Thursday, October 24, 2013

Arsip Novel Pertama, Tujuh Divisi Untuk #PSA2

Yeay!

Akhirnya, perencanaan novel Tujuh Divisi sejak bulan Desember 2011, bisa selesai di tahun ini. Dengan banyak pertimbangan dan edit sana-sini, akhirnya saya menyelesaikan draft novel pertama saya. 

Berhubung saat ini, Grasindo sedang membuka event kepenulisan, pertama-tama saya akan mencoba peruntungan untuk draft novel ini di acara Grasindo yang ini, yaitu Grasindo "Publishers Searching for Author 2" atau yang biasa disingkat #PSA2. 

Setelah sukses dengan event #PSA1, maka Grasindo mengadakan lagi acara yang sama, dengan tema "Novel Rasa Indonesia". Nah, selengkapnya ada di gambar berikut:

Sunday, October 20, 2013

Taman Hutan Raya Djuanda: Menyusuri Sejarah Goa Belanda (Bagian 2)

Dan angin pun berhembus. Bukan... Bukan angin dari gerbang di belakang saya, tapi angin dari samping kiri yang entah dari mana asalnya.  Saya mau menengok, tapi sudah kadung takut. Jadi, saya hanya melihat ke bawah saja. Melihat jalur utama yang tidak begitu besar, berhias rail di tengahnya. Entah untuk apa rel itu, tapi sepertinya untuk kereta kecil, seperti kereta penambang yang ada di buku-buku dan film-film khas teori konspirasi. Seperti National Treasure. Bedanya, rel ini terputus di tengah jalur, dan di dalam pengantar Goa Belanda yang diletakkan di depan gerbang utama, tidak ada penjelasan mengenai rel-rel itu.

Angin dan suara itu datang lagi... Ah, saya sudah benar-benar tak berani menengok. Persis peserta uji nyali.


Di Tahura (Taman Hutan Raya Djuanda), selain bisa melihat bagaimana kondisi Bandung di lingkung gunung, kita juga bisa menjelajahi sisa-sisa sejarah yang terlupakan. Sebuah situs tempat penjajah menyekap para pahlawan dan juga gerilyawan perang, tempat mereka mengatur strategi perang dan menyimpan logistik serta perlengkapan perang. Salah satunya adalah Goa Belanda. Goa di mana ketika saya masuk, hawa yang ditimbulkan adalah hawa yang cukup mistis. Dingin dan mencekam. Lumrah memang, karena goa yang satu ini digunakan Belanda untuk menyekap para tahanan perang pribumi. Diberi makan seadanya, bahkan berbagi dengan tikus-tikus pembawa epidemi Sampar. Bahkan, tak jarang dari tawanan itu yang mati di dalam lorong-lorong tahanan.


Lorong Hitam di Goa Belanda (lengkap dengan sisa jeruji besinya)

Goa Belanda dan Tahura di Zaman Kolonial

Goa Belanda dibangun pada tahun 1906 sebagai terowongan penyadapan aliran air sungai Cikapundung untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang dibuat oleh BEM (Bandoengsche Electriciteit Maatschappij). Hal ini sepertinya tak lepas dari berkembangnya Bandung menjadi kotapraja (1906) dengan penduduk yang mencapai lebih dari 47.500 jiwa (Jakarta/Batavia 200.000 jiwa; Surabaya 150.000 jiwa; Semarang 90.000 jiwa). Namun, karena sebab yang belum diketahui, PLTA ini tidak lama berfungsi.

Pada tahun 1918, terowongan ini beralih fungsi untuk kepentingan militer dengan penambahan beberapa ruangan di sayap kiri dan kanan terowongan utama. Sementara itu, sistem PLTA dibangun kembali dengan perubahan jalur penyadapan yang tak lagi melalui Goa Belanda melainkan melalui saluran-saluran air bawah tanah hingga muncul kembali ke permukaan tanah di Pintu II Tahura dan ditampung di kolam tandon harian yang dikenal dengan "Kolam Pakar".


Dari Kolam Pakar, air disalurkan melalui pipa pesat ke PLTA Bengkok (difungsikan sekitar tahun 1923) yang sejak tahun 1921 dikelola GEBEO (Gemeenscaapelijk Electriciteit Bedrijf voor Bandoeng en Omstreken) dan di masa kemerdekaan menjadi PLN. Hal ini juga tak lepas dari adanya pembangunan berbagai instansi pemerintahan, kemiliteran, pendidikan, perdagangan, kesehatan, komunikasi dan lainnya pada masa itu.



