Tuesday, May 20, 2014

Jurnal Pendakian: Serangan Pacet Gunung Gede via Selabintana (20 - 22 Desember 2013)

Perjalanan kali ini adalah kombinasi dari orang-orang hebat semua, antara lain, Bang Apuy, Bang Imet, Teh Sachi, Kang Hilwan, Bang Frantino, Sintiana, Febi, Basri, Bang Eko, dan temannya Basri (lupa namanya). 

Hari Jum'at, 20 Desember lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi kembali Gunung Gede, namun lewat jalur Selabintana yang selama ini hanya sebagai jalur cadangan ketika quota jalur lain penuh. Jarang sekali pendaki mau lewat sana, entah kenapa. Namun, menurut cerita beberapa teman yang sudah naik lewat Selabintana, jalur ini berkesan.

Cuaca diprediksi cerah, setidaknya di Jakarta. Berangkat menuju Bogor, cuaca masih cerah. Namun, sampai di Sukabumi, hujan rintik mulai mengguyur kami. Meski begitu, kami tetap semangat, berangkat dengan angkutan kota menuju Selabintana yang sepi. Jalur menuju Pondok Halimun, Selabintana, benar-benar sepi. Wajar kalau supir angkot itu berkata, "Yah Bang. Ditambah dong uangnya. Kalau tahu sampai PH sih saya tadi nggak minta segitu. Saya oge takut kalo sendirian mah."

Akhirnya, setelah negosiasi yang panjang, kami pun setuju untuk menambah uang carter mobil. Ya hitung-hitung untuk tambahan si supir beli rokok atau apalah, kalau-kalau di perjalanan ada yang menemani dari belakang. :)) (if you know what i mean).

Jalur menuju Pondok Halimun rupanya memang sepi. Tidak ada lampu jalan, tidak ada rumah-rumah yang menyalakan lampu. Sepanjang jalan, hanya lampu mobil saja satu-satunya cahaya yang menerangi jalanan. Di kanan kiri hanya tanaman, mungkin kebun milik warga. Intinya, dari gerbang Selabintana menuju Pondok Halimun, suasananya mencekam. Dan setelah menanjak dengan mobil sekitar empat puluh lima menit, kami pun sampai.

olesin minyak telon pagi-pagi, eh... minyak sereh! :3

Singkat kata, beberapa dari kami begadang sampai pagi. Ada yang baru mau mulai tidur, tapi terbangun karena jadwal kami mendaki Gede via Selabintana itu jam enam pagi. Lalu, sekitar pukul setengah enam pagi, kami pun packing ulang barang dan mulai mengolesi tangan kaki dengan minyak sereh. Kenapa? Ya karena itu... BANYAK PACET! (serem deh pokoknya, nanti lihat aja di postingan bawah :P)

Nah. Kami mulai mendaki dengan gembira. Hehe. Menuju pintu gerbang pendakian, seperti biasa diadakan pengecekan SIMAKSI. Surat yang kami bawa rupanya salah tanggal. Bukan salah sih, tapi sengaja. Kami tidak kebagian surat untuk mendaki hari Sabtu-Minggu, karena quota sudah penuh. Yah, tapi mau gimana lagi. Sudah kadung sampai di Salbin masa harus turun lagi? Akhirnya kami beranikan lewat pos pengecekan dan kami malah disambut dengan sukacita oleh Bapak Ranger yang baik hati. Bapaknya sudah cukup berumur, dengan rambut gondrong berubannya. Karena jarang yang mendaki via Selabintana, akhirnya kami masuk dengan lancar. Kata Bapaknya, "Hati-hati ya di jalan. Kalau ada sesuatu yang aneh, langsung turun saja daripada bahaya."

Bapa Balai TNGGP Halimun yang kece. :D

"Ok!" jawab kami. Nah loh! Saya berpikir, apa ya yang aneh? Sambil membuang jauh pemikiran itu, saya lanjutkan jalan di paling depan. Biar enak gitu, paling depan sendiri.

