Friday, July 12, 2013

Sedang di Kudus? Sempatkan Mencoba Soto Kerbau

Pada perjalanan menuju Muria bulan lalu, berangkat dari Tayu Jepara, saya pulang dari Kudus. Sampai terminal angkot di daerah pabrik-pabrik rokok yang sudah menjadi trademark kota Kudus itu, rombongan saya langsung menyewa sebuah angkutan untuk berkeliling Kudus. Yaaa, hitung-hitung sekalian ke pangkalan bis Nusantara yang nantinya akan membawa kami semua ke Semarang, sebelum dilanjut ke stasiun Semarang Poncol.

Nah, singkat kata, kami menyewa angkutan ini dengan harga seratus lima puluh ribu rupiah saja. Berkeliling Kudus, melihat kearifan kotanya dan tak lupa, mencoba kulinernya. (yummy)

Jadi, kuliner apa nih yang wajib dicoba di Kudus? :D
yummy! :9

Seorang teman yang satu rombongan menawarkan saya untuk mencoba soto kerbau. Hah? Kerbau? Agak gimanaaa gitu ya, kalau membayangkan daging kerbau bisa dikonsumsi. Sebenarnya tidak haram dong. Lagipula, kerbau kan masih satu jenis dengan sapi. Tapi, tetap saja bayangan saya akan hewan yang suka membajak sawah ini agak mengerikan. Hehehehe. Saya membayangkan kerbau yang suka berkubang di lumpur sawah. Yah, jadinya, saya malah membayangkan daging babi. Hehehehe. Tapi, akhirnya saya mencoba juga soto ini.

Waktu mencari lokasi soto kerbau yang paling enak di Kudus, teman saya meminta supir angkutan kami untuk mengantar ke lokasi soto kerbau di dekat alun-alun saja. "Kalau nggak salah, soto kerbau Bu Dibyo Pak!" begitu kata teman saya. Tapi, entah karena Bapak supir yang memang tak kenal Bu Dibyo, atau beliau ada rujukan lain untuk memakan soto kerbau. 

Soto Kerbau Karo Karsi
Setelah berputar-putar sampai ke jalan utama yang terpisah sungai di tengahnya, supir angkutan membawa kami ke lokasi soto kerbau "Karso Karsi". Melihat dari bentuk bangunan yang besar, dengan beberapa mobil terparkir di depannya, saya mengira kalau soto kerbau ini pastinya sudah terkenal di Kudus. Nah, kami semua turun dan bersiap memesan.

Menunggu soto kerbau yang tak kunjung datang, saya tak sadar kalau saya sudah menghabiskan dua bungkus gendar. Apa sih gendar? Itu lho, makanan khas orang kampung. Hehehe. Saya tinggal di kampung. Jadi, ketika nenek atau ibu saya menawarkan gendar, saya memakannya seperti memakan keripik singkong atau lays yang ada di sevel. Pokoknya, gendar itu makanan dari nasi, yang digepengkan, dijemur, lalu digoreng. Jadi, kita seperti makan nasi dalam bentuk kerupuk gituuu. :D

lapar
Teman saya sudah menghabiskan dua teh botol, sementara soto kerbaunya belum diantarkan. Perut sudah mulai meminta jatah hariannya. Apalagi, sejak turun dari gunung Muria yang jalannya berliku-liku seperti itu, cacing di perut saya sepertinya sudah terlanjur melahirkan. Jadinya, saya sudah tak sabar ingin mencoba soto kerbau sembari mengobati rasa lapar saya. :9

Nah! Soto kerbaunya dataaaaaaaang. "Duh, semoga bisa makan soto ini. Amin," gumam Mbak Suci yang saat itu duduk di depan saya dan makan kerupuk raksasa bersama saya. Hehehehe. Setelah pesanan datang, kami semua makan dengan lahap.

Nah. Kenapa sih di Kudus ini malah memakan soto kerbau bukannya sapi?

Begini ceritanya...