Pada masa pendudukan Belanda, perbukitan Pakar ini sangat menarik bagi strategi militer, karena lokasi nya yang terlindung dan begitu dekat dengan pusat kota Bandung. Menjelang Perang Dunia ke II pada awal tahun 1941 kegiatan militer Belanda makin meningkat. Dalam terowongan untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Bengkok sepanjang 144 meter dan lebar 1,8 meter dibangunlah jaringan goa sebanyak 15 lorong dan 2 pintu masuk se-tinggi 3,20 meter, luas pelataran yang dipakai goa seluas 0,6 hektar dan luas seluruh goa berikut lorong nya adalah 548 meter. Markas angkatan perang Hindia Belanda dan pusat komando militer tentara Sekutu (Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Australia dan New Zealand) ditempatkan di Bandung yang merupakan benteng pertahanan terakhir bagi Belanda. Pada masa ini, Belanda memperluas goa dan mendirikan stasiun radio komunikasi di sini sebagai pengganti Radio Malabar di Gunung Puntang yang berada di wilayah tak terlindung dari serangan udara.

Goa Belanda terdiri dari satu lorong sel pemeriksaan, empat lorong sel tahanan, satu pintu logistik di sebelah barat pintu utama. Pintu utama untuk masuk ke Goa Belanda hanya ada satu, dengan pintu keluar di sebelah utara goa. Di sebelah timur pintu utama, terdapat lorong-lorong yang menuju ke pintu ventilasi dan satu ruangan interogasi sentral yang berada jauh dari lorong tahanan, di mana di ruangan ini, teriakan para gerilyawan yang dilucuti informasinya oleh tentara Belanda akan menggema sampai ke pintu ventilasi.


ilustrasi lorong-lorong Goa Belanda
kiri: lorong utama dengan rel
kanan (dari atas ke bawah): ruang jaga, pintu keluar goa, lubang ventilasi yang tertutup belukar

Goa Belanda sendiri dibangun di kondisi geografis yang cukup unik. Berada di sebelah selatan patahan Lembang, dan berada di titik strategis dari sisa-sisa letusan Gunung Sunda yang meninggalkan banyak pecahan, dataran, juga gunung-gunung kecil seperti Burangrang dan Tangkuban Perahu. Tak heran, daerah sekitar Goa Belanda sangat subur dan dilewati dengan jalur sentral air yang menjadi penyangga kebutuhan air kota Bandung selama ini.

Goa Belanda juga merupakan salah satu dari beberapa jaringan goa yang dibangun di kota Bandung, khususnya dibangun di dalam perbukitan batu pasir tufaan. Batu pasir tufaan atau konglomerat tufaan merupakan batuan sedimen epiklastik yang terangkut juga di dalamnya komponen piroklastik seperti pumis (batu apung). Tak hanya menggambarkan bagaimana proses dibentuknya Goa Belanda oleh tangan manusia, tapi di awal masuk gerbang Goa Belanda, dituliskan juga bagaimana goa tersebut bisa terbentuk di dalam perbukitan tufaan. Hal ini masih terkait dengan bagaimana proses pembentukan ignimbrite atau sisa-sisa abu panas letusan Gunung Sunda.



Peta Geologi Gunung Api Sunda dan Penyebaran Letusan Gunung Sunda

Meskipun akhirnya belum terpakai secara optimal, namun pada awal Perang Dunia Ke II dari stasion radio komunikasi inilah Panglima Perang Hindia Belanda Letnan Jendral Ter Poorten melalui Laksamana Madya Helfrich dapat berhubungan dengan Panglima Armada Sekutu Laksamana Muda Karel Doorman untuk mencegah masuknya Angkatan Laut Kerajaan Jepang yang mengangkut pasukan dan akan mendarat di Pulau Jawa. Sayang sekali usaha ini gagal dan seluruh pasukan berhasil mendarat dengan selamat dibawah komando Letnan Jendral Hitosi Imamura.

Pada masa kemerdekaan Goa ini pernah dipakai atau dimanfaatkan sebagai gudang mesiu oleh tentara Indonesia. Goa Belanda saat ini dapat dimasuki dengan aman dan dijadikan sebagai tempat wisata yang penuh dengan nilai sejarah.