Kami berjalan santai. Tapi, lama kelamaan, kami jalan sambil banyak mikir. Ternyata, meskipun jalur Selabintana tidak begitu curam, jalur tersebut tetap menyeramkan. Di kanan kiri, ditemukan pacet. Itu, hewan melata yang ada dua jenis, pacet daun dan pacet tanah. Warna pacet daun hijau kekuningan dan pacet tanah warnanya cokelat. Beberapa teman mendaki saya sempat disedot darahnya oleh pacet-pacet itu. Jadi, perjalanan yang tadinya santai berubah jadi perjalanan yang banyak pikiran.

curam dikit

Surken masih jauuuhhh!

Waduh. Aku takut digigit. Waduh, kok gatel-gatel yah, pasti ada pacet nih! 

Kira-kira seperti itulah pikiran saya. Jadinya, saya dan yang lain kelelahan bukan karena jalur yang sulit, melainkan karena pacet yang menyita pikiran itu. Saya baru pertama kali melihat pacet benar-benar banyak. Mulai merambat di celana dan kaos saya. Saya sampai teriak-teriak sendiri waktu lihat para pacet mendaki ke kerudung. Untunglah beberapa yang lain memang pemberani, jadi bisa menyingkirkan pacet itu. Saya sempat melihat ular kecil, tapi yang saya teriaki bukan ular, malah pacet. Hehe. Sumpah, geli! :))

Ini namanya PACET DAUN! Tuh, saya ZOOM biar kalian juga geli! :))

Setelah melewati serangan pacet, kami sampai di pos yang menyimpang ke arah mata air dan Alun-Alun Suryakencana yang tembusan dari Selabintana. Di plang tertulis 2.5 kilometer, menuju Suryakencana. Saya semangat. Tapi, karena masih beban pikiran pacet itu, jalanan tak kunjung mencapai tujuan. Saya kesal, sampai hujan segala di jalan. Biasanya saya santai aja kalau hujan deras sekalipun. Tapi, karena mood sudah rusak sama pacet, jalan pun jadi ogah-ogahan. Dan teman-teman yang lain pun misuh-misuh karena jalurnya panjaaaaang sekali. Landai sih landai, tapi sudah capek sama hujan dan pacet.

hujan. buka flysheet dulu dan anget-angetin badan dulu.
2.5 kilometer yang PHP banget! :))
di mata air yang masih beberapa kilometer menuju Surken
(katanya sih dari sini sudah dekat)
buka flysheet lagi di mata air. hujan deras.

Di mata air itu pas hujan deras dan jadi istirahat terakhir kami sebelum melanjutkan perjalanan. Ketika hujan mulai reda, kami mulai melanjutkan perjalanan. Saya paling depan. Saya berlima sama Bang Apuy, dan tim ngebut (Febi, Sintia, Kang Hilwan). Saking ngebutnya, kami sampai duluan di pintu gerbang menuju Suryakencana (dari arah Geger Bentang). Di sini malah kena hujan angin. Gemuruh anginnya seram dan kami harus lanjutkan jalan. Kalau tidak, malah kedinginan.

Bukannya egois, tapi kami terpaksa meninggalkan teman-teman yang tertinggal karena sakit di belakang. Mengapa? Karena keluar Suryakencana, kami diterpa badai angin. Tak ada penghalang dari pohon maupun bukit atau batu-batuan. Jadi, kami terpaksa lanjutkan jalan untuk mencari tempat berteduh dan membangun shelter/tenda. Salah satu dari kami, yang masih kuat (Febi), kembali ke arah kami keluar tadi dan menjemput yang lain agar tidak nyasar. Lalu, sisanya mulai membuat minuman hangat agar ketika yang sakit sampai, sudah tinggal menghangatkan diri dan masuk tenda saja.

Jadi begitu. Ini bukan satu bentuk keegoisan, karena kami meninggalkan yang lain untuk menyelamatkan diri kami semua. Kalau kami berdiam di pusat badai, apa kami masih ada sampai sekarang? Pusat badai waktu itu benar-benar dahsyat. Saya saja yang pakai raincoat nyaris terbang. Untung aja ditahan sama beberapa Abang-Abang yang kuat dan gembul (termasuk Kang Hilwan, wkwkwkw).

Kira-kira, dari PH Selabintana sampai ke Suryakencana itu, kami mencapai 12 jam waktu pendakian. Karena santai-santai, banyak ngerokok dulu di jalan, ngopi-ngopi, dipotong hujan dan buat flying camp, lalu ada yang sakit, ada yang digigit pacet dulu dan shock, lalu begini dan  begitu. Ya kira-kira totalnya 12 jam lah sampai Surken.

