Friday, September 13, 2013

#Featured: KPCI adalah Dua Orang Gila! Mengayuh Sepeda dan Mencumbu Indonesia

Web Kayuh Pedal Cumbu Indonesia

Rasanya, saya belum puas jalan-jalan kalau cerita saya jalan-jalan di dunia maya belum ditulis juga. Hehehe. Sebenarnya, saya meluangkan waktu untuk merekam orang-orang terdekat yang 'menulis' tentang catatan perjalanan mereka dengan cara-cara berbeda dan kali ini akan saya mulai dengan posting ini. 

Beberapa waktu ini, saya yang memang baru bergabung di sebuah komunitas online bagi para penggiat kegiatan alam terbuka, menemukan dua orang gila yang sedang no maden, berkeliling Indonesia hanya dengan mengayuh pedal sepeda mereka. Sebenarnya, siar kabar mengenai mereka sudah saya dengar sejak lama. Tanpa menaruh perhatian lebih, saya sempat mengacuhkannya. Tapi, sejak mendengar nama mereka beberapa bulan terakhir, saya baru mengerti apa arti perjalanan bagi mereka. Bagi dua orang gila yang sekarang saya panggil Mamang (sebutan Paman di tanah Sunda), perjalanan adalah bagaimana kita berinteraksi dengan penduduk lokal, memahami kearifannya, bahkan ikut terjun di dalam kearifan itu untuk lebih melebur bersama mereka.

Saya jadi belajar, bagaimana memaknai perjalanan menjadi berbeda. Ternyata, perjalanan tak melulu bicara tentang destinasi, bagaimana keindahan itu dieksploitasi oleh mata dan kamera, melainkan bicara tentang proses. Perjalanan adalah proses. Bagaimana seseorang berproses untuk menjadi lebih dewasa, menjadi lebih arif dan bijak, serta memaknai bahwa setiap langkah yang dihitung adalah pengalaman dalam hidup. Hal ini saya kenal dari dua orang gila ini, Mamang Anto dan Mamang Cliff.

Kiri: Mamang Cliff lagi mulung botol :D
Kanan: Mamang Anto persiapan lebaran :P

Mereka berdua menamai perjalanan duet mereka sebagai Kayuh Pedal Cumbu Indonesia. Perjalanan selama dua tahun (menurut perencanaan mereka), berkeliling Indonesia, mencumbu sisi paling tepi dari Bumi Pertiwi, dengan mengayuh sepeda dan melakukan konservasi alam. Memulai perjalanan dari Bogor dengan sepeda, dan menyentuh Sabang sampai Merauke juga menepi di Ndana dan Miangas. Mereka berdua, sosok yang menginspirasi pejalan muda oleh proses, bukan hanya destinasi. Dari perjalanan ini, mereka berinteraksi dengan penduduk lokal, mencoba menyatu dengan kearifannya dan ikut menjunjung bumi yang mereka pijak. Di setiap kayuhan pedal sepeda, mereka kadang berhenti, sekedar memunguti sampah dan botol plastik yang merusak wajah destinasi dalam perjalanan mereka. Keduanya mencoba berkontribusi secara langsung untuk membersihkan wajah Indonesia yang terdiri dari gugusan pulau. Maka, cara terbaik untuk itu bukanlah menunggu pihak-pihak lain turun, melainkan turun sendiri dan merealisasikannya.

Mereka juga kerap kali bergabung dengan komunitas lokal di tempat mereka singgah, seperti Komunitas Pecinta Penyu dan Karang. Dengan KOMPPAK (begitu singkatannya), mereka ikut memperhatikan kesejahteraan biota laut, seperti terumbu karang yang nyaris rusak dan apapun yang ada di perairan tersebut. Mereka ikut turun dalam kegiatan konservasi di daerah-daerah terpencil, jauh dari peradaban namun memiliki semangat konservasi alam yang tinggi.

Saat ini, keduanya masih berjuang secara swadaya tanpa afiliasi organisasi manapun. Keduanya masih mencintai hidup, keindahan Indonesia, dan tetap bersepeda. Maka, untuk mencumbu Indonesia, satu-satunya cara yang mereka tempuh adalah perjalanan dengan sepeda. Betapa takjubnya saya, begitu juga dengan orang-orang lain. Nah, bagi teman-teman yang ingin menengok mereka atau sekedar berinteraksi, silakan mampir ke rumah maya mereka di cumbuindonesia.com, atau berkunjung ke akun-akun sosial media mereka di bawah ini,

Twitter: @KayuhPedalINA

Jadi, teman-teman ada yang tertarik untuk bertemu mereka? Siapa tahu ada yang sedang satu destinasi dengan mereka, silakan langsung hubungi akun sosmednya dan tanyakan dimana, ya?! :D

Jadi, tetaplah menjadi responsible traveller, tetap berjalan dan tetap mengagumi keindahan Indonesia dengan langkah konservasi.