Kurang lebih begitulah sejarah Goa Belanda yang ada di kawasan Taman Hutan Raya Djuanda. Jika ingin menjelajah lorong-lorong di dalam Goa Belanda, sebaiknya bawalah senter pribadi, agar tidak perlu menyewa. Dan jangan lupa untuk bawa bekal makan siang, agar tak perlu beli di warung-warung, kalau sedang hemat. Hehehehe. Yah, intinya... Kalau hanya berdua atau malah sendirian, sebaiknya banyak-banyak berdoa karena kita tak tahu apa yang akan kita temukan secara tiba-tiba jika kita mengarahkan senter pada lorong-lorongnya. Hehe.



Bonus foto... "With Orbs"

Friday, October 18, 2013

Taman Hutan Raya Djuanda: Sisa Sejarah Tak Tentu Arah (Bagian 1)


Bagi mereka yang tinggal di Bandung dan sekitarnya, pasti sudah tak asing lagi dengan beberapa lokasi eksotis yang bisa ditempuh dengan menumpang angkutan kota. Bukan hanya lokasi perbelanjaan dan factory outlet saja yang terkenal di kalangan pendatang Bandung, tapi juga wisata alamnya.

Salah satu lokasi wisata yang bisa ditempuh dengan angkutan kota adalah Taman Hutan Raya Djuanda (Tahura). Lokasi Tahura sendiri berada di daerah Dago, ke sananya lagi Dago Pakar, sih. Masalahnya, dulu memang akses ke sana terbilang cukup jauh dan tak selalu ada kendaraan. Tapi, sekarang mungkin sudah bisa kita temukan mobil-mobil para borjuis memenuhi jalanan sempit menuju Tahura. Menggilas aspal yang dibuat sedemikian rupa oleh Pemda agar ramah terhadap para pejalan luar kota. Dulu mungkin gambaran jalan ini masih terdiri dari bebatuan kali yang kokoh dan harus tergantikan dengan aspal yang bisa seketika berlubang. Alasannya diganti, mungkin licin kali ya, juga (mungkin) bisa lebih ramah dengan kaki-kaki para borjuis. :p

Wilujeng Sumping yang artinya...
Selamat Datang!
Dan dari sanalah, para borjuis ibukota ikut memadati lokasi wisata ini. Mobil-mobil angkuh mereka menggilas aspal itu. Plat B apalagi. Saya mengerti, dengan mobil-mobil dan kunjungan mereka, kehidupan masyarakat di sekitar Tahura bisa tercukupi. Sayangnya, pemikiran orang-orang desa makin lama makin komersil juga. Jadinya, mereka memanfaatkan apa saja jadi peluang bisnis, termasuk lahan parkir kosong yang sudah jelas-jelas ketika awal masuk Tahura, kita membayar retribusi. Tapi kenyataannya, kita ditagih retribusi lagi. Yaaaa bukannya hitungan. Cuma, kok rasanya janggal saja. Tidak ada kontribusi dari pihak Pemda. Pasalnya, loket resmi Tahura selalu tutup. Berdebu dan tak terurus. Kesannya kok tidak ada urusannya sama Dinas Pariwisata, padahal kan harusnya lebih diperhatikan lagi.

Oke. Cukup dulu OOT-nya. 

Beralih ke kawasan Tahura lagi. Di sini, kita bisa mengunjungi beberapa situs wisata yang unik dan juga menantang. Kita bisa menjelajahi tiga curug atau air terjun yang letaknya saling berjauhan, sehingga kita harus trekking ringan, mendaki dan menuruni jalanan yang sudah didempul aspal. Tak jarang pula kita harus melewati jalanan sempit yang masih berupa bebatuan apung. Di sini, enak sekali kalau membuka sandal. Kaki yang langsung menyentuh bebatuan apung itu bisa memperlancar peredaran darah. Refleksi mungkin istilahnya.