Ketika zaman penyebaran Islam di pulau Jawa khususnya Jawa Tengah oleh Wali Songo, mayoritas masyarakat di Kudus pada saat itu masih beragama Hindu. Dalam agama Hindu, tentu saja kita tahu bahwa sapi adalah hewan yang dimuliakan atau disembah. Jadi, untuk menghormati pemeluk agama Hindu, Wali Songo memperbolehkan masyarakat Kudus untuk mengkonsumsi daging kerbau. Nah, sejak saat itulah soto kerbau menjadi ciri khas kota Kudus, selain rokoknya. Dan sampai sekarang, kepercayaan yang sudah mengakar menjadi budaya itu, tetap ada sampai sekarang. Tentunya, kalau nggak ada soto kerbau dan rokok, Kudus nggak akan jadi seperti sekarang bukan? Hehehe.

Kalo tanduk, bayar lagi yaaa! :D
Menikmati soto kerbau

Soto Karso Karsi - Jalan Ahmad Yani

Kira-kira, begitulah kisah singkatnya. Nah, jadi tunggu apalagi! Sedikit ulasan saya, daging kerbau ituuuu ternyata kayak daging bebek yah! Dagingnya agak kasar namun berserat. Kalau mampir Kudus, jangan lupa ya sempatkan diri untuk mampir menikmati soto kerbau! Untuk lokasi, susuri saja sepanjang Jalan Ahmad Yani Kudus, nanti di sebelah kiri akan kita lihat soto kerbau "Karso Karsi" dengan gambar semar di sisi kanan dan kirinya. Hehehe. Selamat jajaaaaan! :D

[Ayu]

Friday, July 5, 2013

Bertemu Para Dewa di Muria

Dalam sebuah perjalanan, tentunya saya pernah bertemu hal-hal yang tak perlu dipaksakan. Seperti Waisak tahun ini. Saya memang ingin berkunjung ke Borobudur saat Waisak. Tapi, setelah dipikir-pikir, tak etis rasanya jika berkunjung ke tempat wisata yang seharusnya ditutup karena tempat itu juga merupakan tempat sakral bagi umat tertentu. Sakral bagi para pemeluk agama Buddha, karena di Borobudurlah mereka berdoa ketika hari raya Waisak tiba.

Miris rasanya, ketika beredar kabar di sosial media mengenai Borobudur tahun ini. Kesakralan dan ketenangan berdoa yang seharusnya didapatkan oleh para Biksu yang sedang berdoa di Borobudur jadi hilang karena ulah para pejalan, lebih tepatnya "pejalan yang tidak bertanggungjawab". Bagaimanapun, seharusnya momen berdoa mereka itu tak menjadi konsumsi publik, karena doa-doa yang mereka layangkan ke udara mungkin saja bisa jadi tercemar oleh ulah para pejalan yang hanya ingin memotret dan mengabadikan momen berdoa para Biksu. Mereka butuh ketenangan, bukan butuh difoto. Ya, saya kira, Borobudur sudah seharusnya ditutup saja ketika Waisak. Untuk mencegah para pejalan yang mengganggu Biksu berdoa sehingga tercipta momen yang benar-benar sakral bagi para Biksu.

Tugu P29
Nah, di pertengahan Juni ini, saya malah merasakan sendiri bagaimana tak nyamannya berada di tengah orang-orang yang berdoa. Ketika berkunjung ke Muria, saya cukup terkejut, melihat puncak Songolikur--yang selanjutnya saya sebut P29--begitu ramai oleh pendaki, juga beberapa peziarah yang sedang singgah. Sepertinya hal itu sudah biasa di sana. Mungkin, para pendaki itu sudah mengerti tata krama yang harus dijunjung ketika berada di P29. Para peziarah itu sangat terbuka dengan para pendaki yang notabene merupakan penduduk lokal. Mereka malah sempat sharing di warung sebelah pondokan yang bisa digunakan untuk bermalam sementara. Meski begitu, tetap saja saya merasa tak enak. Saya jadi segan waktu itu, berada di sekitar peziarah. Saya hanya duduk saja di luar pondokan sambil memasak dan menikmati langit yang jernih di P29. Sementara para peziarah mulai berdoa dan melakukan tirakat, saya nyaris tak berani mengganggu. Menoleh saja tak mau, apalagi memotret mereka? Rasanya, tidak etis kalau mengganggu para peziarah itu. Kami sama-sama sedang singgah--saya dan peziarah--sehingga saya tak mau saling ganggu atau melakukan keributan di tempat orang. Hehehehe. Yah, dan di sanalah saya benar-benar mengerti artinya responsible traveller. Nggak enak kan diusik? Ya jangan mengusik. Gituuuu... :D