Karena, "Lestari bukan sebatas 'Like This!'," kata Mamang Cliff Damora. :D

Salam!

(Ayu W)
Jakarta, 13 September 2013

Wednesday, September 11, 2013

[Video] Sunrise dan Ceceran Foto Gunung Prau

timeless seasons calling...

"We belong, we belong, we belong here. Where the vibes from our old songs returning. With the force of a longing heart we're here again..."

Ini video kompilasi dari beberapa foto yang sempat ditangkap oleh kamera saya dan Abang yang tidak begitu "wah" seperti kamera para fotografer wildlife atau nature. Foto-foto inilah yang merepresentasikan betapa penantian pagi di garis cakrawala, bisa sangat menyenangkan. Betah saya ada di ketinggian, tentunya dengan tak melupakan jalan pulang. Hehehe. Di bawah ini ada dua video, salah satunya ada video sunrise di Gunung Prau dan video lainnya adalah kompilasi foto yang saya maksud sebelumnya. Nah, selamat menikmati romantisme pagi di Dieng Plateau! :)


Back to Heaven's Light: Gunung Prau Memories
(Song by: Dee Lestari)
"...If once we had decided to forget, then we alone can decide to remember. 
We all started the same journey. This had been an illusion of a journey, 
for it didn't have a start and didn't have an end."


Song of Seasons
(Song by: Float)

We belong, we belong, we belong here
where the vibes from our old songs returning
With the force of a longing heart we're here again

Timeless seasons calling
Rain of reasons falling

We belong, we belong, we belong to you
And the memories yet to come soon
will lead us back to you again

Songs of seasons calling

Thursday, September 5, 2013

Langit Indonesia Masih Tetap Ramah

Rasanya sudah lama tidak naik gunung. Mulai naik lagi dan setelah turun, kaki rasanya kebas, mati rasa. Pulang dari Prau, saya bahkan tak bisa menekuk lutut. Harus selalu lurus. Tapi, memang harganya bersusah-susah itu pasti ada, seperti keindahan yang tak terungkap kata. Cahaya dan langit yang membias merah muda, romantis membayangkannya. Itulah alasannya kenapa saya lebih suka berada di ketinggian daripada di lokasi nol meter DPL. Saya suka pantai memang, tapi tak bisa mengalahkan rasa suka saya terhadap gunung-gunung yang masih bisa dieksplorasi di Indonesia. Untuk itu, saya akan terus berjalan. Tidak untuk mengeksploitasi mereka, hanya untuk bergumam bahwa, "Tuhan sungguh baik. Tuhan sungguh tak pernah lupa untuk menyisakan sedikit rasa surga di dunia." Apakah surga seperti pemandangan semesta yang saya lihat tempo hari? Ah, berandai-andai hanya membuat saya terus tersenyum saja. Langit Indonesia masih ramah dan romantis seperti biasanya. Kalau saya tidak mendapatkannya di Jakarta, mungkin bukan Indonesia yang salah, tapi lebih kepada Jakarta yang tak mencerminkan identitas Indonesia. Ya maklum, bangsa kita yang besar ini sedang dilanda krisis identitas. Well, ini sedikit pecahan memori di Gunung Prau kemarin, beberapa hasil foto yang sempat saya rekam di mata dan di kamera. Selamat menikmati!

"...If once we had decided to forget, then we alone can decide to remember. We all started the same journey. This had been an illusion of a journey, for it didn't have a start and didn't have an end." (*)




Once, in a dream... I saw you, telling me that you've traveled in the dark just to find that little spot, how you settled for a light in the vastness of the night. And I saw some tears were coming from your eyes. As you said you'd found your paradise and I began to ask you, "Why you have to cry?"



Saya mengakui, saya kadang pongah dengan alam. Menganggap bahwa gunung kecil kadang tak sepadan dengan pemandangan yang disuguhkan. Tapi, setelah mencapai lokasi Gunung Prau, saya jadi yakin bahwa apapun ekspektasi yang saya lempar terhadap sesuatu, bisa salah juga. Gunung ini ibarat miniatur Semeru, dengan bukit-bukit berundak, savana yang luas, dan ada juga tanjakan savana yang merupa tanjakan cinta. Yah, saya betah di sini, meski saya akui, panas begitu menyengat dan ketika malam, angin dingin menusuk. Inilah gunung yang menyuguhkan keindahan perbukitan di sekitarnya, berada di gugusan Dieng Plateau.


