Monday, November 11, 2013

Mereduksi Macet di Tol Dalam Kota Jakarta dengan Sistem ITS Yang Menyeluruh


Sepertinya, kemacetan sudah lumrah terjadi di Jakarta. Namun, apa jadinya kalau di dalam tol saja masih menemui kemacetan? Bukankah yang namanya jalan tol itu seharusnya bebas hambatan? Ya, teorinya memang begitu, tapi dalam praktiknya, agak sulit dicanangkan di Jakarta.

Sebagian besar tol di Jakarta mungkin sudah menggunakan sistem pembayaran tol yang elektronik. Pengguna jalan tol tidak harus mengeluarkan uang yang akan lebih lama dalam proses pengembaliannya, sehingga menjadikan jalan terhambat, nyaris keluar dari gerbang tol, seperti yang saya sering lihat di bahu jalan Pondok Pinang, menuju Pondok Indah. Adanya percampuran antara tol untuk kendaraan pribadi dan kendaraan umum seperti Kopaja, memungkinkan kondisi tol yang jadi lebih semrawut. Oleh karena itu, sistem ITS atau Intelligence Transportation System harus dipasangkan secara menyeluruh. 

Jika memang harus dipasang secara menyeluruh, apa saja bagian dalam ITS yang terdiri dari skala internasional? 

Nah, berikut ini adalah penjelasan singkat mengenai beberapa contoh sistem ITS yang sedang dikembangkan oleh Kementrian Pekerjaan Umum, Badan Penelitian dan Pengembangan Puslitbang Jalan dan Jembatan.
  • Traffic management center (TMC)
  • Traffic data collection (speed, volume)
  • Service of traffic information (internet, broadcast, VMS, etc)
  • Real time traffic signal controller (APILL)

Sebelum menuju ke implementasi, tentunya perlu diadakan berbagai riset mengenai kondisi jalan dan status jalan. Baru kemudian disandingkan dengan dokumen ilmiah pada praktik sistem transportasi 'pintar' yang sudah dipasangkan di beberapa negara berkembang, seperti tetangga kita, Malaysia dan Singapura.

Melihat kondisi jalan di Jakarta, rasanya bukan tidak mungkin untuk memasangkan traffic management center atau TMC pada bahu-bahu jalan di Jakarta. Dengan sistem informasi dan pengelolaan yang memadai, TMC ini akan menjadi basis data untuk kondisi jalan di Jakarta. Sebagai permulaan, ambil titik yang beban jalannya berat. Misalnya, pada jam-jam tertentu, tol menuju Lebak Bulus berikut gerbang keluarnya ternyata selalu macet pada jam tujuh pagi sampai jam sembilan pagi, untuk kemudian macet kembali di jam-jam orang pulang kantor. Nah, dari sini bisa diambil sample kecil untuk melakukan implementasi ITS yang baik, mulai dari penghitungan volume kendaraan pada jam-jam tertentu, penghitungan kecepatan kendaraan, penghitungan keluar-masuk kendaraan pada gerbang-gerbang tertentu, sehingga data tersebut dapat dikumpulkan dalam satu basis data sentral di dalam TMC atau Traffic Management Center.

Apa manfaat dari pengumpulan basis data berikut?

Manfaat yang didapat tentu saja tidak akan terasa tiba-tiba, tapi akan terasa setelah implementasi berjalan beberapa waktu lamanya. Dari sana, evaluasi terhadap data harus giat dilakukan. Misalnya, setelah mendapatkan data-data mengenai kondisi tol di daerah yang menuju Lebak Bulus dari berbagai titik selama tiga bulan, maka bisa dikalkulasi atau dihitung berapa kendaraan yang mengarah ke daerah-daerah tertentu, seperti Tangerang Selatan. Nah, bagaimana mengkalkulasinya? Tentu saja lewat gerbang tol. Gerbang tol adalah komponen utama dalam sebuah jalan tol, di mana petugas sudah seharusnya mencatat dan menghitung kendaraan. Di sini sudah seharusnya dipasangkan sistem terintegrasi dengan sistem utama, yaitu basis data yang ada di dalam Traffic Mangement Center. Melalui sistem tiket terintegrasi, akan tercatat dari mana kendaraan tersebut masuk tol, dan keluar di tol mana. Jumlah atau trending kendaraan yang tercatat tersebut akan masuk ke dalam basis data, sehingga pihak yang melakukan evaluasi terhadap sistem baru ini akan lebih mudah membaca data, tanpa harus mengeceknya secara manual dari gerbang tol ke gerbang tol lainnya. Bukankah IPTEK dan Sistem Informasi yang kini makin berkembang akan lebih memudahkan hal tersebut?

Nah, dari data tersebut, kita sudah bisa mendapatkan penghitungan akurat tentang jam-jam sibuk dan jam-jam di mana traffic akan sangat padat. Dari sana, buat satu sistem lagi, yaitu sistem penyebaran informasi, yang berguna bukan hanya untuk pihak yang mengembangkan sistem tersebut, tetapi juga untuk pengguna jalan tol, atau para pengendara kendaraan. Sistem ini sudah seharusnya bisa dipasang secara mobile, mudah dibawa kemana-mana, sehingga pengguna jalan tol akan lebih mudah melihatnya di manapun mereka berada. Dari sistem ini, pihak pengembang sistem ITS sudah memberikan data traffic dalam bentuk yang user-friendly, atau mudah bagi pengguna kendaraan. Hal ini seharusnya sudah terintegrasi dengan sistem GPS, karena akan lebih mudah digabungkan dengan peta kota Jakarta berikut tolnya. Nantinya, pengguna jalan tol dapat melihat, lokasi ia berada dan tol terdekat, berikut tingkat kepadatannya. Sehingga, sebelum ia mencapai kepadatan itu, pengguna dapat mengalihkan kendaraannya ke jalur lain yang memungkinkan.

Jadi, sistem ITS yang menyeluruh itu sebenarnya ada empat elemen utama saja, ialah; sistem pengumpulan data, sistem manajemen penyimpanan basis data (TMC), sistem pengolahan data, dan sistem informasi atau penyebaran data.

Mungkin memang terlihat tidak mudah, tapi kalau ini berhasil, bukankah kondisi kemacetan di Jakarta lebih memungkinkan untuk dikurangi?

******

Referensi:



Artikel ini diikutkan dalam sayembara penulisan blog oleh Balitbang PU, dengan tema "IPTEK, Jalan Keluar Permasalahan Bidang Pekerjaan Umum".

1 comment:

  1. Hey im big on traveling, so i m really interesting to see what you got here. But the language here is a problem. May be you could blog in English?

    ReplyDelete