Akhirnya, daripada berada di antara para peziarah yang akan mulai berdoa, saya tidur saja di pondokan. Lagipula, P29 kala malam, semakin dingin. Angin kencang menerpa dan sepertinya lebih enak berselimut sarung di pondokan. Hehehe.

Saya mendapat informasi dari salah satu orang Pati, Mas Dany Dwia. Dia bilang sih, dulu nggak ada itu pondok di atas P29. Yang ada cuma pagar batu dengan beberapa patung di sudutnya. Ada satu pondok kecil, itu untuk menyiapkan sesaji yang akan ditaruh di depan petilasan. Salah satu patungnya adalah Ganesa. Kata Mas Dany, "Kalau dulu nggak ada pondok, sekarang ada mungkin juga karena kebutuhan para peziarah sendiri." Oh ya, saya mengerti. Mungkin saja ada peziarah dari kota atau lokasi yang jauh dari Desa Rahtawu atau Tempur, sehingga lama kelamaan, dibutuhkan tempat singgah sementara bagi mereka. Pantasa saja, makin lama P29 makin ramai didaki. Meski begitu, sepertinya orang-orang sudah paham akan P29 mereka yang harus dijaga. Di sekeliling P29 cukup bersih. Ada toilet sederhana dan tempat sampah di beberapa sudut, sehingga kita tak perlu menyampahi tempat ziarah. Ada juga beberapa peringatan atau tulisan yang cukup terlihat di salah satu sudut pondok, sehingga orang yang lewat situ pasti bisa membacanya (tentu saja kalau tetap buang sampah sembarangan, berarti ia buta. Buta hati gitu.) :p

Tulisan bagus, tapi minus. Ada vandalisme. :(
Oh ya. Di sini, saya menemukan patung Ganesa berada di luar kompleks petilasan, namun masih menyatu dengan pagar batunya. Jadi, ada dua ring semacam mandala. Mandala sebagai meditasi Buddha. Tunggu dulu? Jadi, petilasan itu untuk siapa? Tentu saja, bukan untuk fanatik agama, melainkan mereka yang mengagungkan budaya leluhur. Saya tak pernah menilai sebuah ritual sebagai simbol agama, melainkan lebih menghormatinya sebagai simbol budaya. Dari sana saya bisa belajar bahwa, "Di mana bumi dipijak, di situlah langit dijunjung." Jadi, setelah memotret Ganesa, saya tak ingin menginjak lokasi petilasan atau melewati pagar batu. Cukup di luar pagar batu, melihat Ganesa . Biarkan dewa penolak bencana itu tetap ada di sana. Jangan dikotori, jangan diusik, apalagi dijadikan objek foto bersama. Wah, Dewa lain pasti bisa marah kalau melihat saya memperlakukan hal itu pada Ganesa. Hehehehe.

