Thursday, August 22, 2013

Sekilas Tentang Ultralight Hiking

Merasa keren bawa tas carrier seukuran kulkas ke gunung? Merasa kuat? Merasa hebat? Tapi, apa dampak yang terjadi ketika membawa tas sebesar itu dengan perlengkapan kelewat berat dalam pendakian yang hanya memakan waktu dua hari satu malam? Tentunya, encok saudara-saudara! Hehe.

model: Bang Djal GM :p

Nah, kali ini, saya ingin sharing mengenai keajaiban packing yang lebih ringkas, namun tetap mendapatkan seluruh fungsi dari peralatan yang akan kita bawa ketika melakukan pendakian. Kapan kita membutuhkan packing yang ringan? Nah, ini yang kadang jadi perdebatan. Tentunya, kita baru bisa mengaplikasikan teknik packing seperti ini setelah mengatur perencanaan untuk pendakian. berapa hari kita akan melakukan pendakian dan apa saja makanan yang nantinya akan menjadi persediaan atau ransum kita selama pendakian, dari naik sampai turun lagi dengan selamat. Setelah merencanakan hal tersebut, barulah kita dapat mengaplikasikan teknik packing kita. Nggak lucu kan kalau kita ke gunung selama dua hari tapi kayak bawa kulkas terus menghambat kita dan malah memungkinkan kita untuk membuang logistik? Nah, kita harus benar-benar sangat selektif ketika melakukan perencanaan sehingga semua benda dan logistik yang kita bawa, akan menjadi tepat guna.

Keajaiban packing ringkas nan ringan kali ini ceritanya akan diaplikasikan dalam pendakian standar. Packing seperti ini sering disebut sebagai ultralight hiking/backpacking. Nah, apa sih yang dimaksud dengan ultralight hiking. Berikut ini penjelasan seadanya dari saya, mengenai ultralight.

Ultralight backpacking is a style of backpacking that emphasizes carrying the lightest and simplest kit safely possible for a given trip. Base pack weight (the weight of a backpack plus the gear inside, excluding consumables such as food, water, and fuel, which vary depending on the duration and style of trip) is reduced as much as safely possible, though reduction of the weight of consumables is also applied.
The terms light and ultralight commonly refer to base pack weights below 20 pounds (9.1 kg) and 10 pounds (4.5 kg) respectively. Traditional backpacking often results in base pack weights above 30 pounds (14 kg), and sometimes up to 60 pounds (27 kg) or more. Enthusiasts of ultralight backpacking sometimes attempt super-ultralight backpacking (SUL) in which the base pack weight is below 5 pounds (2.3 kg) and extreme-ultralight backpacking (XUL) in which the base pack weight is below 3 pounds (1.4 kg). *wikipedia

Seperti yang sudah dijelaskan, ultralight backpacking adalah teknik packing yang menekankan kita untuk membawa kit atau gear yang ringan namun tetap aman dan tidak mengurangi kebutuhan benda pada saat akan melakukan perjalanan atau pendakian. Packing ringan ini termasuk ke dalam tas (backpack), berikut gear yang dibutuhkan, juga makanan, air, bahan bakar, dan perintilan kecil. Biasanya ultralight mengacu pada berat atau bobot packing kita yang (kalau bisa) tidak lebih dari 27 kilogram. Bahkan, beberapa penggiat alam terbuka yang menyukai ultralight backpacking ini biasanya mengurangi packing mereka sehingga hanya berkisar 14 kilogram ke bawah. Tidak terlalu berat bukan? Resiko encok juga berkurangnya efektifitas selama melakukan pendakian pun dapat lebih diminimalisir. Jadi, mendaki gunung pun akan lebih menyenangkan dan kita bisa lebih banyak melakukan eksplorasi alam daripada mengeluh kelelahan atau keberatan dengan beban yang dibawa.

Dulu, sejarahnya ultralight, dipopulerkan oleh Ray Jardine, seorang pemanjat tebing yang menulis buku pedoman bagi para hiker di tahun 1992, dan kemudian berganti judul menjadi Beyond Backpacking pada tahun 1999. Buku ini merangkum dasar-dasar bagi para ultralight hiker, sebagai pedoman bagi teknik ultralight yang banyak digunakan sampai saat ini.

Beberapa inti dari ultralight hiking ini adalah mengurangi bobot benda. Apa saja benda yang bobotnya harus dikurangi itu? Nah, di sini kita hanya melihat tiga barang utama. Pelindung dari cuaca (utamanya hujan), sleeping system, dan ransel adalah tiga item utama yang dibawa oleh hikers atau backpackers. Mengurangi berat tiga benda ini tentu saja akan berpengaruh dan akan mengurangi keseluruhan packing yang kita lakukan.

