Wednesday, December 11, 2013

Bogor Selatan, Kuliner Tanpa Batas

Perjalanan gowes ke Bogor Selatan beberapa waktu lalu, memang meninggalkan banyak kesan. Di samping melampaui diri sendiri, yang berandai-andai, "Apakah saya bisa sampai ke Bogor dengan sepeda?", kesan lainnya adalah, saya bisa jauh dari Jakarta barang beberapa lama. Menghirup udara yang masih murni di kaki gunung Salak, dan tertawa-tawa melihat asap polisi berada di atas kota Jakarta seperti genangan busa di atas air. Kira-kira seperti itulah saya melihat sejauh pandangan mata ke arah Jakarta. Dari atas sini, perspektif memang selalu nampak berbeda dan menarik.

Saya tak tidur. Menunggu matahari terbit di sebuah kebun keluarga seluas 4 hektar, memang menyenangkan. Seperti menikmati matahari dari ruang pribadi. Dan pagi itu, matahari tampak tertutupi lembah di sebelah selatan, dekat gunung Gede - Pangrango. Meski begitu, pagi tetap sentimentil. Menutup perjumpaan dengan matahari, saya pun tidur sejenak sekitar jam sembilan pagi, sebelum akhirnya terbangun lagi karena adzan shalat Jum'at sudah berkumandang.

sunrise...
Gunung Salak di pagi hari...
abu-abu polusi Jakarta...

Teman saya dan Abang, bergegas untuk shalat Jum'at, sementara saya duduk-duduk di beranda sambil menyesap kopi yang terlambat dihidangkan. Bogor siang ini cukup terik. Matahari tepat di atas kepala, tapi saya tetap santai berleha-leha di rumah kayu milik teman saya. Ah... Akhir Minggu yang saya dambakan setelah beberapa hari lamanya.

Sepulang shalat, teman saya ini bergegas mengambil motor matic dan mengajak kami berdua. "Ayo, bonceng tiga!"

Saya mengiyakan, dan kami pun jalan-jalan.

Teman saya yang baik ini, membawa kami berkeliling tempat tinggalnya di Cijeruk, kaki gunung Salak. Setelah puas melihat kota dari ketinggian pagi tadi, kali ini teman saya mengajak kami ke sebuah lokasi jajan di Bogor Selatan, tepatnya daerah Cihideung.

"Ini jalur lintas Bogor - Sukabumi, makanya banyak tukang jajanan," gumam teman saya. "Mau makan apa nih? Tenang, gue yang traktir!" lanjutnya.

Wah. Mendengar kata traktiran, hati jadi gembira. Kaki yang lelah mengayuh sepeda, rasanya tak ada. Hehehe. Tanpa pikir-pikir, saya yang memang sedang menginginkan olahan durian, langsung memesan Es Cendol Durian. Karena belum makan, saya kombinasikan saja es segar itu dengan Laksa, kuliner khas Bogor. Sementara itu, Abang memesan es cendol saja, tanpa durian, dengan toge goreng. Teman saya memesan laksa, dan es cendol durian, sama seperti saya.

duren :D

Teman saya malah berkelakar pada Abang, "Puy, lu gak suka duren? Ah rugi lu gak suka duren!"

Saya tertawa. Memang benar. Rasanya rugi sekali, kalau di dunia ini kita tidak suka durian. :D

Pesanan siap. Kami pun makan dengan lahap. Siang yang terik ini, seperti biasa saja. Bogor sedang bersahabat juga rasanya. Es cendol durian ini adalah perpaduan antara cendol hijau, dengan santan dan gula merah yang tidak begitu manis. Namun, setelah ditambahkan potongan duren, rasa manis menjadi pekat dengan sendirinya. Durian ini menambah aroma sekaligus mengikat rasa yang ada pada es cendolnya.

es cendol durian...

Sementara, Laksa sendiri ternyata jenis makanan berkuah santan, dengan bihun, daun kemangi, ketupat atau lontong, telur, dan tahu. Sama seperti kupat tahu. Bedanya, kuah santannya ini seperti kuah kari, dan di dalam laksa, ada daun kemangi yang membuatnya jadi terasa aneh.

laksa...

Tak jauh beda dengan toge gorengnya. Toge goreng juga berbahan dasar sama. Ketupat yang disirami toge, tahu, dan bumbu kacang. Kalau melihat tampilannya, sekilas seperti ketoprak. Tapi, kalau sudah dirasakan sih, memang seperti ketoprak yaaa. Bedanya, mungkin kalau ketoprak tidak ada kuahnya, kalau toge goreng ini disiram kuah lagi. :P

toge goreng...
toge goreng Pak Abung...