sumpah saya gak tau itu
tutup botol siapa :(
Ganesa sendiri adalah dewa yang terkenal di kalangan umat Hindu sebagai dewa pengetahuan dan kecerdasan, dewa saat memulai pekerjaan, dewa pelindung, dewa penolak bala/bencana, dan dewa kebijaksanaan. Dari sana saya bisa tahu, kalau para peziarah itu datang untuk tirakat. Seperti yang banyak dilakukan oleh orang-orang ketika mendaki Gunung Kawi, dan berziarah di puncaknya. Biasanya, para peziarah itu tak melulu orang Hindu, tapi seperti yang sudah saya sebutkan tadi, mereka datang sebagai orang yang menjunjung tinggi budaya leluhur. Para peziarah datang untuk mencari ilham atau sekedar bertirakat ketika ingin mencapai sesuatu, misalnya ingin usaha lancar, atau sedang memiliki hajat besar. Yah, seperti itulah budaya yang dijunjung orang-orang jaman dulu, sebelum budaya tersebut berbaur dengan nilai-nilai yang lain. Selain petilasan di P29, ada juga beberapa petilasan lain yang notabene diberi nama dari cerita pewayangan, yaitu: Hyang Semar, Petilasan Abiyoso, Begawan Sakri, Lokojoyo, Dewi Kunthi, Makam Mbah Bunton, Hyang Pandan, Argojambangan, Jonggring Saloko dan Sendang Bunton. Dan menurut informasi dari salah satu teman mendaki ketike ke P29, larangan bagi para pendaki dan peziarah ketika berada di lingkungan P29 supaya tidak memakai atribut bernuansa wayang. Saya juga tak tahu alasannya. Tapi, kalau melihat dari nama-nama petilasan itu, saya jadi mengira, mungkin saja beberapa Dewa yang digambarkan dalam kisah-kisah pewayangan itu masih bersemayam di P29. Who knows? Hehehe.

Dan begitulah sedikit celoteh saya tentang P29 ini. Setelah beberapa lama punya keinginan ke sana, akhirnya tersalurkan juga. Ternyata, bukan hanya Semeru yang menjadi puncak para Dewa, melainkan juga Muria yang memiliki nilai budaya atas para Dewa itu sendiri. Untuk menjaga agar tetap seimbang, biarkanlah Dewa-Dewa tetap bersemayam di sana, tanpa diusik. [Ayu]


Wednesday, July 3, 2013

Jurnal Pendakian: Dari Jakarta Ke Muria (19 - 21 Juni 2013)

Jelajah Muria

Dulu sekali, ketika saya masih suka membaca buku seputar pewayangan, sejarah, dan bagaimana Wali Songo menyebarkan agama Islam di dataran Jawa ini, saya sempat memiliki keinginan untuk menengok salah satu makam Sunan yang terletak di antara Kudus, Pati, dan Jepara. Sunan Muria dimakamkan di salah satu puncak yang berada pada gugusan pegunungan Muria. Waktu itu, racun atas gunung tersebut juga saya dapatkan dari kakak dan istrinya yang tinggal di Pati. Nah, berhubung pekerjaan saya lumayan sibuk, jadi untuk merealisasikan perjalanan ke tempat-tempat asing di Indonesia, masih harus dicicil dulu.

Beruntung, ada yang mengajak untuk ke sana. Teman saya Rizal, berencana untuk mampir ke Gunung Muria. Nah, impian saya untuk menengok makam Sunan Muria, akhirnya datang juga. Tiket menuju Semarang sudah dipesankan oleh teman saya itu, meskipun duduk di gerbong paling belakang, sendirian. Terpisah dari Rizal dan beberapa orang lain yang juga ikut dalam perjalanan kali ini. Jadi, rasa lapar saya dan juga rasa haus karena tak sempat mampir ke minimarket, saya tahan saja. Terpisah 6 gerbong di kereta bukan perkara mudah, karena untuk berjalan ke gerbong 2 saja sudah susah payah. Ya sudahlah. Toh, perjalanan ke Semarang tidak lama seperti mau ke Malang atau Surabaya. Hehehe.

Semarang Poncol (jepretan Om Jenggot)
Pagi hari, sekitar pukul enam (saya agak lupa), kami sampai di stasiun Semarang Poncol. Packing ulang barang, lalu menyelesaikan apa yang musti diselesaikan. Setelahnya, kami langsung menuju ke luar stasiun, mencari angkutan yang akan membawa kami ke Terminal Terboyo, untuk selanjutnya menyambung bis Nusantara menuju karesidenan Pati. Hehehehe. Nah, di sini saya hubungi kakak saya, untuk bertatap muka ala kadarnya saja, mengingat saya juga tak bisa lama-lama berada di kota itu. Terjerat itinerary dan jalur Pantura yang kemungkinan akan padat pada saat pulang. Hiks. :(