Saya sudah lupa kelanjutan ceritanya, karena ini posting super telat. Perjalanan Desember baru ditulis Mei, siapa yang bisa menjamin saya masih ingat? Hehe. Singkat kata, setelah makan dan ganti pakaian basah sambil menggigil, kami mulai tidur karena di Suryakencana juga masih hujan badai. Jadi, tidak ada yang bisa dilihat. Keesokan paginya, baru deh kami foto-foto dan persiapan turun melalui jalur Cibodas. Sampai di top Gunung Gede juga sedang kabut tebal, jadi kami teruskan saja turun. Lagipula, sudah sering juga foto-foto di Gunung Gede. Hehe. Maklum lah, gunung yang terdekat dari Jakarta. Kalau dibilang bosan, nggak juga sih. Cuma, untuk foto-foto ya masih sama seperti foto yang lama pastinya. :D

tuh, tembok putih doang. hujan angin pula.

Kami turun dan berpencar-pencar. Ada yang sampai di Cibodas Maghrib (termasuk saya dan tim ngebut). Ada juga yang sampai sekitar jam sembilan malam, karena saya juga tidak ingat kita berpisah di mana. Yang jelas, saya saja waktu itu jalannya cuma berdua. Sisanya jauh di depan dan jauh di belakang. Ketika ingat dan ditunggu untuk jalan bersama, malah lama sekali. Akhirnya, daripada kaki keburu kedinginan, saya dan Bang Apuy melanjutkan jalan, meski terpisah dengan yang lain. Alhamdulillah, semuanya tetap sampai di Cibodas dengan tak kurang satu apapun.

Jadi, mungkin hanya segitu ceritanya. Kalau butuh detail perjalanan dan angkutan, bisa PM saya saja ke [email protected] atau via twitter saya di @ayuskeptika. 

Oh ya, salah satu catatan penting. Berhati-hatilah memilih waktu pendakian, karena salah-salah, malah dapat hujan badai kayak saya. Hehehe. Yah, namanya juga musim, kan nggak ada yang tahu. Memang waktu itu, kami sudah terlalu bersemangat untuk mendaki via Selabintana, jadi tidak memperhatikan cuaca yang sudah masuk penghujan.

Okay, sekian jurnal kali ini! Berhubung saya sudah lupa, silakan lihat foto-foto di artikel ini saja ya untuk membantu jurnal.

[ayu]

Sunday, March 9, 2014

Saya Suka Surabi Duren Sukasari! Kalau Kamu?

Saya suka sekali sama duren. Bukan... Bukan duda keren. Ini duren, benar-benar duren. Buah yang kulitnya tajam, (setajam sileeeet :p), tapi isinya enak. Berlemak, manis (kalau lagi untung dapat yang manis), dan bikin kolesterol. Hahaha! :p

Jadi... Saya ngidam makanan olahan durian ini sejak saya melakukan perjalanan bersepeda, dari Jakarta ke Bogor. Pulangnya, dari Batu Tulis saya lewat Sukasari, alih-alih supaya tidak mengayuh sepeda lewat tanjakan setan di depan BTM, makanya saya berbelok ke Alfamidi sebelum Sukasari.

Di sana ada donat kapitalis, ada kentang goreng kapitalis, dan burger kapitalis (if you know what i mean). Saya lapar. Tapi, saya tidak tertarik memakan itu, karena katanya, kalau kebanyakan makan yang seperti itu, perut isinya cuma sampah. Hahaha. Jadi, saya terus mengayuh sepeda, dan lewatlah saya di Sukasari. Di situ ada tukang surabi durian, makanan olahan durian yang aduhai enaknya. Tapi, waktu perjalanan sepeda yang lalu, saya tidak berbelok karena mengejar waktu, agar tidak kemalaman untuk mencapai Jakarta kembali (mengingat saya naik sepeda dan Bogor - Jakarta itu lumayan jauh jaraknya). Saya ngiler sepanjang perjalanan, terbayang dengan siraman durian di atas surabi. Huhu.