Sayangnya, saya tidak bisa mencapai curug itu karena sampai di Tahura terlalu siang, sehingga waktu yang saya gunakan di Tahura hanyalah cukup untuk berkeliling situs yang lebih menantang lagi, yaitu situs goa peninggalan zaman Belanda dan Jepang. Suasananya cukup membuat saya bergidik ngeri. Dua goa ini pernah menjadi saksi bisu sejarah kelam Indonesia pada masa kolonial dan masa pendudukan Jepang. Saya memulainya dari Goa Belanda, dengan catatan agar saya bisa kembali sesuai jalur yang sudah disepakati bersama dengan Abang. Jadi, rutenya adalah sebagai berikut.
Peta, Lokasi Situs, dan Petunjuk Arah

Saya berniat untuk ke curug, karena sudah lama tak trekking dan melihat yang seger-seger (es campur kali seger). Nah, kebetulan ada yang bisa mengantar tanpa takut capek (cieee), saya lalu tancap saja. Berbekal trekking pole dan sendal jepit kesayangan, saya menginjakkan kaki di batu apung dan aspal yang licin pasca hujan. Kali ini saya masuk ke Tahura dari gerbang utama, sehingga kalau sudah melewati salah satu saluran PLTA Bengkok, belok ke kanan itu adalah jalur menuju gerbang III dan lurus terus mengikuti jalan menurun, saya akan sampai di Goa Belanda.

Mulanya, saya masih sinkron, masih bisa membaca petunjuk dan berbicara. Tapi, mencapai mulut goa yang tidak lain adalah gerbang utama sebuah penjara, saya mulai merasa aneh sendiri. Di sini, auranya memang berbeda. Seperti ketika saya sedang ada di depan Lawang Sewu pada suatu malam, sendirian pula. Untung Abang sudah sedia senter dan headlamp, karena memang sebenarnya tujuan kami bukan ke sini, tapi ke gunung. Masalahnya, entah kenapa sejak saya berangkat dan melihat kondisi Lebak Bulus yang seperti pasar kaget, saya jadi mendadak moody. Mood berubah jelek, dan berbagai pertanyaan tentang gunung yang akan saya daki itu malah muncul ke permukaan. Belum lagi ketika searching tentang itu, saya menemukan artikel yang tak diinginkan. Tak jadilah saya ke gunung itu dan berpindah lokasi ke Tahura ini.

Menghindar dari Bapak yang menawarkan senter dengan gigihnya, Abang keluarkan senter terra lux yang kekuatan lumens-nya bisa mencapai jarak puluhan meter. Hahaha! Maaf Pak, lagi kere soalnya, jadi belum perlu sewa senter! Hehe. Nah, dengan membaca Bismillah, saya pun masuk ke Goa Belanda dengan Abang, berdua saja. Baru masuk ke lorong satu, di mana sebelah kiri saya adalah sel tahanan, saya seperti mendengar suara bisikan. Grrrr... Sifat paranoid saya muncul lagi. Sial!

Dan angin pun berhembus. Bukan... Bukan angin dari gerbang di belakang saya, tapi angin dari samping kiri yang entah dari mana asalnya. Saya mau menengok, tapi sudah kadung takut. Jadi, saya hanya melihat ke bawah saja. Melihat jalur utama yang tidak begitu besar, berhias rail di tengahnya. Entah untuk apa rel itu, tapi sepertinya untuk kereta kecil, seperti kereta penambang yang ada di buku-buku dan film-film khas teori konspirasi. Seperti National Treasure. Bedanya, rel ini terputus di tengah jalur, dan di dalam pengantar Goa Belanda yang diletakkan di depan gerbang utama, tidak ada penjelasan mengenai rel-rel itu.

Angin dan suara itu datang lagi... Ah, saya sudah benar-benar tak berani menengok. Persis peserta uji nyali.

(bersambung)

Tuesday, October 15, 2013

Jakarta Sudah Habis: Sepenggal Kisah Menjelang Hari Raya

Jakarta sudah habis. Di atasnya berdiri bangunan-bangunan industri. Di sekitar bangunan bangunan itu, bangunin-bangunin memproduksi belatung...
Jakarta sudah habis. Warna tanahnya merah kecoklat-coklatan. Mirip dengan darah. Mirip dengan api. Mirip dengan air mata...  
(Iwan Fals - Lagu 2)

Hujan deras melanda Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Waktu di telepon genggam saya sudah menunjukkan pukul enam sore. Hujan itu hujan hari Sabtu, 12 Oktober dan saya menunggu seseorang.

Hari Sabtu itu, saya berniat untuk pulang ke rumah saya di Cimahi, Jawa Barat. Biasanya, seperti yang sudah-sudah, kalau pulang hari Sabtu kemungkinan tidak akan mengantri kendaraan menuju Bandung, untuk kemudian saya akan turun koboi di tengah jalan tol Samsat Cimareme. Namun, rupanya saya keliru. Sabtu itu, banyak para pengantri lainnya. Ah, saya lupa. Rupanya mereka akan ber-Idul Adha.

para penumpang sedang berteduh di depan loket

Hujan masih saja mengguyur terminal yang bisa dibilang jadi sentral untuk para perantau yang berdomisili di Jakarta Selatan. Pasalnya, Lebak Bulus adalah terminal yang bisa dibilang cukup besar dengan armada bus yang cukup lengkap. Mulai dari ujung barat pulau Jawa, sampai ujung timur. Bahkan, bus lintas pulau pun ada. Dan masalahnya dimulai dari sini, di antara hujan.