Di samping laksa, es cendol durian, dan toge goreng, masih ada beberapa pilihan kuliner di salah satu transit Cihideung, jalur Bogor - Sukabumi. Namun, karena perut saya sudah terasa penuh, saya putuskan untuk melihat-lihat saja. Lumayan, mengobati keinginan untuk memakan semuanya. Hehehe.


Friday, December 6, 2013

Kali Pertama Touring Sepeda, Dengkul Pun Gemetar!

Gowes Bogor - Going the Extra Mile!
Salah satu teman mengajak saya dan Abang untuk singgah di rumahnya yang bertempat di Cijeruk, Bogor Selatan. Waktu itu, Abang memutuskan untuk berkendara dengan motornya. Tapi, saya yang sedang agak gila, memberi opsi agar kami berdua gowes saja ke Bogor sana. 

"Gila! Itu kan jauh. Kita naik motor aja," gumam Abang waktu saya memberi ide gila itu.

Sebenarnya, nggak gila-gila amat sih. Pasalnya, dua orang Mamang KPCI saja gowes keliling Indonesia. Belum lagi kita lihat Lek Paimo, yang bertahun-tahun gowes keliling bumi pertiwi, dan banyak lagi goweser lainnya yang gowes lebih jauh daripada saya. Lalu, saya pun membalas gumaman Abang itu, "Naik sepeda atau nggak sama sekali. Hehe."

"Ya udah deh. Terserah ajaaa, emangnya kuat?" canda Abang sambil mencibir. Hehehehe.

Dan menuju hari H, yaitu Kamis 21 November (tepat ketika kaki saya baru sembuh karena jatuh dari sepeda, dan hari itu kantor diliburkan pasca presentasi project), rupanya motor Abang malah rusak. Jadilah kami berdua fix naik sepeda. Kamis siang siap-siap, packing seperlunya, seperti jaket waterproof yang berfungsi sebagai raincoat juga, dan perlengkapan tempur. Packing kami harus benar-benar ringan, mengingat sepeda kami belum disediakan tempat untuk menaruh pannier, atau tas sepeda yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan barang, biasanya ditaruh di jok belakang. Pannier ini menggantikan fungsi backpack. Jadi, ketika bersepeda kita tidak lelah menggendong ransel. Tapi, apa daya. Sepedanya juga sepeda pemula, makanya packing dibuat sangat minim, agar tidak berat ketika digendong sambil mengayuh sepeda.

Sekitar jam empat sore, kami mulai mengayuh. Menuju checkpoint pertama yaitu rumah Abang di daerah Cimanggis, Depok. Jalanan yang kami lewati masih tergolong ringan. Jalan raya dengan motor berjejal, namun stabil. Macet masih bisa dilewati lah. Dan memasuki Universitas Gunadarma, saya mulai kepayahan. Tanjakan yang landai memang, tapi lumayan juga kalau harus mengayuh sepeda. Di depan Gundar, saya sempat berhenti untuk minum sebentar. Dan dari Jakarta (Kuningan) sampai Cimanggis, Depok, saya dan Abang menghabiskan waktu satu jam dua puluh lima menit. Di Cimanggis berhenti. Ngaso di depan rumah Abang, sambil menunggu orangnya sholat dan packing sebab dia belum packing ketika berangkat. Hehehe.

ngaso di perbatasan Kabupaten dan Kota Bogor :D

Setelah selesai, sekitar pukul sembilan malam, kami lanjutkan kembali perjalanan menuju Bogor. Jalanan masih santai, beberapa kali menemukan tanjakan jembatan layang dan berhasil melewatinya. Sampai akhirnya, tanjakan yang benar-benar panjang menanti.

Dari Warung Jambu ke Jalan Raya Pajajaran (sebelum Tugu Kujang), kami mulai melewati tanjakan yang bertahap. Tidak terlalu curam, namun sangat panjang. Saya masih tahan mengayuh sepeda, sampai pada akhirnya beberapa kali berhenti untuk mengatur nafas dan dengkul yang gemetar. Beberapa kali istirahat di pinggir jalan. Waktu itu, jam tangan menunjukkan pukul sebelas malam. Jalanan Pajajaran sudah sepi dari kendaraan bermotor. Hanya terlihat beberapa motor dan mobil saja yang lalu lalang. Dua jam sudah mengayuh sepeda sampai ke Bogor Kota.