Tapi, memang benar kata pepatah, "pucuk dicinta ulam pun tiba" (padahal saya juga nggak tahu maksudnya apaan). Tiba juga hari di mana saya kembali ke Batu Tulis. Momennya ketika semua orang berbondong-bondong liburan untuk menyambut tahun baru. Saya? Nggak kemana-mana. Cuma mampir ke rumah teman yang tempo hari sempat dikunjungi. Di Batu Tulis, tempat dimana dia mengurus kebunnya yang seluas empat hektar, dengan komoditi utama adalah durian dan pepaya. Menjelang malam tahun baru, saya menghabiskan waktu untuk bakar ayam, sebagai pengganti BBQ. Haha. Dan esoknya, ketika pulang (kebetulan kali ini saya naik motor), saya sempatkan mampir di warung surabi durian. Saya menyebutnya, "surabi pengkolan" (mang-mang surabi bakal protes nih kalo baca!), karena letaknya pas di sebelah kiri pertigaan menuju jalan raya yang langsung mengarah ke Terminal Baranangsiang.

surabi pengkolan :))
menu :9
kedai surabi :9

Saya memesan. Kata teman, "Di sini paling oke itu surabi durian sama oncom durian." Hah? Surabi oncom pakai durian? Rasanya kayak apa ya? Saya membatin. Ya, saya akhirnya memilih surabi durian keju, tanpa oncom. Saya memang tak suka oncom. Masa nanti pedas manis? Memangnya jagung kemasan? :p

Minumnya apa ya waktu itu? Aduh, saya lupa! Sepertinya sih air putih. Sebab, minum manis setelah makan yang manis, akan percuma saja. Untuk menetralkan, sebaiknya minum yang tidak manis, biar rasa manis makanan tetap tertinggal, apalagi memandangi saya yang manis, pastinya nanti kelewat manis! *nah loh*

Jadi... Setelah memesan, mang-mang surabi pun melakukan atraksi! Dia salto, sambil membuka tutup lempung yang khusus digunakan untuk memasak surabi! *oke, adegan salto itu cuma rekaan saya kok*

Agak lama membakarnya di lempung. Mungkin, supaya lebih renyah. Katanya, surabi agak gosong itu enak, apalagi dipadukan dengan durian. Yummy pokoknya!

Sambil berbicara tentang hal yang nggak penting-penting amat, ngalor-ngidul nggak karuan, saya pun menunggu surabi pesanan. Setelah beberapa menit (sekitar lima belas menit), akhirnya surabi yang dipesan, datang juga! Horeeee. Sebelum santap surabi, foto-foto dulu! Biasa, buat nulis blog! :p

ki-ka dari atas ke bawah: surabi coklat siram saus pisang, surabi durian coklat keju.
surabi durian keju, surabi oncom. mak nyus! :9

Dan di sini saya sempat menjahili Abang. Dia nggak suka durian! Padahal, buah surga kayak gitu masak sih nggak suka! :))

Jadi, saya dan teman membohongi Abang. Saya bilang saja kalau surabi yang dia makan itu durian, bukan pisang. Dan setengah nggak suka, dia tetap mengunyah surabinya. "Oh ini duren ya? Ah ya udahlah, terlanjur dibeli." Ahahaha. Sambil tertawa, saya cuma bilang, "Ketipuuuu! Tapi kalo pun itu duren, rasanya nggak jauh beda kok sama pisang!" 

Saya, Abang, dan dua teman saya pun melahap surabi tersebut. Hanya dengan sepuluh ribu rupiah saja, saya sudah bisa menikmati surabi yang disiram saus durian, dengan parutan keju. Seperti karamel yang meleleh, saus duriannya sangaaaaaat lembut. Pokoknya, saya suka surabi duren! :D

foodporn: My Surabi DURIAN! :)

Dan kuliner hari itu pun harus segera diakhiri. Abang sempat menawarkan saya, kalau mau lagi, tinggal pesan saja. Tapi, saya pikir, masak saya segitu rakusnya? Hehe. Jadi, saya putuskan untuk makan satu saja, dengan catatan, kalau lewat situ lagi, saya pasti beli varian surabi lainnya!

Waktunya pulang!

Ah, rasa saus durian yang meleleh itu, menempel di lidah sampai saya pulang...

Thursday, February 13, 2014

Tujuh Divisi Rilis! Berjalanlah ke Toko Buku Terdekat


cover Tujuh Divisi

... Tujuh hari. Tujuh pribadi. Tujuh alasan. Tujuh kemampuan. Tujuh Divisi ...