Terminal Lebak Bulus pada saat itu cukup ramai. Orang yang saya tunggu tak kunjung datang. Maka, daripada saya mati bosan, saya duduk di tepi terminal, di kursi tunggu penumpang. Sambil menghindari hujan, tak ada salahnya juga mengamati manusia yang hilir mudik, berebut kursi di dalam bus, menghardik orang, mendorong nenek tua, berdesakkan, mencari kesempatan dalam kesempitan, menjadi tega karena satu kata... PULANG.

Memang, sejak saya datang, bus yang ingin saya tumpangi sampai Cimahi tidak terlihat satu pun. Saya biasa menumpang Primajasa untuk sampai di Cimahi. Bis Garut, Tasikmalaya, Bandung, atau apapun yang melewati Samsat Cimareme, pasti saya tumpangi. Yang jadi masalah sekarang adalah, bus itu langka di hari-hari menjelang hari raya. Dan lautan manusia yang ingin menumpang bus itu, bukan hanya saya.

Duduk saya di kursi penumpang, sambil menunggu hujan dan mengamati mereka. Manusia yang beragam. Manusia yang merantau ke Jakarta, katanya untuk bekerja, mengais rezeki, mencangkul berlian, dan apapun yang bisa mereka lakukan di Jakarta. Di hari hujan begini, bukannya berada di rumah, di depan TV sambil bersantai dan minum kopi, tapi mereka semua ada di jalanan, di terminal, di sini bersama saya yang duduk di tepian terminal. Mereka semua terlihat sibuk, cemas, bahkan sedih. Saya bisa melihat hal itu di mata mereka. Ketika bus itu datang, mereka menjelma zombie, berlari menghampiri bus yang seolah berisi makanan dan darah segar bagi mereka. Padahal, bus belum berhenti. Oh, saya memang sudah sering mengalami hal seperti ini, berebut bus dengan para penumpang lain. Tapi, bedanya ini lebih membludak lagi. Saya jadi berpikir, darimana mereka datang? Kenapa zombie-zombie ini semakin bertambah? Rasanya, Jakarta yang sempit ini jadi makin sempit saja. Di tengah hujan, saya tertawa melihat mereka.

atas: hilir mudik manusia
bawah: berebut kursi bus Primajasa

Mereka tak berpayung, tak berjas hujan, tapi mereka rela terhujani di tengah terminal, demi menunggu bus yang mereka idam-idamkan datang. Dan ketika datang, pintu masuk yang belum dibuka, dipaksa untuk terbuka. Bahkan, ada yang rela menyakiti tangannya untuk mengetuk kaca pintu bus, padahal mereka tahu kalau itu memang tak akan dibuka sebelum bus berhenti. Supir dan kondektur yang kewalahan akhirnya mengalah. "Daripada bonyok atau kaca pecah," begitu gumam mereka.

Saya tertawa lagi. Sebenarnya, ini mau pulang kampung atau demonstrasi? Barbar sekali, pikir saya. Tapi, memang begitulah keadaannya. Lebak Bulus yang sebesar ini tampak kosong tanpa bus-bus kesayangan saya itu. Bus yang bagi sebagian warga perantauan sangat dinanti. Bukan karena apa-apa, tapi lebih kepada faktor ekonomi. Saya dan mereka sama-sama berada di kelas menengah, lebih suka menumpangi bus itu daripada travel atau pesawat. Maklum lah, namanya juga kantong perantau. Sebisa mungkin cari yang hemat. Hehe.

