Friday, October 18, 2013

Taman Hutan Raya Djuanda: Sisa Sejarah Tak Tentu Arah (Bagian 1)


Bagi mereka yang tinggal di Bandung dan sekitarnya, pasti sudah tak asing lagi dengan beberapa lokasi eksotis yang bisa ditempuh dengan menumpang angkutan kota. Bukan hanya lokasi perbelanjaan dan factory outlet saja yang terkenal di kalangan pendatang Bandung, tapi juga wisata alamnya.

Salah satu lokasi wisata yang bisa ditempuh dengan angkutan kota adalah Taman Hutan Raya Djuanda (Tahura). Lokasi Tahura sendiri berada di daerah Dago, ke sananya lagi Dago Pakar, sih. Masalahnya, dulu memang akses ke sana terbilang cukup jauh dan tak selalu ada kendaraan. Tapi, sekarang mungkin sudah bisa kita temukan mobil-mobil para borjuis memenuhi jalanan sempit menuju Tahura. Menggilas aspal yang dibuat sedemikian rupa oleh Pemda agar ramah terhadap para pejalan luar kota. Dulu mungkin gambaran jalan ini masih terdiri dari bebatuan kali yang kokoh dan harus tergantikan dengan aspal yang bisa seketika berlubang. Alasannya diganti, mungkin licin kali ya, juga (mungkin) bisa lebih ramah dengan kaki-kaki para borjuis. :p

Wilujeng Sumping yang artinya...
Selamat Datang!
Dan dari sanalah, para borjuis ibukota ikut memadati lokasi wisata ini. Mobil-mobil angkuh mereka menggilas aspal itu. Plat B apalagi. Saya mengerti, dengan mobil-mobil dan kunjungan mereka, kehidupan masyarakat di sekitar Tahura bisa tercukupi. Sayangnya, pemikiran orang-orang desa makin lama makin komersil juga. Jadinya, mereka memanfaatkan apa saja jadi peluang bisnis, termasuk lahan parkir kosong yang sudah jelas-jelas ketika awal masuk Tahura, kita membayar retribusi. Tapi kenyataannya, kita ditagih retribusi lagi. Yaaaa bukannya hitungan. Cuma, kok rasanya janggal saja. Tidak ada kontribusi dari pihak Pemda. Pasalnya, loket resmi Tahura selalu tutup. Berdebu dan tak terurus. Kesannya kok tidak ada urusannya sama Dinas Pariwisata, padahal kan harusnya lebih diperhatikan lagi.

Oke. Cukup dulu OOT-nya. 

Beralih ke kawasan Tahura lagi. Di sini, kita bisa mengunjungi beberapa situs wisata yang unik dan juga menantang. Kita bisa menjelajahi tiga curug atau air terjun yang letaknya saling berjauhan, sehingga kita harus trekking ringan, mendaki dan menuruni jalanan yang sudah didempul aspal. Tak jarang pula kita harus melewati jalanan sempit yang masih berupa bebatuan apung. Di sini, enak sekali kalau membuka sandal. Kaki yang langsung menyentuh bebatuan apung itu bisa memperlancar peredaran darah. Refleksi mungkin istilahnya.

Sayangnya, saya tidak bisa mencapai curug itu karena sampai di Tahura terlalu siang, sehingga waktu yang saya gunakan di Tahura hanyalah cukup untuk berkeliling situs yang lebih menantang lagi, yaitu situs goa peninggalan zaman Belanda dan Jepang. Suasananya cukup membuat saya bergidik ngeri. Dua goa ini pernah menjadi saksi bisu sejarah kelam Indonesia pada masa kolonial dan masa pendudukan Jepang. Saya memulainya dari Goa Belanda, dengan catatan agar saya bisa kembali sesuai jalur yang sudah disepakati bersama dengan Abang. Jadi, rutenya adalah sebagai berikut.
Peta, Lokasi Situs, dan Petunjuk Arah