Garis cakrawala, batas antara ada dan tiada. Batas antara pagi, siang, malam. Batas di mana ilham merasuk, membelenggu ego jadi rasa syukur. Batas yang masih bisa membias jingga, yang tak akan kau dapatkan ketika berada di kota penuh polusi...



a few morning dew
Wangi petrichor sisa hujan, bertemu tanah dan menyisakan rintikannya di badan tenda yang menghangatkan saya dari angin juga cuaca malam. Terbangun dengan rasa syukur berkat gugusan gunung di depan mata. Dan dari sana saya hanya bisa berucap, "Fabi'ayyi 'ala irobbikumaa tukadzibaan? Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?"


"Have We not made the earth a resting place? And the mountains as stakes?"
(An-Naba: 6-7)


going home...
Lihat? Bagaimana langit Wonosobo membias sempurna. Merah muda yang tumbuh karena matahari menghias siluet pepohonan yang seadanya di Gunung Prau. Sebab lokasi Gunung Prau yang dominan dengan savana luas, pepohonan yang ada jadi lebih cantik dilihat. Kala malam, bulan yang menerangi savana membuat pepohonan rimbun itu jadi bersahabat. Tak ada rasa takut, tak ada gentar. Saya patut berterima kasih, pada mereka yang masih setia mendaki gunung tanpa mengeksploitasi, karena dengan begitulah gunung-gunung ini masih tetap bisa ditafakuri. Coba, bayangkan saja bagaimana kalau Prau diambil kekayaannya, diubah menjadi sebongkah gugusan beton tanpa nyawa? Coba, bagaimanaaa? Yah... Berada di Prau membuat saya lupa sejenak terhadap kepenatan Jakarta. Semoga sampai nanti, kondisinya tetap begitu ya. Sampai jumpa lagi Prau!

(*) Dewi Lestari's song, Back to Heaven's Light

Wednesday, September 4, 2013

Jurnal Pendakian: Gunung Prau dan Romantisme Langit (30 Agustus - 01 September 2013)


Sebenarnya, waktu itu belum gajian dan saya seharusnya ada di kampus untuk mengikuti perkuliahan. Tapi, seorang teman kuliah mengkonfirmasi kalau hari Sabtu, 31 Agustus, kegiatan perkuliahan ditiadakan dan digeser ke Sabtu yang berikutnya. Wah, ingin kemana ya? Bingung juga. Yah maklum lah, pekerja. Kalau gajian belum keluar kan ribet. Hehehe. Tapi tapi tapi... Gajian bukanlah penghalang kaki yang gatal untuk pergi menghilang! Ya, kaki gatal jadi pedoman saya selama ini. Kalau sudah nggak betah, itu artinya saya harus pergi, entah ke gunung, pantai, pasar kaget, museum atau ke mana saja. Dan kali ini, pilihan jatuh ke salah satu gunung yang berada di dataran tinggi Dieng, tepat berada di tiga kabupaten sekaligus karena letaknya yang berada di tengah-tengah perbatasan antara Kabupaten Kendal, Wonosobo, dan Batang. Ya kondisinya seperti gunung Muria yang juga ada di perbatasan para kabupaten di utara Jawa Tengah.

Kali ini, saya berangkat bersama ke dua puluh delapan orang lainnya. Agak lupa sih jumlahnya berapa. Yang pasti, sekitar itulah. Jum'at malam, 30 Agustus, saya dan Abang mulai bersiap (nggak usah tanya abang yang mana ya!). Pulang kerja, langsung menuju kost untuk mengambil ransel berikut perabotan lenong yang sudah saya packing. Hehehe. Langsung ke depan Menara Jamsostek untuk naik Kopaja 66 trayek Manggarai - Blok M via Sudirman. Nanti, rencananya saya akan turun di Gelora Bung Karno, untuk kemudian berjalan kaki sampai ke depan Hotel Mulia. Di sanalah bus pariwisata berjumlah 32 seat sudah terparkir. Saya kira, saya yang terakhir datang. Rupanya, masih ada satu orang yang ditunggu, yaitu Mbak Tiaaaa. Hehehe. Nah, setelah datang, barulah bus benar-benar bertolak dari seberang Hotel Mulia, untuk kemudian ikut berjejalan di jalanan Sudirman yang macet, masuk tol Lingkar Dalam dan bermacet-macet ria sampai nanti keluar tol Cikampek.