Sampai di Tugu Kujang, kami beristirahat lama. Melihat icon kota Bogor yang merepresentasikan sebuah Kujang besar, dengan filosofi "Kukuh jeung Jangji", atau kukuh dalam memegang janji (kata orang situ sih begitu). Hehehe. Di seberang Tugu Kujang, kami memarkir sepeda, dan berfoto sejenak.

foto dengan latar Tugu Kujang setelah 'dihajar' tanjakan panjang...

Sekitar jam setengah dua belas, kami melanjutkan perjalanan, melewati pasar di depan Kebun Raya Bogor yang ramai kala malam. Kami terpaksa mendorong sepeda, tidak menaikinya karena tanjakan sangat curam dan jalanan tidak lancar. Daripada berhenti dan kelelahan karena harus mengulangi kayuhan dari awal, lebih baik didorong saja. Sampai BTM (Bogor Trade Mall), kami duduk di tepiannya. Teman yang rumahnya akan kami singgahi, menyuruh kami untuk menunggu di sana.

Satu jam... Dua jam...

Teman kami tak datang juga. Udara dingin kota Bogor mulai terasa. Saya rapatkan jaket waterproof, yang sudah saya dobel dengan sweater berbahan polar untuk dalamannya, sebagai windproof. Bogor yang dingin menerpa keringat kami, tentu hasilnya tidak akan baik. Saat berkeringat, pori-pori tubuh terbuka lebar, sehingga angin dengan leluasa memasuki tubuh. Daripada terkena resiko angin duduk, lebih baik merapatkan jaket. Ransel pun jadi lebih ringan setelah jaketnya dipakai.

Sekitar pukul setengah dua pagi, kami masih berada di BTM. Teman kami meminta kami untuk mengayuh lagi sampai Batu Tulis, stasiun Batu Tulis. Di sana, kami akan dijemput olehnya. Dan kami pun menyanggupi saja. Rupanya, tanjakan menuju Batu Tulis itu tidak ada duanya. Kemiringannya dahsyat! Kami pun mengayuh sebisanya. Saat dengkul saya mulai gemetar, saya dorong saja si Merry.

"Ini sih kayak naik gunung!" gumam Abang sambil mendorong sepeda.

Rupanya, fisik pendaki yang siap sedia dalam kondisi gunung yang bagaimanapun, tetap merintih juga ketika disuguhi dengan tanjakan-tanjakan dari atas sepeda. Hahaha! Rupanya, kami masih harus merapikan fisik kami ke dalam kondisi yang sangat prima. Dan ternyata, meskipun saya hampir putus asa karena malam sudah sangat larut, sedangkan saya masih mengayuh sepeda, kekuatan itu tetap ada. Rupanya, sebagai manusia, kita memang harus melampaui batas-batas diri untuk mengetahui sejauh mana kita bisa melakukan hal yang tak mungkin sekalipun. Seperti saya, yang memaksa diri untuk mengayuh meski tanjakan itu tidak manusiawi, tapi lebih ke 'tanjakan khusus mesin'. Hahaha! :D

Sampai di stasiun Batu Tulis, sekitar pukul dua pagi. Kami pun menunggu di daerah menuju Cijeruk. Sekitar jam tiga pagi, teman kami baru datang.

stasiun Batu Tulis yang akan mulai beroperasi lagi...

"Udah, tanjakannya masih dua kali lagi. Sekarang sepedanya naik angkot aja!"

Kami pun berpandangan. Teman kami menyetop angkutan yang kosong, melakukan negosiasi harga dan deal. Sepeda kami pun naik ke dalam angkot, sementara kami duduk sempit-sempitan di dalam angkot.

"Kok naik angkot sih?" tanya saya.

"Lihat aja nanti," gumam teman saya sambil terkekeh.

Dan ternyata, jalanan menuju tempat singgah sangatlah curam. Tanjakannya benar-benar tak ada ampun. Untunglah kami naik angkutan kota. Kalau tidak, si Merry pasti ogah-ogahan untuk dikayuh. Hahaha!

Setelah melewati tanjakan super tersebut, kami sampai juga di Cijeruk, kaki Gunung Salak, daerah Bogor Selatan. Teman kami menyuguhkan teh madu. Kami berganti pakaian dengan yang kering. Setelah minum teh madu, Abang yang sedari berangkat memang sangat mengantuk, akhirnya tertidur lelap. Sementara saya dan teman saya, malah bercerita sepanjang pagi. Kami bercerita sampai langit memberi pijar matahari.

Di kaki gunung Salak, saya mengistirahatkan kaki...

Perjalanan ini, menghabiskan waktu tempuh sekitar 6 jam, dari Jakarta menuju Bogor Selatan, dengan sepeda...