Sunday, October 20, 2013

Taman Hutan Raya Djuanda: Menyusuri Sejarah Goa Belanda (Bagian 2)

Dan angin pun berhembus. Bukan... Bukan angin dari gerbang di belakang saya, tapi angin dari samping kiri yang entah dari mana asalnya.  Saya mau menengok, tapi sudah kadung takut. Jadi, saya hanya melihat ke bawah saja. Melihat jalur utama yang tidak begitu besar, berhias rail di tengahnya. Entah untuk apa rel itu, tapi sepertinya untuk kereta kecil, seperti kereta penambang yang ada di buku-buku dan film-film khas teori konspirasi. Seperti National Treasure. Bedanya, rel ini terputus di tengah jalur, dan di dalam pengantar Goa Belanda yang diletakkan di depan gerbang utama, tidak ada penjelasan mengenai rel-rel itu.

Angin dan suara itu datang lagi... Ah, saya sudah benar-benar tak berani menengok. Persis peserta uji nyali.


Di Tahura (Taman Hutan Raya Djuanda), selain bisa melihat bagaimana kondisi Bandung di lingkung gunung, kita juga bisa menjelajahi sisa-sisa sejarah yang terlupakan. Sebuah situs tempat penjajah menyekap para pahlawan dan juga gerilyawan perang, tempat mereka mengatur strategi perang dan menyimpan logistik serta perlengkapan perang. Salah satunya adalah Goa Belanda. Goa di mana ketika saya masuk, hawa yang ditimbulkan adalah hawa yang cukup mistis. Dingin dan mencekam. Lumrah memang, karena goa yang satu ini digunakan Belanda untuk menyekap para tahanan perang pribumi. Diberi makan seadanya, bahkan berbagi dengan tikus-tikus pembawa epidemi Sampar. Bahkan, tak jarang dari tawanan itu yang mati di dalam lorong-lorong tahanan.


Lorong Hitam di Goa Belanda (lengkap dengan sisa jeruji besinya)

Goa Belanda dan Tahura di Zaman Kolonial

Goa Belanda dibangun pada tahun 1906 sebagai terowongan penyadapan aliran air sungai Cikapundung untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang dibuat oleh BEM (Bandoengsche Electriciteit Maatschappij). Hal ini sepertinya tak lepas dari berkembangnya Bandung menjadi kotapraja (1906) dengan penduduk yang mencapai lebih dari 47.500 jiwa (Jakarta/Batavia 200.000 jiwa; Surabaya 150.000 jiwa; Semarang 90.000 jiwa). Namun, karena sebab yang belum diketahui, PLTA ini tidak lama berfungsi.

Pada tahun 1918, terowongan ini beralih fungsi untuk kepentingan militer dengan penambahan beberapa ruangan di sayap kiri dan kanan terowongan utama. Sementara itu, sistem PLTA dibangun kembali dengan perubahan jalur penyadapan yang tak lagi melalui Goa Belanda melainkan melalui saluran-saluran air bawah tanah hingga muncul kembali ke permukaan tanah di Pintu II Tahura dan ditampung di kolam tandon harian yang dikenal dengan "Kolam Pakar".


Dari Kolam Pakar, air disalurkan melalui pipa pesat ke PLTA Bengkok (difungsikan sekitar tahun 1923) yang sejak tahun 1921 dikelola GEBEO (Gemeenscaapelijk Electriciteit Bedrijf voor Bandoeng en Omstreken) dan di masa kemerdekaan menjadi PLN. Hal ini juga tak lepas dari adanya pembangunan berbagai instansi pemerintahan, kemiliteran, pendidikan, perdagangan, kesehatan, komunikasi dan lainnya pada masa itu.



Pada masa pendudukan Belanda, perbukitan Pakar ini sangat menarik bagi strategi militer, karena lokasi nya yang terlindung dan begitu dekat dengan pusat kota Bandung. Menjelang Perang Dunia ke II pada awal tahun 1941 kegiatan militer Belanda makin meningkat. Dalam terowongan untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Bengkok sepanjang 144 meter dan lebar 1,8 meter dibangunlah jaringan goa sebanyak 15 lorong dan 2 pintu masuk se-tinggi 3,20 meter, luas pelataran yang dipakai goa seluas 0,6 hektar dan luas seluruh goa berikut lorong nya adalah 548 meter. Markas angkatan perang Hindia Belanda dan pusat komando militer tentara Sekutu (Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Australia dan New Zealand) ditempatkan di Bandung yang merupakan benteng pertahanan terakhir bagi Belanda. Pada masa ini, Belanda memperluas goa dan mendirikan stasiun radio komunikasi di sini sebagai pengganti Radio Malabar di Gunung Puntang yang berada di wilayah tak terlindung dari serangan udara.