Singkatnya, hujan pun berhenti seiring dengan pemandangan lautan perantau yang mulai berkurang. Orang yang saya tunggu pun sudah datang. Kami menunggu sekitar dua jam sampai suasana kondusif (karena kami sedang lelah kalau harus ikut berhimpitan dengan lautan perantau). Pukul sembilan malam, akhirnya kami memilih naik Primajasa menuju Leuwi Panjang, Bandung, meski turunnya jadi lebih jauh dari daerah rumah saya. Kami menyerah dengan keadaan bus Garut yang belum juga ada solusinya. Rencananya, kami akan pergi ke Cimahi, untuk mengunjungi orang tua saya barang beberapa hari. Pasalnya, saya sudah lama tak pulang, sudah rindu. Tak jadi soal kalau saya harus ikut berdemonstrasi dalam hal rebutan kursi bus. Itu lebih pantas rasanya, daripada berdemonstrasi minta naik gaji seperti para buruh dan pengemis di Bandung. Hahaha. 

Yah, setidaknya, saat ini saya pun menulis dari sini, dari Cimahi. Rumah dan tempat saya pulang di kala rindu. Satu-satunya tempat berpijak di tanah, sebab kalau saya di Jakarta, saya seperti terbang. Waktu seperti tak kentara. Saya seperti berada di dimensi lain. Negeri zombie yang nyaris mati. Rasanya, sudah tak ada tempat lagi, bagi para bangunin-bangunin yang memproduksi belatung. 

Ah, Jakarta. Memang, cuma enak buat cari duit! Itu kata Iwan Fals. :)


Ayu Welirang
Cipageran, 15 Oktober 2013

Wednesday, October 9, 2013

Ingin Hidup Dengan 'Taste'? Mari Pakai Hammock!

Di era yang serba mikro ini, ternyata packing ketika naik gunung pun sudah beralih ke benda-benda mikro! Hahaha. Seperti yang sudah pernah saya tuliskan di pengantar tentang ultralight hiking, beberapa gears untuk naik gunung juga sudah mengalami evolusi, dari yang tadinya serba 'kulkas' menjadi serba minimalis. Salah satunya adalah shelter.

Sekarang, sedang marak penggunaan hammock atau yang lebih mudah disebut sebagai 'tempat tidur gantung'. Kalian tahu? Itu, tempat tidur yang biasa dipakai untuk membuat bayi tertidur, dengan mengayunkannya. Atau, yang lebih mudah dipahami, hammock ini biasanya ada di pantai, dengan bentuknya yang jaring-jaring, terikat di antara dua pohon dan biasa digunakan untuk bersantai. 

Nah, ternyata hammock ini sekarang juga sudah berevolusi, untuk digunakan di kegiatan outdoor yang lebih dari sekedar pantai, seperti gunung atau bahkan yang lebih ekstrim dari itu. Biasanya, mereka yang senang menggunakan prinsip ultralight, akan memakai hammock ini untuk tempat berlindung mereka, tentunya setelah dimodifikasi agar bisa bertahan dalam kondisi cuaca apapun.

Dan saya pun tertarik dengan benda satu ini, hammock. Bagaimana rasanya tidur di atas ayunan dalam ruang terbuka? Di hutan? Di rimba raya? Saya bergidik juga. Pasalnya, saya takut tiba-tiba terjadi hujan angin, atau badai yang benar-benar mengerikan. Semua pikiran negatif itu coba saya kesampingkan dan saya mulai berpikir untuk membawa hammock untuk sekedar bersantai di gunung nanti. Meskipun begitu, tetap saja saya harus ber-partner, supaya kalau saya rindu tidur di tenda, tendanya tetap ada yang membawakan. Gitu. :))

Nah, jadi kali ini saya tidak akan begitu banyak membahas teknis tentang pemakaian hammock di ruang terbuka seperti gunung dan semacamnya, tapi hanya akan memberi sedikit intermezzo saja. Mungkin, lain waktu akan saya beri penjelasan lebih tentang seni tidur-tiduran dalam hammock ini. :D

Adik saya bersantai dengan hammock
Lokasi: halaman belakang rumah nenek @Tegal, Jawa Tengah
Hammock Ultimate Outdoor Winter Series
Kiri: Om Maffers, Om Kitiw, Andre @Coban Rondo Malang, with Eno Singlenest Hammock
Kanan Atas: Andre & Om Bayu @Ranu Kumbolo, Semeru, Malang
Kanan Bawah: Andre @Pos 2 Wekas, Merbabu, with Ticket to The Moon Hammock
Pics source from Andre Hidayat
Om Bayu, Andre, Mamat Outdoor (yang lagi tiduran di Hammock)
Pics source from Allex Xorix (Mamat Outdoor)
Packing Hammock Eno
Rastaman Live Up! :D
gambar dari Andre

Jadi gimana? Tertarik untuk hammock-ing? :D

Salam!