Nah, singkatnya (berhubung saya tidur sepanjang perjalanan), hari Sabtu 31 Agustus, bus sampai di Wonosobo terlalu siang. Entah karena supirnya yang penakut atau memang sangat hati-hati, pada saat memasuki Garung, bus sudah mulai tidak stabil. Beberapa kali bus pariwisata kami disalip oleh angkutan-angkutan elf yang menguasai daerah tersebut. Sampai akhirnya, di suatu tanjakan menuju dataran tinggi Dieng, supir bus kami sudah angkat tangan. Bendera putih diterbangkan, dan satu per satu dari kami turun dari bus beserta ransel-ransel kami yang super berat (mau piknik soalnya), dan kami pun memindahkannya ke dua elf yang disewa sampai dataran tinggi Dieng.

Sampai di lokasi wisata, beberapa orang mencari kamar mandi untuk bersih-bersih, beberapa makan, dan sisanya duduk-duduk santai tidak melakukan apa-apa. Hehe. Saya sendiri hanya packing ulang untuk mengecek perlengkapan dan membagi beban bersama dengan Abang. Nah, sambil menunggu Abang selesai makan, saya jalan-jalan keliling, melihat-lihat siapa tahu ada yang menarik. Hehehe.

packing ulang dulu yaaaa

Sekitar pukul setengah dua siang, kami mulai berkumpul untuk naik. Cuaca cukup cerah berawan, sehingga tidak begitu panas ketika naik. Menurut perkiraan dan menurut orang yang sudah pernah naik, katanya untuk mencapai lokasi camp hanya akan memakan waktu tiga jam. Jadi, kami memutuskan naik siang dengan asumsi akan sampai lokasi camp sebelum petang datang dan membuat saya tidak konsen berjalan. Hehehe. Maklum lah, saya agak malas kalau naik malam, sebab saya malas untuk melihat kaki saya sendiri karena terlalu takut melihat sekitar. Oke, abaikan yang ini karena saya hanya berlebihan saja. :p

Pemandangan yang disuguhkan sepanjang jalan menuju campsite memang menakjubkan. Meski gunung ini ada di titik elevasi 2565 mdpl saja, namun karena letaknya yang berada di dataran tinggi membuatnya jadi lebih tinggi dari titik elevasinya sendiri. Kabupaten Wonosobo dengan hiasan Telaga Warna bisa kita lihat di sepanjang perjalanan, belum lagi ketika berhenti di tiap pos. Di pos-pos yang sudah disediakan pihak gunung Prau, kita dapat melihat ke arah Sindoro-Sumbing yang menjadi siluet cantik ketika sore. Awan-awan putih seperti bulu domba terlihat menghiasi langit Wonosobo hari itu. Saya jadi tidak sabar mencapai campsite. Mencuri dengar, katanya lokasi campsite terdiri dari undakan sabana yang luas, seperti bukit teletubbies dan dari sana kita bisa melihat pemandangan yang lebih kaya.

awan bulu domba dan perbukitan
view Telaga Warna dan sekitar
tugu perbatasan Wonosobo - Batang | sayang ada vandalisme :(

Saya berjalan di kloter pertama, agak terpisah dari Abang yang menjadi sweeper pada hari itu. Saya sampai di titik terakhir yang akan membawa kita berjalan santai sampai ke campsite, yaitu sebuah lokasi terbuka dengan tower atau BTS. Di sini, angin cukup kencang, sehingga membuat saya bergidik. Dan satu per satu rombongan lain pun datang. Waktu itu, jam sudah menunjukkan pukul setengah lima lewat, sehingga semua harus bergerak cepat agar sampai di campsite sebelum petang. Setelah berfoto dengan awan-awan yang manis di bawah kaki, kami pun bertolak lagi untuk berjalan santai di jalur landai menuju bukit teletubbies.


salah satu papan di dinding BTS yang terpagar
batas daerah Wonosobo - Kendal
sempetin foto BTS, padahal udah menggigil

Sekitar satu jam, mulut masih ternganga saja. Jalan menuju bukit teletubbies pun disuguhi pemandangan magis. Awan-awan belum mau beranjak namun langit merah muda bersemu jingga sudah ikut meramaikan sore. Saya ingin menangis, ingin teriak, ingin melakukan apa ya, sampai bingung sendiri. Keindahan Tuhan memang sukar diungkap sebatas kata. Karena, kalau jadi kata ya hanya seperti tulisan ini saja. Hehehe. Hanya mata yang bisa menangkap keindahan, merekamnya, dan hanya alat khusus pembaca pikiran saja yang bisa mengeluarkan imaji itu, tidak dengan foto secanggih apapun karena hasilnya tetap beda. Tapi, bagaimanapun, saya ingin membaginya lewat tulisan ini. Jadi, kalau ternyata berminat, silakan teman-teman berangkat ke sana juga ya! Hehe.

