Tuesday, September 6, 2016

Kota Tegal dan Minum Teh





Dari sekian banyak kota, Tegal mungkin adalah salah satu kota yang tidak orang sadari bahwa dia ada di dalam peta. Memang tidak penting, tapi bagi saya Tegal cukup penting. Karena, dari kota itulah saya tumbuh mengenal tulis-menulis. Kedua kakek dan almarhum nenek saya juga membesarkan Ayah saya di kota itu, maka itu jadi penting. Belanda juga sempat mampir ke kota itu, meski tidak memberi sejarah yang signifikan. Kakek dan almarhum nenek saya yang berprofesi sebagai guru, rupanya cukup keras mengajarkan anak-anaknya termasuk Ayah saya untuk tetap bersekolah tinggi, bahkan di saat kondisi Indonesia tak memungkinkan semua anak untuk bersekolah. Dari sanalah, saya tahu bahwa kota Tegal memberi pengaruh ke alam bawah sadar saya agar tetap kembali ke sana sesekali waktu. Ya, kembali mampir ke kota yang panasnya luar biasa, sebab berada di garis pantai utara Jawa.
Jalan Kaki Hvft~

Mungkin tak banyak tempat yang bisa dikunjungi di Tegal bagian utara, berbeda dengan Tegal menuju ke dataran tinggi--daerah Guci dan sekitarnya. Tegal di bagian utara mungkin hanya membentangkan pantai dan taman wisata air yang tidak begitu baik dikelola. Saya sendiri belum sempat kembali ke salah satu pantai di Tegal yang terakhir saya kunjungi pada tahun 2014. Tapi, saya dapat memastikan kalau pantai itu belum banyak berubah. Jadi, pada kunjungan pulang saya kali ini, saya hanya tidur-tiduran saja di rumah kakek atau menyempatkan diri untuk jalan kaki ke pusat kota Tegal, dan berkeliling menyusuri jalanan lengang tanpa hiruk-pikuk kendaraan yang membuat polusi seperti di Jakarta.


Dari rumah kakek di daerah Mejasem, saya berjalan kaki sampai ke stasiun. Mengapa stasiun? Karena stasiun Tegal adalah tempat terdekat ke segala penjuru tengah kota. Dari stasiun, berjalan ke arah barat, akan ada alun-alun kota, taman poci, dan balaikota. Ada juga bioskop tua yang sudah tidak beroperasi. Di sekitar bioskop dan alun-alun, ada banyak toko-toko berarsitektur Belanda yang sudah diperbaharui. Selain itu, ada banyak jajanan lokal yang bisa kita temui di sana.



Yang membuat Tegal menarik adalah banyaknya warung pinggir jalan yang menjajakan teh. Entah itu teh dalam poci tembikar (yang kita kenal dengan sebutan teh poci), teh herbal, teh dingin, teh susu, dan berbagai macam varian teh lainnya. Mungkin, karena hal inilah di sebelah barat stasiun, ada taman yang dinamai Taman Poci. Taman Poci ini memiliki satu buah replika poci raksasa--sebuah teko tembikar yang digunakan untuk menyeduh teh poci. Sayang, karena tak diurus, poci raksasa ini sepertinya hanya tinggal hiasan. Dahulu, saya pernah ingat kalau di poci raksasa ini juga terdapat air mancur. Sekarang, air mancur yang membuatnya poci raksasanya seperti tembikar poci betulan sudah tidak ada lagi. Namun, kemeriahan Tegal kini masih tetap ada dengan munculnya pasar malam di sekitar Taman Poci.

Mesjid Agung Tegal
"Sukseskan Program Tegal Kota Bersinar"

Kembali ke jalanan, saya menyusuri sebelah kiri jalan, di mana banyak penjual sate dan bakso yang menyajikan makanan dengan tehnya. Mereka kebanyakan tak menjual yang lain, hanya teh dan pocinya. Budaya minum teh ini sepertinya sudah mengakar di masyarakat Tegal dan sekitarnya seperti Brebes, Slawi, Pemalang, sampai Pekalongan. Dan aneh juga rasanya kalau saya tak menyempatkan diri untuk ngeteh di Tegal (padahal sebenarnya kalau saya pulang dari sini selalu membawa sebundel teh tubruk khas untuk diseduh di kost).

Budaya minum teh memang budaya dunia, tak terkecuali dengan Indonesia. Dan daerah Tegal berikut daerah sekitarnya, membuat budaya minum teh ini makin kentara. Kalau ingat ngeteh, saya jadi ingat budaya minum teh di kerajaan Inggris, budaya minum teh di Jepang yaitu minum ocha, budaya minum teh kaum Tionghoa yang tembikar tehnya harus dicuci-cuci dahulu. Ritual yang seperti ini membuat budaya minum teh jadi khusus, padahal yang minum teh mungkin saja sudah kehausan. Haha! Dan di Tegal sendiri, budaya minum teh poci, hampir sama seperti di negara-negara lain. Teh dituang ke gelas tembikar dari poci tembikar secara berputar. Lalu, setelah tehnya tersaji di gelas, mulai celupkan gula batu bulat-bulat. Ya, bulat-bulat. Bahkan, gula itu tak mungkin diaduk. Sungguh lucu, tapi itulah budaya minum teh di kota ini.
Teh Poci Tegal - gambar dari sini
Selain itu, poci yang dipakai biasanya tidak dicuci lagi. Sisa ampas teh hanya dibuang, lalu teh baru dimasukkan ke dalam poci dan diseduh lagi. Katanya hal ini untuk menjaga citarasa teh dan agar tembikarnya tetap alami tanpa ada intervensi pestisida atau sabun pencuci alat makan dan minum.

Selepas melihat-lihat Taman Poci dan warung teh poci, saya kembali berjalan-jalan. Udara pantai kota Tegal membuat saya kegerahan, apalagi saya berjalan kaki kurang lebih 7 kilometer dari rumah kakek menuju pusat kota sehingga membuat saya berkeringat. Untunglah, di dekat balaikota ada penjual teh dingin dan teh melati susu. Baiklah, minum teh lagi malam ini. Bagaimana dengan besok ya? Apakah minum teh lagi? Saya rasa jawabannya iya. XD


Pssst. Ngomong-ngomong soal minum teh, saya tiba-tiba ingin mencoba Teh Talua atau Teh Telur dari Padang sana. Ada yang mau ajak-ajak nggak ya, kira-kira?

5 comments:

  1. kalau ingat tegal kok ingat warteg ya padahal seru juga yah tegal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal di Tegal malah jarang ada warung Tegal mba.

      Delete
  2. seru juga nih tegal!

    Adis takdos
    travel comedy blogger
    www.whateverbackpacker.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha. Ya begitu deh, seru buat jalan kaki malam hari. :D

      Delete
  3. I had a friend who vivited Tegal sometime last year when he was having his annual leave from work. He brought me very positive comments about the place. I am sure at some point and time i must visit this place.

    ReplyDelete