Surat-surat perekrutan misterius menghampiri tujuh anak manusia dengan latar belakang berbeda. Surat tersebut datang kepada mereka masing-masing dengan cara yang tak sama. Gitta, Ichan, Tom, Ambar, Dom, Bima, dan Salman. Tujuh orang ini tak pernah menyangka akan dipertemukan dalam suatu ekspedisi besar, dengan divisi sesuai kemampuan mereka masing-masing.

Pertemuan yang mengubah segalanya. Mengubah ritme hidup, mengembalikan masa lalu, dan menghilangkan yang lain. Berbagai kejadian menegangkan dan misteri-misteri mulai bermunculan ketika mereka mencoba menaklukkan sebuah gunung keramat. Rupanya, ada seorang lelaki misterius di balik ekspedisi besar itu. Dan ketika mereka menyadari sesuatu sedang terjadi, mereka sudah terlambat.

Ketika tim ekspedisi ini mulai solid, satu per satu dari mereka mulai disesaki tragedi. Mereka terpaksa dihadapkan pada pilihan pelik: kehilangan satu orang... atau satu tim sekaligus.

Dapatkah mereka menuntaskan ekspedisi ini? Dan akankah mereka tetap kembali utuh saat pulang?

***

Tujuh Divisi segera rilis di toko buku terdekat dengan teman-teman semua, pada tanggal 3 Maret 2014. Jadi, jangan lupa! Berjalanlah ke toko buku terdekat, dan nikmati sisi lain dari sebuah petualangan.

Salam!

Ayu

Friday, January 17, 2014

Pada Mulanya Adalah Mimpi, Lalu Harap

Awal tahun ini, rupanya jadi kabar baik bagi saya. Di tengah pekerjaan yang menumpuk--tak ada habisnya--saya mendapatkan kabar gembira, walau ketika saya mendapatkan kabar tersebut, saya sedang ada di dalam travel menuju Jakarta. Tak sempat pulang kala tahun baru, membuat saya memutuskan pulang ke Cimahi selepas kuliah ekstensi bubar. 

Hari Sabtu pulang, Senin bolos kerja, karena saya pikir, "Ah, Selasa kan tanggal merah. Buat apa balik ke kantor?"

Tapi, hal itu tidak terjadi. Saya diharuskan kembali ke Jakarta karena ada pekerjaan tidak terduga. Yah, namanya juga dunia IT, tak pernah dibiarkan berhenti barang satu detik.

Jadi, Selasa pagi saya bergegas menuju pangkalan Baraya travel. Memesan satu kursi, menunggu sampai pukul sepuluh dan mendapatkan kursi tersebut meski awalnya saya hanya masuk ke daftar antrian. Tak menunggu lama, Baraya pun berangkat. Karena bosan, saya buka twitter dan membaca linimasa penerbit Grasindo, karena hari Selasa tanggal 14 Januari adalah tanggal yang dijanjikan oleh Grasindo, terkait pengumuman list pemenang #PSA2. 

Saya harap-harap cemas. Kesal pula, karena baterai handphone nyaris habis, tapi admin twitter berlama-lama mengumumkan. Mungkin, supaya kesannya dramatis, jadi dipersulit begitu. Hehe. Tapi, saya setia menunggu. 

Sampai pada pengumuman inti. Grasindo mengirim twitpic untuk dibaca oleh para pengikut linimasanya. Mata saya yang sudah minus ini rupanya tak bisa melihat jelas, apa yang ditulis di sana, dan siapa saja yang memenangkan #PSA2. Saya perbesar ukuran gambarnya, dan...



nama saya ada di sana...

Naskah saya jadi naskah terfavorit...

Dan saya pun ingin menangis, ingin bersujud di dalam travel, sebab naskah ini adalah jabang bayi yang tumbuh karena harapan...

Pada mulanya adalah mimpi, dan berkembang jadi harap.

Jadi, bagi kawan-kawan sekalian, tunggulah jabang bayi ini besar. Jangan lupa untuk merayakannya bersama saya, dengan mengasuh jabang bayi ini bersama-sama. Hehe. (Jangan lupa beli gitu, maksudnya).

Dan sedikit citra jabang bayi ini, bisa teman-teman baca di sini.

Selamat menunggu kelahiran Tujuh Divisi yang sebenarnya ya, kawan! :)