Saya berniat untuk ke curug, karena sudah lama tak trekking dan melihat yang seger-seger (es campur kali seger). Nah, kebetulan ada yang bisa mengantar tanpa takut capek (cieee), saya lalu tancap saja. Berbekal trekking pole dan sendal jepit kesayangan, saya menginjakkan kaki di batu apung dan aspal yang licin pasca hujan. Kali ini saya masuk ke Tahura dari gerbang utama, sehingga kalau sudah melewati salah satu saluran PLTA Bengkok, belok ke kanan itu adalah jalur menuju gerbang III dan lurus terus mengikuti jalan menurun, saya akan sampai di Goa Belanda.

Mulanya, saya masih sinkron, masih bisa membaca petunjuk dan berbicara. Tapi, mencapai mulut goa yang tidak lain adalah gerbang utama sebuah penjara, saya mulai merasa aneh sendiri. Di sini, auranya memang berbeda. Seperti ketika saya sedang ada di depan Lawang Sewu pada suatu malam, sendirian pula. Untung Abang sudah sedia senter dan headlamp, karena memang sebenarnya tujuan kami bukan ke sini, tapi ke gunung. Masalahnya, entah kenapa sejak saya berangkat dan melihat kondisi Lebak Bulus yang seperti pasar kaget, saya jadi mendadak moody. Mood berubah jelek, dan berbagai pertanyaan tentang gunung yang akan saya daki itu malah muncul ke permukaan. Belum lagi ketika searching tentang itu, saya menemukan artikel yang tak diinginkan. Tak jadilah saya ke gunung itu dan berpindah lokasi ke Tahura ini.

Menghindar dari Bapak yang menawarkan senter dengan gigihnya, Abang keluarkan senter terra lux yang kekuatan lumens-nya bisa mencapai jarak puluhan meter. Hahaha! Maaf Pak, lagi kere soalnya, jadi belum perlu sewa senter! Hehe. Nah, dengan membaca Bismillah, saya pun masuk ke Goa Belanda dengan Abang, berdua saja. Baru masuk ke lorong satu, di mana sebelah kiri saya adalah sel tahanan, saya seperti mendengar suara bisikan. Grrrr... Sifat paranoid saya muncul lagi. Sial!

Dan angin pun berhembus. Bukan... Bukan angin dari gerbang di belakang saya, tapi angin dari samping kiri yang entah dari mana asalnya. Saya mau menengok, tapi sudah kadung takut. Jadi, saya hanya melihat ke bawah saja. Melihat jalur utama yang tidak begitu besar, berhias rail di tengahnya. Entah untuk apa rel itu, tapi sepertinya untuk kereta kecil, seperti kereta penambang yang ada di buku-buku dan film-film khas teori konspirasi. Seperti National Treasure. Bedanya, rel ini terputus di tengah jalur, dan di dalam pengantar Goa Belanda yang diletakkan di depan gerbang utama, tidak ada penjelasan mengenai rel-rel itu.

Angin dan suara itu datang lagi... Ah, saya sudah benar-benar tak berani menengok. Persis peserta uji nyali.

(bersambung)

8 comments:

  1. yahh bersambung sihhhh...kaya sinetron

    ReplyDelete
  2. @Zen Widjanaka hahahahaahaaa... biar stay tune terus gituuuuu :p

    ReplyDelete
  3. suasana alam memang kadang membuat agak ngeri ya...tapi penciptanya alam akan melindungi :) salam kenal

    ReplyDelete
  4. @puteriamirillis betul kak. masih ada Pencipta Alam... :)

    salam kenal juga.

    ReplyDelete
  5. senengannya kok ke tempat horor gini sih :((

    ReplyDelete
  6. @danan wahyu yang horor itu klasik... yang klasik itu biasanya bersejarah... wkwkwkwk. :p

    ReplyDelete
  7. ini nih kang... yg prnh masuk uji nyali... asli swrrrrem banget ... hiiiiih

    ReplyDelete