyet itu merebut satu bungkus keripik entah milik siapa. Monyet itu membawa bungkusan ke tempat yang jauh dari kami, dan memakannya sendiri. Saya tertawa saja melihat kelakuan si monyet. Lucu dan tak dibuat-buat.

Monyetnya Makan Keripik :D

Ya begitulah kadar perjalanan yang saya lakukan akhir Mei lalu. Cukup menyenangkan meskipun ditempuh dengan cara yang sederhana. Bagi saya, perjalanan apapun yang saya lakukan, tetap dapat memberi suatu pelajaran baru. Tak melulu harus melakukan vakansi yang mengeluarkan lembaran dollar. Bercengkrama dengan ibu-ibu yang baru pulang dari pasar di kota saja sudah cukup membahagiakan.

10 comments:

  1. Salam kenal ....terkhir ke curug Cimahi 13 tahun yang lalu ....Blognya bagus begitu pun ceritanya ...

    ReplyDelete
  2. @iwing salam kenal juga... wah udah lama banget itu yaaa... kayaknya dulu curug cimahi nggak kayak sekarang... dulu masih bertapak semen, belum batu2 kayak sekarang... hheu... :D

    ReplyDelete
  3. Iya...Dulu kalau ga punya uang pindah ke curug Bubrug sebelahnya...tahun 2009 ke curug Bubrug jadi ancur...ga seindah tahun 2000 an...Katanya monyet-monyet nya di curug Cimahi ga pernah kurang dan ga pernah lebih loh ...lupa info dari mana ...

    ReplyDelete
  4. @iwing waaaah.. curug Bubrug itu lokasinya dimana yah kalo boleh tau? tolong ancer-ancernya bang... :D

    ReplyDelete
  5. Curug Bubrug deket dari curug Cimahi,
    dari loket curug Cimahi turun arah jalan langsung belok kiri...jalan terus...mentok ada curug Bubrug ...http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1165579534116&set=a.1165576734046.175201.1066733087&type=3&theater ...

    Rekomendasi pagi-pagi ....sebelum ke curugnya akan disuguhi pemandangan bagus di kirin dan kanan.....

    ReplyDelete
  6. @iwing oooo... deket Ciwangun bukan? :o

    ReplyDelete
  7. Berdua siapa, Yu? Ehem.. *keselek*
    Akhirnya pulkam juga, ya? Kangen-kangenan dong sama ibu :)

    ReplyDelete
  8. @Mama Della: iya nih mamaaaa... Berdua... :D hehe, berdua ada deeeh... :p

    Iya, kangen-kangenan sama Ibu. :)

    ReplyDelete
  9. Lucu liat keluarga monyet pose :)

    ReplyDelete
  10. @cumilebay.com keluarga monyet aja akur begitu yah... lah manusia? :((

    ReplyDelete