Sampai Terboyo, bertemu dua orang lagi, Andre dan Aga. Dua kawan saya yang masih berstatus mahasiswa tingkat akhir (tapi nggak juga berakhir), di Universitas Diponegoro. Hahahaha. Sudah lengkap tim kami, langsung saja kami menaiki bus Nusantara menuju Pati. Kurang lebih satu jam perjalanan (dengan saya yang tertidur sepanjang perjalanan), kami sampai di Pati. Di sini, kami sarapan dulu sebelum nanti berpanas-panas ria untuk tracking menuju P29. Ah ya, di sini saya agak sedih dan kecewa, sebab kami ternyata akan mengunjungi P29 bukan Puncak Muria. Waktu dikabari mas Dolly sebagai kuncen kami (hehe), ternyata kalau mau ke Muria, itu gunungnya berbeda, dan waktu tempuhnya bakal lebih lama daripada P29. Ya sudahlah, tak apa. Akhirnya dengan berat hati, saya sarapan Nasi Gandul pedas ditambah telur. Agak-agak kayak gudeg Jogja gitu deeh rasanya. Kecewa aja masih bisa makan banyak, gimana kalo nggak kecewa? Hehehe. :P

Nasi Gandul Terminal Pati
(jepretan Om Jenggot)
Setelah makan, kami langsung mencari elf yang akan membawa kami ke Tayu. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 45 menit (saya tak menghitungnya dengan pasti, tapi lumayan jauh juga). Sampai Tayu, mengisi logistik di minimarket juga bahan bakar, sambil menunggu negosiasi angkutan berikutnya yang akan membawa kami ke jalur awal pendakian. Di sini, desas-desus beredar. Jalur menuju gerbang pendakian Muria di Tempur agaknya cukup menanjak, dan salah satu anggota tim bergumam, "Wah, kalau sampai ini angkot keguling lagi kayak dulu, ngeri juga sih."

Wah wah wah... Separah itukah? Hmmm, saya jadi ngeri sendiri.

Ilustrasi Angkot Keguling - Muria 2012 (dok. by Om Jenggot)

Untungnya, kami dapat angkutan yang paten. Dengan biaya Rp 150.000 sekali jalan, Bapak supir membawa kami menyusuri lereng gunung Muria yang indah, dengan sawah-sawah bertingkat dan aliran sungai yang masih jernih. Indah. Dikeliling pegunungan hijau yang tak mungkin saya dapatkan di Jakarta. Dan saya patut bersyukur, karena meskipun tak mampir ke makam Sunan Muria, saya masih bisa menyambangi keindahan Indonesia yang lainnya.

angkot paten :D
terasering Desa Tempur
sungai mini yang mengalir jernih ~

Sampai di Tempur pun, saya disuguhi pemandangan yang lebih memukau lagi. Bukan, bukan bentangan alam yang memukau, melainkan demokrasi dan toleransi antar umat beragama yang sangat tinggi. Di Tempur, baru sekali ini saya mendapati sebuah Mesjid berhadapan dengan Gereja, dan bersisian dengan Vihara. Meski berbeda begitu, tak ada tanda-tanda mereka--warga Tempur--saling menghujat atau saling membunuh. Semua tentram, semua damai.

Kiri: Gereja, berhadapan dengan Mesjid, dan bersisian dengan Vihara - toleransi yang manis

Sekitar pukul setengah dua siang (tak tahu pasti ketepatannya, saya lupa menghitung), kami mulai berjalan menyusuri lereng dan kebun warga. Di kanan kiri hamparan sawah dan pagar hijau terbentang. Saya terus berjalan menyusuri tanjakan berbatu yang sudah demikian baik tertata. Tujuan pertama kami adalah sungai jernih sebagai checkpoint pertama. Di sana, nanti kami akan makan siang dan minum seadanya, sebelum kemudian melanjutkan kembali perjalanan. Tanjakan konstan yang harus kami lalui cukup "aduhai" dengan matahari tepat di atas kepala. Huhuhuuuu.