1. Packing besar (carrier dan isinya kegedean) | kira-kira bisa tebak bobotnya?
2. Packing lebih kecil namun semua fungsi benda ada | bobot nggak sampai 15kg
3. Lebih kecil dari nomer 1, semua isinya ada (meski bukan kategori UL soalnya masih berat :p)

Shelter / Tempat Perlindungan


Bagian yang utama tentu saja tempat perlindungan untuk kita di alam terbuka. Biasanya, yang umum tentu saja tenda, tapi tenda relatif berat. Kita bisa memilih tenda ultralight yang berkisar antara 1.5 kg sampai 2 kg, dan ini masih bisa diminimalisir. Karena perintilan tenda dome yang banyak, maka disarankan penggunaan tenda bisa dengan yang model ultralight atau diganti dengan terpal sederhana atau bivy, dari flysheet yang tentunya tahan air. Untuk dikondisikan saat badai, tentu saja kita harus memasangnya dengan kuat agar tak terbang ketika hujan angin. Perlu sedikit teknik menyimpul tali saat mengaplikasikannya sebagai pengganti tenda untuk tempat tidur kita. Dan penggunaan lain, tentu saja melalui tidur elevasi, yang sekarang ini sedang marak. Kita bisa menggunakan teknologi hammock yang dirancang sedemikian rupa agar tahan dalam cuaca dingin. Dan ada juga teknologi lain yang tentunya bisa dieksplorasi untuk mengurangi beban tenda.

~ Sleeping System

Bagian kedua dari the big three, adalah sistem tidur kita di alam terbuka. Biasanya bagaimana? Sudah pasti banyak yang memilih menggunakan sleeping bag dan matras untuk tidur. Ini yang umumnya terjadi. Kita membawa gulungan matras tentara dan sleeping bag tebal berbahan dakron yang kesannya hangat. Padahal, selain bobotnya yang berlebih dan memberatkan packing kita, SB berbahan dakron ini tingkat insulasinya terhadap dingin masih kurang. Dan untuk matras tentara, sebaiknya diganti dengan matras beralaskan aluminium dengan busa styrofoam tipis, yang tentu saja bisa dilipat dan tidak perlu kita bawa-bawa ketika akan pergi ke alam terbuka. Nah, mengganti dua jenis sistem tidur ini saja sudah bisa mengurangi beban kita di pundak nanti. Dan bentuk lainnya, kita bisa memakai jaket dengan insulasi tinggi, seperti yang berbahan down, atau bulu angsa. Untuk kaki, tentu saja bisa memakai sarung. Dengan menempel ke kulit, insulasi pori-pori terhadap dingin, lebih terjaga. Alami bukan? Bisa dicoba. :D

~ Ransel

Dan poin yang ketiga, nampak sederhana namun menjadi inti dari ultralight hiking / backpacking, adalah ransel. Ransel yang biasanya dipakai untuk ultralight hiking adalah ransel yang kuat namun ringan. Ransel ini biasanya bisa membawa beban sampai 11 kilogram, namun berbahan kuat. Biasanya, ransel ini dibuat dalam paket tanpa frame (biasanya beberapa merek ransel ada bingkai besinya), bahannya nilon ripstop, silnilon, atau Dyneema dengan batas membawa barang sampai 11 kilogram. Dan kadang, ada beberapa penggila ultralight hiking yang membuat gears mereka sendiri. Biasanya mereka membuat ransel yang bisa membawa beban sampai sepuluh kilogram. Untuk ransel, silakan memilih sendiri bagaimana yang enak dipakai di pundak kita namun tetap ringan dan nyaman saat dibawa berlari. Seperti itulah kira-kira. Hehe.


Nah, itulah sekilas tentang ultralight hiking dari klasifikasi umum, sebagai pengantar. Untuk ke depannya, mungkin saya akan memberikan beberapa tips packing yang ringan untuk berkegiatan alam terbuka, sudah termasuk tiga item utama di sini ditambah dengan beberapa perlengkapan lainnya, seperti jaket, pakaian, logistik atau makanan, alat masak dan makan, juga perintilan lainnya. Kira-kira bagaimana mengaturnya agar tetap ringan? Tetap simak di blog ini ya!

Oh ya, ada beberapa referensi juga yang bisa dikunjungi untuk memahami seputar ultralight hiking / backpacking. Silakan mampir di sini:




[Ayu]

Wednesday, August 21, 2013

Semalen dan Masa Kecil

Pulang ke kampung halaman memang selalu berhasil menerbangkan memori yang nyaris hilang. Melewati jalan raya, pematang sawah, atau bahkan toko mainan favorit kala kita kecil adalah salah satu hal yang paling membuat saya melamun di dalam mobil. Seperti tradisi mudik tahun ini, yang saya lewati dengan mobil keluarga, melewati Bandung di lingkung gunung, transit di Tegal sebelum akhirnya sampai di Semalen dan rumah masa kecil.