awan lari-lari :p
berjalan di atas senja

Nah, beberapa menit setelah petang, akhirnya suara-suara pun terdengar. Ah, rombongan kami terlambat datang rupanya. Lokasi campsite sudah penuh dengan hiruk-pikuk manusia. Saya agak kecewa juga sih, karena niatan saya untuk menyepi-meditasi harus diabaikan karena suara-suara itu. Tapi tak apa. Toh, esensi berjalan kan bukan hanya untuk memenuhi ego diri sendiri, tapi untuk meleburnya bersama ego lain. Jadi, saya duduk, menunggu aba-aba lokasi mana yang bisa digunakan untuk membangun tenda, dan setelah mandat tiba, saya dan Abang mulai membangun tenda kami. Angin kencang tak menghalangi tangan menggigil saya yang tetap semangat menancapkan pasak tenda ke tanah. Maklum, semangat karena ingin cepat-cepat menghangatkan diri. Hahaha.

Sudah memasang tenda, saya berganti pakaian dengan yang kering dan mulai eksperimen! Apa lagi kalau bukan memasak! Hehehe. Kali ini, seperti biasa saya akan masak omelet dengan roti panggang. Wah, rupanya masakan saya dan Abang laku juga. Buka warung enak kali ya? :P

Tak banyak yang bisa saya ceritakan pada malam hari, karena masing-masing kami masuk tenda dan tertidur. Kondisi cuaca agak kurang baik. Cerah memang, tapi angin sangat kencang. Hanya suara gitar dan nada-nada beberapa orang saja yang masih terdengar. Kulit mereka mungkin kulit badak, sehingga mereka kuat menyanyi di tengah angin kencang seperti itu. Kalau saya sih, ah mending selimutan di tenda.

Pagi harinya, Minggu 01 September, saya mendapati pemandangan romantis lainnya. Ah, saya suka sekali berada di ketinggian. Sebab, dari sinilah saya bisa melihat awan terbang di bawah kaki. Seperti lagu Vina Panduwinata, awal September ini dilewati dengan ceria. Orang-orang terlihat senang, gembira, sejenak melupakan rutinitas hidup yang membosankan. Semuanya seolah bingung, bagaimana cara terbaik untuk mengabadikan momen tersebut dan membaginya dengan orang lain. Berbekal kamera seadanya, saya pun mencoba untuk mengambil momen-momen penting yang akan dibagikan pada tulisan kali ini.

langit pagi, Sindoro-Sumbing (kanan), Merbabu - Merapi (kiri) | disapa gunung :D
Haiiiii matahariiii! :D
let's jump! :D

Siklus matahari yang muncul pagi hari selalu ditunggu. Semua bersiap untuk menunggu kelahiran putra pagi ini. Dan setelah itu semua berakhir, matahari seperti biasa saja, berada di atas kepala. Panas, menyengat, namun tanpa saya duga, kondisi gunung Prau yang sedikit pohon menyisakan beberapa siluet pohon di beberapa titik dan itu membuat semuanya jadi lebih romantis. Saya berkeliling untuk mengambil foto, dengan catatan harus kembali untuk masak, beres-beres tenda juga, karena rombongan akan turun dari Desa Patak Banteng dengan target turun pukul sepuluh.

Puas mengambil foto, saya masak untuk sarapan dan beres-beres untuk turun. Sekitar pukul sepuluh pagi, saya benar-benar turun dengan yang lain. Jalan turun ini cukup curam, sehingga jalur agak macet karena antrian manusia yang turun dengan hati-hati. Saya menyempatkan diri untuk memotret lagi. Singkatnya, sampai di perkebunan warga sekitar pukul dua belas siang, dan rombongan saya langsung menuju rumah salah satu kerabat untuk bersih-bersih dan menuju jalan pulang.

Perjalanan kali ini menyisakan kesan mendalam bagi saya. Mengenal orang-orang baru yang belum pernah saya tahu sebelumnya dan berbagi keindahan bersama mereka. Rasanya, tak ada lagi romantisme pagi seperti yang ada pada waktu itu. Entahlah, mungkin saya akan menunggu perjalanan berikutnya yang lebih berkesan. Mungkin...

Salam.

[Ayu]