yuks jalan! :D

Setelah selesai makan siang, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini, tanjakan mulai membuat saya lelah juga. Mulai jalan di depan agar bisa mengatur pace yang lebih baik, sebab kalau saya jalan di belakang, saya tidak kuat menahan beban badan sendiri kalau-kalau yang depan saya tiba-tiba memberhentikan langkahnya. Nah, kurang lebih menjelang Ashar, teman-teman istirahat lagi, dan saya berjalan sendirian mencoba untuk menyusul dua mahasiswa abadi yang sudah berjalan di depan. Ternyata, langkah mereka seperti terbang. Saya nyaris tak bisa mengejar mereka. Huhuhu. Saya cuma takut kemalaman di tengah jalur dan sendirian. Masalahnya bukan karena takut bertemu sesuatu yang tak diinginkan, melainkan karena saya lupa tak membawa senter atau headlamp dan jalur-jalur bercabang yang memungkin saya untuk 'nyasar' ke belahan kota Kudus. Hahahaha. Jadi, saya mempercepat langkah, meskipun pada jam lima sore saya masih belum menemukan tanda-tanda Andre dan Aga.

Saya mulai panik ketika saya terus menanjak dan menemukan kompleks petilasan, lengkap dengan rumah-rumah sederhana dan sapu ijuknya. "Aduh, mati deh gue," begitu gumam saya dalam hati, sebab saya ini orang yang cukup sensitif juga dengan hal berbau astral. Hahaha. Tapi, saya tak hiraukan itu. Setelah berkata, "Pamit Mbah," entah pada apa, saya terus berjalan menyusuri tangga-tangga batu. Beruntunglah saya, ketika jam sudah menunjukkan pukul enam kurang lima belas menit, saya menemukan Andre dan Aga tengah menanjak terus di atas saya.

Saya memanggil dan Andre menengok. Setelah saya katakan bahwa sejak sore tadi saya hanya berjalan sendirian, maka dia pun menunggu saya di atas. Saya percepat langkah, meski kaki saya sudah tak mau diajak menanjak. Ya sudahlah, resiko mengejar dengkul dewa. Untungnya, setelah mencapai mereka, saya bisa istirahat sejenak karena waktu sampai, tepat Maghrib melewati kami. Makanya, kami berhenti dulu sampai adzan kemungkinan berhenti. Biasa lah, 'makhluk' Maghrib kan suka iseng.

Menunggu Maghrib di tanjakan aduhai menuju P29

Ternyata, menuju P29 dengan ketinggian 1602mdpl bukanlah hal yang mudah. Terbukti ketika saya berhasil menjangkau Andre dan Aga, kaki saya makin berat. Saya paksakan saja berjalan. Dari atas, sudah riuh terdengar suara pendaki lain yang juga sedang sowan ke Muria. Saya merasa disemangati. Dalam hati saya ingin marah-marah atau menangis, tapi buat apa? Toh, sedikit lagi sampai atas dan saya tidak boleh menyerah. Andre yang menerangi jalan saya dengan senter terus berkata, "Sedikit lagi tuh Yu, udah keliatan itu pondokannya."

Ya sudah, sambil menghela nafas malas, saya paksakan kaki ini terus berjalan. Sekitar lima belas menit dari tempat saya menjangkau Andre tadi, gapura P29 sudah terlihat. Saya langsung tancap dengkul saya dengan gigi 1. Harus sampai! Harus! Masa iya sih jadi lemah begini? Hahahaha. Dan akhirnya, saya sampai di gapura, disambut oleh pendaki lain yang sudah bersarung, minum kopi, merokok, dan menikmati supermoon.
Malam, masak pisang goreng, liat supermoon :D
(maaf gambar kurang oke, kamera seadanya)

Di sini ada pondokan, jadi tak perlu membawa tenda. Ada warung juga, dimana kita bisa membeli makanan dan minuman. Meski begitu, logistik tetap kami bawa. Prinsip mendaki itu, selain nenda sudah pasti masak! Nah, jadi, sekarang tinggal cari pondokan yang masih kosong dan... mari masaaaaaaaaaak! \m/

