Tuesday, June 18, 2013

Terdampar di Fragmen Awan

Saya ingat, almarhum Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya--Rumah Kaca--pernah berkata, "Hidup sungguh sangat sederhana, yang hebat hanya tafsiran-tafsirannya saja." Pada saat itu, saya jadi yakin bahwa segala apa yang saya nilai sulit dan terlampau tak bisa diraih, rupanya bisa saja diraih, dengan sangat sederhana. Seperti terbang di atas pesawat pribadi hanya untuk menikmati lautan awan, atau menikmati tenangnya gelombang lautan dengan kapal pesiar mewah, rupanya menjadi impian yang terlalu muluk dan kenyataannya bisa saya raih hanya dengan sebuah perjalanan sederhana. Saya demikian cinta pada lautan awan dan pada waktu pagi yang mengilhami dengan berbagai kejadian. Saya memang bukan orang yang bisa biasa-biasa saja menerima matahari timbul dan tenggelam. Malah, kadang saya bisa jadi seseorang yang begitu norak hanya karena melihat matahari muncul malu-malu di atas ketinggian. Yah, bukankah bahagia yang berlebihan itu adalah hal yang manusiawi?

Kadangkala, saya bersenang-senang dalam perjalanan. Kadang, saya juga bisa menjadi sangat kesepian. Hanya ditemani rintik hujan pagi hari, atau embun yang menyesakkan pernafasan. Dan dalam sebuah perjalanan pendakian menuju atap-atap bumi, saya belajar untuk jadi manusia yang tidak egois. Mencoba berjalan seiring dengan manusia lain yang ada di sekitar saya saat itu. Sebab apa saya harus jadi manusia yang memanusiakan? Sebabnya, karena di atas sana, kita tak mungkin sendiri. Karena di atas sana, dengan berjalan bersama, saya akan mematahkan mitos society yang dikatakan Eddie Vedder dalam soundtrack Into the Wild. Teman dan partner berjalan benar-benar jadi penunjang selama melakukan pendakian. Apa yang terjadi kalau saya tak punya teman ketika mendaki? Ya nggak tahu lah, pastinya saya tidak akan kuat mendaki gunung, karena tak ada suntikan semangat dari teman-teman seperjuangan.

Jadi, setelah bersusah-susah dengan teman, melewati jalur licin bagai aliran sungai, saya pun mendapati pemandangan yang mewah. Pemandangan yang tak akan pernah puas dinikmati seharian, sampai Tuhan benar-benar mengambil kebahagiaan itu dari atas bumi. Jadi, selagi bisa, langkah ini akan terus terpatri di bumi pertiwi. Menjejakkan kaki ke belahan Indonesia yang tak terhitung indahnya, tak terbeli kebahagiannya. Masih tentang ini, sapaan pagi dari ketinggian tiga ribu seratus tiga puluh enam.

Selamat menikmati fragmen cantik kali ini, teman! 

My partner in crime, staring at the cloud...
Just relax, sitting there and enjoy the sun that breaking the dawn...

Sun - flare...

Romantic couple, both of them was staring at the sunrise.

And look at thiiis... Another Heaven's light...


11 comments:

  1. Subhanallaah kereeeen.. jd inget wktu nnton film 5cm..liat awan ombak, pasti seru bgt ya hadir lgsg menatap kuasaNya

    ReplyDelete
  2. Subhanallaah kereeeen.. jd inget wktu nnton film 5cm..liat awan ombak, pasti seru bgt ya hadir lgsg menatap kuasaNya

    ReplyDelete
  3. Sekarang, saya tahu perasaan Superman

    ReplyDelete
  4. @Alone ranger superman bilang, "it's not easy to be me..." haahaha

    ReplyDelete
  5. 3136 mdpl..,
    pengen kesana jugak!
    :D

    ReplyDelete
  6. kerennnn...kereeennn dahhhh....padahal saya sama sekali belum pernah mencicipi indahnya awan dari ketinggian...benar2 indah....
    saya minta gambarnya satu ya mbak!!...heheheeee

    ReplyDelete
  7. @Deep Muhhai buseeeeet... iyaaak.. monggo diminta, asal bukan buat komersil... :P

    ReplyDelete
  8. subhanallah cantik bgt kak ayu

    ReplyDelete
  9. @dansapar sayaaa? :o apa awannya? wkwkwkwk.

    ReplyDelete