Semalen sekarang sudah berbeda. Jalanan batu kali yang besar-besar kini sudah berganti jadi jalan aspal dan tak lagi bersahabat seperti dulu. Anak-anak kecil yang berangkat sekolah dengan berjalan kaki sudah dipastikan akan jarang ditemui. Sebab, sekarang jalanan di depan rumah kecil saya sudah berubah menjadi jalur alternatif ke arah Purworejo dan Yogyakarta. Yah, apa mau dikata. Makin mengglobal, kebutuhan manusia akan alat transportasi pun makin tak karuan. Mobil dan motor bisa ditemukan di mana saja. Seolah-olah, saat ini sangat mudah memiliki motor. Tanpa memikirkan akan jadi apa bumi yang terpolusi, manusia tetap menumpuk kendaraan penghasil polusi. Dan tahun ini, lebaran ini, kendaraan berpolusi itu berpindah dari kota besar ke daerah kecil tempat saya besar.

Lalu lalang mobil di depan jalan rumah nenek seperti tak mengindahkan nafas hidup damai para penghuni desa. Saya duduk di beranda rumah Bude, mencoba tak menggubris kendaraan-kendaraan itu. Duduk sambil melihat sepupu saya yang masih kecil bermain petasan. Cahaya berpendar ke langit Semalen, dan masa kecil saya pun kembali berputar dalam ingatan.

Esok harinya, saya berniat menyusuri sebagian masa kecil saya yang banyak dihabiskan di kebun belakang rumah nenek. Memanjat pohon kopi, mencari salak yang ditanam sendiri, atau menunggui durian jatuh dari pohon sambil bermain kartu remi. Ya seperti itulah masa kecil saya di Semalen, sebuah desa harmonis di bagian utara Magelang. Dan di usia saya yang sudah kepala dua, saya ingin kembali merasakan udara segar yang pernah saya rasakan pada masa kecil. Maka, sore-sore setelah mencuci pakaian selama mudik, saya bergegas untuk menyusuri kebun.

Banyak yang berubah, terutama sawah yang luas di belakang rumah. Sawah itu kini perlahan tergantikan beton-beton, mengubah bentuknya jadi terasering perumahan, bukan lagi sawah. Kebun kopi yang ada di sebelan wetan, kini sudah berkurang  dan tak terurus. Saya bisa pastikan, kini pepohonan itu dihuni oleh berjenis-jenis serangga dan ular. Daun jatuh yang rimbun sangat cocok jadi tempat persembunyian ular kebun. Yah, saya mengurungkan niat untuk memanjat pohon dan meneruskan perjalanan menyusuri kebun bambu sebelum sampai di kebun pohon jarak dan sawah yang tinggal sisa.

"Nanti, sawahnya ini bakal jadi perumahan lagi Mbak Ayu," gumam sepupu saya. Saya pun terduduk di antara pohon yang masih anak-anak, yang ketika dewasa nanti, kayunya akan sangat mahal sekalli harganya. Melihat sekeliling yang sejuk, sepertinya pada tahun-tahun yang akan datang, tak akan lagi bisa didapatkan. Sedih juga. Ternyata para kapitalis pemakan nuansa hijau mulai bergerak ke pinggiran kota, menuju desa dan mengambil apa yang mungkin diambil. Sedih memang, tapi itu mungkin sudah jadi hukum alam. Dan yang bisa saya lakukan hanya menikmati apa yang masih tersisa dari kampung halaman.

"Mbak ayo cari ikan kecil!" Nafis, sepupu saya yang masih SD lalu berlari melewati kebun jagung, mencari-cari ikan kecil di dekat kebun jagung. Sawah yang sepertinya baru ditanami itu masih berair. Banyak ikan-ikan kecil di sana. Saya tertawa.

Sudah berkeliling, duduk di tepi sawah sambil mengamati perumahan yang akan dibangun secara utuh sampai beberapa tahun ke depan. Sementara itu, Nafis menuju pohon jagung dan mengambil beberapa jagung tua. Kapan lagi bisa memakan hasil bumi sendiri tanpa membeli? Ya saya rasa, di kota tak mungkin mendapatkan hal seperti itu, sebab tak ada lagi yang bisa ditanami di kota. Betapa masa kecil saya di Semalen penuh keceriaan, tak seperti masa tua yang dihabiskan pada lautan robot pekerja di belantara beton.

Empat buah jagung sudah dibawa pulang dan hari pun menjelang malam. Kelak, memori masa kecil saya mungkin akan benar-benar hilang, seperti hilangnya sawah-sawah masa kecil saya. Semua akan terhapus seperti terhapusnya lahan hijau di belakang rumah nenek saya dan berganti sawah-sawah beton dengan pagar tinggi yang dingin dan angkuh. Kalau bisa saya meminta... Kota... Tolong jangan datang ke desa, cukuplah kalian hancurkan kota, tak perlu mengambil seluruh desa masa kecil saya. Kalau bisa... :')

Ya, ini saatnya pulang, kembali ke rumah lempung nenek, menikmati daging entog yang disembelih sendiri, menikmati jagung bakar yang dipetik sendiri, menikmati sayuran segar dari kebun sendiri dan menikmati sisa liburan pada rumah masa kecil yang entah akan jadi apa di masa depan nanti.