Goa Belanda terdiri dari satu lorong sel pemeriksaan, empat lorong sel tahanan, satu pintu logistik di sebelah barat pintu utama. Pintu utama untuk masuk ke Goa Belanda hanya ada satu, dengan pintu keluar di sebelah utara goa. Di sebelah timur pintu utama, terdapat lorong-lorong yang menuju ke pintu ventilasi dan satu ruangan interogasi sentral yang berada jauh dari lorong tahanan, di mana di ruangan ini, teriakan para gerilyawan yang dilucuti informasinya oleh tentara Belanda akan menggema sampai ke pintu ventilasi.


ilustrasi lorong-lorong Goa Belanda
kiri: lorong utama dengan rel
kanan (dari atas ke bawah): ruang jaga, pintu keluar goa, lubang ventilasi yang tertutup belukar

Goa Belanda sendiri dibangun di kondisi geografis yang cukup unik. Berada di sebelah selatan patahan Lembang, dan berada di titik strategis dari sisa-sisa letusan Gunung Sunda yang meninggalkan banyak pecahan, dataran, juga gunung-gunung kecil seperti Burangrang dan Tangkuban Perahu. Tak heran, daerah sekitar Goa Belanda sangat subur dan dilewati dengan jalur sentral air yang menjadi penyangga kebutuhan air kota Bandung selama ini.

Goa Belanda juga merupakan salah satu dari beberapa jaringan goa yang dibangun di kota Bandung, khususnya dibangun di dalam perbukitan batu pasir tufaan. Batu pasir tufaan atau konglomerat tufaan merupakan batuan sedimen epiklastik yang terangkut juga di dalamnya komponen piroklastik seperti pumis (batu apung). Tak hanya menggambarkan bagaimana proses dibentuknya Goa Belanda oleh tangan manusia, tapi di awal masuk gerbang Goa Belanda, dituliskan juga bagaimana goa tersebut bisa terbentuk di dalam perbukitan tufaan. Hal ini masih terkait dengan bagaimana proses pembentukan ignimbrite atau sisa-sisa abu panas letusan Gunung Sunda.



Peta Geologi Gunung Api Sunda dan Penyebaran Letusan Gunung Sunda

Meskipun akhirnya belum terpakai secara optimal, namun pada awal Perang Dunia Ke II dari stasion radio komunikasi inilah Panglima Perang Hindia Belanda Letnan Jendral Ter Poorten melalui Laksamana Madya Helfrich dapat berhubungan dengan Panglima Armada Sekutu Laksamana Muda Karel Doorman untuk mencegah masuknya Angkatan Laut Kerajaan Jepang yang mengangkut pasukan dan akan mendarat di Pulau Jawa. Sayang sekali usaha ini gagal dan seluruh pasukan berhasil mendarat dengan selamat dibawah komando Letnan Jendral Hitosi Imamura.

Pada masa kemerdekaan Goa ini pernah dipakai atau dimanfaatkan sebagai gudang mesiu oleh tentara Indonesia. Goa Belanda saat ini dapat dimasuki dengan aman dan dijadikan sebagai tempat wisata yang penuh dengan nilai sejarah.


Kurang lebih begitulah sejarah Goa Belanda yang ada di kawasan Taman Hutan Raya Djuanda. Jika ingin menjelajah lorong-lorong di dalam Goa Belanda, sebaiknya bawalah senter pribadi, agar tidak perlu menyewa. Dan jangan lupa untuk bawa bekal makan siang, agar tak perlu beli di warung-warung, kalau sedang hemat. Hehehehe. Yah, intinya... Kalau hanya berdua atau malah sendirian, sebaiknya banyak-banyak berdoa karena kita tak tahu apa yang akan kita temukan secara tiba-tiba jika kita mengarahkan senter pada lorong-lorongnya. Hehe.



Bonus foto... "With Orbs"

12 comments:

  1. @Anonymous meni niat komentar make anonim. heeee. :p

    ReplyDelete
  2. saya kemarin kuliah lapangan disana. ke goa walanda asli ga pake centre, hehe. *tinggal lurus hungkul nepi

    ReplyDelete
  3. Rizki Pradana says: kapaan yaa urang bisa ka Bandung deui -___-

    ReplyDelete
  4. widiww... ko lorong-lorongnya serem banget bu huuu :(

    ReplyDelete