Masak sambil menghangatkan diri dari kabut dan angin Puncak 29 (songo likur) yang cukup membuat kami bergidik kedinginan. Malam itu, ada beberapa peziarah yang sedang berkunjung, mendaki Gunung Muria untuk berdoa di petilasan yang disediakan. Kami bukannya tak menghiraukan, hanya saja tujuan pendakian seseorang memang berbeda-beda bukan? Kami lanjutkan masak-memasak sambil bercerita hal-hal yang mistis. Duh... Tiba-tiba saja angin dingin menyapa tengkuk saya, dan membuat saya merapatkan diri di dalam sarung yang saya bawa. "Mas Dolly, dingin euy! Mepet ah!" kata saya ketika itu. Hehehehe. (Padahal aslinya mah, takuuuuuuut).

Setelah masak, satu per satu anggota tim pendakian, tumbang. Masuk ke pondok dan tidur di masing-masing sleeping bag mereka yang menghangatkan. Sementara, saya, Mas Dolly, Uni Wiwik, Kang Jenggot, Andre, Aga, dan Rizal masih setia duduk di atas matras, menikmati kopi dan dinginnya Muria. Berhubung makin malam makin dingin, makin sepi dan mencekam saja suasana, kami putuskan untuk tidur juga. Mas Dolly ketika itu tidur di luar. Memang luar biasa Mas yang satu itu, namanya juga sering bulak-balik P29, jadi sudah biasa. Hehehe.

Pagi yang dingin, berselimut kabut...

Pagi sekitar pukul enam, saya bangun. Langsung keluar untuk berkeliling, sembari mencari sendal saya yang entah hilang kemana. Huhu. Ternyata, setelah berjalan jauh sampai ke bebatuan P29, sendalnya ada di bawah papan pondokan. Duh, nasib nasib. Nggak apa-apa sih, jadi kan saya sudah terlanjur jalan-jalan pagi. Dapat beberapa foto kabut dan awan. --"

hello, morning!

Kembali ke lokasi di depan pondok, saya dan Mas Dolly masak pagi hari. Masak mie rebus dan beberapa gelas kopi. Hehehe. Ngopi adalah ritual yang paling wajib ketika berada di ketinggian. \=D/

full team :D
Sudah ngopi, saya langsung packing. Sebab di Muria mulai panas ketika siang, saya packing duluan. Setelah foto-foto bersama, saya, Andre, Aga, Mas Dolly dan kawannya, turun lebih dahulu. Tim yang lain masih berada dalam euforia dan foto-foto. Sebab saya lapar dan cuaca mulai panas, saya ikuti lagi dua dengkul dewa itu. Awan tidak meneduhkan, karena memang tak ada awan. Akhirnya, setelah berjalan turun ke arah desa Rahtawu selama 2,5 jam (atau mungkin lebih, saya juga lupa), kami pun sampai. Sampai Rahtawu, langsung cari makan dan tukang es yang segar. Hehehe. Menunggu yang lain di pos ronda, cukup lama juga saya tertidur. Yah, yang lain lama sekali. :(

Satu jam berselang, yang lain sampai. Kami pun segera menaiki mobil pick up yang sudah dipesan sebelumnya. Dan inilah kami, dalam perjalanan pulang. Perjalanan kami menaiki mobil pick up untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan menelusuri kota Kudus, sampai pada pangkalan bis Nusantara menuju Semarang, dan kembali mengikis bahagia selama dua hari saat tiba di Jakarta.

Notes:
Rincian biaya menuju Gn. Muria per 1 orang


  • Kereta Tawang Jaya, Ps. Senen - Semarang Poncol PP Rp 160.000,-
  • Bis Nusantara Semarang - Kudus PP Rp 20.000,-
  • Carter Angkutan ke jalur pendakian PP Rp 10.000,-
  • Carter pick up turun @ Rp 10.000,-
  • Total biaya rata-rata per orang Rp 200.000,- (belum termasuk logistik dan jajan)

Jadi gimana? Tertarik mengunjungi Puncak Songolikur atau berziarah di petilasan juga, silakan mampir dan jangan lupa untuk mencari angkot yang paten yaaaa, sebab kalau nggak kuat nanjak, bisa terbalik lho. :p Hehehehe.

Have a good trip, mates! :]